Sabtu, 25 Oktober 2014   |   Ahad, 1 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 1.515
Hari ini : 10.456
Kemarin : 21.567
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.270.678
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Prof. Dr. Dato` Tan Sri Ismail Hussein


Prof. Dr. Emeritus Dato‘ Tan Sri Ismail Hussein.

Riwayat Hidup

Prof. Dr. Dato‘ Tan Sri Ismail Hussein adalah warga negara Malaysia keturunan Aceh. Ayahnya, Said Hussain merupakan pria dari Aceh yang bermigrasi ke Kedah, Malaysia. Sedang sang Ibu, Aisyah, merupakan wanita asal Burma Selatan yang sering mengunjungi sanak familinya di Kedah dan akhirnya menetap di sana.

Dirunut dari garis keturunannya, Prof. Dr. Dato‘ Tan Sri Ismail Hussein (selanjutnya ditulis Ismail Hussein) adalah cicit dari Panglima Perang Sa‘at, seorang pahlawan Aceh yang memainkan peran penting menentang Belanda sekitar tahun 1816 di daerah Glue Gafue. Sekarang daerah ini dikenal sebagai Gunung Perdamaian yang lazim disebut Kampung Jabal Ghafur Panglima Perang Sa‘at. Secara garis keturunan, kakek Ismail Hussein (Keucik Aceh yang bergelar Tengku Montrou) adalah adalah anak dari sang panglima. Sedang ayah Ismail Hussein, Said Hussain merupakan anak sulung dari Tengku Montrou (Bakar, 2002: 1).

Kisah migrasi keluarga Ismail Hussein diawali ketika sang ayah, Said Hussain yang berasal dari Meunasah Blang Mee, Kampung Aree, Sigli, Pidie, Aceh senantiasa diajak berdagang oleh kakek Ismail Hussein, Tengku Montrou ke Pulau Pinang. Kala itu umur Said Hussain baru 12 tahun. Karena terlalu repot untuk selalu pulang-pergi Aceh-Pulau Pinang, Said Hussain memutuskan untuk menetap di Pulau Pinang, kemudian berpindah ke Sungai Limau, Yan, Kedah, Malaysia. Dari sinilah keluarga Ismail Hussein berkembang, sampai akhirnya lahirlah Ismail Hussein pada 30 Januari 1932 (Ibid.: 1).

Menurut Abdullah Hussain dalam bukunya yang berjudul Sebuah Perjalanan (1984), disebutkan bahwa perniagaan (merantau) memang menjadi kebiasaan orang-orang yang tinggal di Kampung Aree dan Garut, yang merupakan kampung di mana Said Hussain tinggal. Dari kebiasaan ini Said Hussain juga melakukan perniagaan mulai Aceh Barat sampai ke Meulaboh, kemudian ke Aceh Timur sampai Langsa. Di Langsa, Said Hussain berniaga beras dan membawanya sampai Pulau Kampai, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Tingkat II Langkat, sebuah pulau yang terkenal dengan tarian dan nyanyian Melayu. Dari Pulau Kampai, Said Hussain berlayar ke daerah Semenanjung dan akhirnya tiba di Kedah. Sungai Limau sendiri merupakan kampung yang kerap dikunjunginya, karena di tempat ini beberapa orang Aceh lainnya juga telah bermukim. Dari beberapa kunjungan, Said Hussain pun akhirnya diterima dan akrab dengan penduduk setempat, sampai membawanya bertemu dengan Aisyah, Ibu Ismail Hussein (Ibid.: 3).

Kisah Kampung Aceh di Kampung Sungai Limau Dalam, Yan, Kedah sendiri diawali ketika beberapa ulama seperti Tengku Po Cut Haji bin Po Balee bersama Cut Leh bin Cut Yusoh serta para pengikut setianya hijrah dari Aceh ke Kampung Merbok di Singkir antara tahun 1895-1905. Sebagian dari rombongan ini akhirnya menetap di Kampung Ruat (misalnya Tengku Muhammad Daud Imeum serta Cut Abdullah bin Cut Yussof), sedang sebagian lainnya menetap di Kampung Merbok. Masing-masing rombongan kemudian membangun pemukiman orang Aceh (Kampung Aceh) di antara beberapa kampung yang telah lebih dulu ada, seperti Kampung Lubuk Kasai, Kampung Sulub, dan Kampung Lubuk Panjang. Kebutuhan ekonomi mendorong para musafir dari Aceh ini kemudian menyebar ke beberapa perkampungan lainnya, seperti Kampung Padang Cina, Bukit Sheikh Mudi, Titi Hayun (Bukit Tok Meran), Paya Malau, Bukit Cek Mat Megat, Bukit Cangkul, dan Bukit Remina (Batu Hampar). Sedang kelompok kecil lainnya tinggal di Pekan Yan (Kampung Teluk Mat Aceh), Kampung Perigi (Matang Timbul), Kampung Dulang, dan Sungai Limau Dalam (http://www.unimal.ac.id).

Keputusan Said Hussain untuk menetap di Sungai Limau Dalam kemungkinan juga dipengaruhi oleh beberapa orang Aceh yang telah menetap di daerah ini. Said Hussain mungkin merasa betah untuk tinggal di sana karena kentalnya adat Aceh di Sungai Limau Dalam. Misalnya saja bahasa percakapan yang digunakan di Sungai Limau Dalam masih sering menggunakan bahasa Aceh. Selain itu adat istiadat di Aceh, turut pula dilestarikan di Sungai Limau Dalam. Di Sungai Limau Dalam inilah, Ismail Hussein lahir, tumbuh, dan memperoleh pendidikan dasar.

Dunia masa kecil Ismail Hussein akrab dengan kesenian, kebudayaan, dan dongeng. Sang ayah, Said Hussain kebetulan adalah peminat seni. Di Kampung Sungai Limau sendiri, kala itu kesenian Hadrah dan Mak Yong merupakan kesenian yang sangat digemari dan menjadi tradisi masyarakat sekitar. Selain penggemar seni, Said Hussain juga sering bercerita. Cerita dari Aceh sering diperdengarkan pada anak-anaknya. Biasanya mereka akan diperdengarkan kisah Malim Dagang dan Tengku Bujang yang dibuang Belanda ke suatu tempat di Indonesia bagian selatan (Bakar, 2002: 5-6). Meskipun demikian, Ismail Hussein kecil kurang akrab dengan sang ayah. Ismail Hussein lebih dekat dengan sang ibu, Aisyah yang membekalinya pelajaran tentang baca-tulis Al-Qur‘an.


Keluarga Prof. Dr. Dato‘ Tan Sri Ismail Hussein.
Gambar atas adalah kedua orangtua Ismail Hussein,
Said Abdullah dan Aisyah. Sedang gambar di bawah
adalah rumah Ismail Hussein di Yan, Kedah, Malaysia.

