Adat merisik dalam budaya Melayu merupakan tahap awal menjodohkan teruna dan dara, yang melibatkan pertemuan antara wakil keluarga teruna dengan orang tua pihak dara. Pertemuan tersebut dianggap penting untuk menghormati keluarga pihak dara, sebagaimana ungkapan dalam adat Melayu kalau hendak meminang anaknya, pinanglah ibu bapaknya terlebih dahulu (Abu Bakar dan Hussin, 2004). Ungkapan tersebut menjelaskan bahwa pandangan dan restu orang tua perlu diperoleh terlebih dahulu dalam membuat keputusan yang besar seperti perkawinan.
Prosesi merisik lazimnya dilakukan dengan tertib dan sopan untuk menjaga dan memelihara nama baik kedua belah pihak. Adat merisik bertujuan untuk menentukan kedudukan si dara apakah sudah dipinang oleh orang lain ataukah belum. Selain itu, prosesi ini juga untuk mengetahui seluk-beluk keluarga si dara, dan yang paling penting ialah untuk melihat si dara itu sendiri.
Sebelum berkunjung ke rumah pihak keluarga si dara, orang tua dari pihak lelaki akan memilih beberapa orang saudara untuk menjadi wakil mereka. Di antara para wakil itu dipilih salah seorang yang cakap dan terampil dalam menyusun kata-kata, terutama kata-kata yang tersirat yang akan diungkapkan saat menyatakan maksud kedatangan mereka.
Sesampainya di rumah si dara, para wakil keluarga lelaki akan bercakap-cakap mengenai keadaan kehidupan, pekerjaan, maupun isu-isu terkini sembari menikmati jamuan yang dihidangkan dan dihantarkan sendiri oleh si dara. Pada saat si dara menghidangkan jamuan itulah para wakil dari pihak lelaki berkesempatan untuk melihat wajah si dara. Setelah itu, topik pembicaraan mulai difokuskan untuk menyampaikan maksud kedatangan pihak teruna, dan pantun untuk merisik mulai diperdengarkan oleh juru cakap mereka. Pada tahap ini, pihak teruna menyatakan kehendak hati untuk “memetik bunga yang sedang menguntum” apabila si dara belum memiliki pasangan.
Pantun merisik ini diawali oleh pihak keluarga teruna yang kemudian akan dibalas oleh pihak keluarga dara yang menanyakan maksud kedatangan keluarga teruna.
| | 001. | Sudah lama langsatnya condong Barulah kini batangnya rebah Sudah lama niat dikandung Baru sekarang diizinkan Allah |
| 002. | Dari Pauh singgah Permatang Singgah merapat papan kemudi Dari jauh saya datang Karena tuan yang baik budi |
| 003. | Kalau gugur buah setandan Sampai ke tanah baru tergolek Kami bersyukur kepada Tuhan Datang kami disambut baik |
| 004. | Berapa tinggi pucuk pisang Tinggi lagi asap api Berapa tinggi Gunung Ledang Tinggi lagi harapan hati |
| 005. | Kabung enau tebang satu Tebang sekali dengan sigainya Tinggi gunung tinggi lagi harapanku Harapan dalam tutur katanya |
| 006. | Besar api Teluk Gadung Anak buaya mengonggong bangkai Niat hati nak peluk gunung Apakan daya tangan tak sampai |
| 007. | Sudah lama langsatnya condong Dahannya rebah ke ampaian Sudah lama niat dikandung Baru sekarang disampaikan |
Setelah pihak teruna selesai melantunkan pantun yang mengungkapkan maksud hati mereka, maka pihak dara akan membalas pantun sebagaimana berikut ini:
| | 008. | Perahu kolek ke hilir tanjung Sarat bermuat tali temali Salam tersusun sirih junjung Apa hajat sampai kemari? |
| 009. | Malam-malam pasang pelita Pelita dipasang atas peti Kalau sudah bagai dikata Sila terangkan hajat di hati |
| 010. | Tidak pernah rotan merentang Kayu cendana dijilat api Tidak pernah tuan bertandang Tentu ada maksud di hati |
| 011. | Tumbuk lada di atas para Ada kasut simpan di hati Tepuk dada tanya selera Apa maksud di dalam hati |
Kemudian, pihak lelaki akan membalas pantun tersebut dengan lantunan pantun yang menyiratkan kehendak untuk ”memetik bunga di taman”.
| | 012. | Daun raya di atas bukit Tempat raja menanam pala Harap kami bukan sedikit Sebanyak rambut di atas kepala |
| 013. | Sudah lama kami ke tasik Tali perahu terap belaka Sudah lama kami merisik Baru kini bertatap muka |
| 014. | Tinggi-tinggi si matahari Anak kerbau mati tertambat Sekian lama kami mencari Baru sekarang kami mendapat |
| 015. | Raja Hindu raja di Sailan Singgah berenang di persiraman Bagai pungguk rindukan bulan Kumbang merindu bunga di taman |
| 016. | Cendrawasih burung yang sakti Singgah hinggap di atas karang Kasih berputik di dalam hati Dari dahulu sampai sekarang |
| 017. | Singgah berenang di persiraman Mayang terendam di dalam tasik Kumbang merindu bunga di taman Bintang merindu cendrawasih |
Dalam adat Melayu, pihak si dara biasanya tidak langsung menjawab apa yang menjadi kehendak pihak lelaki. Pihak keluarga si dara akan berunding terlebih dahulu untuk mempertimbangkan keputusan besar tersebut. Oleh sebab itu, sebelum wakil pihak lelaki pulang, pihak si dara akan menjanjikan jawaban yang akan diberikan dalam beberapa hari setelah dilakukan perundingan keluarga. Hasil musyawarah keluarga si dara, baik setuju atau tidak, akan disampaikan kepada pihak teruna melalui seorang utusan.
Dibaca : 65.314 kali.
Berikan komentar anda :