Sabtu, 27 Mei 2017   |   Ahad, 1 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 8.066
Hari ini : 58.824
Kemarin : 79.515
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.475.750
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Djohan Hanafiah


Riwayat Hidup

Djohan Hanafiah adalah anak sulung dari tujuh bersaudara yang lahir pada tanggal 5 Juni 1939 di Palembang dari pasangan Raden Muhammad Ali Amin dan Raden Ayu Ning Fatimah. Ayah Djohan Hanafiah adalah seorang biroktat beraliran nasionalis. Sikap nasionalis sang ayah ditunjukkan ketika zaman revolusi fisik tahun 1945-1946, Raden Muhammad Ali Amin turut bergerilya ke pedalaman Sumatra Selatan melawan tentara NICA (Nederlandsch Indië Civil Administratie). Selain itu ayah Djohan Hanafiah juga tidak mau memasukan anaknya ke sekolah-sekolah buatan Belanda dan lebih memilih Taman Siswa (http://www.sripoku.com/).

Sejak usia dini, Djohan Hanafiah telah dikenalkan dengan pendidikan di Taman Siswa. Sejak masuk pendidikan sekolah dasar antara tahun 1945-1946 sampai dengan sekolah menengah atas, semua ditempuh oleh Djohan Hanafiah di Taman Siswa di Palembang (http://www.sripoku.com/). Besar kemungkinan dari sinilah pengaruh sosok Ki Hajar Dewantara sangat dirasakan oleh Djohan Hanafiah. Sosok pendidik dan penggali budaya sebagaimana yang tercermin dalam pribadi Ki Hajar Dewantara membekas kuat dalam kehidupan Djohan Hanafiah selanjutnya.

Pria yang akhirnya menempuh pendidikan di Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatra Selatan ini kemudian aktif dalam kegiatan tulis-menulis untuk menyalurkan minatnya dalam bidang kebudayaan. Di bangku kuliah inilah, Djohan Hanafiah banyak menghabiskan waktu untuk bergulat dengan kajian kebudayaan. Organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan koran Panji Revolusi akhirnya dijadikan media bagi Djohan Hanafiah untuk menyalurkan minatnya dalam bidang kebudayaan (http://www.sripoku.com/).

Aktivitas Djohan Hanafiah di bidang kebudayaan sempat terhenti karena selepas menyelesaikan kuliah, Djohan Hanafiah mulai merambah ke dunia bisnis. Keputusan untuk terjun ke dunia bisnis ternyata lebih dipengaruhi oleh faktor politis, yaitu peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang mengharuskan Djohan Hanafiah untuk tidak menulis tentang kebudayaan.

Pada tahun 1967-1971, Djohan Hanafiah menjadi Representative Area Sumatra for CIBA-GEIGY. Selanjutnya pindah menjadi Sales Manager for Southern Sumatra Grolier International hingga tahun 1973, lalu membuat perusahaan sendiri yakni CV.Mitra, authorized dealer Volkswagen di Palembang hingga tahun 1975. Kemudian Djohan terjun sebagai pengurus HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) dan KADIN (Kamar Dagang Indonesia) (http://www.sripoku.com/).

Bisnis Djohan Hanafiah terus berkembang hingga memimpin sejumlah perusahaan di Palembang. Terakhir, Djohan Hanafiah menjabat sebagai Direktur Utama PT.Tejacatur Primaperkasa hingga 1993, sebelum akhirnya memutuskan terjun ke dunia politik dan meluangkan waktu yang lebih banyak untuk menggali sejarah dan budaya Palembang. Selama dua periode, yaitu periode 1992-1997 dan 1999-2004, Djohan Hanafiah terpilih menjadi anggota DPRD Sumatra Selatan. (http://www.sripoku.com/).

Ternyata di sela-sela kesibukannya dalam berbisnis dan berpolitik, minat Djohan Hanafiah untuk menulis tentang budaya kembali muncul. Bermula dari rasa penasaran dan kegelisahan akan kalimat yang lazim berlaku di masyarakat tentang penyebutan wong Palembang sebagai Palembang “Buntung”, Djohan Hanafiah mencoba mengurai makna dari anggapan Palembang “Buntung” tersebut.

