Rabu, 22 Oktober 2014   |   Khamis, 27 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 2.111
Hari ini : 16.637
Kemarin : 21.528
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.257.366
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

UU Hamidy


UU Hamidy

1. Riwayat Hidup

UU Hamidy lahir di Rantau Kuantan, Riau, tanggal 17 Nopember 1943. Ia memperoleh gelar Sarjana Pendidikan dalam Bidang Bahasa dan Sastra Indonesia dari IKIP Madang pada tahun 1970. Sejak tahun 1971, ia bekerja sebagai tenaga edukatif pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan, Universitas Riau, Pekanbaru, Propinsi Riau dan memasuki masa pensiun dari masa tugasnya sebagai dosen pada tanggal 1 Desember 2008.

Pada tahun 1978-1979, UU Hamidy memperdalam studi tentang Kebudayaan Melayu pada Jabatan Pengajian Melayu Universiti Malaya, Kuala Lumpur. Tesisnya yang berjudul Randai Dalam Kehidupan Masyarakat Melayu Riau (1980) menyandangkan gelar Master of Arts kepadanya. Tulisannya banyak tersebar di berbagai media di dalam dan luar negeri. Lebih kurang lima puluh (50) judul buku yang pernah ia publikasikan. Sebagian besar karya UU Hamidy bertemakan tentang kajian kebudayaan Melayu, kesusastraan, dan pengembangan budaya Melayu yang bermartabat.

Di dalam buku UU Hamidy yang berjudul Rahasia Penciptaan (2005), UU Hamidy menceritakan sebagian kecil riwayat hidupnya dengan cara berbeda dibanding pemaparan biografi pada buku-buku sebelumnya. Masa kecilnya dijalani di tepi rimba belantara yang sepi dari keramaian manusia. Suasana alam itu membuat hatinya merasa tenang dan damai. Kedamaian dan keheningan alam yang ia amati sejak masa kecil memicu kecintaannya terhadap alam semesta dan ia memutuskan untuk bersekolah, sebagaimana jadi dambaan kebanyakan orang.

Setelah masa perenungan dan penyerahan dirinya kepada Kehendak Allah, ia melanjutkan perjalanan hidup dengan merantau. Setelah mendiami kampung halaman selama lima belas tahun, ia merantau ke Jambi selama tiga tahun, lalu ke Malang selama tujuh tahun. Ia juga menulis memoarnya di dalam buku yang berjudul Rahasia Penciptaan, di dalam bab Hamba Hanya Siapa (2005) tentang perjalanannya ke Aceh selama satu tahun, di Makasar (Ujung Pandang) selama beberapa bulan, di Kuala Lumpur, Malaysia, selama hampir dua tahun, dan akhirnya menetap di Pekanbaru, Riau. Pengalaman merantau yang penuh dengan kegetiran dan kegembiraan tersebut mendidik UU Hamidy sehingga mampu bersikap objektif terhadap perspektif kemelayuannya.

Saat ini, UU Hamidy bergiat dalam dunia menulis, termasuk mengisi Rubrik Budaya di Harian Riau Pos, mengisi berbagai kegiatan seminar (jika ia berhasil ”dijebak” oleh murid atau mahasiswanya untuk hadir), dan menggiatkan diri dalam berbagai aktivitas ibadah sebagai bentuk kerendahan hatinya di hadapan Allah swt. Tidak mengherankan jika cukup banyak budayawan, seniman, dan jurnalis di Riau lahir sebagai produk pendidikan UU Hamidy.