Masa kecil Ismail Hussein tidak berbeda dengan anak kecil sebayanya di Kampung Sungai Dalam. Sebagaimana anak lelaki sebayanya, Ismail Hussein juga terdedah dengan segala pernik kehidupan kampung. Sebut saja permainan layang-layang, gasing, melastik burung dan permainan lainnya lazimnya anak kampung. Tapi satu keistimewaan dari anak yang dikenal pendiam ini, sedari kecil Ismail Hussein gemar membaca buku. Buku-buku didapatkan Ismail Hussein dari sang kakak, Abdullah Hussain. Abdullah Hussain adalah anak sulung yang kemudian diikuti Abdul Rahim, Kalsum, Ismail Hussein, Shahrani, dan si bungsu Ibrahim yang kemudian menjadi pelukis kebanggaan Malaysia (Ibid.: 6-7).

Perjalanan hidup Ismail Hussein akhirnya sampai pada masa di mana Ismail Hussein menimba ilmu pengetahuan (pendidikan). Kebetulan kedua orangtuanya memang mendukung penuh upaya pendidikan keenam anaknya. Meski sang ayah buta huruf, tapi beliau tetap melecut semangat keenam anaknya untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya.

Pendidikan formal Ismail Hussein dimulai ketika beliau bersekolah di Sekolah Melayu, Sungai Limau Dalam pada 1938-1946. Setamat dari Sekolah Melayu, atas nasehat dari saudara ayahnya, Cikgu Saidin Hanapi, Ismail Hussein dimasukkan ke sekolah St. Macheal di Alor Setar, Kedah. Setelah lulus, Ismail Hussein melanjutkan pendidikan ke Maktab Sultan Abdul Hamid, Alor Setar, Kedah (1947-1954), sampai akhirnya masuk kuliah di Universiti Malaya pada 1955 (Ibid.: 8).

Kebiasaan membaca tetap terbawa di manapun Ismail Hussein menuntut ilmu di sekolah formal. Maka tidak mengherankan sejak di Sekolah Melayu Ismail Hussein senantiasa mendapatkan rangking bagus di kelas. Hal inilah yang menjadi alasan bagi Said Hussain untuk membawa Ismail Hussein menempuh pendidikan di sekolah Inggris di Alor Setar.

Menempuh pendidikan di Maktab Sultan Abdul Hamid dan kemudian melanjutkan ke Universiti Malaya, ternyata membuat pemikiran Ismail Hussein lebih fokus untuk mendedah tentang kebudayaan Melayu. Bersama dengan karibnya, Kasim Ahmad, Ismail Hussein menjadi editor majalah sekolah. Selain menjadi editor, Ismail Hussein juga telah menulis di majalah bahasa terbitan Persekutuan Bahasa Melayu Universiti Malaya. Meski telah menjadi editor kebiasaan membaca tetap tidak ditinggalkannya. Berawal dari kebiasaan membaca inilah, Ismail Hussein dikenal sebagai pelajar yang kurus tinggi, pendiam, dan jarang bergaul. Hobi membaca buku baik dalam bahasa Inggris maupun Indonesia membuat pengetahuannya semakin terasah. Dari sinilah para guru mulai mengenal sosok Ismail Hussein. Sosoknya mulai terkenal ketika Ismail Hussein senantiasa mendapat hasil yang bagus dalam berbagai ujian dan mendapat 5 A dalam ujian SC (Tingkat 5). Pada awalnya Ismail Hussein mengambil jurusan sains, tapi akhirnya memilih kesusastraan Melayu (Ibid.: 8).


Gelar sarjana (B.A.) Kelas Pertama diterima Ismail Hussein
di Universiti Malaya pada 1959.

Jurusan Kesusastraan Melayu ditempuh Ismail Hussein di Universiti Malaya antara 1955-1959. Di sinilah Ismail Hussein mendapat gelar B.A. (Hons) Kelas Pertama. Selepas mendapatkan gelar B.A, Ismail Hussein melanjutkan pendidikan dan mendapatkan gelar M.A. dengan tesis “Hikayat Johor” pada 1961. Sekira 1961-1964, Ismail Hussein melanjutkan pendidikan untuk mengambil kelas sederajat dengan Drs. (M.A.) di Universitas Leiden, Belanda (karena di Universitas Leiden gelar M.A. dari Universiti Malaya tidak diakui). Kerja keras di Belanda akhirnya membuahkan hasil dengan lulusnya Ismail Hussein dan mendapat gelar Ph.D. Pada 1964, Ismail Hussein mengikuti kursus di Summer School of Linguistics Indiana University (Ibid.: 8-9).

Ketika kuliah di Universitas Leiden, Ismail Hussein sempat dijadikan Asisten Dosen dari Prof. A. Teeuw (1962-1964). Sekembalinya di Malaysia, Ismail Hussein dilantik menjadi dosen di Universiti Malaya pada 1965-1966, sampai beliau menjabat sebagai Pembantu Dekan Fakultas Sastera, Universiti Malaya. Pada 1971, Ismail Hussein dilantik sebagai Profesor Kesusasteraan di Jabatan Pengkajian Melayu sampai pensiun pada 1987. Selepas pensiun beliau menjabat ketua Malay World and Civilisation (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia sampai 1994. Sebagai seorang pemerhati kebudayaan dan kesusastraan Melayu, Ismail Hussein merupakan profesor kesusastraan Melayu yang aktif menghasilkan buku kajian yang bertalian erat dengan penulisan dan kajian kesusastraan Melayu pasca kemerdekaan Malaysia pada 31 Agustus 1957 (Ibid.: 9).

Selain aktif menghasilkan buku, Ismail Hussein juga secara aktif mengikuti berbagai seminar, baik tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Bahkan ketika ada permasalahan yang menyangkut eksistensi bahasa Melayu, beliau secara aktif memberikan keberpihakan pada pengembalian identitas bahasa Melayu sebagai bahasa kebangsaan. Beliau pula yang akhirnya menerima pinangan dari Gabungan Persatuan Penulis Nasional Malaysia (GAPENA) pada 1970 untuk menduduki jabatan Ketua Satu GAPENA.

Ismail Hussein telah memberikan dedikasi terhadap bahasa, kesusastraan, dan kebudayaan Melayu selama lebih dari 30 tahun. Atas dedikasinya inilah maka sejumlah penghargaan telah diterimanya. Penghargaan tersebut antara lain: Doktor Kehormatan (Doctor Horonis Causa) dari Universitas Indonesia (1984); Doktor Kehormatan (Doctor Horonis Causa) dari Universitas Antanarivo, Madagaskar (1997); Darjah Panglima Setia Mahkota oleh DYMM Yang Dipertuan Agong, sehingga bergelar Tan Sri (1993); dan Profesor Emeritus dari Universiti Malaya (1997) (Ibid.: 9).


