Selasa, 21 Oktober 2014   |   Arbia', 26 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 483
Hari ini : 1.715
Kemarin : 20.089
Minggu kemarin : 174.811
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.249.645
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Hamid Jabbar

Hamid Jabbar merupakan salah seorang penyair Indonesia yang cukup produktif. Ia meninggal dunia ketika membacakan puisinya di hadapan para dosen, mahasiswa, dan tamu yang memadati Aula kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam acara Dies Natalies kampus itu. Berikut dua larik puisi terbarunya yang sebelum tutup usia pada 29 Mei 2004: Walaupun Indonesia menangis/mari kita tetap menyanyi.

1. Riwayat Hidup

Hamid Jabbar lahir di Koto Gadang, Bukittinggi, Sumatra Barat pada 27 Juli 1949, bernama lengkap Abdul Hamid bin Zainal Abidin bin Abdul Jabbar. Ia menghabiskan masa kecilnya di tanah kelahiran, sebelum merantau ke Sukabumi, Bandung, dan Jakarta. Sewaktu masih kanak-kanak, Hamid Jabbar suka melantunkan pantun-pantun nasihat dari ibu kandungnya, Ummi. Kenangan masa kecil itu mengantarkan Hamid Jabbar pada puisi di mana imajinasinya kemudian tumbuh dengan penuh (Anonim, t.t, dalam: tamanismailmarzuki.com).

Dari kampung halaman, Hamid Jabbar melanjutkan sekolah SMA di Sukabumi dan akhirnya pindah ke Bandung. Di sini ia mulai aktif menulis di lembaran putih, bukan hanya di angan-angan. Tulisan Hamid Jabbar dipengaruhi oleh apa yang terjadi di sekitarnya. Ia memang suka mengamati lingkungannya sejak masih kanak-kanak. Pendidikan sekolah memberikan pemahaman  tentang realitas sosial masyarakat. Ia mengamati banyak hal, dan menulis banyak hal. Tentang kemiskinan, kondisi sosial yang tidak menentu, dan keadaan ekonomi yang kacau-balau.

Akhirnya ia berhenti sekolah dan memilih bergabung dengan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia mulai tahun 1966 hingga 1969 (Asep Sambodja, 2007). Sejak ia bergabung dalam organisasi itu, ia menghabiskan waktu dengan segala kesibukannya di organisasi. Nama Hamid Jabbar pun mulai dikenal di kalangan pelajar dan guru-guru. Salah seorang kepala sekolah di Bandung menyarankan agar ia kembali sekolah. Akhirnya Hamid Jabbar masuk di SMA III Bandung dan duduk di kelas tiga.

Di sekolah yang baru itu, Hamid Jabbar tetap menulis di sela kegiatannya di organisasi. Ia mulai menulis di majalah sekolah. Asep Sambodja (2007) mengatakan, Hamid Jabbar mulai menulis sejak tahun 1969. Akan tetapi, baru menyiarkan karyanya pada 1973. Ia mengaku berguru pada Sutardji Calzoum Bachri. Karyanya tersebar di berbagai media massa seperti Majalah Horison, Aktuil, Ulumul Qur’an, Sarinah, Menyimak, Hai, Singgalang, Sinar Harapan, dan lain-lain.

Selain menulis, berbagai jenis pekerjaan pernah ia lakoni. Ia pernah bekerja sebagai mandor perkebunan teh di Sukabumi, Kepala Gudang beras di Bandung dan Padang, serta menjadi Asisten Manajer Administrasi Keuangan sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Dalam dunia media massa, ia pernah bekerja sebagai wartawan Indonesia Ekspres di Bandung, Pos Kota (Malaysia), redaktur harian Singgalang (Padang), redaktur penerbit Balai Pustaka (1980-1983), editor majalah Sarinah (Jakarta), pernah menjadi Sekretaris Dewan Kesenian Jakarta (1993-1996). Ia juga menjadi Redaktur Senior Majalah Sastra Horison hingga meninggal dunia (Hamid Jabbar, 1998: 397).

