Rabu, 26 November 2014   |   Khamis, 3 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 2.050
Hari ini : 14.617
Kemarin : 21.688
Minggu kemarin : 160.999
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.384.774
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Bahasa Arab Dalam Kesusasteraan Melayu Klasik

Catatan dari Beberapa Hikayat Klasik

1. Pengantar

Masa Peralihan dari bahasa Melayu yang sangat dipengaruhi oleh bahasa Sansekerta ke bahasa Melayu yang dipengaruhi oleh bahasa Arab berakhir pada abad ke-16 Masehi. Pengaruh bahasa Sansekerta dalam bahasa Melayu sudah tidak begitu terlihat lagi pada masa ini, di sisi lain bahasa Arab semakin gencar mempengaruhi bahasa Melayu. Memasuki abad ke-17 banyak lahir karya-karya sastra berbahasa Melayu yang mendapat pengaruh dari bahasa Arab, di samping karya-karya bidang lain seperti bahasa dan agama.

Tulisan ini mencoba melihat pengaruh yang ada dari bahasa Arab secara lebih sempit. Mengambil beberapa naskah Melayu Klasik yang mendapat pengaruh, dan menjelaskan apa pengaruh yang terdapat dalam bahasa itu yang berasal dari bahasa Arab. Ada lima buah hikayat yang dapat diterangkan di sini. Yaitu masing-masing, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Merong Mahawangsa, Sejarah Melayu, Hikayat Inderaputera dan Hikayat Bayan Budiman.

2. Hikayat

Hikayat adalah salah satu bentuk karya sastra prosa yang berisikan tentang kisah, cerita, dongeng maupun sejarah. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama. Sebuah hikayat dibacakan sebagai hiburan, pelipur lara atau untuk membangkitkan semangat juang.

Menurut MelayuOnline.com kata hikayat berasal dari bahasa Arab hikayah yang berarti kisah, cerita, atau dongeng. Hikayat termasuk genre sastra yang cukup populer di masyarakat Melayu, unsur-unsur bahasa asing, terutama unsur bahasa Sansekerta dan Arab membuat hikayat-hikayat itu selain lebih kaya juga memiliki ciri khas masing-masing.

Pergulatan unsur-unsur bahasa Sansekerta dan Arab dalam hikayat-hikayat Melayu terlihat sangat jelas. Di samping ada pula di antara hikayat itu yang memadukan kedua unsur tersebut sehingga berbeda dari sebelumnya, seperti Hikayat Jaya Lengkara, Hikayat Si Miskin dan Hikayat Inderaputera.

a. Hikayat Hang Tuah

Hikayat Hang Tuah adalah sebuah hikayat yang menceritakan tentang kepahlawanan seorang laksamana dari kerajaan Melayu. Di dalam tulisan ini, hikayat tersebut dipetik untuk melihat bagian-bagian yang mendapat pengaruh dari bahasa Arab:

[Bismi‘llahi‘rrahmani‘rrahim; wabihi nasta‘inu bi‘llahi‘l-a‘la. Ini hikayat Hang Tuah yang amat setiawan pada tuannya dan terlalu sangat berbuat kebaktian kepada tuannya.
Sekali persetua ada seorang raja keinderaan. Raja itu terlalu besar kerajaannya; pada segala raja-raja indera seorang pun tiada menyamai dia, sekalian menurut titahnya. Shahadan apabila baginda itu keluar diadap oleh segala raja dan menteri dan santeri, maka berapa pedang yang sudah terhunus kepada kiri kanan baginda itu dan berapa pula bentara memikul pedang berikatkan permata bertatahkan ratna mutu ma‘nikam ....]