Darjah Penglima Setia Mahkota oleh DYMM Yang Dipertuan Agong pada 1993,

sehingga bergelar Tan Sri (foto kiri). Anugerah Prof. Emeritus dari
Universiti Malaya pada 1997 (foto kanan).

Pemikiran

Jika sang kakak, Abdullah Hussain merupakan sastrawan negara dan sang adik, Ibrahim adalah pelukis kebanggaan Malaysia, maka Ismail Hussein memadukan keduanya, antara sastra dan seni. Ismail Hussein merangkum keduanya dan mengembangkannya menjadi 3 ranah, yaitu bahasa, kesusastraan, dan kebudayaan. Di tiga ranah inilah Prof. Dr. Dato‘ Tan Sri Ismail Hussein mendedikasikan hidupnya.

1. Bahasa

Impian bagi seorang Prof. Dr. Dato‘ Tan Sri Ismail Hussein adalah membuat satu bahasa persatuan, bahasa Melayu. Impian ini merupakan buah dari pemikiran bahwa bahasa Melayu merupakan milik orang Melayu. Layaknya bahasa Inggris yang telah mendunia, maka bahasa Melayu yang dalam angan-angan Ismail Hussein inipun bisa dimengerti dan digunakan dalam percakapan sehari-hari di ranah Melayu. Dalam kajian Ismail Hussein, ranah Melayu ini membentang mulai Asia Tenggara sampai Afrika Selatan. Inilah pemikiran bagi seorang Ismail Hussein untuk mewujudkan kenyataan dimunculkannya suatu bahasa persatuan yang dimaknai dan dipahami secara umum oleh orang-orang Melayu.

Pemikiran tentang keragaman bahasa yang disatukan menjadi satu paket bahasa, merupakan buah dari pemikiran Ismail Hussein ketika berbicara dalam Kongres Bahasa dan Persuratan Melayu Ke-VII. Kongres yang dihadiri sekitar 600 peserta dari 59 pertubuhan bukan kerajaan (NGO) Melayu ini, dihelat pada 6-8 November 2006 di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia (http://www.kongresbahasa.org).

“Dari ratusan, malah ribuan bahasa-bahasa Keluarga Melayu-Polinesia, tidak semua masyarakat Melayu Polinesia itu menggunakan atau mengerti bahasa Melayu – bagaimanapun bahasa Melayu telah timbul sebagai bahasa yang paling cemerlang dari keluarga Melayu-Polinesia. Dengan yang demikian bahasa Melayu itu menjadi lambang daripada tamadun Melayu-Polinesia yang besar, dan seperti yang telah saya katakan dapat menyimpan segala khazanah dari tamadun itu. Bagaimanapun juga bahasa Melayu yang menjadi asas dari permulaan gagasan Pengajian Melayu. Dalam keadaan demikian apabila kita hendak membina Pengajian Melayu atau Dunia Melayu yang global, maka kita tentulah memerlukan satu bahasa yang umum, yang dapat diistilahkan sebagai bahasa Melayu global, bukannya dialek-dialek nasional yang sedia berkembang. Keharuan zaman kita yang utama adalah untuk membina bahasa Melayu yang global seperti itu, untuk melepaskan diri daripada batasan politik nasional yang mengongkongi kita buat sekian dekad. Apabila cendekiawan Melayu di Malaysia menggesa supaya istilah ‘Bahasa Malaysia‘ digantikan semula dengan istilah ‘Bahasa Melayu‘, ini tentulah mempunyai konotasi yang seperti itu” (http://www.kongresbahasa.org).

Pemikiran ini tidak berlebihan mengingat ketakutan terbesar dari Ismail Hussein adalah mulai lunturnya tradisi berkomunikasi dalam bahasa Melayu. Di Malaysia misalnya, warisan bahasa Inggris yang ditinggalkan oleh kolonialis prakemerdekaan Malaysia, ternyata berimbas hingga sekarang. Akulturasi bahasa antara bahasa Melayu dan Inggris, kini lebih dipahami sebagai sebuah pergeseran tradisi bertutur secara Melayu murni. Bahasa Inggris lebih sering terucap ketimbang bahasa Melayu itu sendiri. Di sinilah pemahaman akan pentingnya bahasa sebagai jatidiri sebuah bangsa perlu dipertahankan.

Jika Presiden Amerika ke-5, James Monroe, mempopulerkan gagasan yang kemudian dikenal sebagai Doktrin Monroe (1758-1831) dengan kalimat yang sangat terkenal, ‘America for American‘, maka sudah selayaknya pula apabila muncul pula ungkapan ‘Malay Laguange for Malays (http://members.tripod.com). Kemunculan ungkapan ini seiring dengan semakin dominannya pengaruh Barat terhadap Timur (Eurosentrisme) dalam ranah bahasa. Pergeseran bahasa yang menggejala di mana-mana, menimbulkan keprihatinan tersendiri, sehingga dibutuhkan reaksi, bukan sekadar teori. Bukan pula kemudian bermaksud untuk mengisolasi bahasa Melayu, tapi lebih tepatnya untuk melindungi. Akulturasi memungkinkan terjadinya interaksi saling mempengaruhi antara dua elemen yang bersinggungan (dalam hal ini bahasa). Proses saling mempengaruhi ini tidak jarang membuat salah satu elemen menjadi lebih dominan. Untuk itulah dibutuhkan upaya untuk meminimalisir pengaruh dari bahasa Inggris agar bahasa Melayu tetap menunjukkan karakter sebagai jatidiri bangsa. 

Lihat saja ketika permasalahan bahasa mulai memasuki ranah pendidikan di Malaysia. Kerajaan Malaysia melalui Kementerian Pelajaran telah memunculkan gagasan untuk memberlakukan Pengajaran dan Pembelajaran Sains dan Matematik dalam Bahasa Inggeris (PPSMI). Ketika gagasan ini tercium publik, beberapa budayawan, sastrawan, sampai pemerhati bahasa langsung melayangkan protes untuk memansuhkan PPSMI. Ismail Hussein merupakan salah satu pihak yang menolak keras diberlakukannya PPSMI ini. Melalui GAPENA beliau memprotes keras usulan ini. Bahkan Ismail Hussein mengancam akan memajukan perkara ini ke meja hijau, karena gagasan PPSMI dinilai telah melanggar Undang-Undang. “Kami akan ambil tindakan undang-undang”, demikian tegas Ismail Hussein. Menurut Ismail Hussein, PPSMI secara jelas mencabut Fasal 152, Perlembagaan Persekutuan yang termaktub bahwa bahasa Melayu adalah bahasa kebangsaan (http://www.sabahdaily.com/2008).