2. Pemikiran

Pemikiran UU Hamidy seringkali berasas kepada penciptaan azam Melayu dan tamadun pemikiran kebudayaan Melayu yang dinamis dan prinsipil. Kepeduliannya kepada budaya Melayu tidak perlu diragukan lagi. Puluhan karya dan pemikiran dipublikasikannya dalam bentuk buku, esai budaya dan sastra yang sering mengisi Rubrik Budaya di Harian Riau Pos dalam kurun beberapa tahun terakhir, dan berbagai karya tulis lainnya di dunia akademis, seminar, dan workshop. Sesepuh di Negeri Melayu Riau ini dikenal sebagai figur yang kritis, provokatif kepada kader sastrawan untuk berkarya, bersahaja, lugas, dan spiritualis. Dalam salah satu kunjungan silaturahmi penulis sekitar tahun 2008, penulis cukup lama menunggu budayawan ini pulang dari masjid. Saat itu UU Hamidy melaksanakan shalat Isya. Selepas ia shalat berjamaah, dengan ramah dan antusias UU Hamidy berbincang dengan penulis tentang budaya, sastra sufi, dan kesejatian putera Melayu.

Sementara itu, pada salah satu acara Seminar Internasional yang ditaja oleh Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Lancang Kuning, UU Hamidy pernah berkata, “Bila saya sebagai seorang budayawan meninggal dunia, maka siapa yang akan menggantikan saya. Tetapi bila seorang pejabat pemerintah yang meninggal dunia, seketika itu juga orang akan berebut untuk menggantikan posisinya.” Selain itu, Junaidi (2009) menjelaskan figur UU Hamidy melalui pemaparan berikut ini.

Kita sering mengadakan pertunjukan kebudayaan tetapi kita tidak paham nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan itu. Ini bertentangan dengan apa yang telah dilakukan oleh UU Hamidy. UU Hamidy telah meneliti kebudayaan dan ia ungkapkan nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaaan itu. Ia kemudian menuliskannya ke dalam buku untuk kita sebagai pewaris kebudayaan Melayu.

Pengaruh pemikiran UU Hamidy setidaknya terlihat pada dua domain utama, yaitu konsistensi mengangkat budaya Melayu dan bertolak dari prinsip dasar keilmuan yang kuat. Selengkapnya pengaruh pemikiran UU Hamidy adalah sebagai berikut (Junaidi dalam www.sagangonline.com, 2009).

...Saya baru mengenali UU Hamidy secara pribadi sejak menjadi Dekan di FIB Unilak. Ketika FIB Unilak bertekad untuk menghidupkan kembali Jurusan Sastra Melayu —setelah enam tahun tanpa ada mahasiswa— kami meminta petuah dan dukungan dari UU Hamidy. Sikap konsisten beliau untuk mengangkat kebudayaan Melayu, telah memprovokasi jiwa kami untuk terus berjuang menyelamatkan kebudayaan Melayu dengan cara mempertahankan keberadaan Jurusan Sastra Melayu di FIB Unilak. Tanpa dorongan dari beliau, sulit bagi kami untuk mempertahankan Jurusan Sastra Melayu sebab banyak pihak yang tidak peduli dengan keberadaan jurusan itu. Bahkan banyak pula pihak yang berkeinginan untuk menutup jurusan itu sebab dianggap tidak produktif dan tidak sesuai dengan minat bursa kerja. Tetapi sikap konsisten UU Hamidy telah mengembalikan kepercayaan diri kami dan menyadarkan jiwa kami untuk konsisten pula memperjuangkan kebudayaan Melayu melalui jalur pendidikan tinggi sebab salah satu upaya untuk membangkitkan kebudayaan Melayu di Riau adalah dengan pendekatan akademis.

…UU Hamidy lebih dari pada budayawan biasa sebab beliau mempunyai dasar pengetahuan akademis yang kuat. Sebagai seorang dosen tetap di Unri dan dosen luar biasa di beberapa perguruan tinggi di Pekanbaru, UU Hamidy telah membagikan ilmunya kepada kita. Ketika beliau mengajar di kelas, kita dapat melihat betapa sangat dalamnya pengetahuan beliau tentang kebudayaan Melayu. Kita sering merasa sangat kecil bila berhadapan dengan sosok UU Hamidy yang sudah sangat mendalam memahami kebudayaan Melayu. Banyak persoalan kebudayaan Melayu yang tidak terpikirkan oleh kita, tetapi UU Hamidy mampu menjelaskannya. Dengan bekal akademis sarjana dan master yang dimilikinya, UU Hamidy mampu menjelaskan kebudayaan Melayu secara logis dan empiris. Ini menunjukkan bahwa pemikiran UU Hamidy tentang kebudayaan Melayu perlu kita hargai dan dijadikan rujukan bila kita berbicara tentang Melayu.

