Senin, 27 Februari 2017   |   Tsulasa', 30 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 1.583
Hari ini : 6.263
Kemarin : 70.200
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.812.097
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Umah: Rumah Panggung Tradisional Orang Sakai di Riau


Umah tradisional orang Sakai di Riau

Umah adalah rumah panggung tradisional masyarakat Sakai di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Bangunan rumah ini sangat unik karena dapat berdiri dengan kokoh tanpa menggunakan paku. Seluruh bagian Umah ini terbuat dari bahan-bahan alami yang diperoleh dari alam sekitar. Meskipun bentuk dan ukurannya sangat sederhana, Umah orang Sakai dapat berfungsi serbaguna. Selain sebagai tempat tinggal, Umah merupakan tempat untuk melakukan berbagai kegiatan seperti upacara-upacara adat dan lain sebagainya.

1. Asal-usul

Suku Sakai adalah salah satu komunitas pedalaman di Nusantara yang menempati wilayah Kabupaten Bengkalis, Siak Indrapura, dan Rokan Hilir. Sebelum pemekaran wilayah, ketiga kabupaten tersebut dulunya merupakan satu wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Jumlah terbanyak orang Sakai di daerah tersebut berada di Dusun Paneso, Kelurahan Muara Basung, Kecamatan Mandau. Daerah ini merupakan lokasi permukiman orang Sakai yang tertua (Husni Thamrin, 2003:64). Tak mengerankan jika daerah ini menjadi inti atau sentral dari semua kebudayaan orang Sakai.

Teerdapat cukup banyak versi mengenai riwayat bagaimana orang Sakai dapat sampai ke Mandau dan daerah lainnya di Kabupaten Bengkalis. Ada versi yang mengatakan bahwa orang-orang Wedoid dan Austroloid yang merupakan penduduk asli nusantara terdesak ke daerah-daerah pedalaman dan hutan oleh golongan ras Proto-Melayu (Melayu Tua) yang datang sekitar tahun 2.500-1.500 SM (Sebelum Masehi). Kedatangan golongan ras Deutro-Melayu (Melayu Muda) pada tahun 300 SM menyebabkan golongan ras Proto-Melayu tersisih ke daerah pedalaman. Orang-orang Melayu Tua yang tersisih ini kemudian bertemu dengan orang-orang ras Wedoid dan Austroloid yang telah terlebih dahulu tersingkir ke daerah pedalaman. Ketiga golongan ras tersebut kemudian bercampur-baur dan melakukan kawin campur. Hasil perkawinan campur inilah yang kemudian diyakini sebagai nenek moyang orang-orang Sakai (Parsudi Suparlan, 1995:39-40).

Versi kedua menyebutkan bahwa orang-orang Sakai berasal dari Kerajaan Minangkabau yang berpusat di Pagarruyung. Menurut versi ini, orang-orang Sakai dulunya adalah penduduk Negeri Pagarruyung (yang berjumlah sekitar 190 orang) yang dimigrasikan oleh Raja Pagarruyung ke kawasan rimba belantara di sebelah timur negeri tersebut untuk mencari permukiman baru karena penduduk Negeri Pagarruyung pada waktu itu sudah sangat padat. Setelah menyisir kawasan hutan, rombongan tersebut akhirnya sampai di tepi Sungai Mandau dan mendirikan permukiman baru di daerah tersebut. Keturunan merekalah yang kemudian dianggap sebagai orang-orang Sakai (Suparlan, 1995:73-74). Ada pula versi yang mengatakan bahwa orang-orang Sakai bermigrasi ke pedalaman di daerah Mandau karena mereka tidak mau tunduk kepada kekuasaan kolonial Belanda (Nursyamsiah, et al., 1995/1996:9). Terlepas dari perbedaan alasan kepindahan orang-orang Sakai dari Pagarruyung ke Mandau tersebut, orang-orang Sakai meyakini bahwa leluhur mereka memang berasal dari Negeri Pagarruyung.

Ada sebagian orang Sakai yang memang masih hidup berpindah-pindah, namun mereka tetap memerlukan rumah sebagai tempat tinggal. Mereka umumnya mendiami daerah-daerah hutan di sepanjang aliran sungai dan mendirikan rumah di daerah tersebut. Rumah, menurut dialek orang Sakai, disebut dengan Umah. Umah atau rumah orang Sakai berbentuk empat persegi panjang dan bertipe rumah panggung. Umah ini dibangun di atas tiang-tiang setinggi 130-180 cm dari permukaan tanah dan diameter tiangnya sekitar 10-15 cm (Suparlan, 1995:118). Secara fungsional, bangunan Umah orang Sakai dibuat dengan tipologi rumah panggung dengan tujuan untuk menghindari gangguan binatang-binatang buas seperti gajah, harimau, ular, dan beruang yang banyak berkeliaran di hutan (Thamrin, 2003: 69-71). Menurut Nursyamsiah et al., bagi orang Sakai, Umah bukan sekedar tempat yang aman dan menyenangkan, akan tetapi juga merupakan tempat untuk melakukan berbagai macam kegiatan seperti upacara ritual dan upacara-upacara lingkaran hidup (Nursyamsiah, et al., 1995/1996:26-27).

