Rabu, 18 Oktober 2017   |   Khamis, 27 Muharam 1439 H
Pengunjung Online : 2.690
Hari ini : 28.016
Kemarin : 29.523
Minggu kemarin : 157.490
Bulan kemarin : 7.753.475
Anda pengunjung ke 103.482.672
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Adat Upah-upah: Memasuki Hidup Baru bagi Masyarakat Rokan Hulu, Provinsi Riau

Upah-upah adalah upacara adat masyarakat Rokan Hulu, Provinsi Riau,  yang bertujuan untuk mengembalikan tondi ke badan. Tondi tersebut diyakini sebagai aspek kejiwaan manusia yang mempengaruhi semangat dan kematangan psikologis individu.

1. Asal-usul

Upacara Upah-upah merupakan salah satu upacara adat yang berasal dari Rokan Hulu, Propinsi Riau. Ditinjau dari tujuan pelaksanaan Upah-Upah, upacara adat tersebut bermakna mengembalikan tondi (semangat; spirit) ke badan seseorang atau beberapa orang melalui lantunan kata pemberi semangat dan nasihat (Irwan Effendi et al., 2008).

Pada dasarnya, upacara Upah-upah merupakan akulturasi budaya Tapanuli Selatan dan Riau. Letak geografis Rokan Hulu yang terletak di 00 25’ 20 derajat LU - 010 25’ 41 derajat LU dan 1000 02’ 56 derajat - 1000 56’ 59 derajat BT dengan luas 7.449.85 km² cukup berdekatan dengan wilayah Sumatera Utara, yaitu berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Selatan pada wilayah Utara (http://www.riau.go.id/). Hal itu memicu perpindahan masyarakat Tapanuli Selatan ke wilayah Pasir Pengarayan untuk bermukim di sana selama beberapa dekade terakhir. Akhirnya perpindahan tersebut menciptakan akulturasi budaya yang menarik.

Produk budaya Upacara Adat Upah-upah yang tetap dilaksanakan oleh masyarakat pendatang dari Tapanuli Selatan dan berbaur dengan penduduk setempat mengakibatkan penerapan budaya Upah-upah tetap lestari dan mengalami perubahan-perubahan yang unik, baik dari sisi tata laksana maupun bahan-bahan yang digunakan. Akan tetapi, tujuan utama dari Upacara Upah-upah yang saat ini sudah menjadi bagian dari budaya Riau masih sama dengan Upacara Upah-upah di Tapanuli Selatan, yaitu mengembalikan tondi ke badan individu atau sekelompok orang yang diberikan Upah-Upah. Inilah salah satu bukti keterbukaan penduduk Melayu Riau, khususnya masyarakat Rokan Hulu, terhadap masuknya budaya lain yang secara positif mempengaruhi kualitas pribadi dan kelompok mereka.

Istilah tondi berasal dari bahasa Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, berpadanan makna dengan beberapa istilah dalam Bahasa Indonesia yang mencakup kata semangat, tenaga, dan kekuatan yang bersifat psikologis. Seiring dengan itu, beberapa pakar memiliki kesamaan pendapat tentang pembahasan makna tondi ini. Pajung Bangun (dalam Koentjaraningrat, 2002) mengatakan tondi itu merupakan kekuatan yang memberi hidup kepada bayi. Tondi merupakan kekuatan, tenaga, semangat jiwa yang memelihara ketegaran rohani dan jasmani agar tetap seimbang, kukuh, keras, dan menjaga harmoni kehidupan setiap individu. Tondi dapat mengembara sesukanya dan bahkan boleh jadi bertemu dan bergabung dengan roh jahat. Dalam keadaan ketakutan yang mendadak, misalnya diserang harimau di hutan, tondi bisa juga meninggalkan badan (Parsadaan Marga Harahap Dohot Boruna, 1993).

Menurut Effendi et al. (2008:3), Upacara Adat Upah-upah biasanya diiringi dengan kenduri kecil maupun besar yang diiringi dengan doa selamat. Kegiatan Upah-upah ini hanya ada di beberapa Kabupaten di Riau dan Sumatera Utara pada sebagian besar etnis Batak di wilayah propinsi tersebut.

Berdasarkan fungsi dan tujuannya, Upah-upah dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu sebagai berikut.