Sementara itu, UU Hamidy juga memberikan perhatian dan kajian penting terhadap bahasa Indonesia, khususnya pemikiran dan kajiannya tentang sumbangan bahasa Melayu Riau kepada bahasa dan bangsa Indonesia. Ia mengupas latar belakang permasalahan tersebut di dalam bukunya yang berjudul Riau sebagai Pusat Bahasa dan Kebudayaan Melayu (2003). UU Hamidy mengutip pendapat Asmah Binti Haji Omar (dalam Riau sebagai Pusat Bahasa dan Kebudayaan Melayu:2) yang menolak adanya dua istilah bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Senada dengan itu, Umar Junus juga membuat pemisahan yang tegas antara bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. UU Hamidy juga melanjutkan polemik dimensi kebahasaan tersebut dengan mengutip pendapat tentang pemilihan Dialek Riau sebagai bahasa Indonesia yang juga dikuatkan oleh pandangan Soedarmo bahwa bahasa Indonesia sama dengan bahasa Melayu. Demikian pula dengan pandangan orang-orang di daerah Sungai Kuantan dan Indragiri yang memakai istilah Melayu Tinggi untuk merujuk pada bahasa Indonesia. Polemik di atas, menurut UU Hamidy, terjadi karena pemutusan pembahasan mata rantai penyelidikan dalam memperhatikan rangkaian pertumbuhan dan perkembangan bahasa Melayu semenjak dari keadaannya ratusan tahun yang lalu sebagai lingua franca sampai kepada wajahnya sekarang ini.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, UU Hamidy (2003) memaparkan secara sistematis tentang penguraian historis bahasa Melayu sebelum Kerajaan Melayu, tiga pusat penyebaran bahasa Melayu Riau, dan perpecahan pemakaian bahasa Melayu Riau di dua daerah. Ia menulis tentang bukti ilmiah etnis Melayu yang berasal dari suku-suku bangsa Austronesia sekitar 2000 tahun sebelum Masehi. Pembahasan penting menurut UU Hamidy adalah keserumpunan bahasa Melayu ditinjau dari aspek keserumpunan budaya suku-suku bangsa Austronesia, termasuk pengaruhnya kepada bahasa Melayu Riau yang berada di cabang rumpun suku bangsa Austronesia yang mengisi wilayah kepulauan nusantara.

UU Hamidy (2003:7) juga mengupas pengaruh bahasa Melayu yang ditinjau dari pengaruh Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim terbesar pada abad VII memiliki catatan sejarah memperluas wilayah dan kekuasaaannya sampai ke Campa dan Kamboja. Wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya membentang sampai ke Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Wilayah kekuasaan yang luas itu tentu saja berjalan linier dengan perkembangan pengaruh bahasa Melayu Kerajaan Sriwijaya kepada wilayah yang dikuasai, sebagaimana orang Romawi menyebarkan kekuasaan atau masa keemasan Islam pada era kekhalifahan yang mengembangkan sayap kebudayaan dan bahasa sampai ke Afrika dan Andalusía. Menurut kajian ilmiah UU Hamidy, faktor-faktor tersebut menyebabkan bahasa Melayu menjadi bahasa yang dominan di kawasan nusantara dan Asia Tenggara. Faktor tersebut juga menjadi penyebab bahasa Melayu menjadi bahasa resmi di Indonesia dan Malaysia, tentu saja setelah mengalami berbagai perubahan yang membentuk bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia masa kini. Pembahasannya tersebut merupakan salah satu wujud kontribusi pemikiran UU Hamidy sebagai salah seorang akademisi di bidang bahasa.