Aksi Ismail Hussein bukan isapan jempol belaka. “Ancaman” ini merupakan puncak dari kekecewaan para kalangan cendekiawan dan pemerhati (pecinta) bahasa. Ditambahkan pula oleh Ismail Hussein bahwa, “... Natijah daripada sikap Kerajaan sendiri yang tidak menghormati dan mempercayai kesucian Perlembagaan Persekutuan telah menyebabkan pelbagai pihak mengambil kesempatan untuk memperlekehkan ketuanan Melayu” (http://www.sabahdaily.com/2008).


Protes penolakan direalisasikannya Pengajaran dan Pembelajaran Sains dan Matematik dalam Bahasa Inggeris (PPSMI).

Gagasan PPSMI sendiri merupakan ide yang telah muncul sejak 2003. Banyaknya kalangan yang menentang, membuat realisasi dari PPSMI tertunda hingga bergantinya pemerintahan (Kementerian Pelajaran). Salah satu perlawanan yang tidak kalah kerasnya, bahkan menyebutkan jika PPSMI direalisasikan, maka kemungkinan bisa mengulangi Insiden 13 Mei (merupakan istilah untuk kerusuhan rasial antara etnis Tionghoa dan Melayu yang terjadi di Kuala Lumpur, Malaysia pada 13 Mei 1969 yang menyebabkan sedikitnya 184 orang meninggal) (http://id.wikipedia.org). Penolakan keras ini datangnya dari Persatuan Mahasiswa Darul Aman (PERSADA) di Selangor yang mengirimkan surat kepada Menteri Pelajaran, Timbalan Menteri Pelajaran, Ketua Pengarah Pendidikan Malaysia, Menteri Pengajian Tinggi, dan Ketua Pengarah Pengajian Tinggi, tertanggal 6 Oktober 2008 (http://www.mail-archive.com/hidayahnet@yahoogroups.com).

Reaksi keras Ismail Hussein terhadap pelaksanaan PPSMI merupakan aksi beliau yang telah berupaya untuk mendaulatkan bahasa Melayu sebagai bahasa kebangsaan. Gangguan terhadap eksistensi bahasa Melayu dipandang Ismail Hussein sebagai tantangan yang harus ditanggapi secara serius. Inilah alasan kesanggupan dirinya untuk menjabat sebagai Ketua Satu GAPENA pada 1970. Bagi Ismail Hussein, GAPENA adalah media untuk mewujudkan pemikirannya tentang bahasa, kesusastraan, dan kebudayaan Melayu. GAPENA memiliki posisi tawar yang tinggi untuk melakukan lobi-lobi, baik yang bersifat nonpolitis maupun politis. Salah satunya dengan Kerajaan Malaysia kala peraturan yang akan ditetapkan tidak sesuai dengan alur pemikirannya.

Bagi Ismail Hussein, membentuk sebuah kesatuan bahasa yang terangkum dalam bahasa Melayu, patut dipahami oleh segenap orang yang terangkum dalam rumpun Melayu. Ikatan antarorang Melayu untuk mempunyai keseragaman yang sama dalam satu pengertian bahasa merupakan pemikiran yang terus direalisasikannya. Salah satu dari realisasi pemikiran ini tertuang dalam Kongres Bahasa dan Persuratan Melayu. Mulai Kongres Bahasa Ke-I sampai VII, Ismail Hussein tetap rutin untuk terus mengaplikasikan pemikirannya. Salah satu dari pemikiran Ismail Hussein diuraikan dalam perhelatan Kongres Bahasa ke-V (di Dewan Tun Syed Nasir, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, pada 2 & 3 Mei 1998) yang terwujud dengan diikrarkannya sebuah “Sumpah Setia Bahasa”. Ikrar ini dibacakan dalam setiap Bulan Bahasa dan Sastera Negara yang rutin diadakan setiap tahun (Bakar, 2002: 22).

Status bahasa Melayu kini diyakini Ismail Hussein bukan saja sebagai bahasa kebangsaan, tetapi lebih luas daripada itu, yaitu sebagai bahasa antarbangsa. Atas dasar pemikiran ini pula, Ismail Hussein mempunyai pemikiran untuk membentuk sebuah forum antarbangsa yang memakai bahasa Melayu atau turunan dari bahasa Melayu sebagai alat komunikasinya, sehingga lahirlah gerakan Pertemuan Sastrawan Dunia (Ibid.: 23). Gerakan ini merupakan sebuah sikap untuk memelihara tradisi berbahasa Melayu. Tradisi yang ditujukan untuk melindungi kesusastraan Melayu yang menggunakan bahasa Melayu. Kesusastraan agung yang telah tersebar di seantero penjuru dunia. Mulai Asia Tenggara sampai Afrika Selatan. Kesusastraan yang menafikan anggapan Eurosentrisme. Kesusastraan yang berdiri sendiri, tidak lebih tinggi ataupun lebih rendah daripada Kesusastraan Barat. Sebuah kesusastraan yang tersusun oleh bahasa Melayu dan telah bertahan selama ratusan bahkan ribuan tahun.

Ismail Hussein mempunyai gagasan untuk meletakkan bahasa Melayu sebagai bahasa utama di Dunia Melayu. Menurut Ismail Hussein dalam buku berjudul Syarahan Raja Ali Haji (1995), dikatakan bahwa:

“ … pada kita sekarang memang sedia satu eset yang tidak dipunyai oleh negara lain, iaitu kemampuan kita untuk membuka diri dan melihat keluar daripada diri sendiri, untuk melihat bahasa dan kebudayaan Melayu dari sudutnya yang global. Pada awal syarahan ini, ada saya sebutkan peranan Malaysia dalam kebangkitan Melayu global, atau sekurang-kurangnya akan usaha kita untuk membina kesedaran Melayu global. Dari segi bahasa Melayu, agak selalu juga tokoh-tokoh politik dan budaya kita mengusulkan kesatuan bahasa Melayu sedunia, dan dengan ikhlas pula kita menawarkan bantuan kepada pelbagai pihak dalam mempelajari atau meningkatkan mutu bahasa Melayu, terutama kelompok-kelompok minoriti Melayu di Sri Lanka dan Afrika Selatan. Kadang-kadang dengan cukup konkrit pula kita menyokong pembinaan pusat-pusat kajian Melayu, termasuk bahasa Melayu, di beberapa negara. Terungkapnya gagasan Sekretariat Melayu AntarBangsa di Kuala Lumpur melambangkan kegairahan kita dari segi itu. Melalui sikap dan usaha kita itu, Malaysia memang menjadi tempat perhatian bagi kelompok-kelompok rumpun Melayu di luar Indonesia, malah bagi beberapa bahagian Negara Indonesia sendiri. Kejayaan kita dari segi ini adalah lantaran sikap kita yang kulturil, bukannya politik – dan negara kita itu kebetulan kecil pula, jadi tidak mengancam sesiapa. Kita sebenarnya cukup mampu menjadi duta Melayu global yang seperti itu; dengan itu patutlah kita eksploitasikan aset ini bagi keagungan bahasa Melayu sendiri” (Ibid.: 27-28).  

