Minggu, 22 Oktober 2017   |   Isnain, 1 Shafar 1439 H
Pengunjung Online : 2.209
Hari ini : 24.249
Kemarin : 27.191
Minggu kemarin : 220.469
Bulan kemarin : 7.753.475
Anda pengunjung ke 103.509.615
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Hantu dalam Masyarakat Sakai


Figur Orang Sakai

1. Asal-usul

Suku Sakai adalah komunitas asli/pedalaman yang hidup di daratan Riau. Mereka selama ini sering dicirikan sebagai kelompok terasing yang hidup berpindah-pindah di hutan (http://www.katcenter.info/detail_artikel). Sedikitnya ada dua versi pendapat yang menjelaskan asal-muasal keberadaan suku ini.

Pendapat pertama mengatakan bahwa Suku Sakai merupakan percampuran antara orang-orang Wedoid dengan orang-orang Melayu Tua. Catatan sejarah mengatakan bahwa pada zaman dahulu penduduk asli yang menghuni Nusantara adalah orang-orang Wedoid dan Austroloid, kelompok ras yang memiliki postur tubuh kekar dan berkulit hitam. Mereka bertahan hidup dengan berburu dan berpindah-pindah tempat. Sampai suatu masa, kira-kira 2.500-1.500 tahun sebelum Masehi, datanglah kelompok ras baru yang disebut dengan orang-orang Melayu Tua atau Proto-Melayu. Gelombang migrasi pertama ini kemudian disusul dengan gelombang migrasi yang kedua, yang terjadi sekitar 400-300 tahun sebelum Masehi. Kelompok ini lazim disebut sebagai orang-orang Melayu Muda atau Deutro-Melayu. Akibat penguasaan teknologi bertahan hidup yang lebih baik, orang-orang Melayu Muda ini berhasil mendesak kelompok Melayu Tua untuk menyingkir ke wilayah pedalaman. Di pedalaman, orang-orang Melayu Tua yang tersisih ini kemudian bertemu dengan orang-orang dari ras Wedoid dan Austroloid. Hasil kawin campur antara keduanya inilah yang kemudian melahirkan nenek moyang orang-orang Sakai (Suparlan, 1995: 39-40).

Sementara pendapat kedua mengatakan bahwa orang-orang Sakai berasal dari Pagarruyung dan Batusangkar. Menurut versi cerita ini, orang-orang Sakai dulunya adalah penduduk Negeri Pagarruyung yang melakukan migrasi ke kawasan rimba belantara di sebelah timur negeri tersebut. Waktu itu Negeri Pagarruyung sangat padat penduduknya. Untuk mengurangi kepadatan penduduk tersebut, sang raja yang berkuasa kemudian mengutus sekitar 190 orang kepercayaannya untuk menjajaki kemungkinan kawasan hutan di sebelah timur Pagarruyung itu sebagai tempat pemukiman baru. Setelah menyisir kawasan hutan, rombongan tersebut akhirnya sampai di tepi Sungai Mandau. Karena Sungai Mandau dianggap dapat menjadi sumber kehidupan di wilayah tersebut, maka mereka menyimpulkan bahwa kawasan sekitar sungai itu layak dijadikan sebagai pemukiman baru. Keturunan mereka inilah yang kemudian disebut sebagai orang-orang Sakai (Ibid: 73-74). Bagi orang Sakai sendiri, pendapat ini dianggap yang lebih benar, karena mereka meyakini bahwa leluhur mereka memang berasal dari Negeri Pagarruyung.

Sebutan Sakai sendiri berasal dari gabungan huruf dari kata-kata S-ungai, K-ampung, A-nak, I-kan. Hal tersebut mencerminkan pola-pola kehidupan mereka di kampung, di tepi-tepi hutan, di hulu-hulu anak sungai, yang banyak ikannya dan yang cukup airya untuk minum dan mandi. Namun, atribut tersebut bagi sebagian besar orang Melayu di sekitar pemukiman masyarakat Sakai berkonotasi merendahkan dan menghina karena kehidupan orang Sakai dianggap jauh dari kemajuan (http://www.katcenter.info/detail_artikel).

