Minggu, 23 April 2017   |   Isnain, 26 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 3.293
Hari ini : 21.835
Kemarin : 79.838
Minggu kemarin : 401.091
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.190.029
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Muhammad Haji Salleh


Muhammad Haji Salleh adalah sastrawan Malaysia yang terkenal sebagai penyair, kritikus sastra, editor, dan penerjemah dalam bahasa Malaysia dan Inggris. Ia juga telah menerima berbagai penghargaan, seperti SEA Write Award, 1997, Southeast Asian Literary Award, 2001, ASEAN Literary Award, dan berbagai anugerah lainnya.

1. Riwayat Hidup

Muhammad Haji Salleh lahir pada 26 Maret 1942, di Taiping, Perak Darul Ridzuan, Malaysia. Ia menempuh pendidikan dasar pada tahun 1949 di Sungai Acheh School, Nibung Tebal, Penang. Setelah 3 tahun menyelesaikan sekolahnya, ia meneruskan studinya di English medium Anglo-Chinese School, Nibung Tebal. Setahun kemudian, ia hijrah ke High School Bukit Mertajam, karena mengikuti keluarganya yang pindah ke Bukit Mertajam, dan lulus pada tahun 1957. Tahun berikutnya, Muhammad Haji Salleh melanjutkan ke Maktab Melayu Kuala Kangsar atau Malay College Kuala Kangsar (MCKK) (www.angelfire.com).

Selanjutnya ia melanjutkan studi ke Malayan Teachers College, Brinsford Lodge, Wolverhampton, Inggris. Ia memperoleh gelar Sarjana Muda Sastra di Universiti Malaya, Singapura dan Sarjana Sastra di universitas yang sama pada tahun 1970. Tiga tahun kemudian, ia memperoleh gelar Ph.D dari Universitas Michigan, Amerika Serikat (Dewan Bahasa dan Pustaka, 2009 dalam http://dbp.gov.my)

Muhammad Haji Saleh mulai mengajar pada tahun 1960 di Trade School, Teluk Air. Ia juga pernah mengajar di beberapa sekolah di Malaysia sebelum menjadi tutor di Universitas Malaya tahun 1968. Pada tahun 1970, ia menjadi dosen di National University of Malaysia (www.angelfire.com).

Muhammad Haji Salleh memulai karir di dunia pena pada tahun 1963 sewaktu studi di Malayan Teachers College. Ia piawai menulis dalam dua bahasa: Melayu dan Inggris. Puisi-puisinya dalam bahasa Inggris banyak dipengaruhi T.S Eliot dan W.H. Auden, dua penulis yang diminatinya saat itu. Tahun 1978, ia mempublikasikan Time and Its People, sebuah kumpulan puisi dalam bahasa Inggris. Tahun 1977, buku Perjalanan Si Tenggang II yang dialihbahasakan olehnya memenangi Hadiah Sastra ASEAN (Asean Literary Award). Ia menerjemahkan buku itu ke bahasa Inggris pada tahun 1979 dengan judul The Travels Journal of Si Tenggang II.

Selain menulis, Muhammad Haji Salleh juga aktif dalam berbagai organisasi dan kegiatan, baik kegiatan sosial maupun intelektual. Ia pernah menjadi profesor tamu dan mengajari di North Carolina State University, Raleigh, Amerika Serikat, pada tahun 1977. Tahun 1992-1993, ia menjadi peneliti tamu di bawah Lembaga Fulbright di Universitas California, Berkeley.

Kurun 1993-1994, ia menjabat sebagai Chair of Malay Studies di Universitas Leiden, Belanda. Pada tahun 2000, ia diangkat menjadi profesor di School of Humanities di Universiti Sains Malaysia. Selain itu, ia sering didapuk menjadi juri dalam berbagai perlombaan dan penghargaan karya sastra (www.angelfire.com).

Muhammad Haji Salleh telah memberikan banyak sumbangan pemikiran untuk memajukan kebudayaan Melayu dan peradaban dunia pada umumnya. Ia adalah sastrawan sekaligus akademisi yang telah memberi warna pada perkembangan kesusastraan Melayu.  

2. Pemikiran

Pemikiran Muhammad Haji Salleh tertuang dalam berbagai karyanya, mulai dari puisi, esai, artikel, buku, dan karya lainnya. Meskipun menulis dalam bahasa Inggris, bukan berarti pemikiran tokoh Melayu ini “kebarat-baratan”. Tulisan-tulisannya justru cenderung mengambil tema-tema yang berakar dari sejarah dan tradisi Melayu.