  1. Upah-upah Hajat Tercapai, yaitu Upah-upah yang dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur karena cita-cita, hajat, harapan, atau pun permintaan tercapai. Misalnya, Upah-upah bagi anak yang sudah meraih kesuksesan dalam bekerja, berhasil dan lulus dari sekolah, atau berhasil dalam usaha lainnya.
  2. Upah-upah Sembuh Sakit, yaitu Upah-upah yang dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur karena harapan sembuh dari sakit telah tercapai. Upah-upah jenis ini umumnya dilaksanakan seseorang yang sembuh dari penyakit kronis tertentu.
  3. Upah-upah Selamat, yaitu Upah-upah yang dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur karena selamat dari suatu musibah alam atau gangguan orang. Misalnya, Upah-upah bagi seseorang yang selamat dari bencana hanyut di suatu sungai pada waktu banjir.
  4. Upah-upah Khusus, yaitu Upah-upah yang dilaksanakan saat seseorang melalui fase kehidupan tertentu. Misalnya, Upah-upah bagi seseorang yang dikhitan, dinikahkan, atau dilantik memangku suatu jabatan.

Pada tahap pelaksanaan Upacara Upah-upah tersebut, diperlukan tata laksana, bahan-bahan, dan peralatan tertentu yang memiliki simbol dan makna tertentu. Setiap jenis Upah-upah di atas menggunakan peralatan, bahan-bahan, dan tata laksana yang sama—yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. Yang membedakan pelaksanaan salah satu jenis Upacara Upah-upah dengan jenis lainnya adalah Kata Upah-upah yang diberikan dalam bentuk nasihat dan doa, sedangkan Pengantar Upah-upah dan pelaksanaan lainnya relatif sama antara jenis Upah-upah yang satu dengan jenis Upah-upah lainnya.

Bagian selanjutnya menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan Upah-upah. Pemaparan upacara Upah-upah akan dibahas mulai dari bahan dan peralatan, tata laksana, doa dan nasihat, dan nilai-nilai pada jenis Upah-upah Khusus pada saat seorang anak dinikahkan oleh orang tuanya di masyarakat Rokan Hulu, Propinsi Riau. Upah-upah Khusus tersebut dikenal dengan istilah Upah-upah Memasuki Hidup Baru.

2. Peralatan dan Bahan-Bahan

Bahan yang digunakan untuk menyusun perangkat Upah-upah relatif beragam, tergantung pada faktor daerah, adat, dan orang yang menyusun dan menyampaikan hajat tersebut. Kadang-kadang, Upah-upah yang dilaksanakan di kampung yang sama dengan maksud dan pelaksana Upah-upah yang sama, tetapi bahan yang disajikan berbeda (Effendi et al.,  2008).

Effendi et al. (2008) menjelaskan bahwa berdasarkan bahan yang digunakan dalam Upacara Upah-upah, penyajian hidangan tersebut dapat dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu Upah-upah Biasa, Upah-upah Lengkap, dan Upah-upah Sangat Lengkap. Tingkatan ini berkaitan dengan niat atau nazar yang telah diucapkan dan kemampuan yang mempunyai hajat, bukan didasarkan kepada tujuan dan manfaatnya karena setiap pelaksanaan upah-upah yang bertujuan mengembalikan tondi ke badan. Proses memanggil tondi tersebut bisa diperoleh meskipun dengan penyajian Upah-upah Biasa selama hidangan, tata cara, dan kata nasihat Upah-Upah diberikan berdasarkan kesepakatan adat istiadat yang berlaku.

Berkaitan dengan pembagian tiga jenis bahan Upah-upah ditinjau dari bahan yang digunakan, berikut ini adalah pemaparannya (Effendy et al., 2008).

1. Upah-upah Biasa, bahan-bahannya adalah sebagai berikut.

  • Ayam panggang.
  • Hati ayam yang dipanggang.
  • Telur ayam rebus yang sudah dikupas.
  • Udang yang dipais/direbus/digoreng.
  • Beras kunyit.
  • Nasi Pulut Kunyit.
  • Sayur-mayur.

2. Upah-upah Lengkap, bahan-bahannya adalah sebagai berikut.

  • Ayam panggang.
  • Hati ayam yang dipanggang.
  • Telur ayam rebus yang sudah dikupas.
  • Udang yang dipais/direbus/digoreng.
  • Beras kunyit.
  • Nasi Pulut Kunyit.
  • Sayur-mayur.
  • Gulai kepala kambing.
  • Bagian-bagian tubuh kambing yang dapat dimakan selain kepala.

3. Upah-upah Sangat Lengkap

  • Ayam panggang.
  • Hati ayam yang dipanggang.
  • Telur ayam rebus yang sudah dikupas.
  • Udang yang dipais/direbus/digoreng.
  • Beras kunyit.
  • Nasi Pulut Kunyit.
  • Sayur-mayur.
  • Gulai kepala kambing.
  • Bagian-bagian tubuh kambing yang dapat dimakan selain kepala.
  • Gulai kepala kerbau.
  • Bagian-bagian tubuh kerbau lainnya yang bisa dimakan.


