Senin, 24 April 2017   |   Tsulasa', 27 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 5.261
Hari ini : 32.966
Kemarin : 52.079
Minggu kemarin : 401.091
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.195.764
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Pengobatan Tradisional: Pengobatan Tradisional Melayu di Aceh


Beberapa bahan untuk ramuan obat tradisional
Atas, dari kiri ke kanan, sirih, pinang, dan lada (merica)
Bawah, jahe, gambir, dan kunyit

Jenis penyakit, menurut pandangan masyarakat Aceh, dikelompokan ke dalam dua jenis, yaitu penyakit yang disebabkan oleh sebab adikodrati dan oleh sebab alami. Jenis penyakit yang disebabkan oleh sebab adikodrati kebanyakan memerlukan penanganan dari dukun, tabib, maupun teungku. Sedang penyakit yang disebabkan oleh sebab alamiah, penanganannya dapat dilakukan oleh tenaga medis maupun dengan pengobatan tradisional.

1. Kesehatan Menurut Masyarakat Aceh

Masyarakat di Aceh telah dikenal mempunyai kebudayaan yang mendapatkan pengaruh kuat dari kebudayaan Islam. Hal ini bisa tercermin dari penduduk Aceh yang mayoritas memeluk agama Islam. Selain itu, percampuran antara dua kebudayan di Aceh tercermin lewat ungkapan (peribahasa) “Adat ngon Hukum han jeut Cree, Lagee zat ngon siffeut,” yang artinya adat dengan syariat Islam tidak dapat dipisahkan seperti zat dengan sifatnya (M. Alamsyah et.al., 1998/1999:53-54).

Percampuran antara adat (kebudayaan) dengan agama Islam menjadikan pandangan tentang kebudayaan diselaraskan dengan cara pandang Islam, demikian pula dengan masalah kesehatan. Kebudayaan Aceh memandang bahwa kesehatan bagi masyarakat Aceh harus sesuai dengan cara Islam memandang tentang kesehatan, demikian pula dengan cara Islam menyampaikan tentang kesehatan.

Islam menganjurkan kepada pemeluknya agar senantiasa memelihara atau menjaga kesehatan, serta melakukan berbagai upaya untuk menghindarkan diri dari penyakit. Selain itu, menurut pandangan masyarakat Aceh, apapun penyakit yang diderita memang diinginkan oleh Allah (Rusdi Sufi & Agus Budi Wibowo, 2006:28).

Sehubungan dengan pandangan tersebut, dalam pandangan masyarakat Aceh juga berkembang sebuah ungkapan yang sangat populer yaitu “na umu na ubat,” artinya jika seseorang masih panjang umur, apapun sakit atau penyakit yang menimpanya pasti ada obatnya. Pandangan ini sebenarnya sesuai dengan hadist Nabi Muhammad SAW, “Wahai Hamba Allah Azma Wajalla bahwa Allah tidak menetapkan sesuatu penyakit, kecuali ia juga menetapkan obatnya” (Alamsyah et.al., 1998/1999:54).

Jika dilihat berdasarkan penyebabnya, maka yang disebut dengan penyakit menurut anggapan atau pandangan orang-orang Aceh dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu penyakit biasa dan penyakit donya (dunia) (Sufi & Wibowo, 2006:28-29). Penyakit biasa disebabkan oleh penyebab alamiah yang biasa dikenal di dunia medis atau kedokteran. Sedangkan penyakit donya, yang disebut pula sebagai penyakit adikodrati, disebabkan oleh buut donya atau ulah seseorang maupun karena setan atau makhluk halus (meurampot) (Sufi & Wibowo, 2006:31).

2. Jenis Penyakit dan Cara Pengobatannya

1. Jenis penyakit yang disebabkan karena kekuatan adikodrati.

Masyarakat Aceh mengenal banyak penyakit yang disebabkan oleh kekuatan adikodrati. Berikut ini adalah beberapa contoh dari sekian banyak penyakit tersebut. 