Tema sentral dalam puisi-puisinya adalah konflik antara kota dan pedalaman, atau antara budaya Melayu dan budaya Barat. Secara terang-terangan, ia menolak kecenderungan menggunakan pola budaya Barat sebagai referensi karyanya. Sebaliknya, ia menggunakan mitos dan legenda dalam tradisi lisan masyarakat Melayu (House of World Cultures, 2003). Beberapa puisi karyanya misalnya adalah penafsiran ulang karakter, cerita, dan situasi dalam Sulalat Al-Salatin (Md. Salleh Yaapar, 2003:16).

Dalam puisi berjudul Pulang Si Tenggang, terlihat bagaimana akar tradisi Melayu bukan hanya ia gunakan sebagai inspirasi karyanya. Puisi ini seolah adalah pernyataan pengarang tentang jatidirinya sebagai orang Melayu. Hal ini terlihat pada stanza ketiga puisi Pulang Si Tenggang berikut ini:

iii

tapi lihat
aku bawa pulang diriku
yang dibesarkan oleh rasa percaya
diluaskan oleh tanah dan bahasa-bahasa
aku tidak takut lagi pada lautan
atau manusia berlainan
tidak mudah ditipu sesiapa
dengan bicara atau idea
perjalanan adalah guru setia.

yang tidak pernah malas memaknakan
lihat, aku seperti kau juga
masih Melayu
sensitif pada apa
yang kupercaya baik
dan lebih sedia memahami
dari adik atau abangku
dan muatan kapan ini juga untukmu
karena aku pulang.

(Salleh, Pulang Si Tenggang, dalam Dewan Bahasa dan Pustaka, 2008: 27-28).

Secara umum, tema-tema dalam karya puisi Muhammad Haji Salleh—konflik antara kota dan pedalaman sebagaimana disebut di atas—adalah konflik antara pusat dan pinggiran dalam term poskolonialisme. Muhammad Haji Salleh seolah hendak berdialog dengan warisan kolonialisme, kemudian melakukan negosiasi dengan negara-negara “pusat” melalui karya-karyanya. Dalam sebuah wawancara dengan Md. Salleh Yaapar (2003:16-17), Muhammad Haji Salleh sendiri mengakui, ia begitu tertarik dengan teori poskolonialisme dan telah menuliskannya dalam sastra Malaysia. Ini merupakan upaya dekonstruksi yang ia lakukan terhadap hegemoni kebijakan pendidikan Inggris di mana ia adalah bagian dari produk pendidikan tersebut.

Persoalan identitas juga muncul dalam karya Muhammad Haji Salleh. Hal ini tidak mengherankan karena ia berada di antara dua dunia: Timur dan Barat. Akar kebudayaannya adalah Melayu, namun ia juga menjadi bagian dari berbagai kebudayaan dunia. Muhammad Haji Salleh telah tinggal di berbagai negara di Eropa dan Asia. Sebagai bagian dari kebudayaan tersebut, ia ingin menjadi yang terbaik. Namun di sisi lain, ia tetap saja menjadi orang luar dari kebudayaan tersebut. Muhammad Haji Salleh harus mendefinisikan dirinya sebagai orang Malaysia, dan pada saat yang sama ia warga dunia yang lebih luas (Yaapar: 2003: 16).

Bagaimanapun sulitnya Muhammad Haji Saleh menentukan identitasnya, akhirnya ia “pulang” ke akar kebudayaannya, yaitu Melayu. Ia mengatakan: aku bawa pulang diriku / yang  dibesarkan oleh rasa percaya / diluaskan oleh tanah dan bahasa-bahasa. Ia kemudian melanjutkan: lihat, aku seperti kau juga / masih Melayu. Ungkapan dari penggalan bait Pulang Si Tenggang ini seolah-olah peneguhannya sendiri terhadap asal-usulnya.

Selain tema poskolonial, karyanya juga banyak mengungkap persoalan-persoalan eksistensial. Muhammad Salleh Jaafar (1990:206) menyebutkan bahwa karya-karya Muhammad Haji Salleh banyak menyorot masalah alienasi kehidupan manusia di dunia modern. Tema-tema tentang eksistensialisme tersebut muncul dalam beberapa puisi yang tergabung beberapa antologi puisi tunggalnya berjudul Sajak-sajak Pendatang (1973); Buku Perjalanan Si Tenggang II (1975) yang ia alihbahasakan ke bahasa Inggris tahun 1979 dengan judul The Travel Journal of Si Tenggang II, Ini Juga Duniaku (1977); Sajak-sajak Sejarah Melayu (1981), dan Dari Seberang Diri (1982).

