Sabtu, 25 Maret 2017   |   Ahad, 26 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 7.534
Hari ini : 46.475
Kemarin : 72.414
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 101.989.093
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Tradisi Bersirih & Nilai Budayanya

tepak sirih

Oleh : Mahyudin Al Mudra, SH. MM.


1. Asal-usul Tradisi Makan Sirih

Tradisi makan sirih merupakan warisan budaya masa silam, lebih dari 3000 tahun yang lampau atau di zaman Neolitik, hingga saat ini. Budaya makan sirih hidup di Asia Tenggara. Pendukung budaya ini terdiri dari pelbagai golongan, meliputi masyarakat bawah, pembesar negara, serta kalangan istana.

Tradisi makan sirih tidak diketahui secara pasti dari mana berasal. Dari cerita-cerita sastra, dikatakan tradisi ini berasal dari India.

tepak sirihTetapi jika ditelusur berdasarkan bukti linguistik, kemungkinan besar tradisi makan sirih berasal dari Indonesia. Pelaut terkenal Marco Polo menulis dalam catatannya di abad ke-13, bahwa orang India suka mengunyah segumpal tembakau. Sementara itu penjelajah terdahulu seperti Ibnu Batutah dan Vasco de Gama menyatakan bahwa masyarakat Timur memiliki kebiasaan memakan sirih.

Di masyarakat India, sirih pada mulanya bukan untuk dimakan, tetapi sebagai persembahan kepada para dewa sewaktu sembahyang di kuil-kuil. Beberapa helai daun sirih dihidangkan bersama dengan kelapa yang telah dibelah dua dan dua buah pisang emas.

Pada saat ini sirih sangat dikenal di kalangan masyarakat Melayu. Selain dimakan oleh rakyat kebanyakan, sirih juga dikenal sebagai simbol budaya dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam adat istiadat Melayu. Sirih dipakai dalam upacara menyambut tamu, upacara merisik dan meminang, upacara pernikahan, pengobatan tradisional, dan berbagai upacara adat yang lain. Dalam upacara pernikahan, sirih dirangkai dalam bentuk sirih junjung yang cantik, dan bersama dengan sirih penyeri dipakai sebagai barang hantaran kepada pengantin perempuan. Di dalam upacara resmi kebesaran istana, sirih junjung dipakai sebagai hiasan yang menyemarakkan suasana. Sirih junjung juga dibawa sebagai kepala suatu arak-arakan adat.

2. Tepak Sirih, Perangkat Berkapur-sirih

tepak sirihTepak sirih digunakan sebagai perangkat yang tidak boleh dilupakan dalam upacara-upacara resmi adat. Oleh karena tepak sirih merupakan simbol yang memiliki arti penting, maka pemakaiannya tidak boleh sembarangan.

Di dalam tepak sirih terdapat combol (cembul) yang digunakan untuk menyimpan ramuan sirih pinang. Combol ini disusun mengikuti aturan yang telah ditetapkan.

Bagian dalam tepak sirih yang lengkap dibagi menjadi dua bagian. Di bagian atas ditempatkan empat combol dengan susunan tertentu, yaitu pinang, kapur, gambir, dan tembakau. Di bagian bawah disusun cengkih, sirih, dan kacip. Pada tepak sirih yang berbentuk bulat, combol disusun melingkar sesuai dengan urutannya. Masyarakat Melayu menamakan tepak sirih yang berbentuk bujur sangkar sebagai puan, dan yang berbentuk empat persegi panjang disebut tepak. Ada kalanya, daun-daun sirih tidak dimasukkan menjadi satu ke dalam tepak sirih, tetapi ditempatkan dalam suatu wadah yang disebut bekas sirih. Pengaturan seperti ini memberikan tampilan yang lebih indah dan rancak.