Tahun 1995, ketika diselenggarakan Festival Istiqlal II Hamid Jabbar menjadi Ketua Panitia Penyelenggara Istiqlal International Poetry Reading. Pada tahun yang sama ia mengikuti acara Puisi Indonesia-Belanda yang diikuti para penyair dari Indonesia dan Belanda. Acara tersebut dilaksanakan di dua tempat, di Jakarta pada September dan di Den Haag, Belanda, pada Desember (Hamid Jabbar, 1998: 397).

2. Pemikiran

Puisi-puisi Hamid Jabbar mengangkat dua tema secara konsisten, yaitu tema religius dan kritik sosial (Maman S Mahayana, 2008, dalam: http://mahayana-mahadewa.com). Tema-tema religius dalam sajaknya dipengaruhi oleh kuatnya tradisi keagamaan masyarakat tempat Hamid Jabbar dilahirkan. Tradisi keagamaan tersebut meninggalkan bekas yang dalam dan membentuk kepribadian yang religius dalam dirinya. Hal tersebut dapat kita temukan dalam sajaknya yang berisi tentang kerinduan pada Tuhan, pencarian nilai-nilai ketuhanan, dan berbagai tema ketuhanan yang lain. Dalam sajak cinta sekalipun, seperti dalam sajak “Kepada Julia”, napas religius tetap terasa (Sutardji Calzoum Bachri, 2007: 413-414).

Kepada Julia

duhai cayamataku duhai nis manisku yulia
ini untukmu sekitab rindu tafsir al-qur’an,
sehelai telekung sehelai kain sarung
dan sehelai tikar buat sembahyang
serta sedarah puisi gairahku
mari sini mari kupasangkan di jarimanismu
duhai cayamataku duhai nis manisku yulia

(Dikutip dari Sutardji Calzoum Bachri, 2007: 414)

Sajak Luka Itu Aneh Sekali menggambarkan kegelisahan batin Hamid Jabbar dalam mencari kedamaian yang belum ia dapatkan. Menurut Sutardji Calzoum Bachri (2007: 416), sajak ini berbeda dengan sajaknya yang lain yang berbau mantera atau zikir. Ini adalah sajak yang cukup baik ditulis dalam baris-baris yang bebas dan cenderung ke arah prosa. Melalui sajak ini, ia ingin mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang batinnya selalu gelisah mencari kedamaian dan ketenangan dengan diam-diam dan sendirian. Manusia adalah makhluk yang luka. Seperti baris terakhir sajak itu:

Luka itu aneh sekali, ternyata dia adalah kita
Yang diam-diam
Menganga
Diam

(Dikutip dari Sutardji Calzoum Bachri, 2007: 416)

Sajak-sajak yang bertema tentang kritik terhadap penguasa (kritik sosial) menjadi tema kedua selain tema religius. Penyair ini memanfaatkan apa pun yang mungkin sebagai bentuk pengejawantahannya. Tipografi puisinya juga variatif. Ia juga menggunakan kekuatan bunyi yang bersumber dari tradisi sastra lisan, pengulangan, anomatope, dan bentuk-bentuk cara ungkap lainnya (Maman S Mahayana, 2008, dalam: http://mahayana-mahadewa.com).

Beberapa diskusi dengan Berthold Damshäuser memperlihatkan, sebagai seorang penyair Hamid Jabbar merasa sangat terlibat dengan berbagai persoalan yang ia tulis, mulai dari persoalan eksistensial, persoalan global, maupun masalah krisis yang terjadi di Indonesia. Dalam diri penyair ini terdapat sesuatu yang kontras, yang kemudian terlihat dalam sajak-sajaknya. Di satu sisi ia adalah seorang yang riang, di sisi lain ia menderita. Penderitaan itu muncul karena ia melihat penderitaan sesamanya. Namun, dalam kondisi kesedihan yang terjadi di sekelilingnya, ia tetap merasa perlu menjadi seorang periang, perlu membuat dunia menjadi riang (Berthold Damshäuser, 2005: 16).

