Sabtu, 25 Maret 2017   |   Ahad, 26 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 9.716
Hari ini : 74.624
Kemarin : 72.414
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 101.990.706
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Waktu dalam Pengetahuan Ureung Aceh, Nanggroe Aceh Darrusalam



Suku Aceh atau yang biasa menyebut dirinya dengan Ureung Aceh, memang tidak memiliki definisi yang pasti mengenai waktu. Akan tetapi, dalam hal-hal tertentu pada kehidupan mereka, seperti saat mencari jodoh, mencari pekerjaan, dan menanam padi di sawah, mereka merencanakan waktunya dengan tepat, karena hal itu akan berpengaruh terhadap keberhasilan dan kegagalan mereka menjalani tiga hal tersebut.

1. Asal-usul

Suku Aceh adalah salah satu suku terbesar yang hidup di provinsi Nanggroe Aceh Darrusalam (NAD). Suku ini tinggal tersebar di empat belas wilayah kabupaten kota dan duapuluh satu daerah tingkat II provinsi NAD, antara lain Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Bireun, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Jaya, Nagan Raya, Langsa, dan Sabang (Rusdi Sufi, 2004). Akibat sebaran daerah tempat tinggal yang sangat luas ini, suku Aceh merupakan suku terbesar di Nanggroe Aceh Darrusalam. Mereka mayoritas beragama Islam dan menggunakan bahasa daerah Aceh sebagai alat komunikasinya.

Aceh adalah nama yang sudah dikenal sejak zaman lampau. Pemakaian nama Aceh merupakan derivasi dari berbagai nama yang pernah disebutkan dalam mitos tentang asal mula wilayah di ujung pulau Sumatera ini (baca Sufi, 2004; Dennys Lombard. 1986; Dado Meuraxa, 1956; Iskandar, 1977/1978). Di antara nama-nama yang pernah didengungkan untuk wilayah ini seperti A-tse, Aca-Aca, Tashi, Lambri-Lamri-Lamuri, Achin-Atchin-Atchein-Atcin-Atsheh-Aceh (Zainudin, 1961: 23). 

Orang Indonesia umumnya menyebut suku Aceh dengan sebutan orang Aceh. Namun, orang Aceh sendiri lebih suka menyebut dirinya dengan sebutan daerah mereka, yaitu Ureung Aceh yang berarti orang Aceh.[1] Sebutan ini mereka anggap lebih tepat karena mereka lebih suka menggunakan bahasa daerahnya daripada bahasa Indonesia jika berkomunikasi sesama mereka.

Menurut E.B.Taylor, culture or civilization is that complex whole wich includes knowledge, belief, art, morals, law, customs, and any other capabilities, acquired by man as a member of society (dalam Jujun Sumantri, 1996). Sebagai salah satu suku terbesar di Indonesia, Ureung Aceh memiliki kebudayaan yang cukup luhur. Salah satu wujud siri dari kebudayaan tersebut adalah adanya pengetahuan Ureung Aceh tentang waktu, khususnya tentang waktu yang baik dalam menanam padi dan mencari jodoh serta mencari rezeki.

Memang, Ureung Aceh tidak mempunyai arti atau definisi khusus tentang kata waktu, akan tetapi mereka memahami bahwa jika ingin menanam padi, menentukan jodoh, dan mencari pekerjaan, maka hal itu harus dipersiapkan dengan matang dan memilih waktu yang tepat untuk melaksanakannya (Sufi, 2004).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, tahun 2005, halaman 1267, waktu berarti seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung. Jika merujuk pada arti ini, maka waktu menurut Ureung Aceh dapat dibayangkan sebagai seluruh rangkaian pada saat proses,  ketika dilakukan, serta keadaan berlangsung untuk ketiga aktivitas kehidupan Ureung Aceh yang dianggap penting untuk diperhatikan, yaitu menanam padi, mencari jodoh, dan mencari rezeki.

Kenapa ketiga hal di atas dianggap penting untuk diperhatikan dan dipersiapkan waktunya? Tentu saja Ureung Aceh memiliki pengetahuan tentang hal tersebut. Bahwa dalam segala tindakannya, manusia perlu merasa waspada dengan berbagai bencana yang mungkin terjadi akibat perbuatan manusia karena salah memilih waktu atau salah memahami tanda-tanda. Oleh karena itu, waktu perlu untuk direncanakan karena waktu sangat berkait erat dengan peristiwa alam yang memang telah digariskan oleh Tuhan (baca: Allah).