Umah tradisional orang Sakai cukup unik karena dapat berdiri dengan kokoh tanpa menggunakan paku. Semua hubungan atau sambungan di antara bahan-bahan bangunan rumah hanya diikat dengan tali yang terbuat dari rotan. Keunikan lainnya adalah sebagian komponen rumah seperti tiang, gelegar, rasuk, bendul, dan sebagainya terbuat dari kayu utuh atau kayu gelondongan. Menurut mereka, penggunaan kayu gelondongan sebagai bahan bangunan dapat memberikan kesejukan bagi penghuninya (Nursyamsiah, et al., 1995/1996:19).

Umah orang Sakai tergolong cukup sederhana, baik dari ukuran maupun cara pembuatannya. Ukuran luas Umah orang Sakai rata-rata 4 x 6 meter persegi dan hanya mempunyai satu ruangan yang memiliki fungsi serbaguna. Lantai dan dinding Umah ini terbuat dari kulit kayu sedangkan atapnya terbuat dari jalinan daun kapau, rumbia, atau alang-alang. Umah orang Sakai tidak berjendela dan hanya mempunyai satu tangga yang dapat berfungsi sebagai senjata. Semua bahan tersebut dapat diperoleh dengan mudah karena banyak tumbuh di sekitar hutan Bengkalis.

2. Bahan-bahan, Peralatan, dan Pelaksana

Bahan, peralatan, dan pelaksana merupakan tiga hal yang mutlak diperlukan dalam mendirikan Umah orang Sakai. Jika salah satu dari ketiga hal tersebut tidak terpenuhi, maka pendirian sebuah Umah tidak akan terlaksana.

a. Bahan-bahan

Orang Sakai di Riau senantiasa hidup berdampingan dan menjaga keserasian dengan alam dalam berbagai hal, termasuk mendirikan Umah. Oleh karena itu, ketika mereka mendirikan rumah, mereka berusaha mengambil bahan-bahan dari alam sekitar. Menurut Nursyamsiah, et al., (1995/1996:17-18), bahan-bahan yang diperlukan untuk mendirikan Umah orang Sakai adalah sebagai berikut.

1). Kayu bulat, yaitu kayu gelondongan atau batang kayu dari jenis kayu meranti (shoren spp.) yang masih utuh. Sesuai dengan fungsinya, kayu bulat dibagi menjadi tiga jenis ukuran yaitu ukuran besar, sedang, dan kecil.

a). Kayu bulat berukuran besar, yaitu kayu yang memiliki diameter sekitar 15 cm. Kayu dengan ukuran ini digunakan untuk membuat komponen-komponen rumah yang memerlukan bahan-bahan yang kokoh seperti tiang, tangga, rasuk, dan bendul.
b). Kayu bulat berukuran sedang, yaitu kayu yang berdiameter sekitar 7-10 cm. Kayu dengan ukuran ini digunakan untuk membuat gelegar, jenang, anak tangga, tulang bubung, dan kasau.
c). Kayu bulat yang berukuran kecil biasanya digunakan untuk membuat pintu dan sento (kerangka dinding).

2). Rotan, berfungsi sebagai pengikat dan penganyam atap atau daun pintu.
3). Kulit kayu meranti, digunakan untuk membuat dinding dan lantai. rumah.
4). Daun kapau, rumbia, atau alang-alang, digunakan untuk membuat atap rumah.

b. Peralatan

Peralatan yang biasa digunakan oleh orang Sakai dalam mendirikan rumah adalah sebagai berikut.

  1. Beliung, yaitu sejenis kapak dengan mata melintang (tidak searah dengan tangkainya). Alat ini berfungsi untuk menebang kayu yang berukuran besar dan untuk membuka kulit kayu.
  2. Parang, yaitu berfungsi untuk memotong kayu yang berukuran kecil, membelah rotan, dan untuk mengambil daun kopau (Nursyamsiah, et al., 1995/1996:19).

c. Pelaksana

Orang Sakai umumnya memiliki pengetahuan dan keahlian mendirikan Umah yang diwarisi dari nenek moyang. Meski demikian, orang Sakai tetap memerlukan keterlibatan orang lain, khususnya orang yang lebih mengerti seluk beluk adat-istiadat mendirikan rumah. Hal ini diperlukan karena pertimbangan keselamatan, yaitu agar mereka terhindar dari malapetaka. Adapun orang-orang luar yang biasa terlibat dalam kegiatan mendirikan Umah orang Sakai adalah sebagai berikut.