Kata yang berasal dari bahasa Arab adalah kata shahadan (Arab; Shahdan). Kata ini kurang lebih berarti sekonyong-konyong. Adapun kalimat Bismi‘llahi‘rrahmani‘rrahim; wabihi nasta‘inu bi‘llahi‘l-a‘la menurut Darwis, bukan merupakan bagian dari Hikayat Hang Tuah ini, akan tetapi ditambahkan kemudian. Oleh sebab itu, kalimat tersebut tidak dapat dijadikan bukti atas adanya pengaruh bahasa Arab terhadap bahasa Melayu di dalam karya ini.

hikayat hang tuah
Gambar 1. Manuskrip Hikayat Hang Tuah

b. Hikayat Merong Mahawangsa

Menurut laman www.freewebs.com, Hikayat Merong Mahawangsa merupakan sebuah hasil penulisan sejarah tradisional yang menceritakan asal usul keturunan raja-raja Kedah. Penceritaan ini tidak berdasarkan sejarah, tetapi berdasarkan mitos dan legenda. Sejarah awal mula berdirinya negeri Kedah diceritakan, mulai dari dibukanya negeri tersebut oleh Raja Merong Mahawangsa hingga datangnya agama Islam. Naskah ini selesai disalin pada 2 Rajab 1316 H bertepatan dengan 16 November 1898 Masehi oleh Muhammad Yusuf bin Nasruddin di Pulau Pinang. Versi ini masyhur dengan versi Wilkinson.

Berikut petikan naskah hikayat Merong Mahawangsa:  

[Adalah pada suatu masa zaman Sultan Mu‘azzam Shah ibnu Sultan Muzalfal Shah yang maha mulia kerajaan negeri Kedah, pada suatu hari baginda keluar ke penghadapan, dihadapi oleh segala menteri, hulubalang serta ‘alim muta‘alim, maka fakir pun hadzirlah mengadap baginda, penuh sesak di penghadapan itu membicarakan negeri dan mengaji kitab. Setelah itu maka titah baginda yang maha mulia, junjungkan ke atas jemala fakir, demikian titah yang maha mulia: ‘Bahwa hamba pinta perbuatkan hikayat pada tuan, peri peraturan segala raja-raja Melayu dengan istiadatnya sekali, supaya boleh diketahui oleh segala anak cucu kita yang kemudian daripada kita ini, serta dikurnia dengan sejarahnya‘.]

Darwis menyebutkan, bahasa yang terdapat di dalam Hikayat Merong Mahawangsa nampak jelas kearabannya. Pertama penggalan yang terdapat pada gelar sultan, Mu‘azzam adalah nama/gelar yang berasal dari bahasa Arab, begitu pula nama/gelar Muzalfal. Penggunaan kata sultan untuk sebutan raja juga terpengaruh oleh bahasa Arab, sama halnya dengan penggunaan kata ibnu yang berarti anak dari. Orang Arab biasa menempelkan nama orangtua di belakang nama seorang anak.

Di samping itu, terdapat pula beberapa kata dari bahasa Arab yang terdapat di batang tubuh teks. Kata ‘alim berasal dari bahasa Arab yang berarti orang berilmu, sedangkan muta‘alim berarti orang yang sedang belajar. Kata-kata seperti fakir, hadzir dan kitab tampaknya sudah menjadi bagian dalam teks ini, sehingga kata fakir dapat menggantikan kata hamba atau sahaya, yang menjadi penyebutan diri bagi pembawa hikayat; hadzir dan kitab juga sama-sama sudah merupakan kata yang dipinjam oleh bahasa Melayu di dalam teks ini. Petikan ini juga mengisyaratkan bahwa cerita tersebut digunakan sebagai alat untuk berdakwah bagi penyebaran agama Islam, demikian Darwis berpendapat.

hikayat merong mahawangsa Gambar 2. Manuskrip
Hikayat Merong Mahawangsa
versi Wilkinson (Halaman Awal)
c. Sejarah Melayu

Sulalatus Salatin atau Sejarah Melayu diperkirakan sudah ada sejak tahun 1612 M. Jika Merong Mahawangsa hanya menceritakan soal asal-muasal berdirinya negeri Kedah, Sejarah Melayu ini bercerita tentang kerajaan Melayu Malaka. Rentang waktu terjadinya kisah itu juga lebih singkat, yakni dari abad ke-14 sampai awal abad ke-16. Kisah dalam hikayat ini berakhir seiring masuknya Portugis ke Malaka dan menguasainya. Berbagai bentuk hubungan internasional yang pernah dilakukan oleh Kerajaan Malaka disebutkan, dengan Raja China, dengan India, Siam, Kamboja, negeri Arab dan berbagai kerajaan di belahan bumi Nusantara. Hanya R.O.Winstedt yang memercayai penulisan karya ini sudah mula ditulis di Johor dalam tahun 1536. Sedangkan pendapat umum di kalangan sarjana Melayu dan Barat ialah, karya ini selesai dikarang dalam tahun 1612. Tun Seri Lanang, orang yang diyakini sebagai penulisnya, adalah seorang pembesar istana.

