Selasa, 16 September 2014   |   Arbia', 21 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 3.546
Hari ini : 29.096
Kemarin : 33.741
Minggu kemarin : 230.267
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.123.664
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Nyangahatan: Upacara Musim Tanam dan Panen Suku Dayak Kanayatn


1. Asal-usul

Suku Dayak Kanayatn mayoritas menghuni dua daerah di Kalimantan Barat, yaitu daerah Karimawakng asal Mempawah dan Bangkule Rajakng asal Pahauman. Kehidupan orang Dayak Kanayatn yang agraris (pertanian) menjejakkan beberapa upacara tradisi yang unik dan menarik untuk dikaji (Yekti Maunati, 2006). Salah satunya adalah upacara dalam menyambut musim tanam dan panen. Upacara itu mereka sebut dengan Nyangahatn.

Asal-usul upacara Nyangahatn adalah kepercayaan orang Dayak Kanayatn terhadap Tuhan mereka yang bernama Jubata. Mereka meyakini bahwa Jubata telah memberikan rejeki yang melimpah pada pertanian mereka. Untuk itu, sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Jubata, Suku Dayak Kanayatn membuat upacara yang disebut Nyangahatn (Herman Ivo, 2002).

Upacara Nyangahatn juga diilhami ketaatan Suku Dayak Kanayatn terhadap adat yang telah diwariskan oleh leluhur mereka. Bagi orang Dayak Kanayatn, adat adalah aturan yang harus ditaati secara turun temurun, seperti tersurat dalam pepatah mereka di bawah ini:

Adat nang dinunak, dinali, dinamputn” (Adat ada sejak adanya manusia, diikuti dan ditaati secara turun-temurun).

Upacara Nyangahatn umumnya dilakukan pada setiap siklus budidaya padi, baik pada saat mulai menanam atau seusai panen (patahunan). Melalui upacara ini, orang Dayak Kanayatn ingin menyampaikan rasa syukur kepada Jubata. Selain itu, mereka juga ingin mengadukan kepada Jubata segala kesulitan mereka dalam mengelola pertanian dan mereka memohon agar tanaman padi mereka baik, tidak diserang hama, dan mendapatkan panen yang melimpah. Upacara nyangahatn biasanya akan ditutup dengan upacara lain yang lebih sederhana, yaitu upacara Naik Dango. Upacara ini biasanya dilakukan pada tanggal 27 April setiap tahun (Johan Weintre‘, 2004).

2. Peralatan dan Waktu Pelaksanaan

Upacara Nyangahatn biasanya dipimpin oleh petugas adat khusus yang menangani padi. Petugas ini disebut Tuha Tahutn atau Panyangahatn. Upacara dilakukan di sebuah tempat dekat sawah (Panyugu) atau bisa juga di rumah. Adapun waktunya adalah sesaat sebelum memulai tanam dan setelah panen.  

Peralatan yang perlu disediakan dalam upacara ini antara lain:

  • Sesaji berupa nasi‘ dua‘ gare‘ (nasi dan garam)
  • Sirih masak (kapur, sirih, gambir, tembakau dan rokok daun nipah)
  • Tenkeatn (bibit padi yang sudah dipotong dan dipilih bulirnya yang bagus)
  • Inge (wadah pemungut padi)
  • Batu asahan
  • Parang
  • Katam atau anai-anai (pemotong padi)


Contoh sesaji

3. Proses Pelaksanaan

Pelaksanaan upacara Nyangahatn  secara umum dibagi dalam dua tahap, yaitu persiapan dan pelaksanaan upacara. Adapun pada tahap pelaksanaan, upacara dibagi dalam dua proses besar, yaitu Nyangahatn Manta‘ (tanpa hewan kurban atau hewan kurban belum disembelih) dan Nyangahatn Masa‘ (hewan kurban sudah disembelih dan dimasak).