Bagi masyarakat Melayu, sirih disusun sedemikian rupa untuk menunjukkan urut-urutan ketika mengapur sirih, yang dahulu didahulukan dan yang kemudian dikemudiankan. Daun-daun sirih yang disusun dalam tepak sirih harus dilipat bersisip antara satu dengan yang lain dan disatukan tangkainya, disusun sebanyak lima atau enam helai dalam satu baris. Satu tepak sirih selalu berisi empat atau lima susun sirih. Sirih harus disusun secara berlipat agar tidak terlihat ekornya. Ekor sirih yang terlihat dianggap kurang sopan dan tidak menghormati tamu. Tepak sirih yang sudah lengkap dihias dengan bunga dan diberi alas kain songket. Tepak sirih seperti ini disebut tepak sirih adat.

tepak sirih

3. Kelengkapan Tepak Sirih

Komponen yang melengkapi tepak sirih terdiri atas combol, bekas sirih, kacip, gobek, celepa, ketur, dan bujam epok. Tetapi pada saat ini, bujam epok sudah jarang dipakai sebagai peralatan pelengkap tepak sirih. Sedangkan combol diisi dengan pinang, gambir, tembakau, cengkih, dan kapur.

a. Combol      

Combol merupakan komponen tepak sirih yang berjumlah empat atau lima buah, untuk menyimpan pinang, kapur, gambir, tembakau, dan bunga cengkih. Combol berbentuk bulat dan bertutup, pada bagian bawah datar agar dapat diletakkan dengan baik. Biasanya combol untuk kapur berbentuk silinder atau agak berbeda dengan yang lain. Combol dibuat dari bahan logam seperti tembaga, perak, atau berlapis emas. Agar lebih indah, pada bagian luar dan tutup combol dihias dengan ukiran berbagai corak seperti bunga petola, sirih emas, daun candik kacang, tampuk manggis, bunga melur, dan motif-motif lain sesuai dengan kreasi dan kemahiran tukang ukir. Pada saat ini, motif ukiran sudah berkembang mengikuti zaman dan cita rasa orang, sehingga banyak dijumpai combol dengan corak grafis serta objek tertentu dan corak-corak budaya yang lain.

tepak sirih

b. Bekas Sirih

bekas sirihAda kalanya sirih tidak dimasukkan menjadi satu ke dalam tepak sirih, tetapi ditempatkan tersendiri dalam bekas sirih. Bekas sirih biasanya dibuat dari logam atau perak, walaupun ada juga yang terbuat dari gading gajah. Agar bekas sirih tampak cantik, ada kalanya disalutkan emas dan diukir dengan berbagai corak ukiran Melayu seperti awan larat, bunga kundur, bunga ketang guri, bunga petola, pucuk rebung, ukiran tebuk, dan corak-corak lain. Untuk menambah keindahan, pada bagian badan dan di sekeliling mulutnya dibuat berlekuk-lekuk. Bekas sirih berbentuk pipih, dengan bagian mulut (atas) agak lebar dan sedikit menguncup di bagian bawah. Ukuran bekas sirih pada umumnya sekitar 8 cm pada bagian mulut, 6 cm pada bagian bawah, dan tinggi 10 cm.         

c. Kacip          

Kacip berupa alat yang berfungsi seperti pisau pemotong terdiri atas bilah tajam yang dapat bergerak di bagian atas dan bagian tumpul yang kokoh pada bagian bawah. Kacip digunakan untuk memotong atau mengiris buah pinang, atau obat-obat tradisional yang terdiri dari tumbuh-tumbuhan.

Kacip dibuat dari logam keras, namun ada juga yang dibuat dari tembaga atau perak sehingga tidak hanya berfungsi sebagai pemotong melainkan juga sebagai peralatan yang indah. Kacip dibuat dalam berbagai ukuran, antara 10 cm hingga 22 cm, walaupun ada juga yang berukuran lebih dari itu. Pada dasarnya bentuk kacip serupa, yaitu terdiri atas dua bilah mata yang bertaut  dan mempunyai hulu atau tangkai pada kedua bilahnya.