2. Kesusastraan

Ketertarikan Ismail Hussein dengan dunia kesusastraan Melayu, secara akademis telah dimulai sejak beliau beralih jurusan, dari sains ke kesusastraan Melayu di Universiti Malaya pada 1955-1959. Setelah tamat dari Universiti Malaya, beliau tetap berada di jalur kesusastraan sampai mendapatkan gelar Ph.D dari Universitas Leiden di Belanda. Ismail Hussein juga sempat mengikuti kursus di Summer School of Linguistics Indiana University (Bakar, 2002: 8-9). Setelah kembali ke Malaysia, Ismail Hussein tetap berkecimpung di dunia kesusastraan dengan kapasitasnya selaku dosen kemudian profesor di Universiti Malaya.

Dalam pemikiran tentang kesusastraan, Ismail Hussein mengkonsep sebuah bangunan kesusastraan Malaysia yang berpijak dari kesusastraan Melayu. Beliau ingin memberikan corak dan kepribadian tersendiri sebagai identitas dari kesusastraan Malaysia dengan bersumber dari kesusastraan Melayu. Salah satu identitas yang beliau ingin bangun adalah memberikan perhatian yang cukup serius atas ‘sastra tradisi‘ (Ibid.: 28). Penelaahan sumber atau dokumentasi sastra lama menjadi kunci keberhasilan konsep ini.

Sastra bagi Ismail Hussein bukanlah suatu pergerakan tetapi bersifat per se (khusus); membina konsep keilmuan untuk membantu masyarakat sastra mengenali bahasa, budaya, dan bangsanya. Melalui GAPENA, konsep Kesusastraan Kebangsaan diusulkan kepada Kerajaan Malaysia yang kemudian diluluskan. (Ibid.: 29)    

Kesusastraan Melayu pada dasarnya merupakan sumber yang sangat kaya akan materi. Karya sastra lama, misalnya Syair Sultan Abu Bakar, merupakan kekayaan kesusastraan Melayu yang mempunyai keunggulan tersendiri. Bahkan Ismail Hussein memberikan catatan tersendiri sebagai penguat, bahwa kesusastraan Melayu mempunyai nilai tersendiri yang tidak kalah jika disandingkan dengan Kesusastraan Barat. Beliau juga menghasilkan “The Study of Traditional Malay Literature with Selected Bibliography” yang diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia (1974). Seperti disampaikan oleh Ali Ahmad dalam ulasan Buku: “The Study of Traditional Malay Literature with Selected Bibliography” (Dewan Bahasa, Mei 1976), bahwa karya Ismail Hussein ini mendedahkan tentang kelemahan dari pengkajian Barat terhadap ‘sastra tradisi‘ dan membawa gagasan betapa pentingnya pendokumentasian dan kerja-kerja filologi dilakukan untuk mengelakkan kesalahan tafsir terhadap kesusastraan Melayu (Ibid.: 28).

Sebagai salah satu penguat argumen Ismail Hussein, tidak berlebihan jika Radhar Panca Dahana dalam artikel berjudul “Melayu: Batas Tak Berbatas” menyebut Melayu sebagai “batas tak berbatas”. Bagi Dahana, Melayu dalam arti sastra sebagaimana dengan bahasa, seni, maupun budaya, “... adalah tubuh utuh yang guncang dan rapuh, bergoyang di tepi meja, sehingga kita senantiasa menjaga keseimbangannya, menjaga bentuknya yang tak pernah sempurna selama-lamanya ... yang dapat kita lakukan hanya satu: bekerja” (Zaidan dan Sugono (ed.), 2003: 98 dan 104).


Prof. Dr. Dato‘ Tan Sri Ismail Hussein (berdiri di tengah) ketika hadir dalam Festival Sastera Perpaduan Malaysia 2003 yang berlangsung di Kota Kinabalu, Sabah pada 22-25 Agustus 2003.

Sastra, sebagaimana Melayu adalah sebuah medium yang tidak berbatas. Penggalian sastra merupakan sebuah pekerjaan yang tidak mengenal kata berhenti. Pekerjaan ini adalah sebuah kreativitas sepanjang usia hidup manusia. Ismail Husseinpun juga tetap bekerja karena keyakinan bahwa kesusastraan Melayu tidak memiliki batas karena kekayaan materi yang dimilikinya. Hasil kerja Ismail Hussein mengerucut menjadi sebuah gagasan yang kemudian dinamakan ‘sastra agraris‘.

Fokus pemikiran Ismail Hussein yang mengarah ke ‘sastra agraris‘ adalah upaya beliau untuk mengajak semua pihak agar mulai melirik kembali sisi tradisi (Melayu) sebagai jatidiri. Makna ‘sastra agraris‘ sebagaimana disampaikan oleh Runi Hayat dalam  Mingguan Malaysia yang bertajuk  “Ketua GAPENA dengan Sikap Tegas Sastranya” (2 Juni 1974) adalah:

“Sastera yang mendukung tanggungjawab membina budaya dan prihatin kepada masyarakatnya lebih-lebih bagi golongan bawahan seperti petani. Ismail Hussein menyarankan supaya para sasterawan menulis karya-karya yang dapat difahami oleh golongan petani, yang dekat dengan dunia agraris mereka. Ismail Hussein mempunyai pandangan yang tersendiri terhadap karya sastera. Beliau memilih sastra ‘yang jejak pada bumi massa, yang meledakkan cita rasa mereka, yang mendendangkan suka duka mereka terutama dalam persajakan tetapi tidak berjejak pada bumi feudal, bumi elitis, yang individualistis, yang menurutnya adalah sastera sesat.‘ Sikap tegasnya terhadap sastera ini menyebabkan Datuk Haji Abdul Rahman Yaakub, Ketua Menteri Sarawak, menyifatkan Ismail Hussein sebagai seorang sasterawan sosialis” (Bakar, 2002: 32). 

Melihat obsesi Ismail Hussein, kemungkinan akan timbul adanya ungkapan bahwa ‘sastra agraris‘ sama dengan karya ‘sastra picisan‘. Alasannya bahasa yang digunakan dalam ‘karya picisan‘ dianggap tidak “seagung” gaya bahasa dalam karya sastra yang tergolong “tidak picisan”. Namun perbedaan ‘keagungan‘ gaya bahasa antara ‘sastra picisan‘ dan ‘tidak picisan‘ kini bukan sebuah persoalan lagi. Intinya adalah penggalian kembali karya ‘sastra tradisi‘ dan memberikan penambahan atau pengurangan, pemberian karakter kemelayuan, dan tentu saja kreasi gaya bahasa yang mudah untuk dimengerti bahkan oleh kaum petani sekalipun.