a. Persiapan

Tahap ini diisi dengan mempersiapkan segala peralatan dan perlengkapan yang diperlukan untuk upacara ini. Semua perlengkapan disiapkan oleh keluarga yang mengadakan upacara dengan dibantu oleh warga yang lain. Jika semua sudah lengkap maka langsung dilaksanakan upacara Nyangahatn.

b. Pelaksanaan

Pada prinsipnya pelaksanaan upacara Nyangahatn baik dengan cara Nyangahatn Manta‘ (tanpa hewan kurban atau hewan kurban belum disembelih) maupun Nyangahtan Masa‘ (hewan kurban sudah disembelih) adalah sama. Proses pelaksanaan keduanya diisi dengan tiga kegiatan, yaitu Mati‘ (doa hajat), Ngalantekathn (doa keselamatan), dan Mibis (doa agar semua sampai tujuan).

Upacara diawali dengan pembacaan Mati‘ (doa hajat) oleh Panyangahatn (pemimpin upacara) di depan sesaji yang sudah disiapkan. Mati‘ ditujukan untuk memberitahukan kepada Jubata dan Awa Pama (roh leluhur) tentang hajat keluarga. Mati‘ dilaksanakan pada waktu malam hari sebelum berlangsungnya kegiatan menanam padi yang dilakukan keesokan harinya.

Seusai membaca doa Mati‘, Panyangahatn akan mengoleskan beras yang dicampur dengan minyak tengkawang atau minyak kelapa ke setiap kening orang yang hadir. Minyak ini dipercaya bisa mengobati dan melindungi orang Dayak Kanayatn dari segala penyakit.  Tahap ini kemudian disambung dengan pembacaan doa Nglantaketn (doa keselamatan), yang bertujuan agar keluarga dan semua yang terlibat dalam pekerjaan memasak selamat dari segala gangguan sehingga dapat bercocok tanam dengan baik dan dapat menikmati hasil panen.

Setelah itu, tahap berikutnya adalah pembacaan doa Nyangahatn Mibis (doa agar semua sampai tujuan). Doa ini bertujuan agar segala sesuatu yang telah dimohonkan kepada Jubata dikabulkan. Setelah doa Mibis selesai disampaikan, ayam disembelih dan diambil darahnya sebagai simbol pengorbanan. Ayam dibersihkan dengan hanya membuang usus. Selanjutnya ayam tersebut dipanggang atau direbus untuk dimakan bersama.

Seusai pembacaan doa, para warga akan mulai menebas pohon dan rumput di sawah masing-masing. Kegiatan ini ada yang dilakukan oleh keluarga sendiri atau secara balale (gotong-royong). Setelah sawah dianggap siap untuk ditanami, warga akan mulai menanam dan berharap semoga tanamannya baik dan menghasilkan panen yang memuaskan.

Upacara Nyangahatn akan kembali dilakukan oleh warga kampung pada saat panen sebagai bentuk ucapan syukur atas keberhasilan panen. Biasanya upacara ini dilaksanakan secara meriah dan dikenal sebagai Makatn Nasi Baharu (makan nasi yang baru dipanen).

4. Doa

Dari tiga doa yang dibacakan dalam upacara ini, berikut adalah doa Mati‘ (doa hajat) yang dibaca oleh Panyangahatn (pemimpin upacara):

“Asak, dua, talu, empat, lima, anam, tujuh... Oh kita‘ Jubata yang badiapm kak aik dalam tanah tingi, puhutn ayak, puhutn tingi. Kita‘ karamat ai‘ tanah nang mampu nunu ai‘ sakayu, nyambong sengat. Kami bapinta kami bapadah, ame babadi kak kami talino manusia”. Artinya satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh... Jubata yang menguasai di air dalam, tanah tinggi, pohon kayu besar, pohon kayu tinggi. Penguasa air dan bumi yang mampu membakar air satu sungai, menyambung nyawa. Kami meminta dan mengabarkan, jangan memberikan wabah kepada manusia.

