Sabtu, 1 November 2014   |   Ahad, 8 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 1.136
Hari ini : 6.101
Kemarin : 21.974
Minggu kemarin : 177.917
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.295.783
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Pengaruh Bahasa Portugis terhadap Bahasa Melayu

Adelaar, seorang pakar Linguistik Historis Komparatif dari Australia, pernah mengatakan, bahwa dari keenam isolek Melayik yang ia teliti, Isolek Ibanlah yang paling sedikit mendapat pengaruh dari bahasa asing. Bahasa asing yang dimaksud oleh Adelaar antara lain bahasa Sanskerta, bahasa Jawa, bahasa Arab dan bahasa Portugis. Memang, Adelaar meneliti beberapa isolek selain isolek Melayu seperti Isolek Minangkabau dan Iban di atas.

Apa yang menarik dalam penelitian Adelaar itu adalah bahwa bahasa Melayu secara umum menurutnya mendapat pengaruh dari keempat bahasa tersebut di atas. Karena keadaan itu sangat umum, Adelaar melihat bahwa keadaan Iban yang kurang mendapat pengaruh dari keempat bahasa itu memiliki suatu kelainan atau menyimpang dari gejala umum yang dialami oleh isolek-isolek Melayik lain. Hal itu pulalah yang mendorong Adelaar memberikan alasan tersendiri mengapa Isolek Iban mengalami gejala seperti itu.

1. Pengaruh Portugis: Perspektif Sejarah

“Mungkin sebagian besar pengaruh barat (termasuk SKT dan AR) lebih dulu mencapai MB, dan mempengaruhi isolek-isolek lain melalui MB.” (Adelaar, 1994: 312). Apa yang dikatakan oleh Adelaar seperti disinggung di muka cukup logis untuk diterima, isolek (demikian Adelaar lebih suka menyebut) lain terpengaruh oleh bahasa-bahasa di atas melalui MB. Persebaran MB yang begitu dahsyat selama berabad-abad telah menyebabkan isolek lain tersentuh oleh pengaruh bahasa asing seperti Sanskerta, Arab dan Portugis.

Tahun 1511 Masehi memang merupakan tahun yang menentukan dalam sejarah bahasa Melayu pada abad ke-16. Pada tahun tersebut Portugis berhasil menundukkan Malaka dan menguasainya. Tahun ini menjadi masa yang paling awal bagi bangsa Eropa menancapkan kukunya di bumi Melayu. Rupa-rupanya, peristiwa tersebut hanya awal bagi sebuah perubahan besar yang akan melanda bahasa Melayu pada abad-abad berikutnya.

Apa yang terjadi pada awal-awal abad 16 ini dicatat oleh Collins (2005), yang berhasil mengumpulkan enam buah ciri utama bahasa Melayu yang berkembang pada masa itu:

a. Kesadaran Orang Eropa akan Potensi Bahasa Melayu.

Antonio Pigafetta adalah orang Eropa pertama yang mencatat kosakata bahasa Melayu dan menyusunnya menjadi sebuah kamus kecil Italia-Melayu. Kamus itu kemudian diterbitkan menjadi Kamus Bahasa Latin-Melayu dan versi Bahasa Perancis-Melayu. Sampai lima ratus tahun kemudian, sebagian kosakata yang dikumpulkan Pigafetta ini masih digunakan di Kuala Lumpur, Jakarta dan Brunei.

Bahasa Melayu 1522

 

Bahasa Melayu 1997

Apenamaito?

 

Apa nama itu?

Tida taho

 

Tidak tahu

Sudah macan?

 

Sudah makan?

Berapa bahasa tan?

 

Berapa bahasa tahu?