Sebutan Palembang “Buntung” sebenarnya lebih bermakna sebagai anekdot karena para pendatang, baik dari Jawa, Minang, atau Melayu, menilai bahwa wong Palembang adalah perwujudan dari budaya yang “gado-gado”, yaitu suatu anggapan yang dikenakan kepada wong Palembang karena dinilai tidak memiliki identitas yang jelas. Wong Palembang dinilai tidak memiliki budaya yang mengakar kuat karena adanya dua budaya besar yang berpangaruh bagi orang Palembang, yaitu Melayu dan Jawa.   

Sebagai salah satu upaya untuk mengaplikasikan pemikirannya, Djohan Hanafiah menulis buku yang berjudul Melayu-Jawa: Citra budaya dan sejarah Palembang. Buku yang terbit pada tahun 1995 ini mengupas tentang wong Palembang, asal dan adat istiadatnya yang ternyata berkaitan erat dengan budaya yang datang silih berganti di Palembang sehingga mendistorsikan budaya setempat (local genius) yang berujung pada penyebutan Palembang “Buntung” (Djohan Hanafiah, 1995:2, 10, 13-14).    

Selain bergiat di bidang kebudayaan, Djohan Hanafiah juga menaruh perhatian yang serius terhadap sejarah Palembang. Jika ditilik ke belakang, latar belakang ketertarikan Djohan Hanafiah tentang sejarah Palembang, khususnya nasionalisme, terpengarauh dari dua figur utama, yaitu Ki Hajar Dewantara dan Raden Muhammad Ali Amin (ayah Djohan Hanafiah).

Dua figur inilah yang membentuk karakter Djohan Hanafiah. Ki Hajar memberikan cerminan bagaimana cara mengangkat derajat kaum Bumiputera yang diwujudkan melalui Perguruan Taman Siswa. Sedangkan Raden Muhammad Ali Amin mengajarkan tentang sisi nasionalisme yang diterjemahkan dengan keikutsertaaannya dalam perang gerilya pada masa revolusi fisik dan menolak untuk memasukkan anak-anaknya di sekolah buatan Belanda dan lebih memilih Taman Siswa.

Sisi nasionalisme telah diajarkan oleh dua figur utama yang membentuk karakter Djohan Hanfiah yang mengedepankan pemikiran untuk mengangkat budaya dan sejarah lokal Palembang. Djohan Hanafiah mencoba untuk menuliskan budaya dan sejarah Palembang, baik tentang peristiwa maupun adat istiadat. Lewat berbagai tulisan yang kemudian dibukukan dan diseminarkan tersebut, Djohan Hanafiah menaruh harapan bahwa budaya dan sejarah Palembang dapat dikenal dan lestari.

Buku pertama yang ditulis oleh Djohan Hanafiah yang berbicara tentang masalah sejarah adalah peperangan antara pihak Belanda dengan Kesultanan Palembang Darussalam pada tahun 1819-1821. Buku tersebut berjudul Perang Palembang 1819-1821 yang diterbitkan oleh Pariwisata Jasa Utama pada tahun 1986. Secara khusus, Djohan Hanafiah menyatakan bahwa, “Saya menulis soal sejarah perang ini, sebab hanya perang itu yang terus membangun rasa nasionalisme wong Palembang,” katanya (http://www.sinarharapan.co.id/).

Lewat karya Djohan Hanafiah gairah untuk menanamkan nasionalisme di kalangan wong Palembang mulai tersemai. Bisa dikatakan minat wong Palembang untuk kembali menggali sejarah daerahnya berawal dari pembacaan kembali tulisan-tulisan dari Djohan Hanafiah. Tulisan-tulisan Djohan Hanafiah berpengaruh untuk membangun kesadaran tentang kepedulian wong Palembang terhadap sejarah daerahnya sendiri.

Meskipun telah cukup memberikan hasil, aktivitas Djohan Hanafiah untuk terus menulis tidak berhenti sebatas hanya menerbitkan sebuah buku saja. Djohan Hanafiah terus mencari ide-ide baru yang berkenaan dengan sejarah Palembang dan akhirnya berhasil menerbitkan beberapa karya tulis, antara lain Masjid Agung, sejarah dan masa depannya (1988); Palembang zaman baru, citra Palembang tempo doeloe (1988); Kuto Besak: Upaya Kesultanan Palembang menegakkan kemerdekaan (1989) (http://www.kidnesia.com/).