  1. Bomo, yaitu orang yang dianggap memiliki pengetahuan tentang jenis dan tipe-tipe kayu yang cocok digunakan sebagai bahan bangunan, mengerti waktu dan tempat yang baik untuk mendirikan bangunan, dan memiliki kemampuan untuk mengusir makhluk-makhluk halus atau roh-roh jahat. Dalam masyarakat Sakai, orang yang bertindak sebagai Bomo biasanya Batin (Kepala Adat/Kampung) karena dia telah memiliki peranan penting dalam berbagai tradisi yang berhubungan dengan alam dan makhluk halus (UU Hamidy, 1991:90).
  2. Masyarakat umum, yaitu masyarakat sekitar yang terdiri dari keluarga dekat dan para tetangga yang berbertindak sebagai pembantu umum. Tenaga pembantu umum tersebut sangat diperlukan untuk kerja gotong-royong seperti menebang kayu di hutan dan mendirikan Umah.

3. Pelaksanaan Pembangunan Umah Orang Sakai

Sebagai halnya pembangunan rumah pada umumnya, Umah orang Sakai dibangun dengan melalui tahap-tahap tertentu, seperti tahap persiapan, pengadaan bahan, pembuatan, dan tahap pendirian Umah.

a. Tahap Persiapan

Langkah pertama dalam tahap persiapan adalah musyawarah keluarga. Dalam musyawarah ini dibicarakan segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan rumah seperti bagaimana memilih lokasi dan letak rumah, memilih bahan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, pihak keluarga yang akan mendirikan rumah harus menghadirkan Batin (Kepala Adat/Kampung) selaku Bomo dalam musyawarah tersebut karena dialah yang dianggap lebih mengetahui lokasi dan letak rumah yang cocok dan bahan-bahan bangunan yang baik.

Lokasi dan letak Umah dalan kepercayaan orang Sakai sangat menentukan kesejahteraan bagi penghuninya. Oleh karena itu, mereka senantiasa mempertimbangkan hal-hal tersebut ketika hendak mendirikan Umah. Sedikitnya ada dua hal penting yang menjadi pertimbangan orang Sakai dalam memilih lokasi Umah yaitu faktor kenyamanan serta faktor keamanan dan kesejahteraan.

1. Faktor kenyamanan

Orang Sakai sejak dulu memiliki kebiasan hidup bebas. Oleh karena itu, mereka lebih senang memilih lokasi Umah di hutan yang jauh dari kebisingan aktivitas manusia sehingga dapat terhindar dari segala macam peraturan yang biasanya dibuat untuk mengikat manusia (Nursyamsiah, et al., 1995/1996:16). Hutan yang dipilih sebagai lokasi rumah biasanya hutan yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar karena dianggap lebih mudah ditebang dan dibersihkan.

Orang Sakai juga senantiasa memilih lokasi yang dekat dengan penghidupan. Maka sebab itulah, terkadang mereka mendirikan rumah di tengah-tengah ladang, yaitu di tempat yang lebih tinggi dari bagian-bagian lain dari ladang tersebut. Yang lebih penting lagi adalah bahwa lokasi rumah harus berada di dekat mata air atau aliran sungai (Suparlan, 1995:118). 

2. Faktor keamanan dan kesejahteraan

Faktor keamanan dan kesejahteraan adalah aman dari gangguan makhluk-makhluk halus. Orang Sakai percaya bahwa setiap tempat dihuni oleh makhluk-makhluk halus. Oleh karena itu, keluarga yang akan mendirikan Umah terlebih dahulu meminta izin atau mengusir makhluk-makhluk halus tersebut agar terhindar dari gangguan mereka. Di sinilah peran seorang Bomo sangat diperlukan karena dialah yang memiliki kemampuan mengusir makhluk-makhluk halus tersebut.

Setelah lokasi Umah ditemukan dan cocok untuk tempat tinggal, maka pembersihan lokasi pun segera dilaksanakan. Pembersihan yang dimaksud adalah pembersihan lokasi secara fisik (seperti menebang pohon dan semak-belukar) dan pembersihan dari makhluk-makhluk halus yang menghuni tempat tersebut. Setelah pembersihan secara fisik dilakukan, maka Batin atau Bomo segera melakukan beberapa ritual dan membaca mantra-mantra pengusir roh-roh halus. Dalam melakukan ritual, seorang Bomo biasanya memerlukan peralatan dan bahan-bahan untuk sesaji. Peralatan yang diperlukan adalah beberapa batang bambu yang telah dipotong-potong pendek, lalu ditanam pada empat penjuru tanah atau lokasi Umah untuk mematikan tanah dari gangguan makhluk halus. Sementara itu, bahan-bahan sesaji yang diperlukan di antaranya adalah telur ayam kampung, pisang, gaharu, beras kunyit, dan kemenyan. Kemenyan tersebut dibakar di atas tanah lokasi Umah, lalu bahan-bahan sesaji yang lain diletakkan di dekat kemenyan tersebut selama satu malam untuk dipersembahkan kepada makhluk-makhluk halus (Nursyamsiah, et al., 1995/1996:16-17).

b. Tahap Pengadaan Bahan

Pengadaan bahan-bahan bangunan segera dimulai setelah tahap persiapan selesai. Pengambilan bahan-bahan bangunan di hutan biasanya dilakukan secara bergotong-royong yang dipimpin oleh seorang Bomo. Dalam memilih kayu di hutan untuk bahan bangunan, orang Sakai tidak akan mengambil kayu yang sudah mati atau pun kayu yang rebah karena menurut mereka kayu tersebut dapat menyebabkan si penghuni Umah tidak betah tinggal di dalamnya. Selain itu, kayu mati yang dijadikan sebagai bahan bangunan dipercaya dapat mendatangkan penyakit dan menyebabkan kematian bagi penguninya. Jika terlanjur memakai kayu mati atau kayu rebah sebagai bahan bangunan, maka si penghuni Umah harus segera meninggalkan atau membongkar Umah tersebut dan kemudian mendirikan Umah yang baru di tempat lain (Nursyamsiah, et al., 1995/1996:18).