5. Pantangan dan Larangan

Pantangan yang harus dijauhi meliputi dua bagian, yaitu saat upacara berlangsung dan seusai upacara dilaksanakan. Pada saat upacara berlangsung, para warga yang ikut upacara dilarang bersiul, karena hal itu akan menggangu konsentrasi pemimpin upacara. Adapun sesusai upacara seluruh warga Dayak Kanayatn dilarang mencuri, merampok, membunuh, dan berbuat asusila karena hal itu akan membuat Jubata tidak akan mengabulkan segala doa yang dibacakan ketika upacara.

6. Nilai-nilai

  • Nilai pelestarian satra lisan dan bahasa asli. Nilai ini tampak dari pembacaan doa dan mantera di mana hal itu merupakan bagian dari sastra lisan yang harus dijaga keberadaannya. Hal ini penting untuk menjaga tergerusnya bahasa asli Dayak Kanayatn dari gempuran bahasa Indonesia atau bahasa asing.
  • Nilai terima kasih kepada Jubata. Mata pencaharian mayoritas orang Dayak Kanayatn adalah petani. Dalam setiap masa tanam, keinginan mereka adalah mendapatkan panen yang melimpah. Orang Dayak Kanayatn memahami bahwa hal itu merupakan karunia yang diberikan oleh Tuhan mereka, untuk itu mereka mengungkapkan rasa terima kasih dengan menyelenggarakan upacara Nyangahatn.
  • Nilai kebersamaan. Upacara Nyangahatn terkadang dilaksanakan secara bersama-sama oleh seluruh warga kampung. Pada saat persiapan, para warga melakukannya secara bergotong-royong. Realitas ini menunjukkan bahwa orang Dayak Kanayatn masih menjunjung tinggi semangat kebersamaan. Dengan kegiatan tersebut, masyarakat dapat memperkuat solidaritas di antara mereka.   
  • Nilai spiritual. Nilai ini tercermin dari berbagai doa yang dipersembahkan kepada Tuhan orang Dayak Kanayatn yang dianggap telah memberikan rejeki yang melimpah. Dari sini tampak bahwa Nyangahatn tidak hanya sekedar tradisi, tetapi juga merupakan sebuah ruang di mana orang Dayak Kanayatn dapat mendekatkan diri dengan Tuhan untuk memohon, mengadu dan meminta perlindungan dari segala keburukan dalam hidup mereka.
  • Nilai berbagi kepada sesama. Nilai ini tampak nyata khususnya pada perayaan Nyangahatn seusai panen, di mana hampir semua petani memasak hasil panen pertama, kemudian diadakan makan bersama. Mereka menyebutnya Makatn Nasi Baharu (makan nasi baru hasil panen). Jika acara ini diadakan bersama-sama, maka akan banyak nasi yang dimasak dan upacara semakin meriah.

7. Penutup

Nyangahatn merupakan upacara untuk mengungkapkan terima kasih kepada Jubata atas rezeki pertanian yang diperoleh orang Dayak Kanayatn. Upacara ini mengandung banyak nilai yang positif bagi kehidupan mereka, salah satunya adalah nilai pelestarian sastra lisan berupa doa dan mantera yang dibaca saat upacara Nyangahatn. Mengingat saat ini banyak suku Dayak yang mulai berkurang populasinya, maka nilai ini patut untuk terus diapresiasi dan dikaji, karena melalui doa dan mantera tersebut dapat dikenal kehidupan mereka. Yusuf Efendi (bdy/11/01-10).

Referensi

  • Herman Ivo, 2002. Upacara adat perladangan Dayak Kanayatn, Kalimantan Barat. Laporan penelitian. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Pontianak: Universitas Tanjungpura.
  • Yekti Maunati, 2006. Identitas Dayak, komodifikasi dan politik kebudayaan. Yogyakarta: LKIS.
  • Johan Weintré. 2004. Beberapa penggal kehidupan Dayak Kanayatan. Kekayaan ritual dan keanekaragaman pertanian di hutan Kalimantan Barat. Makalah studi lapangan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Sumber internet

Dibaca : 5.454 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password