Dalam konteks di atas, penentuan waktu yang tepat merupakan salah satu usaha manusia untuk menyesuaikan kehidupan mereka atas takdir Tuhan dengan memahami tanda-tanda alam. Sebagai contoh, jika ada pelangi melingkari bulan, maka itu menandakan akan datangnya musim kemarau. Namun, apabila pelangi melingkari matahari, maka itu menandakan akan datang musim penghujan (Sufi, 2004).

2. Konsep Waktu

Seperti telah dikelaskan, Ureung Aceh sangat memperhatikan waktu dalam mengurusi tiga hal, yaitu rezeki, jodoh, dan musim tanam, karena hal itu menyangkut keberhasilan dan kegagalan mereka dalam mencari rezeki, kecocokan mendapatkan jodoh yang sesuai dengan hati, dan keberhasilan dan kegagalan panen. Berikut adalah perhitungan waktu pada tiga bidang di atas.

a. waktu untuk mencari jodoh dan rezeki

Sehubungan dengan jodoh dan rezeki, Ureung Aceh membagi waktu dalam empat arti yang sederhana dan mudah untuk dipahami serta mudah untuk dipraktekkan oleh siapapun. Empat arti tersebut meliputi langkah (baik), raseuki (rezeki), peuteumun (pertemuan jodoh), dan maut (tidak baik). Arti-arti di atas nantinya akan dipadu padankan dengan hari dan bulan hijriah sebagai sistem perhitungan bulan yang umum di kalangan Ureung Aceh.

Rincian pembagian waktu dan arti tersebut adalah sebagai berikut.

  1. tanggal 1 = langkah (baik untuk jodoh dan rezeki)
  2. tanggal 2 = raseuki (rezeki)
  3. tanggal 3 = peuteumun (pertemuan jodoh)
  4. tanggal 4 = maut ( tidak baik untuk semua)
  5. tanggal 5 = langkah
  6. tanggal 6 = raseuki
  7. tanggal 7 = peuteumun
  8. tanggal 8 = maut

Begitu seterusnya, empat arti tersebut diurutkan sesuai tanggal dan tidak boleh dibolak-balik.

Pengaktualisasian hitungan waktu di atas cukup mudah. Jika seseorang ingin melakukan sesuatu, seperti berangkat melamar perempuan dan melaksanakan pernikahan; akan berangkat melamar pekerjaan atau merantau ke luar Aceh untuk mencari pekerjaan,  maka agar keinginan tersebut dapat berjalan dengan lancar dan sesuai rencana, hendaklah disesuaikan dengan hitungan waktu tersebut, yaitu pada tanggal yang masuk dalam arti langkah, raseuki, dan peuteumun (Sufi, 2004).

b. waktu untuk menanam padi

Adapun sehubungan dengan waktu musim menanam padi di sawah, Ureung Aceh memiliki hitungan waktu yang berbeda dari perhitungan waktu mencari jodoh dan mencari rezeki. Untuk menentukan kapan waktu menanam padi yang tepat, Ureung Aceh mempunyai rumus seperti halnya rumus dalam mata pelajaran matematika, fisika, atau kimia.

Rumus tersebut adalah K= C-2 x B.

Keterangan:

K = keuneunong yang berarti keadaan musim  

C = angka konstanta atau angka tetap yaitu angka 25

2 =  angka tetap untuk pengalian

B = bulan masehi yang sedang berjalan

Selanjutnya, hasil pengalian rumus di atas akan dicocokkan dengan ketentuan keuneunong (keadaan musim) menurut Ureung Aceh, yaitu:

  1. Keuneunong 1 jatuh pada bulan Desember. Pada bulan ini, seluruh pekerjaan di sawah harus sudah selesai
  2. Keuneunong 3 jatuh pada bulan November. Pada bulan ini, penanaman harus sudah mencapai tahap akhir
  3. Keuneunong 5 jatuh pada bulan Oktober. Bulan ini adalah bulan yang paling tepat untuk mulai menanam
  4. Keuneunong 7 jatuh pada September. Ini adalah bulan yang paling tepat untuk menyemai bibit secara merata
  5. Keuneunong 9 jatuh pada bulan Agustus. Bulan ini masa yang tepat untuk menanam jenis padi yang memerlukan waktu agak panjang masa panennya
  6. Keuneunong 11 jatuh pada bulan Juli. Pada bulan ini masa yang tepat untuk menanam jenis padi yang memerlukan waktu yang panjang masa panennya     