Orang Sakai memilih kayu untuk tiang biasanya dari kayu bulat atau kayu gelondongan. Penggunaan kayu bulat sebagai tiang Umah dilakukan karena menurut mereka cara pengolahannya lebih praktis dan tidak menyulitkan. Di samping itu, mereka juga percaya bahwa kayu yang masih utuh dengan kulit-kulitnya akan memberikan rasa kesejukan bagi penghuninya (Nursyamsiah, et al., 1995/1996:19). Meskipun ada sebagian orang Sakai yang menggunakan kayu tanpa kulit sebagai tiang Umah, namun hal itu jarang terjadi.

Bahan-bahan bangunan lainnya seperti rotan sebagai pengikat serta daun kapau dan daun rumbia sebagai atap dapat diperoleh dengan mudah oleh orang Sakai karena pohon kapau, tanaman rumbia, dan alang-alang banyak tumbuh di sekitar ladang mereka (Suparlan, 1995:119).

c. Tahap Pembuatan

Bahan-bahan yang telah diambil di hutan dikumpulkan pada suatu tempat, yaitu biasanya diletakkan pada tempat yang berdekatan dengan lokasi Umah yang akan dibangun. Sebelum bagian-bagian Umah dibuat, bahan-bahan dari kayu terlebih dahulu dipisah-pisahkan ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan fungsinya.

Sebagai rumah bertipologi panggung, Umah orang Sakai dapat digolongkan menjadi tiga bagian yaitu bagian bawah, bagian tengah, dan bagian atas. Bagian bawah meliputi tiang, rasuk, bendul, lantai, dan tangga; bagian tengah meliputi gelegar, dinding, pintu, jenang, dan sento; sedangkan bagian atas meliputi kasau, tulang bubung, para-para (loteng) dan atap. Setiap bagian memiliki fungsi dan cara pembuatannya masing-masing. Berikut fungsi dan cara pembuatan bagian-bagian Umah orang Sakai.

1. Tiang

Tiang adalah bagian bawah rumah yang berfungsi sebagai tongkat untuk menahan beban bagian-bagian rumah yang lain. Tiang ini sangat menentukan kekokohan sebuah bangunan rumah. Oleh karena itu, bahan-bahan yang digunakan untuk membuat tiang harus dari jenis-jenis kayu yang keras seperti kayu meranti. Kayu-kayu tersebut kemudian dipotong-potong serta bagian-bagian yang membonggol ditarah dengan menggunakan beliung. Besar kecilnya ukuran tiang yang dibutuhkan tergantung pada ukuran rumah yang akan dibangun. Namun, rata-rata diameter setiap tiang sekitar 10-15 cm dengan panjang lebih kurang 1,5 meter.


Tiang dan rasuk Umah orang Sakai

2. Rasuk

Rasuk adalah balok palang yang dipasang di antara tiang-tiang Umah. Bagian ini berfungsi sebagai penguat antara tiang yang satu dengan tiang yang lain, dan juga sebagai penahan atau penopang lantai. Besar kecilnya rasuk yang digunakan disesuaikan dengan besar tiang. Cara membuat rasuk sama seperti membuat tiang, yaitu bagian-bagian rasuk yang membonggol ditarah dengan menggunakan beliung.

3. Bendul

Bendul adalah kayu bulat yang dipasang melintang pada tiang-tiang Umah. Balok ini berfungsi sebagai penopang lantai dan pembatas ruangan. Ukuran dan cara membuat bendul sama dengan ukuran dan cara membuat rasuk.

4. Lantai

Lantai adalah bagian bawah atau alas (dasar) suatu ruangan atau bangunan yang berfungsi sebagai tempat melakukan segala kegiatan di dalam Umah. Lantai Umah orang Sakai terbuat dari kulit kayu meranti. Kulit kayu yang baik untuk dijadikan lantai adalah kulit kayu yang berwarna abu-abu kecoklatan karena tidak perlu sering dibersihkan. Namun, di atas lantai tersebut biasanya dibentangkan tikar yang terbuat dari anyaman pandan jika ada tamu yang datang berkunjung. Cara pembuatan lantai Umah orang Sakai cukup sederhana yaitu kulit kayu meranti dibelah-belah dan dipotong-potong sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan lalu diraut dengan parang. 