1. Burong atau Jitamong Burong

Penyakit ini disebut juga dengan istilah Burong Tujoh. Penyebabnya adalah jiupeukeunong (karena perbuatan seseorang), yaitu dengan memasukkan makhluk halus ke dalam badan seseorang. Orang yang terkena penyakit ini mempunyai ciri-ciri: matanya selalu terlihat dalam keadaan liar dan terbelalak, berbicara terus-menerus yang terkadang disertai dengan jeritan-jeritan histeris dan meronta-ronta, kekuatannya bisa bertambah berkali lipat, dan biasanya kuku jari tangan dan kakinya berwarna biru atau hijau.

Pengobatan yang lazim dilakukan oleh masyarakat Aceh adalah memanggil tabib atau teungku (ulama). Cara penyembuhan dilakukan dengan membaca doa-doa tertentu atau dengan cara meurajah (pembacaan jampi-jampi oleh tabib atau teungku). Menurut pendapat masyarakat Aceh, jenis penyakit ini tidak akan pernah sembuh jika dibawa ke dokter. Selain itu, jika penyakit jenis ini diobati oleh orang yang bukan ahlinya, maka kemungkinan tingkat kesembuhannya sangat kecil (Sufi & Wibowo, 2006:31-32 dan Alamsyah et.al., 1998/1999:57).

2. Meurampot (kemasukan setan)

Meurampot atau kemasukan setan adalah jenis penyakit yang diyakini oleh masyarakat Aceh karena gangguan setan kepada manusia atas kehendak setan itu sendiri. Ciri-ciri orang yang terkena penyakit ini: badannya menjadi panas, bila dalam keadaan tidur dia akan mengigau, bicaranya tidak jelas dan sering tertawa sendiri secara terus-menerus, bahkan seringkali ada yang sampai pingsan (Alamsyah et.al., 1998/1999:58).

Pengobatan yang lazim dilakukan oleh masyarakat Aceh adalah memanggil tabib atau teungku (ulama). Cara penyembuhan dilakukan dengan membaca doa-doa tertentu atau dengan cara meurajah (pembacaan jampi-jampi oleh tabib atau teungku). Teknik penggunaan rajah dilakukan dengan cara ditiup atau disembur. Alat yang digunakan adalah daun sirih yang dikunyah-kunyah oleh tabib atau ulama yang mengobati. Air daun sirih inilah yang dipakai untuk menyembur orang yang meurampot tersebut (Sufi & Wibowo, 2006:32).

3. Keunong Seureubok

Seureubok merupakan jenis ramuan yang diolah oleh seseorang untuk mendatangkan suatu penyakit kepada seseorang yang diinginkan atau ditujukan, biasanya untuk orang yang tidak disenanginya. Cara ini dilakukan dengan mengambil bagian dari tubuh korban atau hal-hal yang pernah melekat pada badan orang yang menjadi sasaran, misalnya rambut dan pakaian dalam (Alamsyah et.al., 1998/1999:60).

Selanjutnya, benda-benda tersebut dibakar dan mengitikadkan bahwa benda yang dibakar tersebut merupakan perwujudan dari tubuh yang akan menjadi sasaran. Setelah dibakar, abunya dicampurkan ke dalam seureubok (serbuk dapat terbuat dari besi, emas, dan perak).

Orang yang terkena penyakit ini akan mengalami sakit yang berlarut-larut atau dalam bahasa Aceh disebut meurayu-rayu. Biasanya si penderita tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan secara medis. Pengobatan yang lazim digunakan adalah meminta bantuan dari tabib atau orang yang ahli dalam pengobatan penyakit tersebut (Sufi & Wibowo, 2006:31-33).

