Sabtu, 29 April 2017   |   Ahad, 2 Sya'ban 1438 H
Pengunjung Online : 2.260
Hari ini : 10.634
Kemarin : 36.506
Minggu kemarin : 413.594
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.231.615
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Siti Aisyah Raja Sulaiman


Raja Aisyah Sulaiman.

Foto ini diambil ketika beliau sedang berada di Jepang untuk menemani suaminya, Raja Khalid Hitam dalam upaya menggalang dukungan bagi Kesultanan Riau-Lingga guna mengusir Belanda.

1. Riwayat Hidup

Raja Aisyah Sulaiman merupakan wanita Riau yang disebut sebagai tokoh paling awal yang secara berani berbicara masalah gender. Melalui beberapa karyanya, Raja Aisyah dianggap sebagai feminis dalam kesetaraan gender.

Raja Aisyah Sulaiman (selanjutnya ditulis Raja Aisyah) merupakan wanita asli Riau yang dilahirkan pada 1870-an di lingkungan istana di Pulau Penyengat (Ding Choo Ming, 2006:82). Raja Aisyah adalah cucu perempuan dari penulis besar, Raja Ali Haji. Sejak usia belasan, Raja Aisyah ditengarai telah mulai menulis, bahkan selepas kematian suaminya, Raja Khalid Hitam pada 11 Maret 1914 (Ding, 2006:82-83). Hanya saja karena tradisi kala itu menuntut penyembunyian jatidiri seorang pengarang, maka sulit sekali untuk menemukan karya Raja Aisyah yang ditulis ketika masih berusia belasan tahun.

Raja Aisyah menikah dengan bangsawan Riau lainnya, Raja Khalid Hitam yang sekaligus juga saudara sepupunya. Raja Khalid Hitam merupakan seorang penulis yang telah menghasilkan beberapa karya, seperti: Syair Perjalanan Sultan Mahmud Lingga ke Johor (diterbitkan pada 1893) dan Thamaratul Matlub fi Anwil Kulub (1896) (Ding, 1999:85). Selepas menikah, keinginan Raja Aisyah untuk terus menulis tetap tidak surut. Bahkan ketika Raja Aisyah harus mengikuti suaminya ke Singapura pada Februari 1911 karena terjadi suksesi di Kesultanan Riau Lingga antara Sultan Abdul Rahman dan Belanda (Ding, 2006:83).


Silsilah para pengarang dari golongan bangsawan Riau

Sebagai seorang bangsawan Riau yang anti Belanda, sudah sewajibnya bagi Raja Khalid Hitam untuk terus berusaha mengusir Belanda dari tanah Riau meskipun kini berada di Singapura. Hal ini dibuktikan dengan langkah diplomasi yang dilakukan oleh Raja Khalid Hitam untuk terus menggalang dukungan dari dunia internasional guna melawan Belanda. Salah satu negara yang menjadi sasaran penggalangan dukungan adalah Jepang.

Pada 1913, Raja Aisyah dan Raja Khalid Hitam berangkat dari Singapura ke Jepang untuk menggalang dukungan (Ding, 2006:83). Di tengah upaya penggalangan bantuan untuk mengusir Belanda dari Riau, Raja Aisyah berpisah dengan sang suami dan kembali ke Singapura. Perpisahan ini tampaknya merupakan perpisahan untuk selamanya karena pada 11 Maret 1914, Raja Khalid Hitam meninggal dunia di Tokyo, Jepang (Ding, 2006:83).

Menurut Raja Hamzah Yunus (1987:1-6) dalam (Ding, 1999:92), Raja Halimah, seorang informan dari Singapura yang telah menemani hidup Raja Aisyah sejak usia 12 tahun, ketika mendengar kematian Raja Khalid Hitam, Raja Aisyah tidak percaya akan kabar tersebut. Oleh karena tidak percaya akan kabar kematian sang suami, Raja Aisyah tetap menyajikan makanan dan minuman untuk menunggu suaminya yang memang biasa meninggalkan rumah selama beberapa hari bahkan minggu. Ketidakpercayaan Raja Aisyah terhadap kematian suami tercintanya juga tergambar dalam Syair Khadamuddin (1987, 13-14):