Salah satu ciri masyarakat Sakai yang juga melahirkan penilaian negatif dari orang Melayu adalah agama mereka yang bersifat animistik. Meskipun banyak di antara orang Sakai yang telah memeluk Islam, namun mereka tetap memraktekkan agama nenek moyang mereka yang masih diselimuti unsur-unsur animisme, kekuatan magi, dan tentang mahkuk halus. Inti dari agama nenek moyang masyarakat Sakai adalah kepercayaan terhadap keberadaan ‘antu‘, atau mahluk gaib yang ada di sekitar mereka. Masyarakat Sakai menganggap bahwa antu juga memiliki kehidupan layaknya manusia. Mereka bergerombol dan memiliki kawasan pemukiman. Pusat dari pemukiman antu ini menurut orang Sakai berada di tengah-tengah rimba belantara yang belum pernah dijamah manusia (Suparlan, 1995: 197). Mengenai bagaimana masyarakat Sakai mempersepsi keberadaan hantu yang hidup di sekitar mereka, di bawah ini akan dibahas tentang konsep hantu dalam masyarakat Sakai yang diyakini secara turun-temurun. 

2. Hantu dalam Konsepsi Orang Sakai

Meskipun masyarakat Sakai menganggap bahwa hantu memiliki dunia yang berbeda dengan mereka, namun hantu-hantu tersebut menempati wilayah yang juga dihuni manusia. Mereka tinggal di pepohonan, sungai-sungai, rawa-rawa, hutan, ladang, tempat pemukiman, rumah dan sebagainya. Bedanya dengan manusia adalah bahwa manusia tidak dapat melihat mereka, tetapi mereka dapat melihat manusia. Hanya orang-orang tertentu yang dapat berkomunikasi dengan hantu-hantu itu melalui ritual khusus untuk mendatangkan mereka.

Dalam pandangan masyarakat Sakai, hantu atau antu juga memiliki karakter yang sama dengan manusia, yaitu ada yang baik dan ada yang jahat. Namun, masyarakat Sakai tidak memiliki konsep yang jelas tentang jenis-jenis hantu yang baik dan yang jahat. Hantu dalam pandangan masyarakat Sakai sebenarnya memiliki karakter yang netral. Kecenderungan menjadi baik atau jahat tergantung dari situasi-situasi khusus. Hantu yang baik adalah hantu yang dapat dimintai bantuan ketika manusia memiliki kepentingan, sementara hantu yang jahat adalah hantu yang dapat mencelakakan manusia, misalnya hantu yang dapat mengirim penyakit, menimbulkan kemalangan, dan menyebabkan kematian (Suparlan, 1995: 199). Pandangan tentang hantu tersebut potensial menimbulkan perbedaan pendapat dalam masyarakat Sakai sendiri, karena ada hantu yang menurut si A berkarakter baik, sedangkan menurut si B berkarakter jahat. Perbedaan pendapat ini biasanya terjadi dalam konteks penggunaan ilmu tenung.

Masyarakat Sakai memercayai bahwa penyakit dan kematian ada yang disebabkan oleh hantu. Hantu-hantu itu dapat dimintai bantuannya untuk menenung seseorang. Orang Sakai biasanya menggunakan medium hantu untuk menenung ketika terjadi perselisihan di antara mereka. Prinsip ilmu tenung orang Sakai adalah menggunakan kekuatan antu untuk membunuh lawan. Antu tersebut dapat disuruh melakukan pembunuhan dengan imbalan sesajian makanan yang terbuat dari beras ketan, beras, telur ayam, dan ayam. Walaupun hantu ini memiliki kekuatan yang dapat mencelakakan manusia, tetapi hanya orang-orang yang dianggap kotor yang dapat dicelakakan atau dibunuh hantu. Orang-orang ini biasanya adalah mereka yang dengan sengaja melanggar hukum adat yang telah disepakati bersama. Atau orang-orang yang bertindak secara sembarangan dan tidak memperhatikan bahwa di alam sekitar terdapat mahluk-mahluk halus dan kekuatan-kekuatan gaib. Sedangkan manusia yang bersih hanya dapat diganggu oleh antu tetapi tidak dapat dicelakakan atau dibunuh olehnya (Ibid: 200). Meskipun demikian, perbedaan pendapat mengenai baik dan buruknya karakter hantu tergantung dari pihak mana yang menilainya. Bagi pihak korban yang meninggal akibat ilmu tenung, hantu tersebut memiliki karakter jahat, sementara bagi pihak yang berhasil menenung, hantu tersebut memiliki watak baik karena dapat membantu kepentingan orang tersebut.