Berikut petikannya:

[Wa ba‘adahu adapun kemudian dari itu telah berkata fakir yang insaf akan lemah keadaan dirinya, dan singkat pengetahuan ilmunya; dan pada suatu masa bahawa fakir duduk pada suatu majlis dengan orang-orang besar bersenda gurau. Pada antara itu ada seorang orang besar, terlebih mulianya dan terlebih besar mertabatnya daripada yang lain. Maka berkata ia kepada fakir, "Hamba dengar ada Hikayat Melayu dibawa oleh orang dari Goa; barang kita perbaiki kiranya dengan istiadatnya, supaya diketahui oleh segala anak cucu kita yang kemudian daripada kita, dan boleh diingatkan oleh segala mereka itu. Dan adalah beroleh faedah ia daripadanya.]

Apabila diperhatikan dengan seksama, peminjaman yang terjadi tidak lagi terbatas pada kata tetapi sudah masuk kepada tataran frasa. Frasa wa ba‘adahu yang terdapat di awal paragraf merupakan serapan dari bahasa Arab, yang artinya sama dengan frasa adapun kemudian dari itu yang terletak langsung sesudahnya. Untuk tataran leksikon atau kata penyerapan terjadi pada kata majlis, mertabat dan fakir. Masuknya fonem f pada kata fakir dan berubahnya fonem q (asalnya dalam bahasa Arab adalah faqir) pada kata tersebut menjadi k menunjukkan bahwa telah terjadi adaptasi pengaruh. Peminjaman fonem yang tidak terdapat di dalam bahasa Melayu dari fonem bahasa Arab dan penyesuaian fonem yang dipinjam dengan fonem yang sudah ada.


Gambar 3. Sejarah Melayu,
cover buku The Malay Annals
yang disusun oleh Cheah Boon Kheng,
dan dialihaksarakan ke aksara latin
oleh Abdul Rahman Haji Ismail.
sejarah melayu


d. Hikayat Inderaputera

Hikayat ini merupakan perpaduan dari unsur-unsur Sansekerta dan Arab. Oleh sebab itu sejumlah kata yang digunakan mencerminkan masing-masing unsur; kata yang berasal dari bahasa Sansekerta merupakan sisa-sisa unsur Hindu dan yang berasal dari bahasa Arab merupakan sebagian dari unsur-unsur Islam. Meskipun menurut http://www.ashtech.com.my, naskah ini sudah pernah disinggung oleh Shaikh Nuruddin al-Raniri (pengarang Bustan ul-Salatin) dalam kitab yang dikarangnya pada tahun Hijrah 1044 (1634 M) dan beliau menyebutnya sebagai kitab yang tidak menyebut asma Allah di dalamnya.

Berikut petikannya:

[Wa-bihi nasta‘inu billahi ‘ala. Ini pada menyatakan hikayat Inderaputera yang terlalu amat indah-indah keterangannya cinta berahi itu, pada masanya belum jadi johar patut dengan segala ‘arif bijaksana, ialah yang terlalu amat mashhur di tanah manusia dan di tanah jin dan di tanah indera dan cendera dan di tanah mambang dan peri dan pada tanah dewa. Shahadan yang terlalu amat elok rupanya serta dengan sikapnya dan terlalu amat pantas kelakuannya.]