Collins (2005: 22)

b. Peran Para Misionaris

Bersamaan dengan kedatangan imperialis Portugis, para misionaris Kristen juga ikut datang. Mereka tertarik kepada bahasa Melayu dan menggunakannya untuk menyebarkan agama, salah satu kegiatan mereka adalah menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Melayu. Javier misalnya, menerjemahkan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Melayu.

c. Ada Upaya Meneruskan BM ke Bumi Eropa

Para peneliti, para petualang dan para ahli khususnya bahasa, yang tertarik terhadap bahasa Melayu berjasa pula terhadap perkembangan selanjutnya. Mereka tidak hanya mempelajari sendiri bahasa Melayu, tetapi juga meneruskannya ke Eropa, untuk diajarkan dan dipelajari oleh orang lain. Houtman, sang saudagar dari Belanda yang ditahan di Aceh, malah menerbitkan kamus bahasa Melayu di Belanda, dan kamus tersebut dicetak ulang berkali-kali. Bahasa Melayu banyak digemari oleh penduduk Eropa   yang berkeinginan datang ke bumi Melayu kala itu.

d. Masuknya Alphabet Latin

Periode masuknya Portugis juga membawa aksara Latin. Aksara yang dipakai oleh bangsa-bangsa Eropa dan disebarkannya ke seluruh dunia. Aksara Latin ini kemudian menggantikan aksara Arab-Pegon, yang merupakan aksara khas bahasa Melayu.

e. Peminjaman Bertahap dari Bahasa Portugis.

Portugis menduduki bumi Melayu memang tidak selama Belanda, namun pengaruhnya bercokol begitu kuat terutama di Kawasan Timur. Di antara pengaruh tersebut adalah banyaknya kosakata bahasa Portugis yang dipinjam oleh bahasa Melayu di Kawasan Timur melebihi kawasan lainnya. Menurut Collins, hal ini disebabkan oleh dua hal; pertama pemakaian bahasa Portugis sebagai bahasa penyebaran agama di samping bahasa Melayu dan bahkan menurut Fernandez (2006) bahasa Portugis masih dipakai sebagai bahasa ibadat sampai lima abad kemudian (abad dua puluh satu); kedua, para missionaris yang menyebarkan agama tersebut berasal dari Portugis dan berbahasa Portugis.

Peminjaman dari bahasa Portugis ini berlangsung lama seperti yang baru saja disebutkan, dan menyentuh bagian yang urgen dari masyarakat penutur bahasa Melayu di Kawasan Timur. Ritual-ritual keagamaan menyerap sebagian kosakata dari bahasa Portugis, bahasa Portugis dipakai sebagai bahasa agama. Interaksi yang kerap dan sering terjadi dengan bangsa Portugis pun menghasilkan pengaruh terhadap bahasa yang digunakan. Bahasa Melayu lokal di kawasan tersebut menjadi kaya kosakata, khususnya kosakata asing yang  berasal dari bahasa Portugis.  

f. Percetakan

Pada masa kedatangan Portugis, memang tidak ada bukti bahwa percetakan sudah dibawa ke bumi Melayu. Naskah Melayu yang akan dicetak dibawa dulu ke Eropa lalu dicetaklah di sana. Naskah pertama yang dicetak adalah naskah Percakapan De Houtman, saudagar Belanda, yang tadi telah disinggung. Houtman ditahan di Aceh antara tahun 1599-1601, dan bukunya diterbitkan pada tahun 1603. Houtman memberi judul naskahnya itu dengan Spraeck ende woord-boeck, inde Maleysche ende Madagaskarsche Talen.

2. Pengaruh Portugis: Catatan Petualang Bahasa

Pigafetta adalah orang Italia yang pertama kali mengumpulkan kosakata bahasa Melayu. Pigafetta berlayar bersama orang Portugis ke berbagai belahan bumi Melayu, seperti ke Brunei, Ambon dan Filipina. Meskipun kemudian, kosakata yang dikumpulkannya ditulis menjadi daftar kata bahasa Italia-Melayu, bukan Portugis-Melayu.  

Sajak berirama berikut ini merupakan contoh dari pengaruh Portugis terhadap bahasa Melayu abad ke-16 Masehi:

Bahasa Melayu 1534+

 

Bahasa Melayu 1997

Capito D. Paulo

 

 

Kapitan Dom Paulo

Baparam de Punggor

 

 

Berperang di Punggur

Anga‘ dia malu

 

 

Nggak dia malu

Sita pa tau dor

 

 

Setapak tak undur

Collins (2005)

Capito de Paulo yang dimaksud adalah Kapten Dom Paulo da Gama, kapten dari Malaka. Nama tersebut merupakan nama Portugis, menurut Collins. Pangkat capito atau kapten juga merupakan kepangkatan yang dipakai oleh serdadu Portugis.