“Beberapa Kabilah bersamanya itu
Berjalan darat ke negeri ratu
Tiba-tiba datang perompak di situ
Menyamun merampas tiada tentu

Ada melawan ada yang lari
Khadamuddin muda bestari
Bersama-sama membawa diri
Di suatu gua di dalam albari

Syahdan adapun mereka itu yang lari
Ada setengah balik ke negeri
Mendapatkan Khadamuddin ampunya isteri
Berkabarkan suaminya dibunuh pencuri

Dengan dalilnya bukan suatu
Tiap-tiap orang mensaksikan begitu
Sahlah mati saudagar itu
Dibunuh penyamun di atas batu” (Ding, 1999:93)

Kebetulan pula, selain upaya mencari dukungan negara lain, Raja Khalid Hitam adalah juga seorang pedagang. Raja Khalid Hitam mempunyai kedai di Singapura yang menjual barang-barang dalam bentuk eceran kepada orang-orang Jepang yang kala itu sudah ramai di nusantara (Ding, 1999:92). Tampaknya Raja Aisyah menggunakan status saudagar ini untuk menggambarkan suaminya dalam Syair Khadamuddin. Dalam Syair Khadamuddin dikisahkan tentang seorang saudagar yang meninggal karena dibunuh perompak.  

Sepeninggal sang suami, Raja Aisyah yang telah menjanda mulai didekati beberapa lelaki yang ingin menyuntingnya sebagai isteri. Demi menjaga kehormatan di mata masyarakat, Raja Aisyah melakukan berbagai hal untuk menampik ajakan dari beberapa laki-laki. Cara-cara penolakan ini tergambar dengan bahasa kias dalam Syair Khadamuddin, seperti berpura-pura sakit, mengumpulkan beberapa perempuan untuk makan, tidur, dan berbincang-bincang di rumah Raja Aisyah (Ding, 1999:94).

Sepanjang karir kepenulisannya, tema kewanitaan menjadi tema besar bagi Raja Aisyah untuk menuangkan inspirasinya. Tema ini muncul karena adat yang membelenggu kaum wanita untuk tidak bisa disejajarkan dengan kaum pria. Tema inilah yang kemudian juga menginspirasi sasterawan lainnya, seperti Soeman Hs dari Riau.

Soeman Hs mendapatkan inspirasi tentang kecenderungan adat yang tidak berpihak kepada wanita, ketika ia dibuang oleh Belanda ke Pasirpengarayan, Riau pada 1930. Lewat pembuangan inilah, terbit dua novel Soeman Hs yang berjudul Kasih Tak Terlerai (1930) dan Mencari Pencuri Anak Perawan (1932) (Eko Sugiarto, 2007:7).

Secara langsung maupun tidak langsung, kemunculan Raja Aisyah sebagai pengarang, dipengaruhi pula oleh maraknya usaha percetakan dan penerbitan yang menghasilkan berbagai buku dalam tempo singkat, misalnya saja buku Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan yang muncul pada 1838 dalam bentuk huruf cetak (Amin Sweeney, 2005:2). Maraknya percetakan yang ada di ranah Melayu, diakui oleh Ding Choo Ming erat kaitannya dengan para mubaligh dan misionaris Protestan, sehingga keterlibatan badan misionaris dalam perkembangan percetakan dan penerbitan di ranah Melayu sangat besar. Beberapa lembaga misionaris tersebut misalnya British and Foreign Bible Society, The Religious Tract Society, dan Select Committee of The East India Company (Ding, 2008:141-142).

Lembaga misionaris inilah yang pada gilirannya melahirkan beberapa percetakan dan penerbitan di Malaka dan Singapura. Dikutip dari Ibrahim (1982:177) dalam Ding (2008:140), bahwa London Missionary Society yang didirikan di Malaka pada 1815,  telah memperkenalkan percetakan di Malaka. Sementara itu, percetakan yang ada di Singapura mulai muncul seiring dengan kedatangan Thomsen dan Abdullah Munsyi dari Malaka pada 1822. Terlebih lagi setelah Mission Press didirikan pada 1824. Percetakan inilah yang menerbitkan buku Hikayat Abdullah karangan Abdulllah bin Abdul Kadir Munsyi (Ding, 2008:141).