Pengaruh pemikiran UU Hamidy di bidang kebudayaan, khususnya budaya Melayu, dapat dijumpai di dalam salah satu bukunya yang berjudul Jagad Melayu dalam Lintasan Budaya di Riau (2006). Ia berpendapat bahwa puak Melayu di Riau telah mengambil Islam sebagai jalan hidupnya dan melihat dengan arif atas hubungan yang erat antara keimanan dengan alam sekitar. Keimanan seseorang tidak dilihat dari ketaatan menjalankan perintah Allah melalui syariat, tetapi seharusnya juga tampak dalam sikap dan perbuatan terhadap alam. Ia menggambarkan gagasan tersebut melalui bait-bait sajak berikut ini.

adat hidup orang beriman
tahu menjaga laut dan hutan
tahu menjaga kayu dan kayan
tahu menjaga binatang hutan

tebasnya tidak menghabiskan
tebangnya tidak memusnahkan
bakarnya tidak membinasakan

UU Hamidy juga menekankan ciri kebudayaan Melayu dan keimanan selayaknya berbanding lurus dengan perilaku beradat dan beresam yang baik, memelihara hubungan dengan Tuhan, manusia, dan alam semesta. Dasar pandangan tersebut menjadi ciri kearifan lokal budaya Melayu terhadap sistem budaya. Inilah jalan bagi orang Melayu untuk menjadi makhluk mulia sebagaimana tertulis dalam kata bersajak berikut ini (2003:102).

adat hidup memegang adat
tahu menjaga laut dan selat
tahu menjaga rimba yang lebat
tahu menjaga tanah ulayat
tahu menjaga semut dan ulat
tahu menjaga togok dan belat

tahu menebas memegang adat
tahu menebang memegang amanat
tahu berladang menurut undang
tahu berkebun mengikut kanun

beramu tidak merusak kayu
berotan tidak merusak hutan
bergetah tidak merusak rimba
berumah tidak merusak tanah
berkebun tidak merusak dusun
berkampung tidak merusak gunung
berladang tidak merusak padang

adat hidup memegang amanah
tahu menjaga hutan dan tanah
tahu menjaga bukit dan lembah
berladang tidak merusak tanah
berkebun tidak merusak rimba

Di sisi lain, UU Hamidy juga menekankan simbol sosial budaya Melayu Riau dengan perumpamaan-perumpamaan yang menarik. Ia menarik hubungan yang metaforis dari berbagai perlengkapan budaya Melayu menjadi makna tertentu terhadap perilaku di tataran masyarakat. Untuk lengkapnya, UU Hamidy memaparkan simbol sosial budaya tersebut dalam contoh perangkat sebagai berikut (2003:15).

Sirih pinang atau lengkapnya sirih, pinang, kapur, tembakau, dan gambir, di samping sebagai makanan, juga menjadi lambang kehidupan dan kegiatan sosial. Sirih telah dipakai sebagai tanda basa-basi pergaulan. Di mana bertemu kaum kerabat dan kontak sosial, sirih telah disodorkan untuk pembuka kata. Sirih dimakan untuk pengobatan, misalnya untuk mempertahankan gigi, pemerah bibir, obat luka, dan gatal-gatal. Tapi sirih pinang itu juga dipandang sebagai lambang suka dan duka kehidupan manusia. Kalau kita makan sirih, maka akan ada empat yang kita rasakan, yaitu manis, pahit, kelat, dan pedas. Manis dapat dipandang sebagai rasa senang dan bahagia. Pahit rasa kecewa, penderitaan maupun cobaan. Kelat sebagai rasa kesal dan jengkel. Sedangkan rasa pedas sebagai rasa marah. Itulah ragam kehidupan. Ini semua niscaya pernah dilalui oleh manusia. Dia tak dapat menghindar karena itulah liku-liku kehidupan.

UU Hamidy merupakan tokoh Melayu di Riau yang bergelut dengan berbagai disiplin ilmu, khususnya bidang bahasa dan budaya. Sebagian pembahasan di atas merupakan rujukan loyalitas dan pemikirannya kepada nilai budaya Melayu. Tak urung, disiplin filsafat juga pernah ia kaji dan teliti melalui buku Nilai, Suatu Kajian Awal (1993). Akan tetapi, nama UU Hamidy lebih dikenal sebagai budayawan dan seniman di bidang kesusastraan karena karya-karyanya lebih banyak bertemakan budaya dan bahasa.

