Kamis, 21 Mei 2026   |   Jum'ah, 4 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 340
Hari ini : 9.406
Kemarin : 30.757
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tentang kami

Alfred Menayang (Indonesia)

3 Juni 2009, 4:42 pm

Nama : Alfred Menayang
Institusi : -

Komentar :
 
(mohon disampaikan ke Bung MAM)

Terharu dan bangga hati ini membaca berita di melon tentang pemberian Anugerah Tokoh Pemersatu Melayu Serumpun kepada Bung MAM. Selamat dan doa untuk keberlangsungan dan kemajuan melon serta usaha-usaha Bung MAM dan Tim untuk bukan hanya melestarikan tetapi juga mempromosikan budaya Melayu sehingga suatu saat nanti bisa makin diminati dan dihargai oleh dunia kebudayaan Internasional.

Mungkin sudah saatnya Universitas bikin yang lebih spesifik dari Jurusan Sastra Indonesia, yaitu Jurusan Sastra Melayu.

Berikut saya copy dan paste beberapa diskusi di milis itb angkatan saya yang berhubungan dengan kebudayaan Melayu…. Mohon email ini khusus untuk Bung MAM, karena beberapa rekan jadi takut berpendapat akibat baru saja ada masyarakat awam yang dipenjara karena menyampaikan pendapat e-mail (terjerat UU ITE).

-----Original Message-----
Sent: Wednesday, June 03, 2009 4:20 PM

Saya kenal dengan Bung Mahyudin Al Mudra, yang begitu tinggi dedikasinya pada kebudayaan Melayu, beliau tinggal di Yogyakarta di rumah dengan arsitektur dan interior Melayu yang asri. Saya pernah berkunjung ke sana dan masih tetap keep in touch. Kamus Melayu Manado yang disusun oleh almarhum ayah saya juga menjadi koleksi di Balai Adat Melayu di Yogyakarta itu.

Bung MAM juga mengelola portal keren www.melayuonline.com (alamat Balai Adat Melayu yang di Yogyakarta tercantum di website ini) yang baru berumur dua tahun tapi sudah menggema ke dunia internasional, sehingga baru-baru ini beliau menerima Anugerah Tokoh Pemersatu Melayu Serantau.

Banyak rombongan pejabat, legislator yang datang berkunjung ke Balai Adat Melayu yang di Yogyakarta, dan mengagumi portal yang beliau buat dan pelihara, hanya sebatas bilang "bagus" seperti Tino Sidin dulu. Tetapi dari sisi pendanaan sangat kurang perhatian, padahal pembiayaan untuk melestarikan budaya Melayu ini tidak sedikit.

Padahal portal itu benar-benar bagus, informatif dan updated lho - silahkan rekan-rekan lihat betapa lengkap dan updatenya portal ini, karena setiap hari ada 10-15 mahasiswa/staf yang input dan riset data untuk portal ini.

Konon, portal inipun dilirik oleh saudara serumpun di Malaysia untuk ’diboyong’ ke sana. Untung, setahu saya sampai saat ini, dengan segala keterbatasan dana, Bung MAM tetap mempertahankan aset tersebut di tanah air.

Sebuah contoh lagi, bagaimana bangsa kita kurang menghargai aset budaya sendiri, dan baru ribut kalau sudah terbang ke negeri jiran. Kemana aja tuh dana-dana APBN untuk seni & budaya?

-----Original Message-----
Sent: Wednesday, June 03, 2009 9:05 AM

Kalau budaya dan historis kita diboyong ke negeri orang, bisa punya banyak arti :

1. budaya dan historis kita tidak atau kurang dihargai di negeri sendiri, tapi dihargai di negeri orang.

2. Ini juga bisa berarti pesan lain, eh, lu orang Indon, tetep aja paki budaya elu, jangan bergeser ke budaya yang lebih kontemporer... Kalau nggak dihargai, gua ambil... hiks..