Dalam pandangan masyarakat Sakai, arwah dari orang yang sudah meninggal juga menjadi bagian dari hantu-hantu tersebut. Orang Sakai sangat takut dengan arwah anggota keluarga yang baru saja meninggal, kecuali arwah bayi dan anak kecil. Ketakutan itu disebabkan adanya keyakinan bahwa arwah orang yang baru saja meninggal sebenarnya sudah hidup di alam lain tetapi masih berada dan tinggal di tempat-tempat anggota keluarga yang masih hidup. Arwah orang yang meninggal ini berada di sekeliling anggota keluarga, dan karena hubungan yang dekat semasa hidup arwah tersebut selalu ikut campur urusan-urusan dan kegiatan-kegiatan anggota keluarganya. Campur tangan arwah tersebut tidak selamanya selaras dengan keinginan anggota keluarga yang masih hidup. Karena keduanya tidak dapat melakukan komunikasi, maka campur tangan dari arwah tersebut sering berujung pada kesialan pada anggota keluarganya yang masih hidup, misalnya selalu gagal dalam melakukan sesuatu. Intinya, keberadaan arwah tersebut dapat membawa sial. Oleh karena itu, orang Sakai biasanya meninggalkan rumah mereka selama seminggu ketika ada anggota keluarga mereka yang meninggal dunia. Hal ini dimaksudkan agar arwah anggota keluarga yang meninggal tidak menempel terus dan mencampuri urusan dan kegiatan mereka. Jika si arwah dirasa masih mengikuti dan mencampuri urusan anggota keluarga yang masih hidup, maka jalan satu-satunya yang harus dilakukan anggota keluarga yang masih hidup adalah harus pergi menyeberangi sungai, karena arwah orang mati diyakini tidak dapat menyeberangi sungai (Ibid: 199).

3. Pengaruh Sosial

Agama orang Sakai yang menempatkan kekuatan hantu sebagai inti dari ajaran agama tersebut secara praktis membawa pengaruh yang bersifat preventif dan kuratif. Preventif artinya keberadaan hantu tersebut merupakan penjamin bagi adanya tertib sosial, karena pelanggaran terhadap aturan adat dapat mengakibatkan keadaan celaka bagi orang yang melanggarnya. Sementara implikasi kuratif adalah dianggap dapat membantu manusia menyembuhkan segala macam penyakit ketika ia diberi sesajian yang sesuai dengan kehendaknya. Corak penghayatan keagamaan seperti ini sebenarnya merupakan cerminan dari kehidupan orang Sakai dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh sebab itu, agama orang Sakai hanya bersifat lokal, baik dalam pengertian wilayah maupun corak ritual yang dijalankannya.

Pada bagian ini akan disampaikan implikasi-implikasi sosial dari penghayatan masyarakat Sakai terhadap sistem kepercayaannya yang terpusat pada keberadaan antu. Sebagaimana disebutkan di atas, implikasi-implikasi tersebut bersifat preventif dan kuratif. Pengaruh-pengaruh sosial yang bersifat preventif meliputi:

Pertama, keberadaan hantu secara sosial berdampak pada eksisnya hukum tidak tertulis yang menyerukan agar setiap orang Sakai dapat menjaga kelestarian ekologinya. Sebab, jika kelestarian ekologi terganggu, maka antu-antu yang tinggal di sekitar kawasan pemukiman penduduk Sakai akan marah dan mengirimkan malapetaka, misalnya wabah penyakit dan kemalangan lainnya. Hukum adat tidak tertulis ini membuat masyarakat Sakai lebih berhati-hati memanfaatkan sumber daya hutan di kawasan pemukimannya. Salah satu cara yang dipakai untuk menjaga ekologi hutan adalah dengan menerapkan zonifikasi lahan yang ketat. Hutan ulayat mereka dibagi dalam beberapa kategori, yaitu hutan adat, hutan larangan, dan hutan perladangan. Hutan adat hanya boleh diambil rotannya, damar, dan madu lebah, tetapi pohon-pohon utamanya tidak boleh ditebang. Sedangkan hutan larangan, yang biasanya berada di bantaran sungai, sama sekali tidak boleh diusik. Hutan perladangan boleh ditebang untuk ladang dengan sistem rotasi. Selain menerapkan zonifikasi, suku Sakai juga melarang warganya menebang beberapa jenis pohon, di antaranya pohon sialang, kapur, labuai, dan buah-buahan (Sulistyawati dan Arif, 2007).