Contoh:

Misalnya seorang petani ingin mencari waktu keuneunong yang tepat pada bulan Agustus. Langkah awalnya adalah menghitung dengan rumus:

K = C- 2 x B

K = 25- 2 x 8

K = 25- 16

K = 9

Dengan demikian, maka bulan Agustus jatuh pada keuneunong 9. Artinya, pada bulan ini sudah dapat dimulai penyemaian bibit padi yang memiliki umur panen relatif pendek (Sufi, 2004).    

3. Pengaruh Sosial

Pengetahuan Ureung Aceh tentang waktu, merupakan sebuah ciri kebudayaan yang yang unik. Ciri kebudayaan ini tentu saja memiliki pengaruh dalam kehidupan sosial Ureung Aceh, antara lain:

  • Sikap waspada dan hati-hati. Penentuan waktu yang cukup rinci oleh Ureung Aceh menandakan bahwa mereka sangat hati-hati dan waspada dalam menjalani kehidupan, khususnya menyangkut tiga bidang kehidupan mereka, yaitu dalam mencari rezeki, menentukan jodoh, dan saat menanam padi. Wujud dari rasa kehati-hatian inilah yang melahirkan perhitungan waktu Ureung Aceh. Perhitungan ini terlihat sangat unik karena menggabungkan sisi ilmiah, yaitu menggunakan rumus matematika dengan sisi supranatural, yaitu perhitungan yang mendasarkan pada rasa dan sikap teliti terhadap tanda-tanda alam.     
  • Ketaatan pada Tuhan. Penetapan waktu oleh Ureung Aceh dilandaskan pada keyakinan mereka bahwa Tuhan telah menentukan waktu-waktu yang baik dalam kehidupan ini. Sedangkan untuk mengetahui waktu-waktu yang baik tersebut adalah dengan memahami tanda-tanda alam. Peristiwa alam dimaknai oleh Ureung Aceh sebagai petunjuk Tuhan bagi manusia untuk mempersiapkan kehidupan mereka dengan baik.
  • Kedekatan pada alam. Penentuan waktu yang didasarkan pada keyakinan akan ketetapan Tuhan melalui hukum alam, menandakan bahwa Ureung Aceh sangat dekat dengan alam. Dalam konteks ini, alam dianggap Ureung Aceh sebagai media untuk belajar. Peristiwa alam seperti banjir, angin besar, pergeseran rotasi bulan, bintang, dan matahari, mesti direnungi dan diambil maknanya untuk bekal menjalani hidup. Ureung Aceh menganggap bahwa seluruh peristiwa alam sebenarnya juga berpengaruh terhadap peristiwa alam yang lain.
  • Penentuan waktu mencari dan menentukan jodoh. Meskipun perhitungan waktu seperti di atas saat ini sudah banyak ditinggalkan oleh Ureung Aceh (khususnya di kota), namun tetap ini masih banyak dipakai oleh Ureung Aceh yang hidup diperdesaan. Hal ini salah satunya disebabkan oleh masih kuatnya peran orangtua di kampung-kampung terhadap pola pendidikan anak. Para orangtua di kampung-kampung Aceh hingga saat ini masih sering mengingatkan anaknya untuk berhati-hati dalam mencari jodoh. Selain mengingatkan akan pentingnya mempersiapkan waktu, para orangtua juga mengingatkan akan pentingnya mencari jodoh yang se-iman (satu agama). Agama juga terkadang dijadikan ukuran lancarnya rezeki seseorang dalam hidupnya kelak. Dalam konteks ini, konsep waktu juga dimaknai sebagai penguat akan keyakinan mereka terhadap agama.      
  • Penentuan waktu untuk menanam padi. Kasus di atas juga terjadi dalam penentuan waktu menanam padi. Artinya, meskipun Ureung Aceh di kota sudah tidak lagi mempercayai perhitungan waktu tersebut, tetapi tidak demikian dengan Ureung Aceh yang ada di kampung-kampung. Kebanyakan masyarakat kampung berprofesi sebagai petani. Sementara itu, kebanyakan masyarakat kota sudah menjadi pegawai atau pedagang. Bahkan lahan sawah di kota sudah berubah menjadi lahan perumahan.