Ragam hias pada bagian hulu dan badan kacip amat unik, ada kalanya menyerupai kepala binatang seperti kuda, kerbau, gajah, monyet, burung, ayam, manusia, atau dewa-dewa. Terdapat juga kacip yang diukir dengan motif flora pada tangkai dan badannya dengan menggunakan salutan perak atau emas. Kacip juga dikenal sebagai kacip ‘jantan‘ dan ‘betina‘, walaupun ada juga yang tidak jelas jenisnya dengan bentuk segi atau kebulat-bulatan.

kacip

Masyarakat Melayu menamakan alat pemotong ini kacip, sementara di Bali masyarakat menamakannya caket. Di negeri Deccani (India), Kannada (Karnataka) alat ini disebut adakottu, sedangkan di Marathi (Maharastra) dinamakan adekitta, walaupun banyak juga yang lebih mengenalnya dengan nama serota. Masyarakat Bengali menamakan alat ini yanti, sedangkan orang Gujarat menyebutnya sudi atau sudo. Di Sri Langka, kacip disebut gire atau giraya.

Di dalam tepak sirih, kacip disusun bersebelahan dengan daun sirih yang tersusun rapi. Kacip merupakan perkakas penting selain gobek untuk melengkapi keserasian sebuah tepak sirih.

Kacip juga dijadikan sebagai perkakas penting dalam perbagai upacara adat resam Melayu. Dalam adat “melenggang perut”, kacip digunakan sebagai persyaratan yang harus ada. Ketika bayi baru lahir, kacip diletakkan di bagian atas kepala atau di bawah bantal pada saat si bayi tidur. Ada kepercayaan, bahwa kacip akan menjauhkan bayi dari segala macam gangguan makhluk halus.

d. Gobek

gobekGobek terbuat dari logam dan terdiri atas dua komponen. Komponen pertama berbentuk silinder yang berlubang di bagian tengahnya. Pada bagian ujung, silinder ini ditutup dengan sumbat kayu dengan ukuran yang sama besarnya dengan lubang silinder. Komponen ini disebut ibu gobek. Komponen yang satu lagi dinamakan anak gobek, memiliki ukuran yang lebih kecil, terdiri atas besi padu yang di bagian ujungnya berbentuk seperti mata kapak serta mempunyai hulu di bagian pangkalnya. Pada bagian ibu dan hulu anak gobek diukir dengan berbagai corak yang menarik, sesuai dengan budaya setempat. Alat ini berfungsi seperti antan dan lesung. Daun sirih yang telah dilengkapi dengan pinang, gambir, kapur, dan cengkih dimasukkan ke dalam gobek dan ditumbuk hingga lumat. Setelah lumat, tutup kayu di ujung silinder didorong dengan anak gobek, sehingga bisa dikeluarkan dan siap dimakan. Gobek dipakai oleh para nenek yang sudah tidak mempunyai gigi dan tidak bisa lagi mengunyah sirih.  

e. Ketur

Ketur adalah tempat untuk berludah. Sirih yang dimakan dengan kapur, gambir, dan pinang akan menghasilkan ludah yang berwarna merah, pekat, dan kotor, sehingga orang yang makan sirih harus sering meludah.

keturKetur berbentuk seperti labu sayung, dengan bagian mulut agak lebar berkeluk-keluk atau bulat seperti pinggan makan, menggelembung di bagian tengah serta mempunyai kaki yang berbentuk setengah bola. Tetapi ada kalanya, bekas kaleng yang terbuat dari seng atau timah dipakai sebagai ketur. Ketur yang khusus dibuat untuk tempat berludah biasanya dibuat dari tembaga.        

Tinggi ketur antara 20 cm hingga 25 cm, cukup berat karena terbuat dari bahan logam tembaga.Bobot yang berat ini diperlukan, agar ketur tidak mudah terguling, yang akan membuat isinya tumpah dan mengotori lantai. Ketur hanya digunakan jika orang makan sirih di dalam rumah, tidak pada waktu bepergian. Setiap hari ketur harus dibersihkan, agar tidak menimbulkan bau yang tidak sedap.

4. Ramuan (Bahan) Berkapur-sirih

a. Sirih

Sirih adalah tanaman yang tumbuh di kawasan tropika Asia, Madagaskar, Timur Afrika, dan Hindia Barat. Sirih yang terdapat di Semenanjung Malaysia terdiri atas empat jenis, yaitu sirih Melayu, sirih Cina, sirih Keling, dan sirih Udang. Dalam bahasa Indonesia, dikenal berbagai nama spesies sirih seperti sirih Carang, Be, Bed, Siyeh, Sih, Camai, Kerekap, Serasa, Cabe, Jambi, Kengyek, dan Kerak.