Contoh Penyajian Hidangan Jenis Upah-Upah Lengkap

3. Tata Laksana

Effendy et al. (2008) menjelaskan tentang tata laksana Upacara Upah-upah mencakup rangkaian kegiatan berikut ini.

  1. Semua hadirin, termasuk pelantun Upah-upah yang lazim disebut si Pengupah memasuki tempat pelaksanaan kegiatan. Umumnya mereka duduk membentuk lingkaran atau persegi panjang. Upacara biasa diadakan di dalam ruangan rumah atau pun di balai-balai yang khusus untuk acara ini.
  2. Kemudian orang yang akan di-upah-upah diminta duduk bersila di tengah-tengah lingkaran atau mengambil bagian lingkaran dengan menghadap para hadirin.
  3. Bahan Upah-upah yang telah dipersiapkan diletakkan di depan orang yang akan di-upah-upah dengan ditutup kain selendang.
  4. Bila Upah-upah masuk dalam perhelatan besar maka prosesinya dipimpin oleh seorang protokol. Namun apabila acara ini dalam skala kecil maka upacara akan dipimpin oleh si pelantun Upah-upah.
  5. Acara dibuka oleh protokol. Kemudian orang yang punya rumah atau hajat menyampaikan sepatah dua kata kepada hadirin dengan maksud, tujuan dan alasan diadakannya acara Upah-upah.
  6. Berikutnya adalah acara inti, yaitu penyampaian kalimat Upah-upah. Si Pengupah mengambil posisi berdiri atau duduk berhadapan dengan orang yang akan diupah-upah, dan bahan Upah-upah berada di antara mereka. Posisi si Pengupah adakalanya berdiri atau duduk di samping orang yang akan di-upah-upah. Hal ini tergantung pada kondisi ruangan. Sambil berdiri itu si Pengupah mengangkat talam, piring, atau wadah tempat bahan upah-upah ke atas kepala atau di depan orang yang di-upah-upah. Namun bila berupa Upah-upah Lengkap dan Upah-upah Sangat Lengkap, maka talam cukup dibuka saja karena terlalu berat untuk diangkat
  7. Terakhir, si Pengupah melantunkan kata-kata Upah-upah.

4. Doa

Doa dalam memberikan hidangan Upah-upah berbentuk sajak atau bait-bait doa yang penuh makna dan nilai sastra berupa metafora, pantun, dan nilai moral. Berikut ini adalah contoh sebagian bait doa dari si Pengupah yang dibacakan kepada orang yang di-upah-upah (Effendy et al., 2008).

Bismillahirrahmanirrahim kami ucapkan
Rahmat Allah senantiasa kita pintakan
Menyampaikan niat serta hajat di dalam
Itulah niat mengupa-upa anak menantu dambaan

Sudah terselip di hati ibu dan ayah
Menyampaikan niat melaksanakan upah-upah
Niat terkandung lamalah sudah
Baru sekarang beroleh izin Allah

Maka pada saat ini ada hajat di dalam hati
Ada niat yang belum terlaksanai
Untuk mengupah-upah anak menantu kita ini
Akan kita lepas ke lautan hidup tiada bertepi

Supaya mereka tidak melanggar pantang
Supaya mereka tidak terlanda adat
Supaya mereka tidak disia-siakan orang
Upah-Upah dilantunkan bekal tak tersukat

Rumpunnya rindang si pohon tebu
Rumpun dedap ditumbuhi benalu
Kaum famili yang duduk bersimpuh
Ampun dan maaf mereka pinta selalu

Batang nipah rapi ditanamkan
Nipah ditanam tambatan perahu
Kata pengupah yang disampaikan
Mengupah-upah anak serta menantu

Nipah ditanam tambatan perahu
Kerabat datang menyepuh bersih perunggu
Mengupah anak serta menantu
Selamatlah nian menempuh hidup baru

...

Nipah ditanam di hari Selasa
Itulah hari yang tepat kata orang tua-tua
Upah-Upah dilaksanakan penyambung doa
Itulah doa ayah ibu dan keluarga semua

Nipah ditanam tambatan perahu
Menghadap ke utara arah haluan
Mengupah anak serta menantu
Mengharap tuah dalam penghidupan

...