3. Pengaruh Portugis: pada Melayu Kawasan Timur  (MKT)

Menurut Fernandez (2007), Melayu sudah lebih dulu sampai di KT sebelum Portugis (1520) datang. Migrasi Melayu secara bergelombang ke KT; berlangsung pada abad ke-3 hingga ke-5 Masehi, puncaknya pada abad ke-7, masa yang menjadi zaman keemasan bagi Kerajaan Sriwijaya.

Setelah kedatangan Portugis, pada abad ke-16 sampai abad ke-18 di Kawasan Timur bertemulah dua bahasa yang sama-sama kuat: bahasa Melayu yang telah menjadi lingua franca di sana bertemu dengan bahasa Portugis, dan menghasilkan perkembangan yang sangat pesat pada lingua franca bahasa Melayu.

Terjadinya hal itu karena suasana komunikasi yang terbentuk memungkinkan vernacular Melayu dapat hidup berdampingan dan beradaptasi dengan bahasa Portugis. Dalam hal ini, peran pedagang maupun penyebaran agama Katolik oleh Portugis tidak dapat dilupakan, begitu pendapat Fernandez.   

Doa yang ditujukan kepada Santo Antonius dari Padua, yang masih dilestarikan hingga saat ini, adalah doa berbahasa Portugal. Santo Antonius sendiri adalah seorang saleh yang juga berasal dari Portugal. Oleh karena disampaikan melalui generasi ke generasi secara lisan, doa ini banyak mengalami perubahan dari bahasa aslinya (Fernandez, 2006).  

4. Fitur-fitur Linguistik MKT dan Sejarah Bersama

Melayu Kawasan Timur (MKT) Indonesia terlihat berbeda dari Melayu yang berada di Kawasan Barat Indonesia (MKB). Perbedaan itu diakibatkan antara lain oleh persamaan sejarah yang dialami oleh Melayu-Melayu di Kawasan Timur, sehingga membentuk sejumlah ciri linguistik yang khas, yang dimiliki bersama oleh kelompok Melayu tersebut. Fitur-fitur linguistik dialek-dialek MKT (menurut Adelaar dan Prentice, 1996) itu antara lain:

  1. Konstruksi posesif yang terdiri atas pemilik + *punya + unsur yang dimiliki.
  2. Pronomina jamak berasal dari pronomina tunggal + *orang (makhluk insani).
  3. Retensi ter- dan ber- sebagai satu-satunya afiks Melayu asli yang produktif.
  4. *Ada, pemarkah melayu tentang eksistensi, yang menunjukkan aspek progresif.
  5. Bentuk-bentuk reduksi dari kata ganti tunjuk, *ini dan *itu mendahului kata benda dan berfungsi sebagai penentu.
  6. penggunaan dari reduksi bentuk pergi, sebagai verba juga sebagai preposisi yang berarti ‘menuju’.
  7. Konstruksi-konstruksi kausatif yang terdiri dari auksiliari kasi/beri atau bikin/buat dan verba pusat. Penggunaan kata sama atau kata lain sebagai suatu preposisi multifungsional.

Diduga, ciri-ciri yang diwariskan secara regular merupakan ciri-ciri dari Melayu Klasik yang telah hilang.

Persamaan sejarah ini penting untuk dilihat, mengingat bahwa bahasa Portugis lama bercokol di daerah ini dan dapat memberikan pengaruhnya. Pengaruh tersebut, menurut Fernandez, dapat dilihat dari jumlah kosakata bahasa Portugis yang ditemukan di kamus-kamus dari bahasa Melayu kawasan ini. Secara umum, memang jumlah tersebut diperkirakan melebihi jumlah kosakata Portugis yang diserap oleh Melayu Kawasan Barat.

Di antara bahasa Melayu yang terdapat di Kawasan Timur, pengaruh serapan dari bahasa Portugis paling kuat dirasakan oleh Melayu Larantuka, di Nusa Tenggara Timur. Sementara itu, Melayu Kawasan Timur lainnya seperti Melayu Manado, kurang kuat merasakan pengaruh itu. Tidak sama dengan Melayu Ambon, yang turut merasakan pengaruh bahasa Portugis meskipun tidak sedahsyat di Larantuka.