Dalam ilmu biologi, sirih dikenal dengan nama Piper Betle Linn dalam keluarga Piperaceae. Nama betel adalah dari bahasa Portugis - betle, berasal dari kata vettila dalam bahasa Malayalam di negeri Malabar. Dalam bahasa Hindi, sirih lebih dikenal dengan nama pan atau paan dan dalam bahasa Sunskrit disebut tambula. Bahasa Sri Lanka menyebut sirih dengan bulat, sedangkan dalam bahasa Thai disebut plu.

sirihSirih tumbuh menjalar dan memanjat pada batang pohon atau para-para. Bentuk daunnya bulat lonjong dengan ujung agak lancip. Daun sirih yang subur memiliki ukuran lebar 8 cm - 12 cm, dan panjang 10 cm - 15 cm. Sirih sesuai ditanam di cuaca tropis, di tanah yang gembur dan tidak terlalu lembap, serta cukup air.            

Sirih Udang memiliki urat daun dan gagang berwarna merah. Sirih Cina mempunyai rasa yang lebih lembut dibanding sirih Melayu. Namun sirih Melayu adalah jenis yang digemari oleh kalangan yang makan sirih, juga banyak dipakai dalam adat resam. Sirih Melayu berdaun lebar dan warnanya hijau pekat. Jenis sirih yang lain, sirih Keling, berukuran kecil dan warnanya hijau gelap, rasanya lebih pedas dan daunnya agak keras.

Rasa pedas sirih disebabkan oleh sejenis minyak yang mengandung fenol dan bahan-bahan terpene. Zat-zat lain yang terkandung dalam daun sirih adalah kalsium nitrat, sedikit gula, dan tanin. Rasa enak daun sirih ditentukan oleh jenis daun sirih itu sendiri, umurnya, cahaya matahari, serta letak daun pada batang sirih. Daun sirih yang paling enak adalah yang terdapat di bagian atas dahan-dahan sisi, dan yang berukuran paling besar. Sirih hutan tidak boleh dimakan, karena selain daunnya keras, juga rasanya tidak enak. Sirih hutan tumbuh  di pohon yang terdapat di hutan hujan tropis.

Daun-daun sirih yang terdapat di bagian bawah dan berukuran kecil dipakai sebagai obat oleh dukun-dukun Melayu. Sirih bertemu urat adalah jenis yang dipilih oleh bidan untuk pengobatan tradisional. Pada saat ini, sirih masih menjadi bagian penting bagi masyarakat Melayu, walaupun tidak banyak lagi orang yang memakannya.

b. Pinang

pinangPinang adalah tumbuhan tropis yang ditanam karena keindahannya, serta untuk mendapatkan buahnya. Tingginya bisa mencapai 10 meter, bentuknya runcing pada bagian pucuk. Garis tengah batangnya antara 15 cm hingga 20 cm. Buah pinang berwarna hijau pada waktu masih muda, dan apabila sudah masak akan berubah menjadi kuning serta merah.

Nama ilmiah pinang adalah Areca catechu. Dalam bahasa Hindi buah ini disebut supari, dan pan-supari untuk menyebut sirih-pinang. Bahasa Malayalam menamakannya adakka atau adekka, sedang dalam bahasa Sri Lanka dikenal sebagai puvak. Masyarakat Thai menamakannya mak, dan orang Cina menyebutnya pin-lang.

Pohon pinang dibiakkan dengan cara menanam bijinya yang sudah cukup masak. Biasanya biji yang akan ditanam disemai dulu, baru kemudian ditanam dalam pot atau tas plastik. Jika masih kecil, pohon pinang cocok ditanam di dalam pot, tetapi jika sudah besar sebaiknya ditanam di tanah bebas.

pinangBuah pinang bisa dipakai sebagai obat. Pucuk Areca catechu dan pucuk-pucuk Areca borneensis serta Areca trianda bisa dimakan. Pucuk Areca hutchinsoniana digunakan untuk menghilangkan jamur. Untuk mengobati luka-luka, dapat digunakan ampas pinang yang sudah direbus.

