Pantun Tuah Pengantin agar Hidup Saling Setia
Pantun ini berbicara tentang janji hidup setia, seia, dan sekata yang merupakan nasehat agar pasangan pengantin saling menjaga diri. Pantun ini dilantunkan baik oleh mempelai lelaki maupun mempelai perempuan dalam mengungkapkan janji setia mereka, dan usaha agar menahan maupun menolak godaan orang ketiga yang biasanya menjadi sumber pemicu konflik dalam rumah tangga.
001.
Di atas kota pokok jati
Sayang jati tiada berbunga
Tuan seorang mahkota hati
Hidup mati kita bersama 002.
Gajah langgar kuda beraksa
Mayang di mana dihempaskan
Sama lebur sama binasa
Tuan takkan saya lepaskan 003.
Air serbat dalam cangkir
Sampai di Jawa dicurahkan
Janji diikat takkan dimungkir
Badan dan nyawa diserahkan 004.
Tinggi bukit Gunung Senanti
Tempat beruk berulang siang
Teguh-teguh berpegang janji
Bagai rasuk dengan tiang 005.
Tekukur digulai lemak
Batang padi dibelah dua
Biarlah adinda dimarahi emak
Asal dapat bersama kanda 006.
Terang bulan bercahaya
Anak gagak memakan padi
Kalau adinda tidak percaya
Belah dada lihatlah isi 007.
Burung merpati terbang seribu
Hinggap seekor di atas dahan
Hendak mati di hujung kuku
Hendak berkubur di tapak tangan 008.
Burung punai terbang sekawan
Kena seekor ditembak tinggi
Kita umpama kapan di badan
Sama hancur tidak berganti 009.
Mayung ibul mayung ilam
Ketiga dengan mayung sebatu
Sama timbul sama tenggelam
Bagai sauh bergantung batu
010.
Batang pulai di dalam hutan
Batang rumbia dikerat-kerat
Kasih terlanjur padamu puan
Dari dunia sampai akherat 011.
Rejang ini rejang halipan
Halipan beranak dalam padi
Tuan laksana kain kapan
Buruk tidak dapat diganti 012.
Buah berangan dari Palembang
Dijual dengan buah keranji
Jangan tuan berhati bimbang
Saya tidak mungkir janji
013.
Buah jering di atas para
Diambil budak sambil berlari
Kalau kering Selat Melaka
Barulah saya mungkir janji 014.
Buah berangan dari Palembang
Dijual budak dalam kota
Jangan cik puan berhati bimbang
Kanda tidak berubah kata 015.
Lancang baginda baru didandan
Bunga selasih kulurut juga
Biar kekanda rebah di Medan
Hati yang kasih kuturut juga 016.
Bulan terang labi bermain
Anak muda jalan bersuluh
Kita laksana baju dan kain
Takkan renggang dari tubuh 017.
Angkut-angkut terbang ke langit
Mati disambar anak merbah
Biar bertangkup bumi dan langit
Kasih sayang takkan berubah 018.
Anak belida memakan kaji
Pandan di Jawa diranggungkan
Jika kekanda mungkir janji
Badan dan nyawa menanggungkan 019.
Anak kuda di papan rata
Ambil kikir dengan gergaji
Jikalau sudah saya berkata
Tidaklah saya mungkir janji
Dibaca : 17.802 kali.
Berikan komentar anda :