Beberapa sajak yang ditulis Hamid Jabbar merupakan cermin kenyataan di masyarakat. Bahkan ada beberapa sajak Hamid Jabbar yang merupakan ramalan tentang masa depan. Sajak-sajak yang mengambil tema kritik sosial tersebut barangkali juga merupakan hasil refleksi penyair atas peristiwa yang terjadi. Ada beberapa sajak yang dari judulnya terasa bahwa sajak tersebut mengandung kritik yang tajam. Dapat diambilkan contoh beberapa di antaranya, Proklamasi 2, Nyanyian Negeri Jajahan, Kamus Orang Tertekan, Arus Fulus, Kepada Para Tiran Sedunia, Doa Para Penguasa Sepanjang Masa, dan sebagainya.

Proklamasi, 2
Kami bangsa Indonesia
dengan ini menyatakan
kemerdekaan Indonesia

untuk kedua-kalinya!

Hal-hal yang mengenai

hak asasi manusia,

utang piutang,

dan lain-lain

yang tak habis-habisnya

INSYA-ALLAH

akan habis

diselenggarakan
dengan cara saksama
dan dalam tempo
yang sesingkat-singkatnya

Jakarta, 25 Maret 1992

Atas nama bangsa Indonesia

Boleh-Siapa Saja

(Dikutip dari Hamid Jabbar, 1998: 210)

Sajak di atas merupakan bentuk parodi teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Beberapa kalimat yang tidak ada dalam teks proklamasi muncul dalam sajak tersebut, misalnya “untuk kedua kalinya!” atau “hak asasi manusia, utang-piutang…yang tak habis-habisnya insya-Allah akan habis”, serta kalimat yang lain. Sedangkan beberapa kalimat teks proklamasi dalam sajak tersebut dihilangkan, diganti dengan teks baru. Kata “Insya-Allah” menunjukkan pertautan dengan Tuhan sebagaimana sajak religius Hamid Jabbar lainnya.

Super Hilang, Segerobak Sajak

Super Hilang, Segerobak Sajak merupakan antologi puisi Hamid Jabbar. Buku ini terbit pada masa yang pas, tahun 1998, ketika masyarakat menuntut reformasi pemerintahan Indonesia. Buku tersebut memuat 143 judul sajak dalam rentang penulisan antara tahun 1972-1998. Ini merupakan proses panjang seorang penyair dalam menulis sajak kemudian membukukannya ke dalam sebuah antologi tunggal. Di tahun terbitnya, buku tersebut langsung dinobatkan sebagai buku puisi terbaik oleh Yayasan Buku Utama dan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Maman S Mahayana (2008) memberikan catatan mengenai buku ini. Menurutnya, ada beberapa hal yang dapat dikemukakan berkaitan dengan buku tersebut.

Pertama, tema sajak-sajak dalam buku tersebut adalah religius dan kritik sosial sebagaimana disinggung di atas.   

Kedua, sering sajak-sajak yang termuat dalam buku tersebut adalah perpaduan antara kepasrahan sebagai seorang yang lemah terhadap Tuhan dan perlawanan terhadap ketidakadilan penguasa yang korup, penindasan, dan lain-lain. Sehingga, perlawanan tersebut seolah-olah diwujudkan melalui kepasrahannya pada Sang Pencipta. Hal ini memunculkan serangkaian paradoks dalam sajak-sajak Hamid Jabbar. Bentuk paradoks dalam karya-karyanya tampak mewakili kondisi jiwanya yang tarik-menarik antara ia adalah seorang yang gelisah sebagai anggota masyarakat dan kerinduannya pada Tuhan. Ini menjadikan sajak-sajak Hamid Jabbar berbeda dengan karya penyair lain.

Ketiga, revisi terhadap beberapa sajak yang telah dipublikasikan sebelumnya, memperlihatkan bahwa puisi bagi Hamid Jabbar adalah sesuatu yang penting. Begitu pula dengan proses penciptaan yang membutuhkan waktu lama, justru menunjukkan keseriusan Hamid Jabbar sebagai penyair. Dia dan puisinya barangkali merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan. Puisi adalah kehidupan Hamid Jabbar, dan kehidupannya adalah puisi.