Alkaloid dalam pinang termasuk arekolin, arekaidin, arekain, guvacin, arekolidin, guvakolin, isoguvakolin, dan kolin. Arekolin yang toksid bersifat sebagai obat bius nikotin bagi sistem saraf. Zat ini menyebabkan penyakit ayan yang berakhir dengan kelumpuhan. Akibat lebih fatal adalah kematian, yang terjadi jika pernafasan terhenti.

Arekolin adalah pembasmi parasit dan cacing, serta bersifat seperti asetil kolin. Pinang mengandung lebih kurang 15% tanin merah dan 14% lemak. Buah pinang muda dikunyah dan airnya ditelan untuk mengobati darah dalam air kencing. Jus pinang muda digunakan sebagai obat luar untuk rabun.

c. Gambir

gambirGambir adalah tumbuhan yang terdapat di Asia Tenggara, termasuk dalam keluarga Rubiaceae. Daunnya berbentuk bujur telur atau lonjong, dan permukaannya licin. Bunga gambir berwarna kelabu. Gambir biasanya dimakan dengan sirih. Gambir juga dimanfaatkan sebagai obat, antara lain untuk mencuci luka bakar dan kudis, mencegah penyakit diare dan disentri, serta sebagai pelembap dan menyembuhkan luka di kerongkongan.

d. Tembakau

Tembakau adalah tumbuhan herba semusim yang ditanam untuk diambil daunnya, digunakan untuk membuat rokok dan cerutu. Tumbuhan ini termasuk dalam keluarga Solanaceae. Tembakau bisa tumbuh dalam iklim yang berbeda-beda. Pada masa awal pertumbuhan, tembakau membutuhkan suhu yang panas dan lembap dengan banyak hujan. Akan tetapi menjelang dipetik, tembakau harus berada pada musim kering agar diperoleh daun-daun yang baik. Daun-daun tembakau yang bermutu tinggi hanya bisa dihasilkan di kawasan-kawasan tertentu saja. Jenis tembakau yang sama jika ditanam di tempat lain bisa menghasilkan mutu daun yang lebih rendah.

tembakauTanah liat yang padat dan subur akan menghasilkan daun-daun tembakau yang berukuran lebar. Daun tembakau seperti ini cocok untuk dibuat cerutu dan tembakau pipa. Pada tanah yang berpori serta berhumus akan dihasilkan daun-daun tembakau yang kecil serta lembut, yang cocok untuk tembakau rokok. Pohon tembakau yang subur bisa mencapai ketinggian 2 meter,  dengan lebar daun 30 cm - 40 cm serta panjang 40 cm - 50 cm.

Daun tembakau yang baik untuk rokok adalah yang berwarna kuning muda atau kuning keemasan, mempunyai bau wangi, rasa yang sedap, serta mengeluarkan asap yang mengandung asam. Daun seperti ini banyak mengandung karbohidrat dan sedikit amida, nitrogen, banyak fosfat dan kalsium. Sedangkan daun tembakau yang baik untuk cerutu adalah yang berwarna kuning tua, mengeluarkan asap yang mengandung alkali, dan mempunyai urat-urat daun yang halus.

e. Cengkih

Cengkih adalah sejenis rempah yang berasal dari Maluku, Indonesia. Cengkih juga banyak terdapat di Zanzibar, Madagaskar. Pohon cengkih tumbuh setinggi 8 - 12 meter. Daunnya runcing dan bergagang pendek. Bunga cengkih muncul pada setiap ujung ranting. Kuncup bunga cengkih dipetik sebelum sempat mengembang menjadi bunga.

Nama ilmiah bunga cengkih adalah Eugenia aromatika.

Pohon cengkih membutuhkan iklim panas serta lembap dengan curah hujan sebanyak

150 - 250 mm per tahun, dan suhu 15o - 38oC. Tanah yang paling cocok untuk cengkih adalah tanah gembur yang mengandung humus dan tanah laterit.