5. Penerjemahan Injil di MKT

Bahasa Melayu memang dimanfaatkan untuk penyebaran agama (Katolik) di Kawasan Timur pasca masuknya Portugis pada tahun 1520 M. Sebuah terjemahan seluruh isi Perjanjian Baru dalam bahasa Melayu yang diselesaikan oleh Daniel Brouwerius, sudah dicetak di Amsterdam pada tahun 1668 M.  Terjemahan ini menggunakan kata dan istilah asing khususnya bahasa Portugis seperti Baptismo “Baptisan”, Crus “Salib”, Deos “Allah”, Euangelio “Injil”, Spirito Sancto “Roh Kudus”, dll. Masuknya sebagian kata-kata dari bahasa Portugis ini justeru menghambat khalayak pada umumnya untuk lebih cepat mengerti terjemahan Brouwerious itu.

6. Penutup

Bahasa asing telah banyak mempengaruhi bahasa Melayu dan perkembangannya. Bahasa Portugis adalah bahasa asing pertama dari Eropa yang mempengaruhi bahasa Melayu. Pengaruh bahasa Portugis ini tampak sekali pada Melayu Kawasan Timur (MKT) Indonesia, terutama Melayu Larantuka di NTT. Portugis yang lama berkuasa di Kawasan Timur menyebabkan bahasa-bahasa Melayu di Kawasan Timur memiliki sejarah bersama, sehingga memiliki fitur-fitur linguistik yang secara umum sama pula.

(SR/bhs/47/10-07)

 

Keterangan Singkatan:

MB : Melayu Baku
SKT : bahasa Sanskerta
AR : bahasa Arab
BM : bahasa Melayu
MKT : Melayu Kawasan Timur

Adelaar, K. Alexander. 1994. Bahasa Melayik Purba Rekonstruksi Fonologi dan Sebagian dari Leksikon dan Morfologi. Jakarta: Publikasi Bersama Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Universitas Leiden (RUL).

Collins, James T. 2005. Bahasa Melayu Bahasa Dunia Sejarah Singkat (penerjemah Evita Elmanar). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Fernandez, Inyo Yos. 2006 “Pengaruh Portugis terhadap Dialek di Kawasan Berdekatan: Kajian Kes di Kawasan Melayu Timur Indonesia” dalam Prosiding Persidangan Antarabangsa Pengajian Melayu 2006. Kuala Lumpur: Akademi Pengajian Melayu Universiti Malaya.

Lampiran:

1. Daftar kata serapan dari bahasa Portugis dalam bahasa Indonesia

bangku (banco)
bendera (bandeira)
biola (viola)
bola (bola)
boneka (boneca)
dansa (dança)
gancu (gancho)
garpu (garfo)
gereja (igreja)
jendela (janela)
keju (queijo)
kemeja (camisa)
kertas (carta(s) = surat-surat)
meja (mesa)
mentega (manteiga): substansi berminyak yang dibuat dari susu
Minggu (domingo): nama hari, juga dikenal sebagai Ahad
Natal ( Natal): hari raya umat Kristen
nina (spt. dalam "nina bobo") (menina): anak perempuan kecil
nona (dona)
nyonya (donha)
paderi (padre): pendeta
permisi (permissão): izin, bisa juga dari bahasa Belanda permissie
pesta (festa)
Sabtu (Sabado): nama hari, bisa juga dipungut dari bahasa Arab تبس
sabun (sabão): benda untuk mencuci
sepatu (sapato): alas kaki
serdadu (soldado): prajurit
sinyo (senhor)
terigu (trigo): tepung gandum
terwelu (Portugis: coelho): kelinci
tinta (tinta): mangsi

2. Kata serapan dari bahasa Portugis dalam bahasa daerah

balenso (Ambon, Minahasa) = balanço (Port., "mengayun", to swing) = menari lenso
batatas (Ambon) = kentang
farinya (Ambon, Minahasa) = farinha (Port.) = tepung terigu
garganta (Ambon) = garganta (Port.) = tenggorokan
kadera (Ambon, Minahasa) = cadeira (Port.) = kursi
kawalo (Ambon) = cavalo (Port.) = kuda
ose (Ambon) = você (Port.) = kamu
panada (Ambon, Manado) = panada (Port.) = roti isi
tuturuga (Minahasa) = tartaruga (Port.) = penyu

Sumber: Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Dibaca : 14.679 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password