Minggu, 23 November 2014   |   Isnain, 30 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 783
Hari ini : 3.129
Kemarin : 17.747
Minggu kemarin : 160.999
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.371.158
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Leluhur Orang Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah

a:3:{s:3:

1. Asal-usul

Asal usul leluhur orang Dayak Ngaju dapat diketahui dari dua cara. Pertama dari Tetek Tatum (ratap tangis sejati) tentang penciptaan manusia pertama kali oleh Tuhan mereka yang bernama Ranying Hatalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa) (Riwut, 2003). Menurut Tetek Tatum leluhur orang Dayak Ngaju merupakan ciptaan langsung Ranying Hatalla Langit yang sempurna, yang ditugaskan untuk menjaga bumi dan isinya agar tidak rusak (http://betang.com/). Para leluhur ini diyakini sebagai manusia keturunan Raja Bunu, anak dari pasangan Manyamei Tunggul Garing Janjahunan laut dan Kameloh Putak Bulau Janjulen Karangan Limut Batu Kamasan Tambun (http://betang.com/).

Kedua, tentang leluhur asal usul Dayak Ngaju dapat ditelusuri dari tulisan-tulisan sejarah tentang orang Dayak Ngaju (Maunati, 2006). Dalam sejarahnya leluhur Dayak Ngaju diyakini berasal dari kerajaan yang terletak di lembah pegunungan Yunan bagian Selatan, tepatnya di Cina Barat Laut berbatasan dengan Vietnam sekarang (http://nyahudayak.blogspot.com/).  Mereka bermigrasi secara besar-besaran dari daratan Asia (Provinsi Yunan, Cina Selatan) sekitar 3000-1500 sebelum masehi (Widjono, 1998:2).

2.Pengetahuan tentang Leluhur Dayak Ngaju

Dalam pengetahuan orang Dayak Ngaju, leluhur mereka diyakini merupakan keturunan dari Raja Bunu, anak dari pasangan Manyamei Tunggul Garing Janjahunan laut dan Kameloh Putak Bulau Janjulen Karangan Limut Batu Kamasan Tambun. Keduanya diyakini sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Ranying Hatalla Langit. Raja Bunu diciptakan untuk menghuni bumi, di mana keturunannya akan mati setelah generasi ke sembilan.

Menurut kepercayaan orang Dayak Ngaju, Raja Bunu mempunyai dua saudara bernama Raja Sangen dan Sangiang. Raja Bunu dan kedua saudaranya dianugrahi juga oleh Ranying Hatalla Langit seekor burung yang bernama Gajah Bakapek Bulau Unta Hajaran Tandang Barikur Hintan dan besi Sanaman Lenteng (senjata Dohong Papan Benteng). Dalam ceritanya, Raja Bunu dan kedua saudaranya saling berebut untuk mendapatkan burung itu. Tiba-tiba Raja Sangiang menikamkan dohongnya ke burung tersebut. Darah yang bercecer ke luar dari burung tersebut diyakini orang Dayak Ngaju berubah jadi emas, berlian, permata dan kekayaan alam yang melimpah di Kalimantan. Tempat burung itu mati dipenuhi dengan kekayaan yang abadi. Menurut kepercayaan agama Kaharingan tempat itu disebut dengan Lewu Tatau (Surga) (http://betang.com/).

Pada awal penciptaan leluhur Dayak Ngaju, di langit terjadi benturan berupa perkelahian antara dua ekor burung Enggang, yaitu Enggang jantan dan Enggang betina yang sedang mencari dan memakan buah dari Pohon Kehidupan atau Batang Garing. Enggang betina mulai bergerak dari bawah pohon, sedangkan Enggang jantan bergerak dari puncak ke bawah. Ketika kedua Enggang bertemu terjadilah perkelahian hebat yang berakhir dengan matinya kedua burung tersebut dan rusaknya Batang Garing. Bagian dari Batang Garing yang berserakan dan bertebaran di mana-mana kemudian memunculkan berbagai kehidupan, termasuk manusia laki-laki dan manusia perempuan (http://sckpfp.ifrance.com/filsafat.htm).

Leluhur Dayak Ngaju diturunkan melalui Palangka Bulau dalam tiga bentuk, yaitu Tantan Puruk Pamatuan, Tatan Liang Mangan Puruk Kaminting, dan Puruk Kambang Tanah Siang (http://nyahudayak.blogspot.com/). Pendapat lain menyatakan sebanyak empat bentuk, yaitu  Di Tantan Puruk Pamatuan, hulu sungai Kahayan dan Barito, Di Tantan Liang Mangan Puruk Kaminting, Di Tatah Takasiang, hulu Rakaui Malahui, Di Pueruk Kambang, dan Tanah Siang (Riwut, 2003: 423)

Kehidupan Leluhur Dayak Ngaju dipenuhi dengan kebiasaan atau tradisi yang hingga saat ini masih dilakukan oleh orang Dayak Ngaju, seperti upacara hasaki atau hapalas, yaitu mengoleskan darah binatang seperti ayam, kerbau, sapi dan babi ke dahi, tangan, dada, dan kaki untuk penyucian diri; manawur behas (menabur beras); memotong kerbau; malahap (pekik rimba); menggunakan daun-daunan sebagai obat tradisional, bertato, pesek (tindik telinga), katinting katune (menghitamkan gigi), mempunyai kesaktian; dan mihup baram (minum brem) dalam setiap upacara adat (Riwut, 2003).  