Bagi Ismail Hussein, kini bukan saatnya lagi untuk terus menerus mewartakan persoalan yang menyangkut golongan borjuis dan aristokrat semata. Pemaparan ‘gaya kota‘ seperti ini bagi Ismail Hussein adalah warisan kaum kolonialis, karena mereka (kaum kolonial) menganggap pemaparan kehidupan desa dengan ‘gaya kota‘ adalah kebudayaan. Inilah yang disebut Ismail Hussein sebagai ‘sastra elite‘. Sebagaimana disampikan oleh Abdullah Tahir dalam artikel berjudul “Sastra Agrarisma Hanya Satu Impian”, dalam Berita Harian, 6 Januari 1975, disampaikan bahwa ‘sastra elite‘, “... sebagai sastra kehilangan dan merupakan sastra escapism (keadaan memasuki alam khayal/hiburan utk melupakan atau menghindari kenyataan-kenyataan yg tdk mengembirakan) yang didominasi oleh hiburan murahan, penuh dengan porno, dan bercorakkan kebudayaan Barat.” Meneruskan sikap ini, ternyata Ismail Hussein menginginkan sebuah corak sastra yang bersumberkan tradisi dan jiwa Melayu per se serta menyinggung sikap, pemikiran, dan karya golongan elite yang meletakkan ukuran mutu bagus karya kepada ukuran Barat (Ibid: 33).

Picisan atau tidak ternyata tidak berpengaruh terhadap eksistensi sebuah karya. Bukan tema porno yang diangkat di sini, tetapi lebih ke arah tema percintaan misalnya. Karya tipis dan murah, serta gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami, ternyata lebih mendapatkan tempat dikalangan pembaca awam. Penempatan tema tradisi lebih diutamakan dibandingkan dengan selalu diangkatnya tema golongan borjuis dan aristokrat.

Bukti nyata bahwa pengaruh ‘sastra picisan‘ justru lebih diterima kalangan bawah telah ditemukan pada era pascaperang (1945-1949) sampai 1950-an di Malaysia. Saat itu Ahmad Lutfi (Syed Abdullah Bin Abdul Hamid al-Edrus) banyak menulis buku yang mengangkat persoalan politik di tahun-tahun awal pascaperang. Ternyata tema politik kurang diterima oleh masyarakat. Kemudian pada 1949 ia mencoba beralih dengan menulis 10 novel kecil dan ringan dengan berlatarkan sejarah zaman Jepang. Perubahan ini ternyata lebih mendapat sambutan dari masyarakat (Mahayana, 2001: 124).

Contoh ini mengisyaratkan bahwa para pembaca (kalangan bawah) justru lebih menyambut karya sastra yang ditulis dengan ringan. Kreativitas yang bisa dibangun jika dikaitkan dengan pemikiran Ismail Hussein adalah meramu karya tradisi dengan gaya bahasa ringan. Tujuannya agar karya tradisi ini tetap terdokumentasikan, diketahui, dan dimengerti oleh banyak kalangan, terutama kalangan bawah.

Pengangkatan tema tradisi harus lebih diperbanyak daripada tema birokrasi atau aristokrasi. Penggalian kembali karya-karya Melayu klasik yang hampir punah dan tidak lagi dikenal orang harus terus digalakkan. Diharapkan dengan pemikiran semacam ini, usaha untuk menyelamatkan karya kesusastraan Melayu dari kepunahan bisa diteruskan.

3. Kebudayaan

Dunia Melayu merupakan sebuah dunia yang menembus batas negara, agama, dan politik. Dunia ini merupakan ikatan di mana semua rumpun Melayu bersatu dibawah panji bahasa Melayu atau turunannya, adat istiadat, dan kebudayaan Melayu. Penyatuan akan keberagaman yang dirangkum dengan satu kalimat, “Bhinneka Tunggal Ika”. Sebagaimana ditegaskan oleh Ismail Hussein, “Melayu itu lebih merupakan satu kebudayaan, bukanlah satu kumpulan etnis yang seketurunan darahnya” (Hussein, 1997: 18).

Dunia inilah yang merupakan impian dari Ismail Hussein. Sebuah dunia yang mengambil peran netral ditengah politik yang melanda tiap negara di mana rumpun Melayu tinggal. Dunia yang menggarisbawahi kebudayaan sebagai tiang paling murni, yang tidak tersentuh kepentingan politik. Dunia yang bisa merangkul, menyatukan, dan menjadikan rumpun Melayu sebagai sebuah rumpun yang bermartabat.

Jika dirunut ke belakang, pemikiran dari Ismail Hussein pernah pula terlontarkan oleh seorang warganegara Filipina bernama Wanceslao Q. Vinzons. Beliau lahir pada 1910 di Camarines Norte dari kalangan keluarga Katolik yang sederhana. Vinzons adalah seorang pengagum Jose Rizal, seorang warganegara Filipina yang mendapat julukan “The Pride of Malay Race” dan “The Great Malayan”. Ketika berusia 17 tahun, Vinzons telah diterima masuk ke Universitas Filipina dan mempelajari ilmu undang-undang. Di universitas inilah, Vinzons dikenal sebagai ahli debat dan penulis yang handal. Pidato bersejarahnya berjudul “Malaysia Irredenta”, memaparkan tentang impiannya akan penyatuan seluruh bangsa-bangsa Melayu-Polinesia, disampaikan ketika beliau baru berusia 22 tahun (Ibid.: 24).

Pemikiran untuk menyatukan seluruh rumpun Melayu yang tersebar di seantero dunia dengan berlandaskan pada nilai kebudayaan yang tidak mempunyai limit, adalah obsesi seorang Ismail Hussein. Untuk merealisasikan pemikiran inilah, Ismail Hussein melakukan beberapa upaya. Sebagai upaya awal, Ismail Hussein terlebih dahulu merealisasikan ide untuk menyatukan berbagai bangsa yang ada di negara Malaysia melalui media netral bernama kebudayaan.

Kongres Kebudayaan Melayu pada 1957 di Melaka merupakan realisasi konkret Ismail Hussein untuk menyatukan berbagai bangsa di Malaysia melalui budaya. Secara khusus, kala itu Ismail Hussein menyoroti keragaman kepentingan yang mengambil wadah di ranah kebudayaan. Penyatuan konsep tentang negara-bangsa menjadi tujuan akhir untuk membentuk kebudayaan kebangsaan Malaysia. Di sinilah peran kepentingan seharusnya dipinggirkan dan digantikan dengan perasaan sebangsa (meskipun berbeda rumpun) dan rasa memiliki kebudayaan bersama. Tiap etnis yang ada di Malaysia bisa membangun kebersamaan di tingkat kebudayaan. Mereka tidak lagi terkotak-kotak dalam identitas borjuis dan proletar. Budaya dijadikan elemen perekat keragaman kelas dan kepentingan. Karena itulah, dalam Kongres Kebudayaan Melayu 1957, Ismail Hussein mengusulkan untuk menggarisbawahi unsur Agama Islam, budaya, sastra, dan budaya tradisi masyarakat Melayu. Untuk unsur yang paling akhir, Ismail Hussein secara tegas bersikap agar kebudayaan Melayu dijadikan teras (core, inti) dari penyelenggaraan Kongres Kebudayaan Melayu 1957 (Bakar, 2002: 42-43).