Selain menulis buku tentang sejarah dan kebudayaan, Djohan Hanafiah juga merupakan seorang organisator. Setidaknya ada dua organisasi kebudayaan yang pernah didirikan oleh suami dari Napsiah ini, yaitu Kerukunan Keluarga Palembang (KKP) pada tahun 1997 (http://www.seputar-indonesia.com/) dan Himpunan Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam yang dipimpin oleh Drs. Raden H. Muhammad Sjafei Prabu Diradja, S.H. bin Raden H. Abdul Hamid Prabudiradja IV dengan gelar Sultan Mahmud Badaruddin Prabudiradja (Sultan Mahmud Badaruddin III). Zuriat ini didirikan pada tanggal 3 Maret 2003 di Masjid Lawang Kidul, Palembang (Kemas Ari, 2006, dalam www.kesultanan-palembang-darussalam.com).

Kiprah Djohan Hanafiah dalam menggali, mengembangkan kebudayaan, dan sejarah lokal Palembang sepertinya merupakan pekerjaan yang tidak akan pernah selesai. Akan tetapi kondisi fisik Djohan Hanafiah yang semakin renta akhirnya mencapai titik maksimal. Ayah dari Revi Vereyanthi, Resi Stantiawati, Reli Everyanti, dan Mohamad Iksan ini harus dirawat di rumah sakit karena didiagnosa menderita penyakit jantung.  (http://www.sripoku.com/).


Djohan Hanafiah di usia senja

Tokoh besar yang dikenal oleh masyarakat Palembang sebagai budayawan dan sejarawan ini akhirnya tutup usia pada hari Kamis, 15 April 2010, pukul 01.15 WIB, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta dalam usia 71 tahun (http://www.seputar-indonesia.com/). Beliau didiagnosa menderita penyakit jantung koroner. Setelah sempat dirawat selama 12 hari di RSCM, akhirnya Djohan Hanafiah meninggal dunia. Pada hari yang sama, jenazah Djohan Hanafiah dimakamkan di TPU Puncak Sekuning, Palembang (http://www.sripoku.com/).

Pemikiran

1. Palembang “Buntung”

Ketertarikan Djohan Hanafiah dalam mengkaji tentang budaya dan sejarah Palembang bisa dikatakan bermula dari ungkapan Palembang “Buntung”. Sebagai wong Palembang, pada awalnya seorang Djohan Hanafiah tidak mengerti akan maksud ungkapan tersebut. Didorong oleh rasa ingin tahu akan ungkapan Palembang “Buntung”, maka Djohan Hanafiah mencoba untuk menerjemahkan ungkapan yang sering dia dengar tersebut.

Setelah mencari sumber dan data untuk menuntaskan rasa ingin tahu, akhirnya Djohan Hanafiah mendapatkan arti tentang ungkapan Palembang “Buntung”. Palembang “Buntung” ternyata diartikan sebagai ketidakjelasan akan akar budaya pada masyarakat Palembang (wong Palembang). Secara kebudayaan, wong Palembang itu tidak jelas identitasnya, disebut wong Melayu bukan, disebut wong Jawa bukan. Sebab dalam kebudayaan Palembang ditemukan budaya Jawa dan Melayu (http://www.sripoku.com/). Berawal dari sinilah, maka Djohan mencoba menyumbangkan pemikiran untuk mencairkan, atau setidaknya mendistorsi, ungkapan yang terlanjur melekat pada wong Palembang tersebut.

Penelitian yang kemudian dilakukan oleh Djohan Hanafiah akhirnya terpolarisasi dengan terbitnya buku yang berjudul Melayu-Jawa: Citra budaya dan sejarah Palembang. Buku yang terbit pada tahun 1995 ini secara khusus mengupas tentang sejarah dan budaya Palembang. Buku tersebut juga mencoba memaparkan dan menjawab kenapa ungkapan Palembang “Buntung” kemudian melekat pada wong Palembang.    

Ditilik dari segi sejarah, jika kita membaca buku Melayu-Jawa: Citra budaya dan sejarah Palembang, maka jelas terlihat bahwa sejarah Palembang memang terbentuk dari beragam suku bangsa yang pernah mendiami bahkan menguasai daerah yang kini dikenal dengan nama Palembang tersebut. Mulai suku bangsa Cina, Jawa, Melayu, bahkan Eropa (Belanda) pernah ambil bagian dalam pembentukan sejarah dan budaya di Palembang. Maka tidak mengherankan jika kemudian banyak warisan, khususnya peninggalan budaya, yang tertinggal dan diamalkan oleh orang-orang setelahnya.