Lantai Umah orang Sakai

5. Tangga

Tangga adalah bagian bawah Umah yang berfungsi sebagai jalan untuk naik atau masuk ke dalam rumah. Rumah tradisional orang Sakai umumnya hanya memiliki satu buah tangga yang dilettakkan pada bagian depan rumah. Tangga tersebut terbuat dari dua batang kayu bulat yang berukuran besar sebagai induk tangga sedangkan anak tangga terbuat dari kayu bulat yang berukuran sedang.


Tangga Umah orang Sakai

Cara pembuatannya cukup sederhana yaitu kedua ujung setiap anak tangga diikatkan pada sisi kiri dan kanan induk tangga dengan menggunakan tali rotan. Tangga Umah orang Sakai tidak dibuat secara permanen sehingga dapat dinaik-turunkan oleh si pemilik Umah. Tangga tersebut biasanya dinaikkan atau dimasukkan ke dalam Umah pada malam hari atau pada waktu suami si pemilik Umah sedang tidak ada rumah (Suparlan, 1995:119). Jadi, keberadaan tangga pada Umah orang Sakai tidak saja berfungsi sebagai jalan untuk naik ke Umah, tetapi juga merupakan simbol etika dan kesopanan. Jika tamu laki-laki yang datang berkunjung melihat tangga Umah tersebut tidak terpasang, maka pantang baginya untuk meminta izin masuk ke dalam Umah.

6. Gelegar

Gelegar adalah kayu bulat yang diletakkan di atas rasuk yang berfungsi sebagai penyangga papan lantai. Gelegar terbuat dari kayu bulat yang berukuran sedang dan cara pembuatannya sama seperti membuat rasuk.

7. Dinding

Dinding adalah bagian tengah rumah yang berfungsi sebagai penutup semua kerangka bagian tengah bangunan (badan) rumah. Dinding Umah orang Sakai biasanya terbuat dari kulit kayu meranti yang dipasang tegak lurus, yang panjangnya disesuaikan dengan badan Umah. Tebal kulit kayu untuk dinding sekitar 1,5 cm sedangkan lebarnya disesuaikan dengan kondisi Umah. Cabang-cabang kayu yang menempel pada kulit kayu biasanya tidak dihilangkan, melainkan dibentuk sedemikian rupa untuk dijadikan sebagai gantungan pakaian atau barang-barang lain di sepanjang dinding rumah (Suparlan, 1995:120).


Dinding Umah orang Sakai

Umah orang Sakai tidak memiliki satu pun jendela. Namun, di antara potongan-potongan kulit kayu yang disusun untuk dinding diberi lubang-lubang kecil atau celah-celah agar angin dapat masuk ke dalam Umah sehingga dapat berfungsi sebagai ventilasi. Lubang-lubang kecil tersebut juga berfungsi untuk mengintai ke luar rumah kalau-kalau ada orang yang datang (Suparlan, 1995:119).

8. Jenang

Jenang adalah tiang yang berfungsi untuk memperkuat dinding atau pintu dan sebagai tempat meletakkan sento. Jenang terbuat dari kayu bulat yang berdiameter 7-10 cm. Cara membuatnya cukup sederhana, yaitu kayu bulat tersebut dipotong-potong menurut ukuran yang telah ditentukan.


Jenang dan sento Umah orang Sakai

9. Sento

Sento adalah kayu yang menghubungkan antara jenang dengan jenang dan berfungsi sebagai kerangka dinding atau pintu. Sento terbuat dari kulit kayu bulat dengan ukuran sebesar jari telunjuk orang dewasa. Kedua ujung sento tersebut disambungkan ke jenang dan diikat dengan tali rotan. Cara membuat sento sama seperti membuat jenang.

10. Pintu

Pintu adalah tempat atau jalan untuk masuk dan keluar Umah. Pintu juga berfungsi untuk menjaga si penghuni agar terhindar dari gangguan yang datang dari luar. Pintu Umah orang Sakai hanya satu buah yang terbuat dari kayu-kayu bulat kecil. Cara membuatnya yaitu kayu-kayu kecil tersebut dikuliti dan bagian ujung-ujungnya dibuat agak runcing sehingga dapat dijadikan sebagai senjata jika sewaktu-waktu ada musuh yang datang secara tidak terduga. Setelah itu, kayu-kayu yang telah diruncingkan tersebut disusun di atas tanah dan kemudian dijalin dengan rotan (Nursyamsiah, et al.,1995/1996:20).


Pintu Umah orang Sakai

Salah satu keunikan pintu Umah orang Sakai adalah tidak menggunakan engsel dan gerendel sehingga dapat diangkat. Pintu tersebut ditutup dari dalam dengan menggunakan palang kayu (Suparlan, 1995:119).

11. Kasau

Kasau adalah kayu yang dipasang melintang yang merupakan tulang rusuk pada bagian atap rumah. Kasau rumah orang Sakai terdiri dari dua macam yaitu kasau besar (jantan) dan kasau kecil (betina). Kasau jantan berfungsi sebagai kuda-kuda sedangkan kasau betina berfungsi sebagai tempat melekatkan atap (Nursyamsiah, et al., 1995/1996:20).