3. kita bisa memproduksi lebih banyak budaya lagi, agar 100 tahun ke depan jadi naskah historis, lalu "dibeli" oleh negeri tetangga. Anggap ini komoditi ekspor di masa depan, untuk warisan anak cucu. Beberapa calon naskah historis terbaik untuk 100 tahun mendatang adalah

3.1 tergusurnya penduduk dan pabrik oleh lumpur kecerobohan

3.2 suka duka memilih wakil rakyat...

3.3 rame-rame membuang energi dengan kereta besi di tengah kemacetan

4. atau itu merupakan warning berikutnya dari negera serumpun kita agar :

4.1 tingkatkan anggaran belanja tentaramu, kalau tidak, Ambalat gua ambil.

4.2 hargai sumber daya manusia di negerimu sendiri, jangan ikutan main bubble ekonomi, biar negeriku nggak kebanjiran TKI dari negerimu.

4.3 duitmu dikemanakan ajah, kok nggak bisa me-manage warisan leluhurmu eh nenek moyang-mu sendiri ?

Kalau saya menulis seperti itu, apakah melanggar UU-ITE, yah ?

Kira-kira siapa yang dilecehkan ? Atau selama ini ada yang suka melecehkan diri sendiri dengan tindakan menyimpang, namun nggak mau orang lain ikutan menulis/memberitakan tentang pelecehan itu ?


2009/6/3

Guru saya Frank Lowe selalu mengingatkan :" sebelum kamu berpikir out of the box, kamu harus lihai dulu berpikir inside it"

Selama ini kita anak bangsa belum optimal mencari solusi inside the box, dan dalam kasus yang sangat biasa ini (pencurian hak sejarah bangsa lain dg memboyong atau membeli secara resmi artefaknya) cara2 biasa dan normal belum dilakukan.

Apa yg dipelopori wanadri dg mendokumentasikan pulau2 terluar Indonesia adalah salah satu contoh cara solusi normal yg diimplementasikan.

Mengharapkan para petinggi ’to think out of the box’ identik dengan membuka ’pandora box’ : sebuah kotak khayali yang sekali terbuka akan menyebar bencana demi bencana yg mustahil dicegah (dimasukkan kembali ke dalam kotak) lagi.

Gak mikir aja daya rusak mereka  sudah mengharu biru. Bayangkan kalau mereka mulai berfikir??

-----Original Message-----
Date: Wed, 3 Jun 2009 08:22:19>

Sayang ya ... Naskah yang berharga lenyap begitu saja dari tanah air kita, mestinya anak bangsa ini memikirkan "jalan" (out of the box) bagaimana cara melindungi Kekayaan Budaya Indonesia yang Luar Biasa tsb. dan tidak menyerah (atas nama aturan ....) pada proses Pemboyongan Budaya yang terjadi .... Sayangnya, para wakil kita di Lembaga Tinggi Negara belum sempat mikir Peraturan Perlindungan yang beginian ....

Aku jadi ingat budayawan 77.... barangkali bisa meneriakan ke teman-teman budayawan lain, pentingnya aturan & perlindungan barang-barang budaya kekayaan Negeri tercinta ini ...

-----Original Message-----
Sent: Wednesday, June 03, 2009 7:24 AM

Seni rakyat dan warisan budaya tidak dapat dipatenkan menurut hukum.

Intellectual property melindungi si pencipta seni.  xxxx benar, karena seni rakyat sering tidak ketahuan penciptanya hak paten nya mau diberikan pada siapa?

-----Original Message-----
Date: Wed, 3 Jun 2009 07:02:56

Saya sumbang koreksi ya.

1. Lagu Rasa-Sayange nggak pernah dipatenkan Malaysia atau siapapun karena memang nggak jelas penciptanya. Lagu itu dipakai dalam promosi pariwisataMalaysia - bukan dipatenkan.