Banyaknya budaya warisan tersebut tampaknya membaur dan bercampur sehingga menghasilkan kebudayaan baru yang kemudian dipakai oleh wong Palembang. Sebagaimana dinyatakan oleh Djohan Hanafiah, “... digodok oleh local genius dan disebutlah sebagai kebudayaan Palembang” (Djohan Hanafiah, 1995:2). Melalui buku tersebut, Djohan Hanafiah menuangkan pemikirannya bahwa budaya yang kemudian lazim dipakai oleh wong Palembang adalah percampuran antara budaya Melayu-Jawa yang kemudian bercampur dengan local genius sehingga memunculkan budaya Palembang. Inilah jawaban atas kegelisahan Djohan Hanafiah yang telah dirasakannya sejak usia remaja. Sebagaimana yang diungkapkan Djohan Hanafiah, “Buku merupakan cermin kegelisahan saya sejak remaja mengenai identitas wong Palembang. Ya, identitas wong Palembang itu yakni Melayu-Jawa,” katanya (http://www.sripoku.com/).

Dari buku ini Djohan Hanafiah mendapat pengakuan sebagai budayawan dari publik di Palembang, dan kemudian meluas secara nasional maupun international. Djohan dinilai telah mampu merumuskan identitas wong atau masyarakat Palembang yang sebelumnya seakan tidak memiliki identitas atau “buntung” (http://www.sripoku.com/).

2. Nasionalisme

Pemikiran tentang nasionalisme didapatkan Djohan Hanafiah dari dua figur, yaitu Ki Hajar Dewantara dan Raden Muhammad Ali Amin. Ki Hajar Dewantara memberikan cerminan bagaimana cara mengangkat derajat kaum Bumiputera yang diwujudkan melalui Perguruan Taman Siswa. Sedangkan Raden Muhammad Ali Amin adalah seorang biroktat beraliran nasionalis. Sikap nasionalis sang ayah ditunjukkan ketika zaman revolusi fisik tahun 1945-1946, Raden Muhammad Ali Amin turut bergerilya ke pedalaman Sumatra Selatan melawan tentara NICA (Nederlandsch Indië Civil Administratie). Selain itu ayah Djohan Hanafiah juga tidak mau memasukan anaknya ke sekolah-sekolah buatan Belanda dan lebih memilih Taman Siswa (http://www.sripoku.com/). Dari dua tokoh inilah, tercipta sisi nasionalis seorang Djohan Hanafiah yang diwujudkan dengan lahirnya berbagai karya dengan tema sejarah dan budaya lokal Palembang.

Pandangan Djohan Hanafiah mengenai sejarah cukup menarik. “Sejarah harus ditulis apa adanya. Sejarah yang jelek secara moral juga harus ditulis, tidak hanya yang baik-baik. Ini penting, sebab ini akan menentukan sejarah selanjutnya. Sejarah di Indonesia banyak ditulis yang baik-baik saja, sehingga sering berbenturan dengan realitas hari ini. Dampaknya orang ragu menjadikannya sebagai pijakan buat menyusun sejarah ke depan,” katanya (http://www.sripoku.com/).

Berpijak dari pandangan tersebut, maka Djohan Hanafiah berupaya untuk menuliskan sejarah wong Palembang. Bagi Djohan Hanafiah, terlepas dari pandangan para pembaca nantinya, menuliskan tentang sejarah wong Palembang merupakan suatu hal yang penting, yaitu sebuah upaya untuk membangun kesadaran bagi wong Palembang agar mau mengerti, atau setidaknya tahu, tentang sejarah daerahnya sendiri.

Pemikiran Djohan Hanafiah untuk menuliskan tentang sejarah Palembang akhirnya tersalurkan ketika buku pertamanya yang membahas tentang sejarah terbit pada tahun 1986. Buku berjudul Perang Palembang 1819-1821 tersebut ditulis oleh Djohan Hanafiah dengan tujuan untuk menggali semangat nasionalisme yang dimiliki oleh wong Palembang ketika terjadi perseteruan antara pihak Belanda dan Kesultanan Palembang Darussalam (http://www.sripoku.com/).

Bagi Djohan Hanafiah, upaya untuk mengenal jati diri bisa dimulai dengan cara mengenal sejarah bangsanya sendiri, yang dalam hal ini adalah sejarah lokal Palembang. Untuk itulah, berbagai tulisan yang kemudian dihasilkan oleh Djohan Hanafiah mengambil tema besar tentang sejarah lokal Palembang.