Sedangkan di Riau sendiri, pengaruh percetakan dan penerbitan untuk menyemai tradisi menulis sangat kuat. Hal ini dikarenakan beberapa pembesar (bangsawan) di Riau telah memulai mengumpulkan buku yang dikemas dalam bentuk perpustakaan dan menjalankan usaha percetakan. Melalui usaha percetakan inlah, banyak buku, terutama sastera yang bisa dicetak dan diperbanyak dengan cepat. Percetakan-percetakan tersebut antara lain, Matba‘ah Ahmadiah dan Matba‘ah Riauwiyyah (keduanya merupakan percetakan milik Kesultanan Riau-Lingga). Dari percatakan ini muncul buku-buku seperti Thamarat al-Muhimmah dan Muqaddimah fi Intizam (1886), Syair Kitab al-Nikah (1889) Bahawa Inilah Syair Gemala Mustika Alam (Raja Ali Haji), dan Bahawa Inilah Syair Perjalanan Sultan Lingga dan Yang Dipertuan Muda Riau Pergi Ke Singapura (Raja Khalid Hitam) (Harun Mat Piah et.al., 2006:55-56).

Munculnya percetakan dan penerbitan di Riau juga tidak bisa dilepaskan dari peran sentral Perkumpulan Rusydiah Klab yag didirikan sekitar 1880 (Harun et.al., 2006:56). Perkumpulan ini berdiri ketika Kesultanan Riau-Lingga diperintah oleh Sultan Abdul Rahman II Muadzam Syah (18851911). Ketika Sultan Abdul Rahman II Muadzam Syah memerintah, pada 1894 terdapat semacam perkumpulan para cendekiawan yang disebut Rusydiah Klub dengan dua sarana penunjang: Percetakan Mathba‘at al Riauwiyah, serta sebuah perpustakaan Kutub Kanah Marhum Ahmadi (Hikmat Ishak, 2001:41). Perkumpulan yang diketuai oleh Tengku Besar (Tengku Umar) ini, merupakan tempat di mana para penulis saling bertemu dan berdiskusi untuk menghasilkan berbagai karya yang pada perkembangannya sangat mempengaruhi perkembangan budaya menulis di Riau.

Maraknya pertumbuhan percetakan, baik di Riau maupun di Singapura dan Malaka, membuat karya Raja Aisyah juga ikut terangkat. Kali ini bukan lewat percetakan di Riau, tetapi lewat percetakan di Singapura. Situasi tersebut terjadi karena suksesi yang melanda Kesultanan Riau-Lingga pada 1911 dan dilanjutkan dengan penghapusan Kesultanan Riau-Lingga oleh Belanda pada 1913 (Harun et.al., 2006:56). Ternyata upaya diplomasi yang dilakukan oleh Raja Khalid Hitam dan Raja Aisyah yang sempat bermukim di Singapura, masih terpelihara dan dibuktikan dengan diterbitkannya karya Raja Aisyah di Singapura. Karya tersebut adalah Syair Khadamuddin yang diterbitkan pada 1926 dan Hikayat Syamsul Anuar (Harun et.al., 2006:56-57). Meskipun diperkirakan telah meninggal pada 1925, tetapi karya Raja Aisyah tetap dianggap sebagai sebuah karya yang paling awal membicarakan masalah gender, khususnya dalam adat Melayu.    

2. Pemikiran

Pemikiran Raja Aisyah Sulaiman dapat ditelusuri lewat dua karya beliau, yaitu Hikayat Syamsul Anuar atau Maliaktul Badrul Muin (1890) dan Syair Khadamuddin (diterbitkan pada 1926) (Ding, 1999:86). Kedua karya Raja Aisyah tersebut sangat kental berbicara tentang wanita dan kritik sosial terhadap adat yang membelenggu kaum wanita.