3. Pengaruh sosial

  • Upacara pernikahan. Pernikahan merupakan salah satu bagian hidup orang Dayak Ngaju yang dianggap sakral, karena berhubungan dengan kepercayaan mereka terhadap leluhur mereka, yaitu Raja Bunu. Bagi Suku Dayak Ngaju, melakukan pernikahan berarti menghormati Raja Bunu. Pada saat ritual pernikahan dilaksanakan, roh Raja Bunu diyakini ikut hadir (http://jenggotcommunity.blogspot.com). 
  • Upacara tiwah, yaitu proses mengantarkan arwah (liau) sanak kerabat atau leluhur yang sudah meninggal ke surga atau  Lewu Tatau Habaras Bulau Hagusung Intan Dia Rumpang Tulang, yaitu sebuah tempat yang kekal atau abadi. Orang Dayak Ngaju meyakini leluhur akan senang dan bahagia jika arwah mereka sudah diantarkan. Mereka juga meyakini bahwa sebelum dilaksanakan upacara tiwah, roh leluhur dianggap belum masuk surga (http://www.nila-riwut.com/).
  • Ritual pemotongan kerbau pada setiap upacara adat. Terlepas dari adanya hubungan dengan kebudayaan agraris, kerbau bagi orang Dayak Ngaju adalah binatang yang harus selalu dikorbankan dalam setiap upacara adat. Hal ini harus dilakukan karena mereka meyakini bahwa kerbau merupakan binatang yang selalu dikorbankan pada saat perkawinan leluhur mereka (Riwut, 2003).
  • Kemampuan spiritual. Orang Dayak Ngaju terkenal dengan kemampuan spiritualnya yang luar biasa. Salah satu kemampuan spiritual itu adalah apa yang mereka sebut Manajah Antang (burung Elang), yaitu memanggil burung Elang agar dapat memberi petunjuk untuk berperang atau ingin mengetahui keadaan seseorang. Mereka meyakini burung yang datang adalah suruhan leluhur mereka, dan mereka meyakini petunjuk apapun yang diberikan oleh burung Elang adalah benar (Riwut, 2003).
  • Tradisi ber-Tato/Tutang/Cacah, yaitu menato tubuh. Orang Dayak terkenal dengan seni tatonya. Baik kaum laki-laki maupun perempuan, menato bagian-bagian tertentu dari tubuhnya, seperti pergelangan tangan, punggung, perut atau leher. Bahkan terdapat orang yang menato seluruh tubuhnya (biasanya seorang pemimpin). Tato selain sebagai simbol status juga merupakan identitas. Mentato didasari oleh kayakinan bahwa kelak setelah meninggal dan sampai ke surga, tato itu akan bersinar kemilau dan berubah menjadi emas, sehingga dapat dikenali oleh leluhur mereka nanti di surga.
  • Pelaksanaan hukum-hukum adat. Sejak dahulu hingga sekarang orang Dayak terkenal dengan hukum adat mereka, khususnya berkaitan dengan bagaimana cara mereka hidup berdampingan dengan alam (hutan). Hukum adat merupakan aturan yang telah digariskan oleh Ranying Hatalla dan diwariskan oleh leluhur mereka untuk ditaati. Orang Dayak Ngaju meyakini jika tidak melaksanakan hukum adat, maka leluhur mereka akan marah dengan mengirimkan berbagai bencana alam, seperti banjir dan kesulitan mencari makan.
  • Tarian burung Enggang. Burung Enggang adalah burung yang sangat disakralkan dalam kepercayaan orang Dayak Ngaju. Burung ini dianggap sebagai burung indah dan dari gerak geriknya tercipta sebuah tarian, yang diyakini sebagai tarian leluhur mereka pada saat awal penciptaan. Maka dari itu hingga sekarang tarian burung Enggang masih ditampilkan dalam upacara adat Dayak Ngaju, sebagai penghormatan terhadap leluhur mereka.
  • Pengetahuan dan keyakinan mereka terhadap Pohon Batang Garing (pohon kehidupan) sebagai petunjuk memahami kehidupan. Pohon Batang Garing adalah pohon simbolis yang diciptakan berbarengan dengan diciptakannya leluhur Dayak Ngaju. Pohon ini dianggap menjadi pohon petunjuk untuk mengatur kehidupan yang harus diajarkan pada orang Dayak Ngaju kelak.

4. Penutup

Pengetahuan orang Dayak Ngaju tentang leluhur, tampaknya menjadikan kehidupan mereka serasa dilindungi oleh roh leluhur. Warisan leluhur berupa hukum adat mereka taati hingga kini, begitu juga dengan larangannya. Nilai-nilai di dalam pengetahuan tentang Leluhur ini penting untuk terus diapresiasi dengan bijak, agar tetap menjadi semangat hidup orang Dayak Ngaju, khususnya dalam konteks pelestarian alam Kalimantan.

Yusuf Efendi (bdy/09/01-10).

Referensi

  • Maunati, Yekti.  2006. Identitas Dayak, Komodifikasi dan Politik Kebudayaan. Yogyakarta; LKIS.
  • Riwut, Nila. 2003 Tjilik Riwut Sanaman Mantikei. Manaser Panatan Tatu Hiang. Menyelami Kekayaan Leluhur. Palangka Raya: Pusaka Lima.
  • Wijono, AMZ. 1998. Masyarakat Dayak Menatap Hari Esok. Jakarta: Grasindo.

Sumber internet

Dibaca : 13.645 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password