2. Reog dimainkan oleh suatu kelompok masyarakat Malaysia, lantas disiarkan di suatu media. Tidak dipatenkan.

3. Batik juga tidak pernah dipatenkan oleh siapa2 karena penciptanya nggak ketahuan siapa. Ada motif batik tertentu (spesifik) yang dipatenkan di Malaysia, tapi bukan seluruh per-batik-an (proses pembuatan batik).

Soal batik, ternyata di Thailand juga ada tradisi batik. Di Malaysia juga ada. Apa orang Indonesia yang paling dulu bikin batik? Sukar dibuktikan.

Bukan saya membela negeri orang lho, tapi kita mesti mengerti duduk perkara yang benar. Setuju nggak?

Sudah 60 Naskah Melayu Indonesia Diboyong ke Malaysia

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews, Selasa, 02/06/2009 18:37 WIB

Pekanbaru - Hanya dalam hitungan lima tahun terakhir, sudah 60 naskah Melayu kuno Indonesia berpindah tangan ke Malaysia. Padahal naskah Melayu itu dibuat sekitar tahun 1800-an. Negara tetangga itu masih akan terus memburu dokumen cagar budaya Indonesia.

Budayawan Riau, Al Azhar mengungkapkan hal itu dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (2/06/2009), soal perburuan cagar budaya Melayu yang dilakukan warga Malaysia di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

"Seperti yang kita ketahui, lagu rasa sayange, reok, batik, kini dipatenkan menjadi karya anak bangsa Malaysia. Nah sebentar lagi, naskah Melayu kuno yang mereka beli dari Kepri, juga akan menjadi hak paten milik mereka. Lantas bangsa kita ini akan tetap menjadi penonton pada hasil karyanya sendiri yang sudah dimiliki bangsa lain," kata Bang Al, sapaan akrab dosen Universitas Islam Riau itu.

Naskah yang kini sudah berpindah tangan itu, antara lain, sejumlah syair, hikayat, catatan harian,  Al Quran kuno yang semuanya bertuliskan tangan pada abad 19 lalu. Para pemburu naskah Melayu ini dilakukan warga Malaysia baik dari mahasiswa maupun para akedemisi. Mereka membeli dari masyarakat di Pulau Lingga, Bintan, dan Pulau Penyengat di Kepri.

"Kita khawatir setelah naskah Melayu di Kepri habis mereka beli, nantinya akan merembet ke Riau daratan, ke Sumetara Utara, Sumsel dan semenanjung pantai timur Sumatera. Ini persoalan serius yang harus diperhatikan pemerintah kita,† kata Bang Al.

Kini 60 naskah Melayu itu dengan mudah dijumpai di Pustaka Universitas Kebangsaan  Malaysia, Universitas Malaka serta museum pemerintah Malaysia. Naskah bertuliskan melayu arab itu, bakal menjadi dokomen sejarah soal akar sastra Melayu di dunia.

"Saya sudah pernah melihat langsung naskah melayu kuno itu di sana. Sebab, dalam setiap lembaran akhir dalam naskah akan tetap tertuliskan identitas penyair dan lokasinya,"  kata Bang Al.

Naskah Melayu kuno itu akan menjadi barang berharga yang memiliki nilai sejarah tinggi. Naskah itu nantinya akan menjadi bahan penelitian dari seluruh akademisi dan budayawan dari belahan dunia. Maka, dengan adanya perburuan naskah kono Melayu itu, nantinya Malaysia akan menjadi pusat penelitian sastra Melayu satu-satunya di dunia.

"Malaysia, begitu ngotot dengan naskah melayu kuno itu karena mereka akan memperkuat identitas melayunya. Seperti slogan mereka Trully Asia, Malaysia bener-bener ingin mewujudkan negeri tersebut sebagai pusat melayu di dunia," kata Al Azhar.

(cha/djo)

http://www.detiknews.com/read/2009/06/02/183702/1141656/10/sudah-60-naskah-melayu-indonesia-diboyong-ke-malaysia
Dibaca : 3.536 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password