Kedua, keberadaan hantu bagi masyarakat Sakai juga membawa nilai-nilai edukatif bagai anak-anak orang Sakai. Para orang tua dalam masyarakat Sakai menanamkan nilai-nilai kearifan ekologis sejak dini kepada anak-anak mereka. Anak-anak diajarakan bagaimana menjaga ekologi hutan agar tetap lestari, karena dalam menjalani kehidupan ini mereka tidaklah sendirian: ada mahluk lain yang juga menghuni kawasan hutan yang akan murka jika kawasan hutan dirusak. Selain itu, hantu juga sering digunakan sebagai alat untuk menakut-nakuti anak kecil agar mereka lebih berhati-hati dalam bermain.


Anak kecil Sakai

Sedangkan implikasi kuratifnya termanifestasikan dalam metode pengobatan yang berfungsi untuk menyebuhkan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh gangguan hantu. Pengobatan ini sebenarnya adalah semacam sarana negosiasi dengan hantu agar mereka tidak mengganngu manusia. Suparlan (1995: 202-210) menyebutkan ada tiga jenis cara pengobatan yang berkembang dalam masyarakat Sakai, yaitu: (1) cara pengobatan Uras; (2) cara pengobatan Jungkul; dan (3) cara pengobatan Zdikir.

Pertama, cara pengobatan Uras. Perincian dari cara pengobatan Uras adalah sebagai berikut: orang yang sakit akibat gangguan hantu meminta keluarganya untuk diantarkan kepada seorang bomo atau dukun. Keluarga si sakit kemudian menyerahkan sebuah cincin perak kepada dukun. Cincin perak tersebut dikembalikan lagi oleh dukun kepada keluarga si sakit dan sebagai gantinya dia menerima sejumlah uang dari keluarga di sakit. Dukun kemudian memberi mantra yang harus diucapkan oleh si sakit dan memberi resep obat yang bahan-bahannya terdiri dari:

  1. Daun-daunan dari pohon yang ditumbuh di hutan, seperti daun belum bangun, daun anuti, daun papaga, dan daun ibu-ibu.
  2. Bahan-bahan dari padi, di antaranya: padi ketan yang digoreng sangan sampai kulitnya terkelupas; beras basah; beras rendang atau beras yang digoreng sangan; dan beras kunyit atau beras yang direndam di dalam air kunyit.
  3. Makanan yang terdiri dari nasi ketan kuning dan telur rebus satu butir.
  4. Lilin yang terbuat dari damar.


Orang Sakai mencari daun-daunan untuk obat

Setelah bahan-bahan semua tersedia, daun-daunan tersebut direbus dan airnya digunakan untuk memandikan si kait. Pengobatan ini dilakukan pada malam hari. Lilin dinyalakan semalam penuh didekat tempat tidur si sakit, di bagian kepala dan kaki. Di dekat lilin tersebut ditaruh sesajian beras-berasan seperti disebut di atas. Si sakit kemudian disuruh memakan makanan yang disebut di atas diiringi dengan bacaan doa-doa dari keluarga yang menungguinya. Pengobatan ini berlangsung selama tiga hari, dan pada siang hari lilin dimatikan. Jika dengan cara pengobatan Uras si sakit belum juga sembuh, maka harus dilajutkan dengan cara pengobata Jungkul.