Ditambatkan ikat simpul tak terbelah
Tangga dipasang penghindar air bah
Kembalikan semangat pulangkan tuah
Keluarga mawaddah akhlakul karimah

Jadi beginilah, adik kami, anak kami
Puteri, menantu, serta cucu kami
Beginilah caranya ayah dan bunda
Menyampaikan hasrat kebesaran jiwa

Memperlihat hati dan kebesaran jiwa
Syukur dan terima kasih tiada berhingga
Harapkan berkah Allah wa Jalla
Mengupah anak menantu yang baru berumah tangga

A’uzubillahi minasysyaitani rajim
Bismillahirrahmanirrahim
La haula wala quwwata illah bil ’azim
Rukunlah nian seperti rumah tangga Nabi Ibrahim
Ikatan kasih bak Nabi Yusuf dan Zulaikha
Ikatan cinta Muhammad dan Siti Aisyah

Turun matondi...Turun matondi...

Fragmen di atas adalah contoh kata Upah-Upah dari Si Pengupah yang berisikan doa, harapan, dan nasihat. Aspek-Aspek tersebut juga menjadi nilai penting dari Upacara Upah-Upah terhadap anak yang memasuki hidup baru atau menikah.

5. Nilai-Nilai

Ada banyak nilai yang terkandung di dalam Upacara Adat Upah-upah. Selain fungsi paulak tondi tu badan (memangil tondi ke badan) upacara Upah-upah juga memiliki fungsi nasihat, doa, dan harapan. Setiap Kata Upah-Upah yang disampaikan oleh orang tua, tokoh yang dituakan, khususnya oleh si Pengupah pada saat pelaksanaan acara Upah-Upah Memasuki Hidup Baru berisi nilai-nilai tersebut. Berikut ini adalah pemaparan setiap nilai dan manfaat dari Upacara Adat Upah-upah (Effendy et al., 2008).

1. Nilai Nasihat

Nasihat secara khusus diberikan kepada orang yang di-upah-upah. Selain itu, para hadirin yang ada di upacara Upah-upah yang mendengar nasihat juga merasakan dampak nasihat dari kata-kata Upah-upah.

2. Nilai Doa

Kata dalam Upah-upah sarat dengan doa kepada Allah swt. Doa tersebut berisi permohonan kesehatan, keselamatan, kebahagiaan, dan kejayaan bagi orang yang di-upah-upah, keluarga, dan kepada hadirin.

3. Mempererat Silaturahim

Persiapan dan prosesi pelaksanaan Upacara Upah-upah sarat dengan makna silaturahmi kepada anggota keluarga dan masyarakat.  Pertemuan, gotong royong, doa bersama, makan bersama, dan saling bercengkerama tentu akan memupuk rasa persaudaraan yang tinggi di tengah-tengah masyarakat.

4. Memupuk Rasa Syukur

Umat Islam dianjurkan untuk selalu ingat kepada Allah swt. dan bersyukur atas nikmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada kita. Dalam kegiatan Upah-upah terkandung pula makna pemupukan rasa syukur, ingat, dan tawakal kepada Allah swt.

5. Pengembalian dan Elaborasi Spirit

Upah-upah bermanfaat dan dapat dipahami secara ilmiah sebagai sugesti atau dorongan spritual terhadap moral seseorang atau sekelompok orang. Dampaknya akan terlihat apabila peserta benar-benar mengerti, menghayati, serta merasa menjadi bagian dari Upah-upah tersebut sehingga melahirkan semangat dalam mengarungi hidup.

Berkaitan dengan pandangan di atas, salah satu penelitian pernah membuktikan dampak positif dari tradisi Upah-upah terhadap pasangan pernikahan. Berdasarkan hasil penelitian Bahril Hidayat (2006), Upacara Adat Upah-upah pada pasangan pernikahan di masyarakat Tapanuli Selatan juga memiliki dampak atau pengaruh penting bagi kematangan psikologis pada pasangan pernikahan atau pengantin.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tradisi Upacara Adat Mangupa (istilah Upah-upah pada etnis Mandiling) yang diberikan kepada pasangan pernikahan pemula Tapanuli Selatan memiliki pengaruh dalam memotivasi mereka menjadi pribadi yang matang. Dengan adanya pemberian nasihat, harapan, dan doa, dapat diyakini secara logis—dan ilmiah sebagaimana yang telah dibuktikan oleh penelitian ini—bahwa semangat dapat meningkat sebagai akibat dari pemberian unsur-unsur harapan, nasihat, dan doa tersebut. Dengan adanya peningkatan semangat (spirit) tersebut, meningkat pula aspek berpikir ke arah kematangan individual. Secara umum, pengaruh fungsi paulak tondi tu badan, nasihat, harapan, dan doa yang telah dijelaskan di atas terhadap pasangan pernikahan dapat diilustrasikan oleh skema berikut ini.

