Kamis, 25 Mei 2017   |   Jum'ah, 28 Sya'ban 1438 H
Pengunjung Online : 3.664
Hari ini : 10.892
Kemarin : 92.738
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.457.513
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Tatanjuk, Peralatan Pertanian Masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan

Tatanjuk merupakan alat pertanian tradisional masyarakat Banjar di daerah Kalimantan Selatan. Para petani di wilayah tersebut menggunakan peralatan ini untuk membuat lubang sebagai tempat untuk menanam bibit padi pada sawah dataran tinggi maupun dataran rendah.

1. Asal-usul

Tatanjuk merupakan alat pertanian tradisional yang digunakan oleh masyarakat Banjar di wilayah Kalimantan Selatan. Alat ini digunakan untuk membuat lubang di tanah yang selanjutnya akan ditanami bibit padi. Tatanjuk digunakan pada lahan pertanian baik di dataran tinggi maupun dataran rendah.

Lahan pertanian berupa sawah dapat dibagi menjadi dua berdasarkan kondisi tinggi rendahnya dataran, yaitu sawah dataran tinggi dan sawah dataran rendah (Agus Triatno, ed. 1991/1992: 19). Perbedaan ketinggian di antara kedua lahan pertanian tersebut berpengaruh terhadap cara para petani menggarap sawah dan jenis peralatan yang digunakan.

Peralatan tatanjuk digunakan secara luas oleh masyarakat Banjar Batang Banyu di kawasan Hulu Sungai hingga saat ini. Ada sebagian masyarakat yang menyebut peralatan ini “tutujah” sementara sebagian yang lain memberikan nama “asak” (Ikhlas Budi Prayogo, 1998/1999: 11). Tatanjuk mempunyai fungsi sama dengan tutugal atau tugal dalam bahasa Indonesia. Kamus Bahasa Indonesia (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2008: 1552) mengartikan “tugal” sebagai tongkat kayu yang runcing untuk membuat lubang yang akan ditanami benih.

Bentuk dan cara penggunaan tatanjuk dan tutujah berbeda meskipun keduanya mempunyai fungsi yang serupa. Tutujah berupa batangan kayu sebesar genggaman tangan orang dewasa yang lurus dan bundar. Panjang alat ini antara 50 cm hingga 70 cm. Sementara itu, tatanjuk berukuran lebih pendek, sekitar 50 sampai 60 cm. Bentuk tatanjuk pun lebih variatif. Variasi bentuk tatanjuk pada umumnya terletak pada bagian hulu tatanjuk yang menjadi pegangan. Bentuk bagian ini pula yang menjadi dasar penamaan masing-masing tatanjuk, misalnya Tatanjuk Burung, Tatanjuk Wayang, Tatanjuk Purus “T”, Tatanjuk Ayam, dan sebagainya.

Bentuk dasar atau pola dasar tatanjuk sebenarnya sederhana. Peralatan ini hanya berupa batang kayu bundar yang bengkok atau dibengkokkan di bagian hulunya dan diruncingkan pada bagian ujungnya. Tatanjuk dengan bentuk seperti ini paling mudah dibuat karena tidak terlalu rumit dan tidak membutuhkan kecermatan yang tinggi dari pembuatnya. Tentu saja tatanjuk tampak kurang bernilai jika diukur dari nilai seni, kreativitas, dan keindahan.

Bentuk dasar tatanjuk, yang hanya seperti kayu bengkok itu, kemudian berkembang berbagai macam bentuk tatanjuk. Perkembangan bentuk tatanjuk dipengaruhi oleh budaya masyarakat setempat.

2. Jenis-jenis Tatanjuk

Masyarakat Banjar menggunakan beberapa jenis tatanjuk. Buku Alat Pertanian Tatanjuk Wayang Koleksi Museum Lambung Mangkurat (1998/1999) dan Koleksi Alat-alat Pertanian Tradisional Museum Negeri Propinsi Kalimantan Selatan Lambung Mangkurat (1991/1992) menyebutkan jenis-jenis tatanjuk sebagai berikut.

a. Tatanjuk Purus “T”

Tatanjuk jenis ini terdiri dari dua bagian, yaitu batang kayu silindris yang diruncingkan di bagian ujungnya dan batang kayu yang lain di bagian hulu. Keduanya berpotongan secara vertikal dan horisontal. Batang kayu di bagian hulu lebih pendek dibanding batang yang runcing dan sedikit melengkung ke atas. Batang ini dinamakan “purus”. Untuk menyatukan kedua bagian tersebut, bagian purus dilubangi sedangkan pada bagian batang silindris diberi tonjolan mengikuti bentuk dan ukuran lubang pada purus. Keduanya kemudian dipasangkan secara berpotongan hingga membentuk huruf “T”.

b. Tatanjuk Bengkok

Tatanjuk Bengkok dibuat dari batang kayu tunggal tanpa sambungan. Bagian pegangan pada hulu tatanjuk ini berbentuk melengkung hingga 45 derajat di bagian hulunya. Bagian tengah batang tatanjuk lebih besar daripada bagian hulu. Semakin mendekati ujung tatanjuk, badan tatanjuk semakin kecil, kemudian menjadi runcing di bagian ujungnya. Panjang Tatanjuk Bengkok sekitar 60 cm dan lebar atau panjang hulu yang melengkung sekitar 8 cm. Tatanjuk ini memiliki tingkat kerumitan yang paling rendah dan paling sederhana dibanding jenis tatanjuk yang lain. Tatanjuk Bengkok pada umumnya digunakan oleh masyarakat di lahan pertanian pasang-surut.


