Minggu, 28 Mei 2017   |   Isnain, 2 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 8.375
Hari ini : 71.837
Kemarin : 79.515
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.476.829
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Pantun di Malam Pertama

Pantun ini berisi tentang ungkapan-ungkapan cinta kasih yang dinyatakan oleh pengantin lelaki dan perempuan yang sudah resmi menjadi suami-isteri. Pantun ini memuat bujuk rayu dan ungkapan mesra di antara mereka berdua usai prosesi persandingan yang penuh penat. Menurut Abu Bakar dan Hussin (2004), orang tua pengantin perempuan atau wakilnya akan menyerahkan anak mereka (pengantin perempuan) kepada menantunya (pengantin lelaki), misalnya pada hari Kamis siang. Dengan demikian, pada malam Jumat, sang isteri akan tidur dan bermesra dengan suaminya di kamar pengantin.

Pada malam itu, diletakkan tepak sirih di kamar pengantin sebagai lambang yang memuat makna keperawanan pengantin perempuan. Kesucian diri pengantin perempuan dibuktikan oleh darah keperawanannya di malam pertama itu. Esok paginya, pengantin lelaki mempersembahkan tepak sirih kepada mertuanya sebagai perlambang bahwa isterinya masih perawan saat malam pertama itu.  

Di malam pertama, bujuk rayu dan ungkapan mesra senantiasa dilantunkan dalam ungkapan pantun yang mengiringi malam penuh gairah dan kemesraan. Pantun-pantun tersebut di antaranya ialah:

 


Nyiur gading puncak mahligai

Masak ketupat berisi inti

Buah delima di dalam cawan

Hancur daging tulang berkecai

Belum dapat belum berhenti

Hendak bersama denganmu puan

001.

Kelah seekor digulai lemak

Daun selasih di bawah batang

Tanah berlumpur jalannya semak

Kerana kasih saya datang

002.

Limau manis dimakan manis

Manis sekali rasa isinya

Dilihat manis dipandang manis

Manis sekali hati budinya

003.

Makan manggis dengan bijinya

Daun miana di atas loyang

Kerana manis hati budinya

Bagaimana hati tidak disayang

004.

Awan bergerak datang menerpa

Nampak bintang beribu keti

Biar tidak cantik sifat dan rupa

Asalkan pandai mengambil hati

005.

Anak beruk di tepi pantai

Masuk ke bendang memakan padi

Biarlah buruk kain dipakai

Asalkan pandai mengambil hati

006.

Selikur hari rejang hantu

Hantu bergulung duduk bersila

Tuan emas sepuluh mutu

Makin kupandang makin gila

007.

Gelama ikan di karang

Kail mari anak Serani

Makin lama makin sayang

Bagai air pasang perbani


008.

Buah pinang dalam pagar

Mari jual anak Melayu

Air tenang jangan ditawar

Jadi gelombang saya tak tahu

009.

Anjing Belanda di dalam kubu

Hendak menghambat rusa sekawan

Mari adinda kita bertemu

Hendak bergurau denganmu tuan


010.

Arak-arak kelapa puan

Tidak puan kelapa bali

Harap-harap kepada tuan

Tidak tuan siapa lagi


011.

Kalau ada kuda di Aceh

Buah pauh di pohon putat

Kalau sungguh adinda kasih

Rumah yang jauh kurasa dekat


012.

Dari Rembang ke Banyuwangi

Pakai baju sutera kerawang

Tuan kembang asalnya wangi

Sampai layu tidak kubuang


013.

Anak kijang di dalam hutan

Mati dimakan serigala

Bila terpandang wajahmu puan

Hancur hati bagai nak gila

014.

Ular naga cintamani

Mari ditoreh tujuh culanya

Tuan laksana serbat dani

Tujuh tahun rasa manisnya

015.

Kelapa muda jatuh di lumpur

Pohon serentang di pinggir kali

Terlupa tuan semasa tidur

Bila terjaga ingat kembali

016.

Dari mana punai melayang

Dari sawah turun ke kali

Dari mana datangnya sayang

Dari mata turun ke hati

017.

Harimau putih di satu simpang

Mati dipanah Raja Roka

Putih kuning kekasih abang

Hati mana yang tidak suka

018.

Apa guna pasang pelita

Kalau tidak dengan sumbunya

Apa guna bermain cinta

Kalau tidak dengan sungguhnya


019.

Kain cindai dilipat-lipat

Lipat mari tepi perigi

Sungguh pandai dinda memikat

Sanggup kanda menyerah diri

020.

Bunga tanjung kembang tak jadi

Jatuh berserak di rumpun buluh

Hancur hati kerana budi

Di dalam air badan berpeluh

021.

Kalau roboh kota Melaka

Papan di Jawa saya dirikan

Kalau sungguh bagai dikata

Badan dan nyawa saya serahkan

022.

Kapal berlayar tiga negeri

Jumpa di laut naga berjuang

Baik-baik fikirkan diri

Mandi berdua basah seorang

Dibaca : 28.306 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password