Bagi Raja Aisyah, menulis merupakan cara untuk mengekspresikan pikiran dan juga sebagai sarana untuk menyampaikan kritik. Syair Khadamuddin adalah medium bagi Raja Aisyah untuk menggambarkan sebuah karakter wanita yang merdeka. Wanita yang direstui oleh suaminya untuk diperbolehkan berlaku di luar adat sumur, dapur, dan kasur. Merdeka dalam adat Melayu diartikan bukan merupakan kebebasan yang melalaikan kewajiban seorang isteri. Merdeka di sini diartikan sebagai keleluasaan untuk melakuan keinginan disamping menjalankan kewajiban sebagai seorang isteri. 

Sebagaimana dikutip dalam Hikayat Syamsul Anuar:904) dalam Ding (1999:91):

“Sukacita hatinya (Syamsul Anuar – DCM) melihat atas kepandaian dan ketukangan isterinya hingga memusingkan akal segala yang melihat akan tulisan tangannya. Hal keadaannya dengan terlalu sangat pantasnya. Berbalik-balik awan yang terlalu sangat eloknya. Maka bertambah-tambah gemar hatinya melihat jari isterinya memegang kalam penulis itu terlalu sangat manis rupanya hingga tenggelamlah ia di dalam asyik berahi kasih sayangnya. Syamsul Anuar dan Badrul Muin bercakap seketika. Haripun sudah malam dan mereka beradu hingga fajar pagi besoknya. Sahadan kata sahibul hikayat, demikianlah halnya pada tiap-tiap hari.” 

Ding Choo Ming menganggap bahwa peran Sabariah dalam Syair Khadamuddin dan Badrul Muin dalam Hikayat Syamsul Anuar tidak lain adalah perwujudan dari kisah hidup, perasaan, dan watak simbolis dari Raja Aisyah (Ding, 1999:90). Dengan demikian, jika ditinjau dari jenis pustakanya, Hikayat Syamsul Anuar merupakan sebuah autobiografi dari Raja Aisyah yang disimbolkan melalui perwujudan Badrul Muin.

Ekpresi dunia mengarang di Riau di akhir abad ke-19, memang sedang menunjukkan grafik peningkatan produksi karya autobiografi. Ditambah lagi kecenderungan sikap individualistik bagi pengarang (sastra khususnya) di ranah Melayu juga mulai mengalami peningkatan dalam abad yang sama. Beberapa karya besar yang muncul di abad tersebut memang didominasi karya autobiografi, seperti: Hikayat Abdullah (1843) karya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Hikayat Syamsul Anuar (1890) karya Raja Aisyah Sulaiman, dan Pohon Perhimpunan (1890) karya Raja Ali Kelana yang dikemas dalam sebuah kisah perjalanan (pelayaran) (Ding, 1999:39).

Satu kesamaan dari beberapa karya tersebut adalah sebuah fakta bahwa pengarang dalam setiap karya sastra berusaha menunjukkan pengungkapan diri, baik secara terang-terangan (seperti karya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi) maupun secara simbolik (seperti karya Raja Aisyah). Benang merah dari karya-karya tersebut adalah pengisahan tentang apa yang berlaku di sekitar pengarang sekaligus apa yang dirasakan oleh para pengarang tersebut.

Menurut Ding (1999), Raja Aisyah sendiri berusaha mencari kepuasan diri dalam mengarang. Dengan meluapkan perasaan, pendirian, reaksi, harapan, dan keinginannya, Raja Aisyah telah menjadi pengarang ekspresif, memupuk realitas dan individualitas. Akan tetapi karena kenyataan (kebebasan pribadi sebagai seorang wanita) tidak mungkin tercapai dalam kehidupan nyata, maka Raja Aisyah mencampurkan kenyataan yang dialami dengan imajinasinya dalam sebuah karya. Dengan demikian, terbukalah ruang yang maha besar dan tak terhingga luasnya bagi pemikiran Raja Aisyah untuk menuangkan segala pemikiran dalam bahasa tulis (Ding, 2006:83).

