Pantun penyambutan pengantin berisi ungkapan selamat datang kepada pengantin lelaki untuk dipersandingkan dengan pengantin perempuan di atas pelaminan. Dua orang wakil dari pihak pengantin perempuan akan menaburkan air mawar dan beras kunyit sembari mempersilahkan kaum wanita yang mengikuti rombongan itu untuk naik ke rumah. Sementara itu, pengantin lelaki dipersilahkan duduk di kursi untuk menyaksikan hiburan yang biasanya berupa pertunjukan silat yang dipersembahkan oleh beberapa penduduk kampung sebagai penghormatan bagi pengantin lelaki yang menjadi raja sehari (Abu Bakar dan Hussin, 2004).
Pantun menyambut pengantin ini diungkapkan dengan diiringi lantunan pantun lain yang berisi ajakan kepada para undangan untuk mencicipi jamuan makanan yang dihidangkan. Dalam prosesi ini, pihak perempuan dan pihak lelaki saling berbalas pantun yang diawali oleh pihak perempuan sebagai tuan rumah:
001.
Batu kecubung warna ungu
Ditatah berlian batu bermutu
Adat Melayu menyambut tetamu
Hamparkan tikar lebarkan pintu
002.
Orang ke laut menjala udang
Petang hari pasang pelita
Yang ditunggu sudah pun datang
Yang dinanti sudah pun tiba
003.
Pisang sarenda masak hijau
Nanti layu tak layu
Tinggi rendah sama meninjau
Nanti lalu tak lalu
Pihak lelaki akan membalas pantun tersebut yang mengungkapkan bahwa mereka sebenarnya sudah tiba sejak tadi seandainya tidak ada aral melintang.
004.
Kain putih panjang sebelit
Mari dibuat tali timba
Kalau tidak jalan berbelit
Pagi tadi saya sudah tiba
Oleh pihak perempuan, pantun di atas dibalas dengan ungkapan hormat sebagai tanda penghormatan sambil mempersilahkan rombongan pihak lelaki untuk duduk dan menikmati jamuan yang telah dihidangkan.