4. Penutup

Ketika Aceh diterjang bencana tsunami pada tahun 2004 lalu dan memakan ribuan korban jiwa Ureung Aceh, perhatian masyarakat Aceh akan pentingnya memahami tanda-tanda alam mulai muncul kembali. Tragedi tsunami menyadarkan Ureung Aceh bahwa Tuhan memang telah meletakkan petunjuknya di dalam tanda-tanda alam yang dahulu pernah diajarkan oleh nenek moyang mereka.

Dalam konteks ini, pengetahuan Ureung Aceh tentang waktu di atas, penting untuk diapresiasi kembali agar tidak punah, seperti halnya bahasa Aceh yang disinyalir sudah mulai punah, karena sudah banyak guru dan sekolah yang tidak lagi mengajarkan bahasa daerah (http://id.cosmotopic.com). Terlepas bahwa hitungan waktu di atas mengandung unsur tidak ilmiahnya, satu poin penting yang perlu dipahami adalah pengetahuan tentang waktu merupakan kearifan Ureung Aceh yang masih bisa dijadikan sarana pembelajaran guna mengatur kehidupan mereka sekarang. Yusuf Efendi (bdy/22/02-10).

Referensi

Buku

Dado Meuraxa, 1956. Sekitar Suku Melayu, Batak, Atjeh dan Kerajaan Deli. Medan: Pengetahuan.

Dennys Lombard, 1986. Kerajaan Aceh, Jaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Terjemahan Winarsih Arifin. Jakarta; Balai Pustaka.

Jujun Suriasumantri, 1996. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Oryza Aditama, 2008. Cut Nyak Dien Ibu Gerilya Indonesia. Tujuh Ibu Bangsa. Jakarta: Rahzenbook.

Rusdi Sufi et al., 2004. Keanekaragaman Suku dan Budaya di Aceh. Banda Aceh: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh.

Perkampungan di Perkotaan Sebagai Wujud Proses Adaptasi Sosial: Kehidupan  di Perkampungan Miskin kota Banda Aceh. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. 1998/1999.

Rusdi Sufi dan Agus B. Wibowo. 2004. Ragam Sejarah Aceh. Banda Aceh: Badan Perpustakaan Provinsi Nanggroe Aceh Darrusalam.

T. Iskandar . 1977/1978. Hikayat Aceh. Banda Aceh: Sejarah Daerah Provinsi Daerah Istimewa Aceh.

Internet

Jailani. Petani menabur pupuk organik di tanaman selada di Dusun Lamreueng, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar. Tersedia di http://acehimage.com. (Diunduh tanggal 20 Maret 2010).

Zulfah. Bahasa Aceh Terancam Punah. Tersedia di http://id.cosmotopic.com. (Diunduh tanggal 20 Maret 2010).


Sumber foto utama: http://acehimage.com
Keterangan foto utama: Perkebunan timun di kawasan Desa Babah Jurong Kecamatan, Krueng Barona Jaya, Aceh Besar

 

[1] Ketika Aceh di Bawah kekuasaan Belanda, Ureung Aceh juga pernah mendapat sebutan Aceh Pungo (Aceh gila). Sebutan ini berasal dari penjajah Belanda karena Ureung Aceh banyak membunuh tentara Belanda hanya dengan bersenjatakan rencong (senjata khas suku Aceh). Pada waktu itu, Ureung Aceh juga berani masuk ke tangsi-tangsi Belanda yang dijaga tentara dengan ketat dan bersenjatakan lengkap. Belanda menganggap tindakan ini tidak mungkin dilakukan oleh orang biasa kecuali orang gila, maka dari itu Belanda menyebut Ureung Aceh dengan Aceh Gila atau Aceh pungo. Ureung Aceh sendiri menyebut penjajah Belanda dengan sebutan Ureung Kaphe (orang kafir) (Rusdi Sufi et al., 2004; Oryza Aditama, 2008). Ureung Aceh juga pernah mendapat sebutan orang mante yang artinya orang yang berasal dari hutan rimba dan berbadan kecil. Hal ini disebabkan karena dahulu Ureung Aceh dianggap pecahan dari bangsa Mon Khmer dari Hindia Belakang yang memiliki postur tubuh kecil (Meuraxa, 1974: 6).

Dibaca : 8.040 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password