Cara membuat kasau yaitu kayu bulat yang berukuran dari besar tiang diukur lalu dipotong sesuai dengan keperluan. Sementara itu, bekas-bekas dahan atau mata kayu yang masih menempel pada batang kayu ditarah dengan menggunakan beliung (Nursyamsiah, et al.,1995/1996:20).


Kasau dan tulang bubung Umah orang Sakai

12. Tulang bubung

Tulang bubung adalah kayu bulat yang dipasang memanjang pada puncak pertemuan atap Umah. Tulang bubung berfungsi sebagai tempat peletakan atau penyangga ujung paling atas kasau. Cara membuat tulang bubung sama seperti membuat kasau.

13. Para-para (loteng)

Para-para atau loteng adalah bagian rumah berada di langit-langit Umah yang berfungsi sebagai tempat menyimpan persediaan makanan seperti beras, padi, dan menggalo mersik, dan benda-benda berharga lainnya seperti pakaian bagus dan senjata-senjata berburu. Lantai loteng terbuat dari batang kayu berukuran kecil yang disusun sedemikian rupa sehingga loteng tersebut menjadi lantai kedua di dalam Umah tersebut (Suparlan, 1995:120).

14. Atap

Atap adalah penutup rumah pada bagian sebelah atas yang berfungsi sebagai pelindung dari terik matahari dan air hujan agar tidak masuk ke dalam rumah. Atap rumah orang Sakai pada umumnya terbuat dari jalinan daun kapau, rumbia, dan alang-alang (Suparlan, 1995:120). Cara membuatnya adalah daun kapau, rumbia, dan alang-alang tersebut dilekatkan pada sebatang kayu bulat kecil lalu disusun secara berbanjar dan saling tumpang-tindih, dan kemudian dianyam dengan rotan. 

d. Tahap Pendirian Umah

Tahap selanjutnya adalah mendirikan atau membangun rumah. Pembangunan rumah orang Sakai biasanya dilakukan secara bergotong-royong. Tidak mengherankan jika pembangunan rumah tersebut dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif cepat. Tahap-tahap mendirikan Umah orang Sakai adalah sebagai berikut.

1. Memancak tiang (Menegakkan Tiang)

Terlebih dahulu diadakan sebuah upacara yang dipimpin oleh Bomo dengan memberi sesaji di atas tanah perumahan sebelum penegakan tiang dimulai. Setelah upacara selesai, penegakan tiang-tiang dapat dilakukan. Tiang yang pertama-tama didirikan adalah tiang-tiang induk, terutama tiang yang berada di keempat sudut Umah. Setelah itu, tiang-tiang pembantu yang terdiri dari dua batang dipasang di antara tiang-tiang induk. Kedua tiang pembantu tersebut berfungsi sebagai tiang penyangga pembantu agar kedudukan rasuk menjadi lebih kuat. Setelah seluruh tiang berdiri tegak, rasuk yang berjumlah tiga buah dipasang pada cabang kayu yang terdapat pada setiap ujung atas tiang induk. Agar tidak bergerak-gerak, maka rasuk tersebut diikat dengan tali rotan. Di atas rasuk tersebut kemudian dipasang gelegar dan bendul.

2. Mengatok (Memasang Atap)

Lantai rumah biasanya dipasang setelah pemasangan atap. Hal ini dilakukan karena atap tersebut akan menjadi pelindung bagi si pembuat rumah dari terik matahari dan air turun (jika terjadi hujan) pada saat memasang lantai. Sebelum pemasangan atap dimulai, bagian-bagian atas Umah yang lain seperti kasau dan tulung bubung dipasang terlebih dahulu. Bagian atas Umah yang mula-mula dipasang adalah tulang bubung, kemudian kasau jantan dan kasau betina. Setelah itu, pemasangan atap dimulai dari bagian bawah ke bagian atas. Atap yang terbuat dari kapau atau rumbia tersebut disusun berjajar di atas rasuk lalu dijalin dan kemudian diikatkan pada kasau betina dengan tali rotan. Setelah semua atap terpasang, maka tahap selanjutnya adalah memasang perabung. Perabung tersebut diletakkan sejajar dengan tulang bubung dan diikat dengan tali rotan.

3. Mamasang Lantai

Tahap selanjutnya adalah memasang lantai. Lantai Umah yang terbuat dari kulit kayu dibentangkan di atas gelegar, lalu disusun dan dijalin dengan dengan rotan. Oleh karena sisi-sisi (kiri dan kanan) kulit kayu tersebut tidak merata, maka susunan lantai akan terlihat renggang atau bercelah-celah. Meski demikian, celah-celah tersebut justru dapat berfungsi sebagai ventilasi karena angin dapat masuk ke dalam Umah melalui celah-celah lantai tersebut. Kayu yang paling bagus untuk dijadikan sebagai bahan lantai adalah kayu meranti.