4. Jipeu-Ulat

Penyakit ini biasanya diderita oleh seorang gadis yang tidak kunjung mendapatkan suami meskipun usianya telah lanjut, dalam bahasa Aceh disebut jipeuteka (suatu upaya untuk menjadikan seseorang sampai usia lanjut [tua] tidak mendapatkan suami, atau tidak ada seseorang yang meminangnya). Penyakit ini juga dianggap disebabkan oleh perbuatan seseorang (jipeukeunong) melalui setan yang “memagari” gadis tersebut yang ditujukan untuk membuat seolah-olah si gadis menjadi sesuatu yang menjijikkan atau jipeu-ulat (dalam pandangan orang yang menaruh hati padanya atau yang akan meminangnya, maka akan terlihat menjijikkan seperti ulat) (Alamsyah et.al., 1998/1999:60-61).

Pengobatan untuk penyakit ini biasanya dilakukan oleh seorang tabib atau dukun yang dalam bahasa Aceh disebut mabh’en atau bidan kampung. Pelaksanaan pengobatan dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui orang lain. Pengobatan dilakukan dengan cara:

  • Bu Leukat Peulemak (nasi ketan yang dilemakkan)
Cara pengobatan dilakukan dengan memasukkan rambut, kuku, sobekan baju dan kain dari si gadis yang bersangkutan serta ditambahuang sekadarnya ke dalam Bu Leukat Peulemak
  • Semua bahan tersebut kemudian dibungkus dalam sebuah saputangan dan di-rajah (dijampi-jampi) kemudian dipeusa dua (mengayun-ayun bungkusan tersebut ke tubuh si gadis dengan menghitung satu sampai tujuh). Bagian ritual ini ditujukan untuk menghilangkan kesialan yang diderita oleh si gadis
  • Bungkusan tersebut kemudian dilemparkan (diletakkan) di persimpangan jalan yang ramai (biasanya di perempatan) pada saat sepi dan si gadis diwajibkan untuk tidak boleh melihat lagi bungkusan tersebut
  • Dengan diambilnya bungkusan tersebut oleh seseorang, maka kesialan yang dialami oleh si gadis yang bersangkutan akan hilang dengan sendirinya (Sufi & Wibowo, 2006:34-35).

5. Reuhat

Reuhat adalah sejenis penyakit kulit yang menimbulkan rasa gatal karena disebabkan oleh makhluk halus (setan). Ciri-cirinya seperti terkena penyakit kurap (ada yang kering dan basah). Penyakit ini disebabkan oleh ramuan yang terdiri dari minyak, bulu ulat, sari buah ijuk (boh janeeng) dan benda-benda gatal lainnya. Semua bahan kemudian diramu sedemikian rupa, kemudian di-peusarat (diitikadkan) seperti daging yang diletakkan di pelepah daun keladi sampai membusuk dan mengeluarkan ulat (Alamsyah et.al., 1998/1999:61).

Pengobatan untuk menyembuhkan penderita reuhat dilakukan dengan meminta bantuan dari tabib atau dukun yang ahli dalam masalah tersebut. Selain dengan meurajah, pengobatan secara tradisional dilakukan melalui ramuan dari berbagai macam akar dan daun, misalnya dengan daun kacang panjang, biji aren yang ditumbuk, upik pisang tua, daun pisang klat, akar kelapa yang masih merah, jagung, asam jeruk, dan belerang. Beberapa bahan tersebut kemudian dijemur atau dipanaskan lalu ditumbuk atau dihaluskan. Selanjutnya dibaca jampi-jampi oleh dukun atau tabib yang ahli, kemudian dioleskan ke tubuh penderita (Sufi & Wibowo, 2006:35-36).     