Menurut Ding (1999:97-98), gambaran pertama tentang Raja Aisyah setelah membaca Hikayat Syamsul Anuar (1.067 halaman), Syair Khadamuddin (1.483 lembar syair), dan Hikayat Shariful Akhtar (25 jilid buku latihan sekolah rendah dan masih dalam bentuk naskah di Museum Kuala Terengganu), merupakan sosok wanita sangat rajin, tekun, dan disiplin. Pandangan Ding ini dikuatkan oleh Raja Halimah yang menambahkan bahwa tuannya (Raja Aisyah) juga berpandangan optimistik, berkemauan keras, suka membaca, beriman, dan bersikap individualistik. Seperti dikutip Hikayat Syamsul Anuar:

 “Maka Syamsul Anuar pun menyingkap tirai itu perlahan-lahan. Didapatinya isterinya membaca Kitab al-Adab serta menguraikan mahfumnya hingga sampai kepada anak isteri dan suaminya (789)... Maka Malkatul Badrul Muin pun tiada terkira-kira rasa hatinya hingga tunduklah ia mendiamkan dirinya. Beberapapun dibujuknya oleh Syamsul Anuar hendak dibawa beradu, tiada juga ia mahu. Maka mengambilnya ia akan kitab yang hadir di situ. Lalu menelaaah dan tidaklah ia menghiraukan akan segala perkataan perlakuan Syamsul Anuar itu. Maka Syamsul Anuar pun tiadalah terbiasa hatinya. Titahnya, ‘Silalah nyawaku baca kuat-kuat sedikit, serta takbirkan supaya boleh abang menumpang mendengar. Jangan mahkota abang saja lalim. Abangpun hendak alim juga‘ (77).”   

Petikan di atas menyiratkan makna tentang adanya kebebasan bagi wanita sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Badrul Muin. Pengertian seorang Syamsul Anuar terhadap sang isteri, bagi Raja Aisyah setidaknya bisa memberikan contoh sebuah keluarga yang saling mengerti, minimal di antara pasangan suami-isteri.

Hikayat Syamsul Anuar dan Syair Khadamuddin merupakan ekspresi Raja Aisyah yang lahir dari pengungkapan diri terhadap segala sesuatu, baik yang disukai maupun yang tidak disukai. Dari segi gender, menurut Ding (2006:83), watak Syamsul Anuar dalam Hikayat Syamsul Anuar tidak menonjolkan sifat kejantanan. Sebaliknya Badrul Muin ditonjolkan sebagai seorang perempuan yang tidak mau menyerah terhadap berbagai rintangan.

3. Karya

Berikut ini adalah karya dari Raja Aisyah Sulaiman, antara lain:

  1. Hikayat Syamsul Anuar atau Maliaktul Badrul Muin (yang diterbitkan pada 1890).
  2. Syair Khadamuddin (diterbitkan pada 1926).
  3. Syair Seligi Tajam Bertimbal (diterbitkan pada 1929).
  4. Hikayat Syariful Aktar (diterbitkan pada 1929) (Ding, 1999:86).

(Tunggul Tauladan/tkh/01/10-2009)

Referensi

Ding Choo Ming. 1999. Raja Aisyah Sulaiman Pengarang Ulung Wanita Melayu. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.

______________. 2006. “Wajah Terbuka dan Hidup Tertutup: Gender dan Seksualiti dalam Karya Sastera Melayu Riau Pinggir Abad ke-19.” Dalam Sari. Vol. 24. Juli 2006.

Eko Sugiarto. 2007. Melayu di Mata Soeman Hs.: Kritik Terhadap Adat Lewat Sebuah Novel. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerjasama dengan Adicita Karya Nusa.

Amin Sweeney. 2005. Karya Lengkap Abdullah bin Abudl Kasir Munsyi Jilid 1. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Ecole francaise d‘Extreme-Orient.

Harun Mat Piah et.al. 2006. Kesusasteraan Melayu Tradisional. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Hikmat Ishak. 2001. Warisan Riau: Tanah Melayu Indonesia yang Legendaris. Pekanbaru: Yayasan Warisan Riau.

Sumber Foto

Ding Choo Ming. 1999. Raja Aisyah Sulaiman Pengarang Ulung Wanita Melayu. Bangi;Universiti Kebangsaan Malaysia.

Ding Choo Ming. 2006. “Wajah Terbuka dan Hidup Tertutup: Gender dan Seksualiti dalam Karya Sastera Melayu Riau Pinggir Abad ke-19.” Dalam Sari. Vol. 24. Juli 2006.

Dibaca : 7.857 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password