Sifat sugestif di atas merupakan penjelasan terhadap terjadinya proses internalisasi aspek-aspek doa, harapan, dan nasihat ke dalam diri pasangan pernikahan pemula. Masuknya nilai-nilai yang terkandung di dalam doa, harapan, dan nasihat ke dalam diri pasangan pernikahan pemula berangsur-angsur berkembang pula aspek motivasi menjadi pribadi yang matang dalam diri mereka.

6. Penutup

Upacara Adat Upah-upah merupakan salah satu upacara adat di Kabupaten Rokan Hulu, Propinsi Riau. Upacara Upah-upah bertujuan untuk mengembalikan atau memanggil tondi ke badan sekaligus mengandung ungkapan-ungkapan metafora yang bermakna doa, harapan, dan nasihat kepada orang atau sekelompok orang yang di-upah-upah. Menurut kepercayaan orang Rokan Hulu, Riau, dan sebagian besar etnis Batak dan Tapanuli di Sumatera Utara, tondi merupakan bagian dari jiwa yang bisa pergi meninggalkan si pemilik tondi tersebut. Upacara Upah-upah merupakan salah satu cara untuk mengembalikan tondi ke badan sekaligus membangkitkan potensi tondi itu bagi orang yang di-upah-upah.

Pelaksanaan Upacara Adat Upah-upah memiliki banyak jenis, namun Upah-upah Memasuki Hidup Baru (diberikan kepada pasangan pernikahan) dilaksanakan untuk membangun rasa syukur, mempertahankan nilai-nilai sosial dan spiritual yang tinggi. Setiap orang tua di Rokan Hulu selalu bercita-cita, berniat, dan bernazar untuk melaksanakan upacara adat Upah-Upah ini sejak sang anak masih kecil. Boleh jadi orang tua yang mampu melaksanakan Upah-Upah dengan menggunakan bahan utama pangupa berupa hewan kerbau dalam Upah-upah Sangat Lengkap. Namun bagi orang tua yang kurang mampu, sebutir telur dalam Upah-upah Biasa sudah sangat memadai untuk melaksanakan hajat yang penuh kesakralan, tata tertib, nasihat kepada pasangan pernikahan, dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tentu saja semua itu dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur orang tua karena pihak keluarga laki-laki memperoleh menantu perempuan yang akan menemani anak laki-lakinya. Harapannya, sejak pernikahan hingga masa tua mereka pasangan pernikahan itu siap untuk menghadapi kesempitan dan kesusahan, dan berbahagia di dalam kelapangan yang Tuhan ujikan kepada mereka.

Kematangan atau maturitas psikologis juga bisa dicapai dengan upacara adat ini sebagaimana hasil penelitian yang pernah dilakukan. Kematangan tersebut akan membentuk ketangguhan untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Selain itu, kematangan psikologis pasangan pernikahan juga berpengaruh untuk menciptakan rumah tangga yang harmonis dan proses bermasyarakat yang toleran dan saling mempersatukan. Temuan ilmiah tersebut merupakan bukti nyata dari pemanggilan tondi ke badan pasangan pernikahan yang di-upah-upah melalui prosesi upacara adat Upah-upah Memasuki Hidup Baru.

(Bahril Hidayat/bdy/01/02-2010)

Referensi

  • Irwan Effendi, Baron Lubis, Muslim Nasution, 2008, Upah-upah, tradisi membangkit semangat dalam masyarakat Melayu. Yogyakarta: Penerbit Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu Bekerja sama dengan Penerbit Adicita Karya Nusa.
  • Bahril Hidayat, 2006. Tema-tema psikologis dalam tradisi Mangupa. Jakarta: Jurnal Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
  • Koentjaranigrat, 2002, Manusia dan kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan.
  • Persadaan Marga Harahap Dohot Boruna, 1993. Horja: adat-istiadat Dalihan Na Tolu, musyawarah adat Persadaan Marga Harahap Dohot Anak Boruna di Padang Sidempuan 26-27 Desember 1991. Bandung: PT. Grafiti.

Sumber Internet

  • Wikipedia. Kabupaten Rokan Hulu. http://id.wikipedia.org. (Pemutakhiran terakhir: 13:55, 13 Februari 2010). Diunduh pada tanggal 18 Februari 2010.
  • Situs Resmi Pemerintah Propinsi Riau: Profil Kabupaten Rokan Hulu. (Pemutakhiran Terakhir: 16 April 2009). http://www.riau.go.id. Diunduh pada tanggal 18 Februari 2010.

Sumber Foto:

  • Dokumentasi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM)
Dibaca : 27.965 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password