Senin, 18 Desember 2017   |   Tsulasa', 29 Rab. Awal 1439 H
Pengunjung Online : 3.611
Hari ini : 51.643
Kemarin : 63.120
Minggu kemarin : 304.443
Bulan kemarin : 5.609.877
Anda pengunjung ke 103.991.287
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Alam Gaib

Setiap kebudayaan memiliki konsepnya masing-masing tentang hantu atau mahluk halus. Sebagai sebuah bahasa universal, cerita tentang “hantu” masih berkembang sampai saat ini, dan seringkali sengaja diwariskan secara turun temurun dalam hampir setiap kebudayaan manusia. Secara sosiologis, kehadiran cerita tentang hantu memiliki fungsi-fungsi sosial tertentu, salah satunya sebagai sarana untuk menciptakan keteraturan sosial. Cerita tentang hantu sengaja dihadirkan agar tercipta oto-mekanisme (auto-mechanism) bagi terwujudnya keteraturan sosial.

Sebagai sebuah perangkat kebudayaan, hantu memang bersifat universal, tetapi sebagai sebuah konsep, hantu tampil dalam banyak bentuk, tergantung konteks sosio-historis masyarakat di mana ia diciptakan. Dalam kehidupan masyarakat Melayu, hantu juga merupakan salah satu bagian yang cukup penting. Ada berbagai nama hantu yang mereka kenal, yang memiliki fungsinya masing-masing, di antaranya: pontianak, jembalang, mambang, pelesit, harimau jadian, tuyol, bajang, sijundai, hantu air, hantu laut, hantu suluh, jerangkung, orang bunian, penunggu, hantu kubur, pucong, dan lain-lain.

Hampir setiap sisi kehidupan masyarakat Melayu terdapat cerita tentang hantu. Sebagai contoh, ketika orang Melayu berada di air, mereka diingatkan oleh pengetahuan lokal mereka tentang hantu air; ketika berada di atas tanah, mereka ingat dengan jembalang tanah; ketika berada di dekat pohon besar, mereka ingat dengan hantu puake atau hantu penunggu; ketika di dekat kuburan, ada hantu kubur atau pucong; ketika melihat binatang, mereka ingat dengan binatang (seperti harimau, pelesit dsb.) jadi-jadian; ketika berada di daerah yang asing dan seram, mereka ingat dengan orang bunian; di saat perempuan sedang hamil dan anak-anak sedang bermain, di sana hadir memori tentang pontianak (kuntilanak). 

Dalam sub menu ini, akan dibahas konsep hantu yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Melayu, dengan lebih mempertimbangkan aspek aksiologisnya daripada aspek ontologisnya. Dengan lain kata, ada tidaknya atau nyata tidaknya hantu tersebut tidak menjadi pertimbangan utama. Yang lebih penting diketahui adalah bagaimana dinamika peran dan fungsi konsep hantu tersebut dalam mempengaruhi sistem pengetahuan dan kepercayaan masyarakat Melayu dalam kehidupan sehari-hari

  1. Hantu dalam Masyarakat Sakai.
  2. Hantu dalam Pengetahuan Ureung Aceh, Nanggroe Aceh Darrusalam .
  3. Jan Manjan: Jin dan Dewa-dewa dalam Pengetahuan Suku Bima, Nusa Tenggara Barat.
  4. Makhluk Halus dalam Pengetahuan Orang Lombok, NTB.
Dibaca : 20.052 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password