2. Penyakit yang disebabkan karena penyebab alamiah

1. Kudee (Kudis)

Merupakan jenis penyakit kulit yang dibedakan menjadi dua macam, kudee buta (kudis kering) yang menyerupai teurijo kering dan kudee basah (kudis yang berair). Pengobatan untuk menyembuhkan penyakit ini dilakukan dengan cara:

  • Air garam yang dicampur dengan sirih (anub selasih) kemudian dioleskan ke bagian tubuh yang terkena kudis
  • Belerang yang dicampur dengan minyak kelapa (minyeuk simplah)
  • Gambir yang dihancurkan dan dicampur dengan minyak makan
  • Air pinang muda, daun sirih, kunyit yang digiling, dan minyak makan. Semua bahan dipanaskan dan setelah agak dingin dioleskan pada kulit yang terkena kudis.
  • Tanah cempaga (belerang) yang dicampur dengan minyak rambut perempuan lalu dioleskan (Sufi & Wibowo, 2006:43 dan Alamsyah et.al., 1998/1999:69).  

2. Peulawa Caca atau Poni

Dalam bahasa Indonesia, penyakit ini dikenal dengan nama cacar air. Ciri-ciri penyakit ini, pada badan atau kulit tumbuh bintik-bintik yang berwarna kemerahan yang biasanya disertai dengan rasa gatal. Lama-lama bintik-bintik tersebut akan pecah dan mengeluarkan air. Cara pengobatan untuk penyakit ini antara lain:

  • Bulu ayam putih dijemur 3 hari pada sore hari. Bulu ini kemudian digosokan pada bagian tubuh yang terkena poni setelah di-rajah terlebih dahulu.
  • Akar batang peria (momordica charantia) yang ditumbuk dan airnya diminum.
  • Daun para dipetik dari pohon, selanjutnya dipukulkan ke badan penderita.
  • Pisang ambon yang dicampur dengan sediki tawas dan santan kelapa, kemudian ditumbuk lalu diminum (Sufi & Wibowo, 2006:44 dan Alamsyah et.al., 1998/1999:70).  

3. Teurijo

Teurijo lebih menyerupai borok yang yang ganas dan biasanya mengeluarkan air. Bila teurijo tersebut telah kering maka bentuknya akan menyerupai kurap. Baik teurijo yang kering maupun ketika masih basah sama-sama menimbulkan rasa yang sangat gatal (Alamsyah et.al., 1998/1999:70).

Pengobatan untuk penyakit teurijo dapat dilakukan dengan meramu bahan-bahan yang terdiri dari: jintan putih, lada atau merica sebanyak 10 butir, dan kayu manis. Semua bahan ditumbuk secara halus dan dibubuhkan di tempat yang terkena teurijo (Sufi & Wibowo, 2006:44-45).   

4. Batouk (Batuk)

Batuk merupakan penyakit yang lazim diderita oleh kebanyakan orang. Pengobatan tradisional di kalangan masyarakat Aceh untuk mengobati penyakit batuk dilakukan dengan menggunakan beberapa cara yaitu:

  • Daun urot blang (sejenis rumput sawah) segenggam tangan, ladah (lada) putih sebanyak 7 butir. Kedua bahan ini kemudian ditumbuk, diperas airnya, kemudian diminum
  • Belimbing sayur mentah dikunyah bersama dengan garam, selanjutnya ditelan
  • Daun kembang merak (caesalpinia pulcherrima) diremas, dicampur dengan gula secukupnya, kemudian airnya diminum
  • Tepung merica, air jahe, dan air kunyit diaduk dengan madu lebah dan kuning telur kemudian diminum
  • Air jeruk nipis diberi gula, kemudian diminum
  • Jeruk sayur yang masih muda dicampur dengan gula, kemudian dikunyah lalu ditelan
  • Jahe, bawang merah, dan garam ditumbuk kemudian dimakan
  • Asam kandis dan bawang merah direndam dalam air panas pada sore hari, kemudian diembunkan semalam dan paginya diminum

Untuk mengobati batuk pada anak-anak diperlukan bahan-bahan yang terdiri dari madu 15 cc, air bersih 150 cc, adas pula sari (foeniculum vulgare)10 gram, kulit kayu manis 10 gram, buah pala 5 gram, dan adas manis 2,5 gram. Semua bahan dimasak sampai mendidih, kemudian diminum sehari empat kali dengan takaran satu sendok teh untuk sekali minum.