Keempat, sajak-sajak dalam buku ini makin kaya dengan berbagai pengaruh yang berpadu dan menjelma ke dalam karya-karya dalam antologi ini. Dapat dikatakan beberapa pengaruh tersebut adalah persajakan dalam sastra lisan semisal mantra dan kaba, pantun, nyanyian dolanan anak-anak, dan pengaruh beberapa penyair sufi.

3. Karya

Tulisan-tulisan Hamid Jabbar tersebar di berbagai media cetak. Karyanya tidak melulu puisi, namun juga prosa, naskah drama, esai, cerita anak, dan karya nonfiksi. Berikut beberapa karya Hamid Jabbar (Asep Sambodja, 2007: 126-129).

a. Puisi

  • 1973. “Sejuta Panorama Sastra”. Dalam Horison.
  • 1974. Paco-Paco. Jakarta: Puisi Indonesia (antologi puisi).
  • 1974. “Homo Homini Lupus”. Dalam Horison.
  • 1974. “Sebelum Maut Itu Datang, Ya Allah”. Dalam Horison.
  • 1975. Dua Warna (antologi puisi bersama Upita Agustine).
  • 1975. “Lagu Sebuah”, “Sangsaiku”, dan “Sebuah Mobil”. Dalam Horison.
  • 1975. “Nyaris Lupa”, “Setitik Nur”, dan “Seperti Kakekku Dulu”. Dalam Horison.
  • 1977. “Debu” dan “Doa I”. Dipublikasikan di Horison.
  • 1978. “Beri Aku Satu yang Tetap dalam Diriku” dan “Luka Itu Aneh Sekali”. Horison.
  • 1979. “Indonesiaku”. Horison.
  • 1979. “Tetapi”. Dipublikasikan di Majalah Zaman.
  • 1979. “Lapangan Rumput, Masa Kanak-kanak, dan Sisa Embun”. Zaman.
  • 1979. “Potong Bebek Angsa”. Zaman.
  • 1980. “Nyanyian Belum”. Zaman.
  • 1980. “Nyanyian Purba”. Zaman.
  • 1981. Wajah Kita. Jakarta: Balai Pustaka.
  • 1981. “Perjamuan”. Dimuat di Pandji Masjarakat.
  • 1981. “Beri Aku Satu yang Tetap dalam Diriku” dan “Ternyata”. Pandji Masjarakat.
  • 1981. “Eksekusi”, “Slogan”, “UUUUU”, dan “Telegram”. Aktuil.
  • 1981. “Jakarta 1”. Zaman.
  • 1981. “Luka Itu Aneh Sekali”. Zaman.
  • 1983. “Lapangan Rumput, Masa Kanak-kanak, dan Sisa Embun”. Horison.
  • 1983. “Banyak Orang Menangis, Kekasih” dan “Di Taman Bunga, Luka Tercinta”. Horison.
  • 1992. “Jangan Tangisi” dan “nasrAllahi qariib”. Bosnia Kita.
  • 1993. Parade Puisi Indonesia (editor, bersama Slamet Sukirnanto), Jakarta: Global Citra Media Nusantara. Buku ini merupakan antologi puisi dari 17 penyair Indonesia dan diberi pengantar oleh Sutardji Calzoum Bachri.
  • 1995. Ketika Kata Ketika Warna (editor, bersama Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Amri Yahya, dan Agus Dermawan T.), Jakarta: Yayasan Ananda.
  • 1998. Super Hilang: Segerobak Sajak. Jakarta: Balai Pustaka (berisi 143 sajak yang ditulis sejak 1971 hingga 1998).
  • Tanpa tahun. “Zikrullah”.
  • 2001. “Assalamu‘alaikum 1”, “Doa Terakhir Musafir’, “Homo Homini Lupus”, “Indonesiaku”, dan “Proklamasi 2”. Dimuat dalam Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi. Jakarta: Horison.
  • 2002. “Nyanyian Negeri Jajahan”, “Sapi [K] Emas”, dan “Selamat Tinggal Manusia Budak Indonesia”. Horison, Tahun XXXV, No. 4, Edisi Khusus April.
  • 2004. Indonesiaku, Jakarta: Horison.