4. Mendinding (Memasang Dinding)

Pemasangan dinding pada Umah orang Sakai biasanya dilakukan setelah bagian atas dan bagian bawah Umah selesai dipasang. Telah disebutkan sebelumnya bahwa dinding Umah orang Sakai terdiri dari tiga komponen yaitu jenang, sento, dan kulit kayu. Jenang dan sento merupakan rangka dinding, sedangkan kayu kulit berfungsi sebagai penutup. Pemasangan dinding dimulai dari jenang, yakni jenang tersebut dipasang tegak lurus pada  tiang-tiang dengan diikat tali rotan. Sento kemudian dipasang melintang dari satu jenang ke jenang yang lain dengan cara diikatkan pada setiap ujung jenang. Setelah itu, kulit kayu dipasang secara berbanjar pada sento lalu diikat dengan rotan. Agar tampak lebih rapi dan tidak bergelombang, maka bagian dalam dan luar dinding tersebut diapit dengan kayu (Nursyamsiah, et al.,1995/1996:23-25).

4. Fungsi Rumah

Orang Sakai dikenal sebagai masyarakat nomaden atau berpindah-pindah. Meski demikian, mereka juga memerlukan sebuah Umah sebagai tempat berlindung sementara. Umah bagi orang Sakai bukan sekedar berfungsi sebagai tempat untuk perlindungan dari gangguan binatang buas dan gangguan-gangguan alam seperti panas, dingin, hujan, dan angin, tetapi juga berfungsi sebagai tempat untuk melakukan berbagai macam kegiatan. Meskipun tergolong sederhana dan hanya terdapat satu ruangan, Umah orang Sakai memiliki fungsi serbaguna. Fungsi-fungsi tersebut adalah sebagai berikut.

a. Tempat Tinggal Keluarga

Orang Sakai berkeyakinan bahwa meskipun kehidupan mereka lebih banyak dihabiskan di hutan belantara atau di ladang, mereka juga ingin membentuk suatu keluarga bahagia. Untuk itu, mereka memerlukan sebuah Umah sebagai tempat tinggal yang layak untuk berbagi suka dan duka bersama keluaga tanpa gangguan dari orang lain. Sebuah Umah biasanya ditempati oleh sebuah keluarga kecil yang terdiri dari sepasang suami-istri dan anak-anak yang belum menikah. Rumah tersebut terkadang menjadi tempat hidup dan mati sebuah sekelurga selama keluarga tersebut belum pindah dan mendidikan rumah di tempat lain (Nursyamsiah, et al.,1995/1996: 27). 

b. Tempat Upacara Adat

Masyarakat Sakai mengenal adanya beberapa tahap penting dalam menjalani kehidupan yaitu tahap, kehamilan, kelahiran, perkawinan, kawin lari, perceraian, dan kematian Ketiga tahap tersebut merupakan puncak peristiwa kejadian dan nasib manusia serta dianggap sebagai tahap yang paling berbahaya dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, orang Sakai senantiasa melakukan sejumlah upacara adat dengan tujuan agar orang yang menjalani peristiwa-peristiwa penting dan berbahaya tersebut terhindar dari segala malapetaka dan memperoleh segala yang diinginkan serta dapat hidup makmur (Suparlan, 1995:172).

Selain upacara ketiga tahap tersebut, orang Sakai juga melakukan upacara ritual berupa persembahan sesajian kepala arwah leluhur dan dewa-dewa yang diletakkan di tempat tertentu, yaitu biasanya di tengah Umah (Nursyamsiah, et al.,1995/1996:29). Semua peristiwa-perisitwa penting yang menyangkut kehidupan orang Sakai baik secara individual maupun kolektif tersebut berlaku dalam kehidupan keluarga. Oleh karena itu, upacara-upacara yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa tersebut biasanya dilakukan di dalam Umah.

c. Tempat Penyimpanan Logistik

Umah orang Sakai hanya mempunyai satu ruangan yang serbaguna. Orang Sakai tidak memiliki tempat khusus untuk menyimpan barang-barang berharga, bahan makanan, dan peralatan lainnya. Bahan-bahan makanan seperti manggolo mosik (manggolo kering), ikan salai, ikan basah, dan air biasanya diletakkan pada bagian-bagian tertentu di dalam Umah. Manggolo mosik (manggolo kering) terlebih dahulu dimasukkan di dalam goni plastik lalu diletakkan di sudut Umah. Ikan salai dan ikan basah biasanya digantung di atas dapur sedangkan tempat air minum digantung di dinding Umah. Ubi manggolo yang merupakan bahan baku manggolo kering hanya diletakkan di tanah atau di bawah kolong Umah. Ubi manggolo tersebut tidak akan dimakan babi yang banyak berkeliaran di sekitar Umah mereka karena mengandung racun. Sementara itu, barang-barang berharga seperti pakaian dan peralatan berburu seperti tombak, beliung, dan tempuling biasanya diletakkan di loteng (Nursyamsiah, et al.,1995/1996:35).

d. Tempat Kegiatan Sosial

Umah orang Sakai juga berfungsi sebagai tempat untuk melakukan musyawarah masyarakat seperti musyawarah untuk membuka perkampungan baru. Musyawarah ini biasanya dilakukan di rumah Batin. Selain itu, Umah orang Sakai juga digunakan sebagai tempat melakukan kegiatan gotong-royong seperti upacara pernikahan dan kematian (Nursyamsiah, et al.,1995/1996:35). Meskipun dilaksanakan secara sederhana, upacara pernikahan dan kematian tersebut dilakukan oleh si empunya acara bersama masyarakat lainnya secara bergotong-royong di dalam Umah.