Bila penyakit batuk telah akut (parah) dan mengarah menjadi penyakit TBC, maka ramuan bahan-bahan untuk pengobatannya terdiri dari: binatang undur-undur tujuh ekor kemudian digoreng, akar tutup bumi ditumbuk dan diremas-remas serta diperas airnya. Semua bahan kemudian dicampur dan airnya diminumkan kepada penderita dua kali sehari (Sufi & Wibowo, 2006:46-48 dan Alamsyah et.al., 1998/1999:71-73).

5. Saket Ulee (Sakit Kepala)

Penyakit ini umumnya disebabkan oleh perubahan cuaca. Cara penyembuhan penyakit ini dilakukan dengan meramu bahan-bahan tradisional antara lain:

  • Gambir sepotong yang dihancurkan dan diberi air sedikit kemudian ditempelkan di dahi
  • Jeruk nipis yang dipotong dan diberi sedikit air kemudian ditempelkan di dahi
  • Kulit kayu manis direndam selama beberapa saat kemudian digiling halus, dicampur dengan buah pala, kemudian ditempelkan di dahi
  • Isi buah pisang Ambon yang masih muda, dikeruk isinya dan ditempelkan di dahi
  • Jeruk purut, daun kedondong pagar, dan air kelapa dilumatkan, kemudian dibubuhkan di kepala (Sufi & Wibowo, 2006:48 dan Alamsyah et.al., 1998/1999:73-74).   

6. Sanak (Asma)

Ciri-ciri penyakit ini adalah sulit bernafas dan kerongkongan terasa sakit. Penyembuhan penyakit ini bisa menggunakan bahan-bahan tradisional yang terdiri dari:

  • Air jeruk purut dan kemenyan putih yang ditumbuk lalu diminum
  • Rumput teki (cyperusina), kacang parang (fava beans), dan kemenyan putih. Semua bahan diaduk lalu diminum (Sufi & Wibowo, 2006:49 dan Alamsyah et.al., 1998/1999:75).

7. Leumik Booh (Lemah Syahwat)

Beberapa cara penyembuhan untuk mengatasi penyakit ini dapat menggunakan ramuan yang terdiri dari bahan-bahan:

  • Telur ayam hitam yang dibuang putih telurnya, madu lebah, minyak sapi, lee buu neuleng (air tajin), jaitan hitam (jintan hitam), dan lobak. Semua bahan, kecuali telur, direbus kemudian airnya diaduk dengan kuning telur dan dimakan setiap pagi. Untuk menunjang kesembuhan, penderita yang menggunakan pengobatan dengan cara ini harus mematuhi pantangannya, yaitu tidak boleh makan pisang dan bahan-bahan yang mempunyai rasa asam. Selain itu, penderita harus selalu makan sup kambing.
  • Air madu, kunyit, bawang merah, dan telur ayam. Semua bahan diaduk kemudian diminum pada pagi hari (Sufi & Wibowo, 2006:52-53 dan Alamsyah et.al., 1998/1999:77).

8. Sakeet Talo Nyawang atau Jitron Kreh (Hernia)

Penderita penyakit ini pada buah zakarnya kelihatan membesar dan mengendur. Pada bagian kemaluannya kelihatan membengkak. Ramuan tradisional untuk menyembuhkan penyakit ini terdiri dari beberapa bahan antara lain:

  • Air jeruk maeunteu (sejenis jeruk manis tetapi mempunyai rasa asam, sering dipakai untuk memasak ikan laut) dan garam secukupnya. Semua bahan dicampur, kemudian dimasukan ke dalam sebuah wadah. Buah zakar yang membengkak kemudian direndam selama beberapa saat ke dalam cairan tersebut
  • Daun geutu (semacam tumbuhan perdu yang berduri), pala, daun dadap, jintan hitam, tembakau Aceh (bakong Aceh), dan air jeruk purut. Semua bahan dicampur dan dibubuhkan pada buah zakar
  • Pala, kulit kayu manis, jintan hitam, kapur barus, peja bu, dan air jeruk purut. Semua bahan digiling, kemudian digoreng dengan ditambahkan daun jarak, kemudian dibubuhkan pada buah zakar (Sufi & Wibowo, 2006:54-55 dan Alamsyah et.al., 1998/1999:78-80).

9. Keunceng Maneh (Kencing Manis)

Pengobatan untuk penyakit ini dapat dilakukan dengan ramuan yang terdiri dari :

  • Kulit buah jengkol direbus kemudian airnya diminum seminggu sekali
  • Buah pinang yang jatuh dari pohonnya karena sudah tua digoreng sampai kering, kemudian ditumbuk halus, selanjutnya dicampur air dan diminum seminggu tiga kali (Sufi & Wibowo, 2006:56 dan Alamsyah et.al., 1998/1999:81).

10. Cireit (Diare)

Ciri-ciri yang dialami penderita penyakit ini adalah perutnya sakit melilit dan sering buang air besar dalam bentuk encer. Pengobatan dilakukan dengan ramuan yang terdiri dari bahan-bahan:

  • Pucuk jambu biji direbus, airnya diminum atau dikunyah mentah-mentah, kemudian airnya ditelan
  • Pisang mentah dimakan
  • Kulit pohon jemblang (dalam bahasa Aceh disebut jambee kleng atau jamblang, jambu keling, atau duwet) direbus kemudian airnya diminum
  • Tepung gambir dicampur dengan air masak nasi (tajin) kemudian diminum (Sufi & Wibowo, 2006:56 dan Alamsyah et.al., 1998/1999:81). 

11. Tesud Leubo (Ambeian)

Penderita penyakit ini merasakan sakit pada bagian pantat (anus), khususnya pada saat buang air besar dan duduk. Pengobatan untuk penyakit ini  dapat dilakukan dengan meramu bahan-bahan yang terdiri dari:

  • Buah kurah ditumbuk sampai lumat, telur ayam merah, dan minyak kelapa. Buah kurah yang telah dilumatkan dicampur dengan kuning telur ayam merah, kemudian diperam dengan minyak kelapa, selanjutnya dibubuhkan pada bagian yang sakit
  • Beras ketan, tunas kunyit, dan daun labu segar. Semua bahan ditumbuk dan dibubuhkan pada bagian yang sakit (Sufi & Wibowo, 2006:62 dan Alamsyah et.al., 1998/1999:87).

12. Meuglang (Penyakit Cacingan)

Penderita penyakit ini mempunyai ciri-ciri yaitu pada perut terlihat kembung, sering merasa lapar, dan badan terasa lemas. Pengobatan untuk penyakit ini dapat dilakukan dengan meramu bahan-bahan yang terdiri dari:

  • Halia (jahe), cakur kering, halba (trigonella foenum-graecum), temulawak, dan daun senamaki (cassia angustifolia). Semua bahan dikeringkan kemudian ditumbuk dan diayak. Tepung hasil ayakan kemudian dilarutkan dengan air panas dan diminum dua kali sehari dengan takaran sekali minum satu sendok teh
  • Petai Cina dimakan sebanyak-banyaknya
  • Daun jangjingki, bawang putih, dan jarangeu. Semua bahan dicampur dan diremas-remas dalam air (sedikit), kemudian diminum (Sufi & Wibowo, 2006:63-64 dan Alamsyah et.al., 1998/1999:88).