Cara membiakkannya adalah dengan menanam biji benih. Benih cengkih ditanam hingga umur 1,5 - 2 tahun di ladang dengan jarak 5 m. Cengkih bisa dipanen untuk pertama kali jika sudah berumur tujuh atau delapan tahun. Pohon cengkih akan terus berbunga hingga umur 60 tahun, ada kalanya bahkan sampai 130 tahun.

cengkeh

Bunga cengkih mengeluarkan aroma yang khas, digunakan sebagai rempah dalam beberapa masakan, juga dimakan bersama daun sirih untuk menambah rasa manis dan enak. Minyak cengkih digunakan dalam pembuatan obat dan minyak wangi. Di beberapa negara, cengkih dicampurkan dengan tembakau dalam rokok.

f. Kapur          

kapurKapur berwarna putih, liat seperti krim yang dihasilkan dari cangkang siput laut yang telah dibakar. Serbuk cangkang tersebut dicampur air agar mudah dioleskan di atas daun sirih. Selain kapur jenis ini, terdapat kapur yang tidak bisa dimakan, yaitu kapur yang digunakan dalam bangunan rumah.

Kapur juga bisa diperoleh dengan membakar batu kapur (kalsium karbonat/CaCO3). Apabila dibakar dengan suhu tertentu kapur akan mengeluarkan gas yang disebut karbon dioksida (CO2) dan menjadi kalsium oksida (CaO). Kalsium oksida ini jika dicampur dengan sedikit air akan mengembang serta menjadi serbuk kapur yang dikenal sebagai kalsium hidroksida (Ca(OH)2).

5. Makna / Filosofi Bahan Berkapur-sirih

a. Sirih

Sirih melambangkan sifat rendah hati, memberi, serta senantiasa memuliakan orang lain. Makna ini ditafsirkan dari cara tumbuh sirih yang memanjat pada para-para, batang pohon sakat, atau batang pohon api-api yang digemarinya, tanpa merusakkan batang atau apapun tempat ia hidup. Daun sirih yang lebat dan rimbun memberi keteduhan di sekitarnya.

b. Kapur

Kapur melambangkan hati yang putih bersih serta tulus, tetapi jika keadaan memaksa, ia akan berubah menjadi lebih agresif dan marah. Kapur diperoleh dari hasil pemrosesan cangkang kerang atau pembakaran batu kapur. Secara fisik, warnanya putih bersih, tetapi reaksi kimianya bisa menghancurkan.

c. Gambir

Gambir memiliki rasa sedikit pahit, melambangkan kecekalan/keteguhan hati. Makna ini diperoleh dari warna daun gambir yang kekuning-kuningan serta memerlukan suatu pemrosesan tertentu untuk memperoleh sarinya, sebelum bisa dimakan bersama sirih. Dimaknai bahwa sebelum mencapai sesuatu, kita harus sabar melakukan proses untuk mencapainya.

d. Pinang

Pinang merupakan lambang keturunan orang yang baik budi pekerti, jujur, serta memiliki derajat tinggi. Bersedia melakukan suatu pekerjaan dengan hati terbuka dan bersungguh-sungguh. Makna ini ditarik dari sifat pohon pinang yang tinggi lurus ke atas serta mempunyai buah yang lebat dalam setandan.

e. Tembakau

Tembakau melambangkan hati yang tabah dan bersedia berkorban dalam segala hal. Ini karena daun tembakau memiliki rasa yang pahit dan memabukkan bila diiris halus sebagai tembakau, dan tahan lama disimpan.

macam-macam tepak sirih
macam-macam kacip

(MAM/bdy/01/26-07)

Mahyudin Al Mudra, SH. MM., adalah pendiri dan pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), serta pemimpin Umum (PU) MelayuOnline.com

Sumber :

  • Tepak Sirih. Mahyudin Al Mudra. BKPBM Yogyakarta. 2006.
  • Koleksi Kacip Samuel Eilenberg, London, dan koleksi BKPBM Yogyakarta.
  • Alam Melayu. E. Rahman, dkk. Unri Press 2003.
  • http://www.pnm.my.
Kredit foto : Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu
Dibaca : 98.207 kali.