b. Prosa

  • 1973. “Dari Ruang Ini”. Dalam Horison.
  • 1974. “Suara”. Horison.
  • 1976. “Pada Detik Kesekian”. Horison.
  • 1981. “Demam”. Horison.
  • 1981. “Kepala Gagasan”. Horison.
  • 1981. “Sepanjang Jalan”. Horison.
  • 1981. “Kabar Ular”. Horison.
  • 1981. “Bulan dalam Perahu”, Horison.
  • 1981. “Loncatan-loncatan”. Horison.
  • 1981. “Menembus Malam”. Horison.
  • 1981. “Meja”. Horison.
  • 1981. “Kita”. Horison.
  • 1981. “Sepatu yang Terhormat”. Zaman.
  • 1981. “Kakek Merdeka”. Zaman.
  • 1982. “Cerita Pendek yang Gagal”. Horison.
  • 1982. “Mata-mata”. Horison.
  • 1985. “Anjing-anjing Pemburu”. Horison, Tahun XIX, No. 6, Juni.
  • 1986. “Engku Datuk Yth. di Jakarta”. Dalam Hoerip, Satyagraha (ed.). Antologi  Cerita Pendek Indonesia IV.

c. Skenario

  • “Malin Kundang, Legenda Masa Lalu – Parodi Masa Kini”.
  • “War-Teg-Bes, Warga “The Best””.

d. Cerita Anak

  • 1978. Raja Berak Menangis.
  • 1978. Siapa Mau Jadi Raja.

e. Karya Nonfiksi

  • Editor buku biografi Herlina, 1964. Pending Emas: Pengalaman-pengalaman Selama Mendarat di Irian Barat dan 1985. Bangkit dari Dunia Sakit: Otobiografi, 1965-1985.
  • 1993. Transmigrasi: Harapan dan Tantangan, ditulis bersama Ramadhan K.H. dan Rofiq Ahmad.
  • 1997. Panorama Sastra Nusantara, Jakarta: Balai Pustaka. Buku ini dikerjakan bersama Taufiq Ismail, berisi makalah yang diajukan pada Pertemuan Sastrawan Nusantara IX dan Pertemuan Sastrawan Indonesia 1997 di Sumatra Barat, 6-11 Desember 1997).
  • 2003. “Pidato Miring” dalam Horison, Tahun XXXVI, No. 8, Agustus.

4. Penghargaan

Pada tahun 1998, Hamid Jabbar mendapat dua penghargaan atas karyanya yang berjudul Super Hilang: Segerobak Sajak. Buku tersebut merupakan antologi puisi tunggal yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Penghargaan yang diterima Hamid Jabbar atas terbitnya buku tersebut adalah:

  • Buku Puisi terbaik dari Yayasan Buku Utama (Super Hilang: Segerobak Sajak)
  • Buku Puisi Terbaik dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

(Mujibur Rohman/bdy/09/10-2010)

Sumber foto: http://lkara2000.blogspot.com

Referensi

Anonim, t. t. “Hamid Jabbar”. [Online] Terdapat di: http://www.tamanismailmarzuki.com [Diunduh pada 9 Oktober 2010].

Asep Sambodja, 2007. “Obituari: Hamid Jabbar (1949-2004)” dalam Susastra: Jurnal Ilmu Sastra dan Budaya, Volume 3, Nomor 6. Jakarta: Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia.

Berthold Damshäuser, 2005. “Hamid Jabbar, Sang Periang yang Arif” dalam Erwan Juhara, et. al. Cendekia Berbahasa, Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA Kelas X. Jakarta: Setia Purna Inves.

Hamid Jabbar, 1998. Super Hilang: Segerobak Sajak. Jakarta: Balai Pustaka.

Maman S Mahayana, 2008. “Super Hilang, Segerobak Sajak Hamid Jabbar: Keseriusan yang Tak kenal Lelah”. [Online] Terdapat di: http://mahayana-mahadewa.com [Diunduh pada 9 Oktober 2010].

Sutardji Calzoum Bachri, 2007. Isyarat: Kumpulan Esai. Magelang: IndonesiaTera.

Taufiq Ismail, 2004. “Memahami Jarak Aroma dan Ajal”, Gatra, edisi 30.

Dibaca : 7.597 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password