13. Saket Jantong (Sakit Jantung)

Penderita penyakit ini merasakan sakit di bagian dada kiri, cepat kaget yang tidak jarang sampai pingsan. Pengobatan dapat dilakukan dengan meramu bahan-bahan seperti daun buem direbus dan airnya diminum setiap pagi (Sufi & Wibowo, 2006:64 dan Alamsyah et.al., 1998/1999:89).              

14. Darah Tinggi

Penderita penyakit ini akan merasakan pusing di kepala, leher bagian belakang akan terasa sakit, serta cepat marah. Pengobatan dapat dilakukan dengan meramu bahan-bahan antara lain:

  • Daun dan buah belimbing sayur direbus kemudian airnya diminum
  • Lobak direbus dan airnya diminum
  • Mentimun Aceh (timun phang) dimakan setiap hari
  • Pepaya muda diparut kemudian dimakan (Sufi & Wibowo, 2006:64-65 dan Alamsyah et.al., 1998/1999:89).            

15. Kurang Darah

Penderita penyakit ini menampakkan ciri-ciri berwajah pucat dan kehilangan nafsu makan. Pengobatan dapat dilakukan dengan meramu bahan-bahan antara lain:

  • Bawang putih  dimasak, susu sapi murni yang telah dimasak, jahe kering tiga ons, cabai, kayu manis yang telah ditumbuk halus, bunga cengkeh, dan buah pala. Semua bahan ditumbuk halus kemudian digulung sebesar buah pala, selanjutnya dimakan satu butir sekali makan pada pagi dan menjelang tidur
  • Jahe, halba, kulit kayu manis, bawang putih, gambir, pala, bunga cengkeh, dan lada putih. Semua bahan ditumbuk halus, diambil ampasnya kemudian diaduk dengan madu dan susu encer, lalu dibentuk bulat-bulat kecil. Dimakan pada malam hari sebelum tidur. Penderita yang meminum obat ini tidak diperbolehkan minum air aren dan air kelapa (Sufi & Wibowo, 2006:65-66 dan Alamsyah et.al., 1998/1999:90).   

16. Luroh Ouk (Rambut Rontok)

Pengobatan dapat dilakukan dengan meramu bahan-bahan yang terdiri dari:

  • Air tembakau diguyurkan ke rambut. Tutup dengan handuk atau kain selama kurang dari lima menit, kemudian dicuci
  • Daun cabai rawit ditumbuk kemudian digosokan ke kepala. Biasanya kepala dicukur gundul terlebih dahulu
  • Kemiri digoreng, ditumbuk halus, dicampur dengan minyak kelapa, kemudian dioleskan ke kepala (Sufi & Wibowo, 2006:69 dan Alamsyah et.al., 1998/1999:92-93). 

17. Usus Buntu

Penderita penyakit ini akan mengalami rasa sakit di perut sebelah kanan. Salah satu cara pengobatan tradisional dilakukan dengan meramu beberapa bahan yang terdiri dari:

  • Pagi hari

Telur merah, pucuk kuda-kuda yang masih merah, dan daun ijo siket. Semua bahan diremas-remas dengan air bersih kemudian diminum

  • Siang hari

Daun delima dan pisang raja yang telah masak diperas kemudian diminum

  • Malam hari

Daun waru, daun kangkung hitam, dan pisang Ambon. Semua bahan diperas kemudian diminum.

Pengobatan tersebut dilakukan selama tiga hari berturut-turut (Sufi & Wibowo, 2006:85-86).

(Tunggul Tauladan/bdy/01/02-2010)

Referensi

  • Rusdi Sufi & Agus Budi Wibowo, 2006. Pengobatan tradisional di Aceh. Banda Aceh: Badan Perpustakaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. 
  • M. Alamsyah et.al., 1998/1999. Pengobatan tradisonal pada masyarakat pedesaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Banda Aceh: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; Direktorat Jenderal Kebudayaan; Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional; Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.

Sumber foto

Dibaca : 24.386 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password