Selepas Kongres Kebudayaan Melayu pada 1957, Ismail Hussein menunjukkan peran penting dalam penyusunan Dasar Kebudayaan Kebangsaan pada 1971. Dasar Kebudayaan Kebangsaan pada 1971 sebenarnya merupakan realisasi dari ide yang telah tercetus sejak 1952 melalui beberapa cendekiawan Melayu. Satu tujuan dari pencetusan ide pada 1952 adalah membangun sebuah kebudayaan Melayu. Kini, setelah lewat 20 tahun, ide ini menemui jawab ketika dikonkretkan melalui legalitas dan landasan yang kokoh dengan hukum negara sebagai jaminannya. Beberapa kalangan menganggap bahwa pembentukan Dasar Kebudayaan Kebangsaan mempunyai makna penting, yaitu:

“Kebudayaan Kebangsaan merupakan gagasan penting bagi memadu dan mencorakkan masyarakat Malaysia yang pelbagai kaum dan suku; dengan anutan agama, bahasa, dan budaya yang berbeza merumitkan penyatuan. Justeru perlu ‘one nation, one state‘ di mana, melalui satu kebudayaan, terkandung dasar hidup, sistem nilai dan etika yang dapat meninggikan imej negara. Pengertian kebudayaan itu sendiri merujuk pada amalan-amalan nilai (moral) dalam sebuah entiti masyarakat yang akan meningkatkan tamadun Bangsa Malaysia (Ibid.: 42)”.   

Atas dasar penghilangan batas yang tidak terlihat inilah, Ismail Hussein mempunyai pemikiran bahwa kini saatnya kebudayaan kembali menggali unsur-unsur kerakyatan. Potensi masyarakat kecil (desa) perlu diangkat dalam ranah kebudayaan. Menurut Ismail Hussein, “... budayawan perlu bebas mengungkapkan idea dengan cara sendiri tanpa digodai oleh ilusi kebudayaan kota” (Ibid: 44). Gagasan ini secara langsung menjadikan desa sebagai tulang punggung kebudayaan. Urbanisasi kaum budayawan setidaknya bisa dikurangi dengan diakuinya eksistensi kebudayaan desa. Desa bukan lagi kawasan marjinal yang mengekang kreativitas untuk diakui sebagai sebuah kebudayaan. Keuntungan yang didapatkan ketika budayawan bermukim di kota (publikasi dan ketenaran) dapat pula didapatkan bagi para budayawan yang bermukim di desa. Pengangkatan citra desa yang tidak kalah dengan kota menjadi tema penting untuk mempopulerkan kebudayaan desa sebagai tulang punggung kebudayaan negara.

Sebagai seorang budayawan, Ismail Hussein juga memainkan peran untuk menyebarkan kebudayaan di tingkat internasional. Beragam forum telah beliau ikuti, baik sebagai pemakalah maupun peserta. Sebut saja Dialog Borneo-Kalimantan, Dialog Sempadan, Pertemuan Selat, dan beberapa pertemuan lainnya. Satu catatan tersendiri. Di setiap forum kebudayaan ini, Ismail Hussein tidak sekadar mencatat dan mengikuti jalannya forum, tetapi diikuti pula dengan kerjasama antara Malaysia dan beberapa negara pesertanya. Negara-negara di kawasan ASEAN menjadi prioritas utama penyatuan misi kebudayaan Melayu. Setelah ASEAN, kawasan lain yang menjadi sasaran untuk dibangun menjadi satu frame Dunia Melayu adalah “... Kepulauan Selatan Pasifik (Polynesia, Melanesia dan Oceania) sehingga Malagasi adalah merupakan bahagian utama dari kawasan tamadun atau budaya Melayu” (http://vlib.unitarklj1.edu.my). Kalimat ini terdapat di Dasar Kebudayaan Kebangsaan.

Meski keragaman pemikiran menjadi hambatan besar, tetapi bagi Ismail Hussein sikap optimis untuk mewujudkan sebuah Dunia Melayu, menjadi landasan kuat baginya untuk terus berkarya. Beragam aktivitas terus beliau lakukan untuk menunaikan pemikiran mewujudkan Dunia Melayu. Salah satunya terwujud ketika Ismail Hussein menjadi salah satu pendiri Lembaga Adat Melayu Serantau (LAMS) di Rumah Adat Melayu Ketapang pada 29 Mei 2009. LAMS sendiri didirikan dengan tujuan, “LAMS ditubuhkan sebagai jembatan antara puak-puak Melayu sedunia” (http://melayuonline.com/news). Itulah salah satu upaya untuk membuat sebuah perbedaan bukan lagi sebagai penghalang, karena landasan kesamaan kebudayaan Melayu telah terpenuhi untuk mewujudkan sebuah Dunia Melayu.

Kini setelah lebih dari 30 tahun memimpin GAPENA, Ismail Hussein tetap terus berkarya. Sebagai budayawan, beliau masuk pula ke dalam gerakan Islam untuk mengangkat martabat Bangsa Melayu Islam yang berbudaya melalui kegiatan intelektual antarbangsa. Bersama dengan Dato Sri Haji Mohd. Ali Rustam, sejak 2002 Ismail Hussein telah merintis gagasan melahirkan sebuah forum antarbangsa yang bertajuk Konferensi Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI). Konferensi Dunia Melayu Dunia Islam merupakan sebuah forum pertemuan negara-negara yang mempunyai Budaya Melayu, seperti Malaysia, Indonesia, Kamboja, Cina, Sri Lanka, Thailand, Filipina, Australia, Afrika Selatan, dan Madagaskar. Ide ini sukses terealisasi dan salah satunya terselenggara di Melaka, Malaysia pada Kamis, 15 November 2007 (http://kepriprov.go.id).

Dedikasi Ismail Hussein selama lebih dari 30 tahun untuk menggali, memelihara, dan mengembangkan bahasa, sastra, dan budaya Melayu, sepatutnya mendapatkan apresiasi berupa penghargaan. Salah satu penghargaan tersebut adalah penetapan Ismail Hussein sebagai Tokoh Budaya Kementerian Kebudayaan, Kesenian, dan Pelancongan pada 2002. Beliau juga diakui telah mengemban tugas sebagai Duta Kebudayaan Melayu antarbangsa selama 30 tahun lebih (Bakar, 2002: 47).