Tampak pada pangkal paragraf, kalimat yang memang merupakan bahasa Arab meskipun ia ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu waktu itu. Beberapa kata yang juga merupakan kata dari bahasa Arab antara lain kata  hikayat, johar, ‘arif, mashhur dan jin. Bahkan kata shahadan yang terletak di awal kalimat terakhir dari petikan, juga berasal dari bahasa Arab.

e. Hikayat Bayan Budiman

Lain lagi halnya dengan hikayat yang satu ini. Hikayat ini disebut Hikayat Bayan Budiman. Perbedaan pada Hikayat Bayan terletak dalam hal sumber. Hikayat Bayan bersumber dari sastera Arab, atau lebih tepat dikatakan bahwa hikayat ini telah disadur dari sastera Arab ke dalam sastera dan bahasa Melayu. Pendapat ini dikemukakan oleh Darwis.

Akan tetapi versi lain mengenai hikayat ini menyebutkan bahwa ia berasal dari India. Dahulunya ia merupakan hikayat Sansekerta yang bernama Sukaspati. Sukaspati adalah cerita-cerita Bayan yang isinya sampai tujuh puluh cerita. Bahasa yang digunakan dalam hikayat Sansekerta itu adalah bahasa Sansekerta. Kemudian hikayat ini diterjemahkan ke dalam bahasa Persia, salah satunya adalah terjemahan Nakhshabi bertahun 1329 Masehi yang diberi judul Tuti-nameh. Agaknya dari situlah jalan hikayat ini masuk ke dalam bahasa Melayu.

Hikayat Bayan ini menceritakan tentang kisah yang dibawakan oleh burung Bayan. Proses yang sedemikian berliku hingga masuk ke dalam bahasa Melayu yang dialami hikayat ini menyebabkannya kehilangan keasliannya, melainkan banyak tambahan yang terdapat di sana-sini. Darwis menyebutkan terdapat perbedaan jalan cerita antara Hikayat Bayan dan Hikayat Indera Putera. Pemakaian kata hubung dan seperti dihindari dalam hikayat ini, sebaliknya dalam Hikayat Indera Putera justeru banyak ditemukan. Akan tetapi selain sumber saduran, jalan cerita dan pemakaian kata dan yang jarang, tidak disebutkan pengaruh lain dari bahasa Arab yang terdapat di dalamnya. Pemakaian kata dan yang jarang dipakai itu juga menjadi problem ketika ia dimasukkan ke dalam kategori pengaruh bahasa Arab, karena pemakaian kata dan (Arab; wa) dalam naskah-naskah Arab malah sering ditemukan.

3. Penutup

Bahasa yang digunakan dalam hikayat mencerminkan berbagai pengaruh asing terhadap bahasa Melayu. Kelima hikayat di atas memperlihatkan bahwa pengaruh bahasa Arab sudah tampak dalam berbagai aspek kebahasaan. Kosakata yang digunakan, frasa yang dipakai hingga sumber yang dijadikan sebagai saduran memperlihatkan pengaruh bahasa Arab.  Di sisi lain, pengaruh dari bahasa Sansekerta belum hilang benar. Sumber hikayat juga ada yang berasal dari bahasa Sansekerta yang telah disadur ke dalam bahasa asing lain, sebelum masuk ke dalam bahasa Melayu.

(SR/bhs/48/10-07)

Sumber:

  • Anonim. tt. Sejarah Kesusasteraan Melayu 3. (http://www.ashtech.com.my/DIL/sastera/book002.htm, diakses 2/11/2007)
  • Anonim. tt. Koleksi Manuskrip Melayu Hikayat Merong Mahawangsa. (http://www.ftsm.ukm.my/irpa/ea0036/Arkib/Sal-mustakim/SAlmustakim.htm, diakses 26/10/07)
  • Anonim. tt. Pengaruh Bahasa Arab. (https://dspace-dev.anu.edu.au:8443/bitstream/1030.58/13015/381/bab6.html, diakses 2/11/2007)
  • Anonim.tt. Karya Agung Melayu. http://www.freewebs.com/samudrapasai/, diakses 2/11/2007)
  • Anonim. tt. Hikayat. http://culture.melayuonline.com/?a=TlRzL29QTS9VenVwRnRCb20%3D=, diakses 2/112007)

Sumber foto:

  • ms.wikipedia.org
  • www.freewebs.com
  • www.ftsm.ukm.my
  • www.mbras.org.my
Dibaca : 14.305 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password