Kedua, cara pengobatan Jungkul. Proses pengobatan cara Jungkul adalah sebagai berikut: keluarga meminta dukun untuk mengobati si sakit dengan cara menyerahkan sebuah cincin perak. Cincin ini dinamakan “cincin serah”. Cincin ini kemudian dipakaikan di tangan si sakit sebagai gelang dan diikat dengan tali. Setelah dipakaikan pada si sakit, cincin ini berubah sebutan menjadi “cincin semangat”. Artinya, cincin yang berisi kekuatan yang dapat mengusir hantu yang mengganggu si sakit. Cincin tersebut tidak boleh lepas dari pergelangan tangan si sakit, sebab kalau cincin tersebut sampai lepas, maka penyakit yang diderita si sakit akan bertambah parah. Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam pengobatan Jungkul adalah sebagai berikut:

  1. Anyam-anyaman yang terbuat dari daun janur kuning dan dari kayu asam paya untuk membuat bangunan yang menyerupai rumah, kapal, atau istana. Bentuk bangunan ini dibuat sesuai dengan permintaan hantu yang disampaikan melalui dukun.
  2. Obor besar yang dinyalakan waktu menghadap raja hantu yang menguasai dunia hantu.
  3. Beras rendang, beras kuning, dan beras basah.
  4. Nasi ketan kuning dan telur rebus.
  5. Daun-daunan dari hutan yang sama jenisnya dengan yang digunakan saat pengobatan Uras.

Sama seperti Uras, Jungkul juga dilakukan pada malam hari, berlangsung selama tiga malam. Tahap awal adalah memasang benda menyerupai bangunan tersebut yang dilengkapi dengan boneka-boneka kecil menyerupai dayang-dayang di bagian tengah atau muka rumah. Obor besar dinyalakan di depan bangunan dan dikelilingi dayang-dayangan tersebut. Di sekeliling bangunan tersebut dinyalakan lilin dan beras-berasan sebagaimana disebut di atas. Si sakit dimandikan dengan daun-daunan kemudian dibaringkan di dekat bangunan tersebut dengan memasang lilin di bagian kepala dan kaki. Selajutnya, dukun membaca doa-doa yang dipanjatkan kepada para hantu. Setelah pembacaan doa selesai, si sakit disuruh memakan makanan yang telah didoakan. Setelah si sakit sembuh, cincin semangat kemudian dilepas dan keluarga si sakit menyerahkan kain putih sepanjang satu setengah meter sebagai ongkos pengobatan. Namun, jika dengan Jungkul si sakit tidak kunjung sembuh, maka pengobatan dilanjutkan dengan cara “zdikir”.


Alat tetabuhan yang digunakan dalam pengobatan Zdikir

Ketiga, pengobatan dengan cara zdikir. Cara pengobatan zdikir berlangsung selama tiga malam dan menggunakan bahan-bahan yang sama dengan yang digunakan pada saat pengobatan Jungkul, namun dilengkapi dengan alat-alat tetabuhan. Bedanya, kalau dalam pengobatan Jungkul si dukun melakukan pengobatan dengan duduk bersila, maka dalam pengobata zdikir si dukun dengan cara menari-nari di sekitar si sakit dengan diiringi bunyi-bunyian dari alat-alat tetabuhan. Setelah pengobatan zdikir dianggap selesai, semua peralatan pengobatan dibuang di bagian belakang rumah, dan si dukun pulang sambil secara simbolik menyerahkan si sakit kepada keluarganya. Jika si sakit tidak kunjung sembuh juga, maka si dukun merekomendasikan untuk mengulangi pengobatan cara zdikir lagi. Kalau si sakit tidak kunjung sembuh juga, maka si dukun menyerahkan nasib si sakit kepada para hantu, yang dianggap sebagai bentuk kepasrahan di hadapan kekuatan hantu.  

(Afthonul Afif/bdy/06/01-09)

Daftar Pustaka:

  • Suparlan, Parsudi. 1995. Orang Sakai di Riau: Masyarakat Terasing dalam Masyarakat Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  •  “Pemberdayaan Masyarakat Suku Sakai”. Artikel. Didownload dari http://www.katcenter.info/detail_artikel.php?id_ar=44 pada tanggal 2 Januari 2009.
  • Sulistyawati, Agnes Rita, & Ahmad Arif. “Runtuhnya Kearifan Masyarakat Sakai”.  Kompas edisi Rabu, 25 April 2007.

Sumber foto: Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (fotografer: Risman Marah)

Dibaca : 19.775 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password