5. Nilai-nilai

Umah orang Sakai tidak semata-mata sebagai tempat untuk perlindungan dari gangguan binatang buas dan gangguan-gangguan alam seperti panas, dingin, hujan, dan angin, tetapi ia merupakan dari kemampuan orang Sakai menyatu dengan alam, membina kesatuan hidup keluarga, dan mengekspresikan nilai-nilai sosial, ekonomi, etika, dan keamanan.

a. Nilai Kedekatan dengan Alam

Nilai kesatuan dengan alam yang tercermin dalam Umah orang Sakai yaitu terlihat pada bahan-bahan bangunan yang digunakan. Umah orang Sakai dibangun tampa menggunakan paku. Semua bahan-bahan yang digunakan terbuat bahan-bahan alami yang diperoleh dari sekitar alam sekitar. Nilai kesatuan dengan alam tersebut jelas sekali terlihat pada kepercayaan orang Sakai yang menyatakan bahwa penggunaan kayu-kayu gelondongan sebagai tiang, tulang bubung, gelegar, jenang, bendul, dan sebagainya dan memberikan rasa kesejukan bagi penghuninya.

b. Nilai Kesatuan Hidup Keluarga

Orang Sakai tergolong sebagai masyarakat nomaden (berpindah-pindah), namun Umah bagi mereka tetap diperlukan sebagai tempat untuk melakukan hubungan-hubungan dan membina keluarga yang harmonis. Umah tersebut tempat mereka bersenda-gurau, berbagi suka dan duka bersama keluarga tanpa gangguan dari orang lain.

c. Nilai Sosial

Nilai sosial pada Umah orang Sakai terlihat pada proses pembangunannya. Meskipun hanya ditempati oleh sebuah keluarga, Umah orang Sakai dibangun secara bergotong-royong dengan masyarakat sekitar. Selain itu, Umah orang Sakai dijadikan sebagai pusat melakukan upacara-upacara ritual dan lingkaran hidup seperti kelahiran, khitanan, perkawinan, perceraian, dan kematian. Pelaksanaan upacara-upacara tersebut dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat.

d. Nilai Ekonomi

Nilai ekonomi Umah orang Sakai terlihat pada bahan-bahan bangunan yang digunakan. Dapat dikatakan bahwa semua bahan-bahan bangunan tersebut diperoleh secara cuma-cuma alias gratis. Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar karena bahan-bahan bangunan tersebut diambil dari alam sekitar. Selain itu, Umah orang Sakai dibangun secara bersama-sama sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya operasional, terutama untuk biaya tukang.

e. Nilai Etika Kesopanan

Nilai Etika kesopanan pada Umah orang Sakai tercermin pada tangga yang digunakan. Tangga Umah orang Sakai tidak dibuat secara permanen sehingga dapat diangkat atau dilepas pada saat-saat tertentu. Tangga tersebut biasanya dinaikkan atau dimasukkan ke dalam Umah pada saat suami si penghuni Umah sedang tidak berada di Umah. Tamu laki-laki yang datang berkunjung ke Umah tersebut pantang baginya untuk meminta izin masuk ke dalamnya. Jadi, tangga pada Umah orang Sakai tidak saja berfungsi sebagai jalan untuk naik atau masuk ke dalam Umah, tetapi juga merupakan simbol etika kesopanan.

3. Penutup

Orang Sakai adalah salah satu dari sekian banyak suku atau penduduk asli Nusantara yang masih teguh melestarikan nilai-nilai tradisi nenek moyang. Keberadaan Umah tradisional menjadi salah satu wujud bukti pelestarian tersebut. Melalui bangunan Umah tersebut orang-orang Sakai mampu mengekspresikan nilai-nilai tradisi, adat-istiadat, dan budaya yang mereka yakini dan percayai secara turun-temurun. Maka, dengan mengenal dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam bangunan Umah tersebut kita akan dapat memahami dan mengerti tradisi dan budaya orang-orang Sakai.

(Samsuni/bdy/06/04-10)

Sumber foto: Nursyamsiah, et al., 1995/1996. Fungsi rumah bagi suku Sakai. Pekanbaru: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Kebudayaan Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Provinsi Riau.

Referensi

  • Husni Thamrin. 2003. Sakai: kekuasaan, pembangunan, dan marjinalisasi. Pekanbaru: Gagasan Press.
  • Nursyamsiah, et al., 1995/1996. Fungsi rumah bagi suku Sakai. Pekanbaru: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Kebudayaan Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Provinsi Riau.
  • Parsudi Suparlan. 1995. Orang-orang Sakai di Riau: masyarakat terasing dalam masyarakat Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • UU Hamidy. 1991. Masyarakat terasing daerah Riau di Gerbang Abad XXI. Pekanbaru: Zamrad.
Dibaca : 17.683 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password