Karya

Lewat proses yang sangat panjang (lebih dari 30 tahun) Ismail Hussein telah menghasilkan banyak karya. Beberapa karya beliau misalnya:

  1. Tun Sri Lanang dan Sejarah Melayu, (Mastika, November 1957)
  2. Hikayat Negeri Johor (1963)
  3. The Study of Traditional Malay Literature (1966)
  4. A Selected Bibliography of Traditional Malay Literature (1969)
  5. Malay Philology – Possible Contribution From Malaysia, “Nanyang Quarterly I” (1971)
  6. Pengumpulan Tradisi Sastera Lama (1972)
  7. The Study of Traditional Malay Literature with a Selected Bibliography (1974)
  8. Syair Sultan Abu Bakar Ibni Sultan Ibrahim (1976)
  9. Bahasa Jawi – de Taal van Sumatera oleh R. Roolvink (Utusan Malaysia, 22 Mei 1976)
  10. Het Sultanaat Palembang 1811-1825 oleh M.O. Woelders (1976)
  11. Bibliografi Sastera Melayu Tradisi (1978)
  12. Antara Dunia Melayu dengan Dunia Indonesia (1988)
  13. Tamadun Melayu Jilid II (1993)
  14. Tamadun Melayu Jilid III (1995)
  15. Tamadun Melayu Jilid V (1995)
  16. Tamadun Melayu Menyongsong Abad Kedua Puluh Satu Eds. Ke-2 (1997)
  17. Warisan Melayu Sri Lanka (2003)
  18. Warisan Melayu Sri Lanka (2003) (Hussein, 1990: 93-95; Hussein dan Awang, 2003).

Di samping karya tertulis, beliau juga menorehkan karya melalui berbagai organisasi yang telah melibatkan dirinya sebagai penggagasnya. Misalnya, Konferensi Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) pada 2002 dan Lembaga Adat Melayu Serantau (LAMS) pada 29 Mei 2009.

Penghargaan


Pro. Dr. Dato‘ Tan Sri Ismail Hussein ketika menerima anugerah Tokoh Pemersatu Melayu Serantau dalam deklarasi Lembaga Adat Melayu Serantau (LAMS).

Lewat beragam karya dan sepakterjang beliau dalam menggali bahasa, kesusastraan, dan budaya Melayu, maka berbagai penghargaan telah diberikan kepada Ismail Hussein. Penghargaan tersebut antara lain:

  1. Pada 1971 dinobatkan sebagai Profesor Kesusastraan Melayu oleh Universiti Malaya.
  2. Pada 1980 mendapat penghargaan Setia Diraja Kedah dari Sultan Kedah Darul Aman, Malaysia.
  3. Pada 1984 menerima anugerah Doktor Kehormatan (Doctor Horonis Causa) dari Universitas Indonesia.
  4. Pada 1985 mendapat gelar Pendeta pada acara simposium Dunia Melayu ke-2 yang diadakan di Sri Lanka.
  5. Pada 1993 mendapat penghargaan Panglima Setia Mahkota dari Yang Dipertuan Agung Malaysia.
  6. Pada 1995 mendapat bintang penghargaan Hukum Ngon Adat dari Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh, Indonesia.
  7. Pada 1997 menerima anugerah Doktor Kehormatan (Doctor Horonis Causa) dari Universitas Antanarivo, Madagaskar.
  8. Pada 1997 menerima anugerah Profesor Emeritus dari Universiti Malaya.
  9. Pada 2002 mendapat bintang Datuk Dharma Wangsa dari Istana Maimun Medan dan gelar Linggom Banua Melayu dari masyarakat Harahap Padangsidempuan, Sumatera Utara, Indonesia.
  10. Pada tahun 2002 mendapat penghargaan Seri Wira Cendekia Mulia dari Sultan Kedah, Malaysia.
  11. Ditetapkan sebagai Tokoh Budaya Kementerian Kebudayaan, Kesenian, dan Pelancongan pada 2002
  12. Pada 2006 dinobatkan sebagai penerima Anugerah Sastra MASTERA
  13. Pada 2009 ditetapkan sebagai Tokoh Pemersatu Melayu Serantau dalam deklarasi Lembaga Adat Melayu Serantau (LAMS). (Bakar, 2002: 9; http://melayuonline.com/personage; dan http://melayuonline.com/news).

(Tunggul Tauladan/tkh/01/07-2009)

Referensi

Buku

Bakar, Abdul Latiff Abu, Ismail Hussein Bersama Gapena: Biografi dan Koleksi, Kuala Lumpur: Gabungan Persatuan Penulis Nasional Malaysia, 2002.

Husein, Ismail dan Awang Sariyan, Warisan Kebudayaan Melayu Sri Lanka, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2003.

Hussein, Ismail, Tamadun Melayu Menyongsong Abad Kedua Puluh Satu ed. Ke-2, Malaysia: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia, 1997.

Mahayana, Maman S., Akar Melayu: Sistem Sastra dan Konflik Ideologi di Indonesia dan Malaysia, Magelang: Indonesiatera, 2001.

Zaidan, Abdul Rozak dan Dendy Sugono (ed), Adakah Bangsa dalam Sastra?, Jakarta: Progres bekerjasama dengan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasioanal,2003.

Artikel dalam Internet

http://www.mail-archive.com/. Diakses pada 2 Juli 2009.

“Anugerah Tun Perak DMDI,” tersedia di  (http://kepriprov.go.id/. Diakses pada 7 Juli 2009.

“Doktrin Monroe dan Dasar Isolasi Amerika,” tersedia di http://members.tripod.com/. Diakses pada 1 Juli 2009.

“Insiden 13 Mei,” tersedia di http://id.wikipedia.org/. Diakses pada 2 Juli 2009.

“Pejabat Perdana Menteri, Dasar Kebudayaan Kebangsaan,” tersedia di http://vlib.unitarklj1.edu.my/. Diakses pada 3 Juli 2009.

“Resolusi Kongres Bahasa dan Persuratan Melayu Ke-VII,” tersedia di http://www.kongresbahasa.org/. Diakses pada 1 Juli 2009.

“Saman Kerajaan Jika Terus Laksanakan PPSMI,” tersedia di http://www.sabahdaily.com/. Diakses pada 27 Juni 2009

 “Tan Sri Dato ismail Hussein,” tersedia di http://melayuonline.com/=. Diakses pada 27 Juni 2009.

Ahmad Salehudin, “Deklarasi Lembaga Adat Melayu Serantau,” tersedia di http://melayuonline.com/. Diakses pada 27 Juni 2009.

M. Sayuti Fadhil, “Dua Malam di Kampung Aceh, Yan, Kedah, Malaysia,” tersedia di http://www.unimal.ac.id/. Diakses pada 30 Juni 2009.

Prof. Emeritus Tan Sri Ismail Hussein, “Bahasa dan Sastra Melayu Antarabangsa,” tersedia di http://www.kongresbahasa.org/. Diakses pada 27 Juni 2009.


Sumber Foto

Dibaca : 6.946 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password