Rabu, 18 Oktober 2017   |   Khamis, 27 Muharam 1439 H
Pengunjung Online : 2.706
Hari ini : 28.158
Kemarin : 29.523
Minggu kemarin : 157.490
Bulan kemarin : 7.753.475
Anda pengunjung ke 103.482.687
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Manusia dalam Pengetahuan Orang Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah

a:3:{s:3:

1. Asal-usul

Manusia Dayak Ngaju adalah sebutan yang merujuk kepada salah satu Suku asli terbesar yang mendiami wilayah sebelah Barat Sungai Barito hingga Sungai Seruyan, Kalimantan Tengah (Riwut, 2003). Dayak Ngaju merupakan salah satu suku dari enam kelompok besar Suku Dayak, yaitu Kenyah-Kayan-Bahau, Ngaju, Dayak Barat, Klementan-Murut, Iban, dan Punan (Kennedy, dalam Maunati 2006:60).[1] Dayak Ngaju sendiri merupakan Suku induk dari empat suku besar lainnya, yaitu Suku Ngaju dengan 53 anak Suku, Suku Maayan dengan 8 anak Suku, Suku Lawangan dengan 21 anak Suku, dan Suku Dusun dengan 24 anak Suku (Riwut, 2003).

Asal usul pengetahuan Dayak Ngaju tentang manusia, dapat dilacak dari ajaran agama Kaharingan tentang awal penciptaan. Kemunculan manusia menurut orang Dayak Ngaju berbarengan dengan munculnya agama Kaharingan yang ditujukan untuk mengatur kehidupan manusia Dayak Ngaju (Riwut, 2003).  Menurut ajaran Kaharingan, manusia  merupakan ciptaan Ranying Hatalla yang paling mulia dan sempurna. Sebagai konskuensinya, manusia dituntut untuk menjadi suri tauladan bagi makhluk lainnya yang ada di alam semesta (http://www.nila-riwut.com/).

Manusia dalam pandangan manusia Dayak Ngaju dianggap sebagai makhluk yang bertugas mengatur bumi dengan aturan yang telah digariskan oleh Ranying Hatalla melalui ajaran dalam agama Kaharingan. Dengan kata lain, manusia tidak diperbolehkan berlaku sewenang-wenang atau melanggar aturan Tuhan. Jika hal itu terjadi, maka manusia tidak akan mencapai Lewu Liau (tempat akhir bertemu Ranying Hatalla) (Riwut, 2003).

2. Pengetahuan Tentang Manusia Dayak Ngaju

Orang Dayak Ngaju menganggap manusia sebagai makhluk paling sempurna yang diturunkan Ranying Hatalla ke Pantai Danum Kalunen atau Lewu Injam Tingang (bumi yang dipinjamkan sementara) atau bumi, menggunakan Palangka Bulau. Kelak jika waktunya tiba, manusia akan kembali ke Lewu Liau atau Lewu Tatau Dia Rumpang Tulang, Rundung Raja Isen Kamalasu Uhat (surga) (Riwut, 2003).

Sebagai makhluk yang paling sempurna, manusia diharapkan menjadi contoh bagi makhuk yang lain, seperti tersurat dalam ungkapan Dayak Ngaju di bawah ini:

“Bitim batakukuk bangun tarajun ambun, baramate ungkal bulau pungkal raja, bakining bulau batutuk sangkalemu, bajela bulau batangep rabia baiweh. Nyalung Kaharingan Belum, basilu ruhung bataji pulang, bakatetes hinting Buno panjang, baratap hintingkamarau ambu, batatutuh bulau lelak bendang, batingkai rabia bahinis kereng, baragana anak antang baputi, belum bahalap limu-limut bulue, hapanduyan Nyalung Kaharingan Belum, hapupuk guhung, paninting aseng, tantausik Jata-Hatalla. Jadilah manusia yang mempunyai akal fikiran seperti teraju yang adil dan timbangan yang benar, mempunyai pandangan yang luas. Ia pandai melihat dan memilih mana yang benar serta mana yang salah, mana yang adil dan mana yang tidak adil. Matanya memancarkan cahaya keadilan dan perlindungan, rasa aman dan rasa bakti. Apa yang diucapkannya benar dan berguna. Lidahnya hanya mengucapkan hikmat dan kebenaran, serta perdamaian. Liurnya mengalirkan air kehidupan yang tiada kering. Tangan dan segala gerakannya penuh budi dan perdamaian. Pandai memutuskan segala perkara dengan adil dan jujur serta berbuah kemakmuran merata. Ia selalu beriman menjadi contoh dan tauladan bagi sesama umat manusia, disenangi dan disegani dimanapun ia berada. Ia selal u membersihkan dan menyucikan dirinya dan jiwanya. Dengan demikian ia selalu diberkati dan diberikan rahmat oleh yang Maha Suci-Tuhan” (Riwut, 2003: 482)).  

Sebelum diturunkan ke dunia, Ranying Hatalla membekali manusia dengan segala aturan, tatacara, dan pengalaman langsung untuk menuju ke kehidupan sempurna yang abadi. Setelah sampai di Pantai Danum Kalunen, pengetahuan tersebut diajarkan dan diwariskan kepada anak keturunan mereka dalam bentuk Tetek Tatum (ratap tangis sejati) hingga sekarang.

Manusia dalam kehidupannya mempunyai tugas dan misi tertentu. Salah satu misi utamanya adalah saling mengingatkan jika ada yang berbuat salah, dan mengajaknya kembali ke jalan yang benar dengan berbakti serta mengagungkan Ranying Hatalla dalam setiap sikap dan perbuatan. Seperti dalam ungkapan Dayak Ngaju,“Balang Bitim Jadi Sampuli Balitam Jadi Daha, Dia Baling BitimTau Indu Luang Rawei”. Artinya kamu bukan dijadikan darah dan daging saja, tetapi selebihnya hendaklah engkau mempunyai misi.

3. Pengaruh Sosial

Pengetahuan orang Dayak Ngaju tentang manusia, berpengaruh pada beberapa aktivitas kehidupan mereka, antara lain:

  • Upacara tiwah, yaitu proses mengantarkan arwah (liau) ke surga atau  Lewu Tatau Habaras Bulau Hagusung Intan Dia Rumpang Tulang, yaitu sebuah tempat yang kekal atau abadi. Tempat itu berhiaskan emas, permata, dan berlian serta terletak di langit ke tujuh. Dalam ritual tiwah ini, tulang manusia yang terkubur di dalam tanah diangkat dan dipindahkan ke dalam sandung (bangunan serupa rumah panggung berukuran kecil). Keyakinan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna, membuat orang Dayak Ngaju merasa berkewajiban untuk menghormatinya, baik ketika masih hidup maupun setelah kematiannya. Untuk itu mereka melaksanakan upacara tiwah. Dengan melaksanakan upacara ini, mereka merasa sudah memposisikan manusia sebagai mana mestinya.
  • Pelaksanaan hukum adat. Orang Dayak Ngaju meyakini bahwa manusia telah diajarkan oleh Ranying Hatalla berbagai macam aturan sebelum diturunkan ke Pantai Danum Kalunen (bumi). Aturan-aturan tersebut dalam kehidupan orang Dayak Ngaju diaplikasikan dalam hukum  adat. Mentaati dan melaksanakan hukum adat adalah keharusan bagi setiap orang Dayak Ngaju, sebagai bentuk penghargaan atas manusia itu sendiri.
  • Pelestarian alam. Alam (hutan) bagai orang Dayak Ngaju adalah ruang hidupnya. Jika alamnya rusak, maka hidup orang Dayak Ngaju juga rusak. Dengan kata lain, menjaga kelestarian alam merupakan upaya manusia Dayak Ngaju untuk menjaga eksistensinya.
  • Penganut Kaharingan. Kaharingan merupakan agama yang diyakini diturunkan langsung oleh Ranying Hatalla untuk mengatur manusia Dayak Ngaju agar dapat menjadi suri tauladan bagi makhluk yang lain. Bagi mereka, meyakini Kaharingan sebagai agama sama saja dengan meyakini manusia Dayak Ngaju sebagai makhluk pilihan Tuhannya. Pandangan ini juga mengakibatkan mereka akan tetap “menganut” Kaharingan walaupun telah menganut agama pendatang, seperti Islam, Kristen, dan sebagainya.
  • Ritual Hasaki Hapalas, yaitu mengoleskan darah kerbau atau babi ke kening seseorang sebagai simbol penyucian diri. Ritual ini diyakini sebagai ritual untuk menyucikan manusia agar selalu bersih. Suci lahir batin, sehingga dapat menjalankan tugas di bumi sesuai petunjuk Ranying Hatalla. 
  • Konsepsi malapetaka. Orang Dayak Ngaju berkeyakinan bahwa manusia akan tertimpa malapetaka jika melaksanakan enam dosa berat dalam kehidupannya, yaitu merampas, mengambil isteri orang, mencuri, merampok, tidak adil dalam memutuskan perkara bagi mereka yang berwenang memutuskannya (para kepala adat, kepala suku, dan kepala kampung). Serta menerima uang sorok (suap).
  • Keyakinan akan Balian dan Basir, yaitu roh halus yang menjadi penghubung antara manusia dengan Ranying Hatalla. Keyakinan ini didasari pemahaman bahwa manusia dalam menjalani kehidupan di dunia pasti menemui kesulitan. Agar mendapatkan petunjuk, manusia dapat menggunakan Balian atau Basir untuk meminta bantuan ke Ranying Hatalla. Bahkan Balian dan Basir itu sendiri diyakini dapat memberi petunjuk (Riwut, 2003).      

4. Penutup

Manusia dalam pengetahuan orang Dayak Ngaju digambarkan sebagai makhluk yang terikat dengan Tuhannya serta keharusan mereka menjadi contoh bagi makhluk lain di bumi. Manusia diharapkan menjadi suri tauladan dengan menjalankan aturan-aturan adat yang telah digariskan oleh Ranying Hatalla dalam kehidupan di dunia. Jika mencermati pengetahuan ini, tampak terdapat kesamaan dengan pola pengetahuan manusia pada agama-agama besar di negeri ini. Untuk itu, sikap toleransi hendaknya selalu dikedepankan dalam mensikapi perbedaan yang ada.

Yusuf Efendi (bdy/08/01-10)  

Referensi

  • Maunati, Yekti.  2006. Identitas Dayak, Komodifikasi dan Politik Kebudayaan. Yogyakarta; LKIS
  • Riwut, Nila. 2003 Tjilik Riwut Sanaman Mantikei. Manaser Panatan Tatu Hiang. Menyelami Kekayaan Leluhur. Palangka Raya: Pusaka Lima
  • Wijono, AMZ. 1998. Masyarakat Dayak Menatap Hari Esok. Jakarta: Grasindo
  • Lahajir, Yuvenalis et al, 1993. Gerakan Solidaritas Kebudayaan Dayak Suatu Kebutuhan Mendesak dalam Era pembangunan Jangka Panjang Tahap Kedua. Makalah dipresentasikan dalam Musyawarah Besar Masyarakat Dayak se-Kalimantan Timur. Samarinda 30 Maret-2 April 1993.

Sumber internet


  

[1] Yuvenus Lahajir (1993) meyakini bahwa pada mulanya semua sub suku tersebut merupakan satu kelompok yang sama, akan tetapi karena proses geografi dan demografi selama lebih dari seribu tahun, kelompok ini menjadi terpecah-pecah.

Dibaca : 8.545 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password