Upaya Djohan Hanafiah di awal era 1980-an ternyata berbuah cukup manis. Karyanya yang berjudul Perang Palembang 1819-1821 ternyata banyak dibaca dan memberikan warna sehingga memantik beberapa orang untuk menulis tentang sejarah Palembang, baik dalam karya tulis ilmiah seperti skripsi maupun dalam artikel-artikel.

Semangat Djohan Hanafiah dalam menggarap pemikiran orang Palembang untuk mau menulis tentang sejarahnya sendiri tidak berhenti sampai pada penulisan buku pertamanya. Djohan Hanafiah terus memainkan peran nyata dengan tetap produktif menulis beberapa buku yang terbit pada era 1980-an, antara lain Masjid Agung, sejarah dan masa depannya (1988); Palembang zaman baru, citra Palembang tempo doeloe (1988); Kuto Besak: Upaya Kesultanan Palembang menegakkan kemerdekaan (1989) (http://www.kidnesia.com/).

Karya

Sejak tahun 1980, Djohan Hanafiah telah menghasilkan puluhan buku bertemakan sejarah dan budaya dan tidak kurang dari tidak kurang dari 288 artikel. Artikel-artikel tulisan Djohan Hanafiah tersebut banyak dipublikasikan di berbagai media massa dan jurnal. Berikut ini adalah beberapa karya dari Djohan Hanafiah:

a. Buku

b. Artikel atau Makalah

  • Djohan Hanafiah, “Palembang sebagai ajang pertemuan aneka macam kebudayaan dalam dimensi waktu”. Makalah yang disampaikan pada Lokakarya Nasional Pengajaran Sejarah Arsitektur 6, kerjasama LSAI dan Jurusan Arsitektur STT Musi, Palembang: 2001.
  • Djohan Hanafiah, “Dinasti Syailendra berasal dari Gunung Dempo”. Makalah yang disampaikan pada Seminar Nasional “Peradaban Besemah sebagai Pendahulu Kerajaan Seriwijaya”, Palembang: 28 Februari 2009 .

C. Organisasi

  • Pendiri Kerukunan Keluarga Palembang (KKP) pada tahun 1997. KKP merupakan sebuah organisasi di Palembang yang didirikan dengan tujuan untuk menggali seni dan adat-istiadat Palembang (http://www.seputar-indonesia.com/)
  • Himpunan Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam yang dipimpin oleh Drs. Raden H. Muhammad Sjafei Prabu Diradja, S.H. bin Raden H. Abdul Hamid Prabudiradja IV dengan gelar Sultan Mahmud Badaruddin Prabudiradja (Sultan Mahmud Badaruddin III). Zuriat ini didirikan pada tanggal 3 Maret 2003 di Masjid Lawang Kidul, Palembang (Kemas Ari, 2006, dalam www.kesultanan-palembang-darussalam.com).

Penghargaan

Totalitas Djohan Hanfiah dalam menggali sejarah dan kebudayaan Palembang memang tidak diragukan lagi. Pelacakan kembali sejarah dan budaya Palembang yang mulai marak pada tahun 1980-an, bisa dikatakan, dipicu oleh pembacaan atas tulisan-tulisan yang telah dibuat oleh Djohan Hanafiah.

Atas kerja keras tersebut, maka tidak berlebihan jika beberapa pihak memberikan apresiasi berupa penghargaan kepada Djohan Hanafiah. Beberapa penghargaan tersebut antara lain:

  • Mendapatkan sebutan sebagai “Bapak penggali sejarah dan budaya Palembang” oleh wong Palembang setelah bukunya yang berjudul Melayu-Jawa: Citra budaya dan sejarah Palembang, terbit pada tahun 1995. Melalui buku ini, Djohan Hanafiah berhasil memunculkan identitas wong Palembang yang dikatakan telah”buntung” (http://www.sripoku.com/).
  • 3rd Malay and Islamic World Convention dari Dr. M. Mahatir, Prime Minister di Melaka pada tahun 2002 (http://www.sripoku.com/).
  • Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Republik Indonesia, Megawati Soekarno Putri pada tahun 2004 (http://www.detiknews.com/).

(Tunggul Tauladan/tkh/02/04-2010)

Referensi

Sumber foto

  • “Budayawan Palembang Djohan Hanafiah berpulang, tersedia di http://www.detiknews.com, diunduh pada tanggal 22 April 2010
  • “Institute Djohan Hanafiah hingga Srivijaya Society” tersedia di  http://www.beritamusi.com diunduh pada tanggal 22 April 2010.
Dibaca : 9.674 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password