3. Karya-karya

UU Hamidy memulai penelitian atas masalah sosial budaya secara beruntun yang dimulai dari mengikuti program Pusat Latihan Ilmu-Ilmu Sosial di Aceh tahun 1974 yang dituangkannya dalam Segi-Segi Sosial Masyarakat Aceh (LP3ES). Selain itu, sebagian karya tulis dan pemikiran UU Hamidy yang pernah dipublikasikan adalah sebagai berikut:

  • Pengarang Melayu di Riau dan Abdullah Munsyi (1981).
  • Sikap Orang Melayu Terhadap Tradisinya di Riau (1981)
  • Sistem Nilai Masyarakat di Pedesaan Riau (1982).
  • Riau sebagai Pusat Bahasa dan Kebudayaan Melayu (1984).
  • Kedudukan Kebudayaan Melayu di Riau (1985).
  • Orang Patut (Disusun bersama Muchtar Ahmad), tahun 1984.
  • Dukun Melayu Rantau Kuantan Riau (1986).
  • Kesenian Jalur di Rantau Kuantan Riau (1986).
  • Kasin Niro Penyadap Enau (1987).
  • Rimba Kepungan Sialang (1987).
  • Kesusastraan Islam di Rantau Kuantan, Riau (1988).
  •  Sikap dan Pandangan Hidup Ulama di Daerah Riau (1988).
  •  Ketakwaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam Sistem Sosial Budaya Orang Melayu (1989).
  • Perjuangan Yayasan Lembaga Pendidikan Islam di Riau (1989).
  • Kebudayaan sebagai Amanah Tuhan (1989).
  • Indonesia, Malaysia, dan Singapura dalam Pandangan Orang Melayu di Riau (1990).
  • Masyarakat dan Kebudayaan di Riau (1990).
  • Syair Suluh Pegawai: Hukum Nikah, (1990).
  • Estetika Melayu di Tengah Hamparan Estetika Islam (1991).
  • Beberapa Aspek Sosial Budaya di Daerah Riau (1993).
  • Nilai, Suatu Kajian Awal (1993).
  • Dari Bahasa Melayu sampai Bahasa Indonesia (1995).
  • Kamus Antropologi Dialek Melayu Rantau Kuantan Riau (1995).
  • Cakap Rampai-Rampai Budaya Melayu di Riau (1997).
  • Islam dan Masyarakat Melayu di Riau (1999).
  • Bahasa Melayu dan Kreativitas Sastra di Daerah Riau (2003).
  • Jagad Melayu dalam Lintasan Budaya di Riau (2006).

4. Penghargaan

Anugerah Sagang Tahun 2007 Kategori Budayawan dan Seniman Pilihan.

Referensi

  • UU. Hamidy, 2006. Jagad Melayu dalam lintasan budaya di Riau. Pekanbaru: Bilik Kreatif Press.
  • UU. Hamidy, 1991. Masyarakat terasing daerah Riau di gerbang abad XXI. Pekanbaru: Penerbit Zampad.
  • UU. Hamidy, 1989. Kebudayaan sebagai amanah Tuhan. Pekanbaru: Universitas Islam Riau Press.
  • UU. Hamidy, Muchtar Ahmad, 1984. Orang Patut. Pekanbaru: Bumi Pustaka.
  • UU. Hamidy, 2005. Rahasia penciptaan. Pekanbaru: Bilik Kreatif Press.
  • UU. Hamidy, 2003. Riau sebagai pusat bahasa dan kebudayaan Melayu. Cetakan Keempat. Pekanbaru: UNRI Press.

Sumber Internet:

  • Junaidi, SS, 2009. UU. Hamidy, penjaga Kebudayaan Melayu. [online] Tersedia di http://www.sagangonline.com. [Diunduh pada tanggal 23 Februari 2010].

Sumber Foto:

(Bahril Hidayat/tkh/01/02-2010)

Dibaca : 3.809 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password