Secara sadar, Muhammad Haji Salleh berusaha menggunakan bahasa yang tidak digunakan oleh penyair lain. Hal tersebut membuat karya-karya puisinya menjadi khas dan memunculkan bentuk-bentuk ungkapan baru.

3. Karya

Muhammad Haji Saleh telah menulis banyak buku, artikel, esai, dan berbagai karya lain dalam berbagai bahasa. antara lain:

a. Buku

1. Puisi

  • 1973. Sajak-sajak Pendatang. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • 1975. Perjalanan Si Tenggang II. Kuala Lumpur: Universiti Kebangsaan Malaysia Press.
  • 1977. Ini Juga Duniaku. Kuala Lumpur: Utusan.
  • 1978. Selection from Contemporary Malaysian Poetry. Kuala Lumpur: University of Malaya Press.
  • 1978. Time and Its People. Kuala Lumpur Heinemann Educational Books (Asia).
  • 1979. The Travel Journals of Si Tenggang II. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • 1981. Sajak-sajak dari Sejarah Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • 1982. Dari Seberang Diri. Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia.
  • 1988. Kalau, Atau, Dan Maka. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • 1993. Watak Tenggara. Kuala Lumpur: Pustaka Cipta.
  • 1995. Beyond The Archipelago. Athens, Center of International Studies, Ohio University.
  • 1996. Sebuah Unggun di Tepi Danau. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • 1999. Aksara Usia. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • 2000. Rowing Down Two Rivers. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia Press.
  • 2004. Salju Shibuya. Kumpulan puisi dengan ilustrasi oleh Zakaria Ali. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

2. Kumpulan Esai dan Kritik Sastra

  • 1977. Tradition and Change in Contemporary Malay-Indonesian Poetry. Kuala Lumpur: Universiti Kebangsaan Malaysia Press.
  • 1984. Pengalaman Puisi. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • 1986. Cermin Diri: Esei-esei Kesusasteraan. Petaling Jaya: Penerbit Fajar Bakti Sdn. Bhd.
  • 1988. Unsur-unsur Teori dalam Kesusasteraan Melayu dan Nusantara. Kertas Kadangkala 3. Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia.
  • 1989. Puitika Sastera Melayu: Satu Pertimbangan. Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia.
  • 1991. The Mind of Malay Author. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • 1993. Narrating Nestapa: Early Malay Aesthetics of Sorrow. Rijks Universiteit, Leiden.
  • 1994. Syair Tantangan Singapura Abad Kesembilan Belas. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • 1999. Menyeberang Sejarah: Kumpulan Esei Sasterawan Negara. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • 2000. Puitika Sastera Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • 2005. Pengalaman Puisi (edisi kedua). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • 2006. Seorang Penyair, Sebuah Benua Rusuh: Biografi Usman Awang. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

3. Karya Terjemahan dan Suntingan

  • 1980. Pilihan Puisi Melayu-Indonesia (editor). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • 1987. Kumpulan Kritikan Sastera: Timur dan Barat (co-editor dengan Amdun Husain). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • 1988. An Anthology of Contemporary Malaysian Literature, (editor). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • 1992. The Puppeteer’s Wayang: A Selection of Modern Malaysian Poetry, (penyunting dan penerjemah). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • 1996. Stories From South East Asia (editor). Kuala Lumpur: Yayasan Penataran Ilmu.
  • 1998. Sulalat al-Salatin (editor). Kuala Lumpur: Yayasan Karya Agung.

b. Artikel

Selain menulis buku, Muhammad Haji Salleh juga banyak menulis artikel yang dipublikasikan dalam bentuk buku, diterbitkan di media jurnal atau disampaikan dalam berbagai forum. Artikel karya Muhammad Haji salah di antaranya adalah:

  • 1969. “Puisi Melayu Dewasa Ini” dipublikasikan di  Budaya jaya, Jakarta.
  • 1974. “Kritikan Sastera dari Kaca Mata” dipublikasikan di Dewan Sastera, Desember, hlm. 53-54.
  • 1975. “Masalah Kriteria dalam Kritikan Sastera Malaysia”, dipublikasikan di Kritikan Sastera di Malaysia. Kuala Lumpur: Kementerian Kebudayaan Belia dan Sukan, hlm. 59-70.
  • 1976. “Arah Perkembangan Puisi Melayu Dewasa Ini” dipublikasikan di Bahasa dan Kesusasteraan Melayu. Kuala Lumpur: Kementerian Kebudayaan Belia dan Sukan, hlm. 343-368.
  • 1978. “A Critique of Malay Verse Transition in Malay Society”, dipublikasikan di Dialogue, Southeast Asia and Japan. Tokyo: Japan Foundation.
  • 1979. “Suara Mersik di Kertas Tertulis: Unsur-unsur Sastera Lama dalam Puisi Melayu Baru” dipublikasikan di Dewan Sastera, Juni , hlm. 48-53.
  • 1980. “The Response of Malaysian Modern Poetry to English Literature: A Brief Survey”, dipublikasikan di ACLALS Bulletin, Queensland, Edisi kelima, No. 3, Desember, hlm. 154-163.
  • 1981. “Contemporary Malaysian Poetry: Some New Values, dipublikasikan di Connect. Adelaide: Center of Research in the New Literature in English & EWC, hlm. 211-266.
  • 1982. “Rumah Melayu Melaka” dipublikasikan di Jurnal Budaya Melayu. Vol. 5, hlm. 158-204.
  • 1988. “Contemporary Malaysian Literature”, dipublikasikan di Journal of Malay Literature, July.
  • 1990. “Malay Ethnopoetics: Looking at Literature with Our Own Eyes” dipublikasikan di Solidarity, April-Juni.
  • 1991. “Oral Elements in Contemporary Indonesian Poetry”, dipublikasikan di  Indonesian Circle, Maret.

4. Penghargaan

Muhammad Haji Salleh telah banyak menerima penghargaan untuk karya dan jasanya dalam dunia kesusastraan, antara lain:

  • Hadiah Sastera Malaysia (National Literary Prize) tahun 1973-1984.
  • Hadiah Sastera Malaysia (Persendirian) tahun 1976.
  • Hadiah Budaya Australia untuk Seniman Asia (Australian Cultural Award to Asian Artists) tahun 1975.
  • Hadiah Sastera ASEAN (ASEAN Literary Award) untuk kategori puisi tahun 1977.
  • Anugerah Sastera Malaysia (Malaysian National Award for Literary Contribution) tahun 1991.
  • Anugerah Sastera Asia Tenggara (S.E.A Write Award) tahun 1997.
  • Anugerah Sastera MASTERA tahun 2000.
  • Hadiah Sastera perdana Malaysia tahun 2000.
  • Hadiah Sastera Perdana Malaysia tahun 2002 (Dewan Bahasa dan Pustaka:177-179).

Selain penghargaan di atas, Muhammad Haji Salleh juga mendapat berbagai anugerah lainnya, semisal beasiswa penelitian, menjadi profesor tamu North California State University di Amerika Serikat dan lain-lain.

(Mujibur Rohman/bdy/24/03-2011)

Sumber foto: www.dbp.gov.my

Referensi

Anonim, 2003. Malaysian Author, Muhammad Haji Salleh. [Online] Tersedia di http://www.angelfire.com [Diunduh pada 14 Maret 2011].

Dewan Bahasa dan Pustaka, 2008. Sasterawan Negara: Muhammad Haji Salleh, The Malaysian Laureate. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

House of World Culture, 2003. Artist Potrait, Muhammad Haji Salleh. [Online] Tersedia di http://www.culturebase.net [Diunduh pada 14 Maret 2011].

Md. Salleh Yaapar, 2003. A Post-Colonial Poet with a Quest for Indentity, Interview with Malaysian Literary Laureate, Muhammad Haji Salleh. IAAS Newletter, 32, November.

Muhammad Salleh Jaafar, 1990. “Existentialism in the Poetry or Muhammad Haji Sallleh”, dalam The Muslim World, Volume 80, Issue 2-3. [Online] Tersedia di http://onlinelibrary.wiley.com [Diunduh pada 14 Maret 2011].

Portal Resmi Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, 2009. Muhammad Bin Haji Salleh. [Online] Tersedia di http://dbp.gov.my [Diunduh pada 14 Maret 2011].

Dibaca : 12.269 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password