Tatanjuk Bengkok, bentuk tatanjuk paling sederhana
Sumber: Agus Triatno, ed., 1991/1992. Koleksi Alat-alat Tradisional Museum
Negeri Propinsi Kalimantan Selatan Lambung Mangkurat.
Banjarmasin: Bagian
Proyek Pembinaan Permuseuman Kalimantan Selatan., h. 87.

c. Tatanjuk Purus Samping

Tatanjuk Purus Samping terdiri dari dua batang kayu yang disatukan. Kedua batang kayu tersebut digabungkan dengan cara membuat lubang pada bagian sisi kayu yang berujung runcing, kemudian batang kayu yang lain digabungkan dengan batang yang berujung runcing dengan posisi mendatar. Batang mendatar inilah yang nantinya akan menjadi tempat untuk memegang peralatan tersebut.

d. Tatanjuk Pegangan Tempel

Tatanjuk Pegangan Tempel merupakan bentuk gabungan antara batang berbentuk bundar yang lancip ujungnya dan bagian lain berupa kayu yang bercabang. Batang kayu silindris dicungkil setebal sepertiga bagian kayu di sisinya. Lebar dan dalam cungkilan tersebut disesuaikan dengan ukuran kayu bercabang yang akan digabungkan. Batang kayu yang bercabang kemudian ditempelkan pada kayu berbentuk silindris, lalu direkatkan dengan menggunakan lem dan dipaku.

e. Tatanjuk Cor Kuningan

Tatanjuk jenis ini tetap berbahan dasar kayu, akan tetapi ada bahan tambahan yang lain yaitu kuningan. Bahan kuningan digunakan untuk membuat hulu dan membalut bagian ujung tatanjuk. Hal inilah yang menjadi dasar penamaan Tatanjuk Cor Kuningan. Batang silindrisnya tetap terbuat dari kayu ulin yang dimasukkan kedua ujungnya pada kuningan yang telah disiapkan.

f. Tatanjuk Burung

Tatanjuk ini merupakan perkembangan dari tatanjuk jenis purus “T”. Tempat pegangan bagian atas tatanjuk tersebut dibentuk seperti burung yang sedang hinggap di atas dahan. Sama seperti jenis tatanjuk yang lain, alat ini juga terdiri dari dua bagian—kayu silinder lurus yang berujung runcing dan pegangannya yang berbentuk burung—yang disatukan. Bentuk ekor, badan, kepala dan paruh membentuk sebuah garis mendatar. Kepala burung berbentuk segitiga dengan paruh panjang menghadap ke depan.

Tatanjuk Burung terbuat dari kayu ulin dengan panjang batang silindris sekitar 50 cm. Ukuran panjang tubuh burung, dari kepala sampai ekor, yaitu sekitar 28 cm. Tatanjuk ini banyak digunakan oleh masyarakat Kabupaten Tapin pada areal persawahan dataran rendah.

g. Tatanjuk Ayam

Alat ini merupakan variasi bentuk yang lain dari tatanjuk. Pada bagian atas atau hulu tatanjuk terdapat pegangan yang berbentuk seperti ayam. Bentuk ayam pada tatanjuk ini berbeda dengan bentuk burung pada Tatanjuk Burung yang mempunyai bagian-bagian lengkap. Bentuk ayam yang tampak pada Tatanjuk Ayam adalah badan, kepala, dan paruh. Bagian ekor tidak dibuat. Bentuk badan ayam pada tatanjuk ini berpotongan secara horisontal-vertikal dengan batang kayu silindris yang runcing. Bentuk leher memanjang ke atas mengikuti batang silindris. Kepala ayam pada peralatan ini menghadap ke depan dengan ukuran paruh lebih pendek daripada bentuk paruh pada Tatanjuk Burung. Ukuran Tatanjuk Ayam hampir sama dengan Tatanjuk Burung, yaitu panjang sekitar 40 cm dan lebar atau panjang badan sampai kepala ayam mencapai 17 cm. Peralatan ini digunakan oleh masyarakat petani Banjar Kabupaten Tapin untuk menggarap lahan persawahan yang banyak mengandung air.

h. Tatanjuk Kuda Gepang

Secara umum, bentuk Tatanjuk Kuda Gepang masih mengikuti pola dasar tatanjuk. Bedanya adalah bentuk batang kayu yang melintang di bagian hulu tatanjuk tersebut menyerupai kuda gepang. Bentuk kuda dalam tatanjuk ini meniru bentuk kuda pada tarian Kuda Gepang yang merupakan tarian tradisional Kalimantan  Selatan. Bentuk kuda dalam Tatanjuk Kuda Gepang miring ke depan. Di bagian perut bawah bentuk kuda tersebut dibuatkan lubang untuk menyatukan bagian hulu dan bagian batang tatanjuk. Bentuk batang tatanjuk seperti bentuk pisau, satu sisinya lurus ke bawah dan sisi yang lain melengkung hingga runcing di ujung tatanjuk itu.


Tatanjuk Kuda Gepang
Sumber: Ikhlas Budi Prayogo, et.al., 1998/1999.
Alat Pertanian Tatanjuk Wayang Koleksi Museum Lambung Mangkurat.
Banjarmasin: Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman
Kalimantan Selatan., h. 16.

i. Tatanjuk Wayang

Tatanjuk Wayang mempunyai nilai seni dan tingkat kerumitan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis tatanjuk lain. Kerumitan tersebut terletak pada ukiran yang membentuk karakter tokoh dalam pewayangan. Tatanjuk Wayang mempunyai dua bagian, yaitu badan silindris yang berujung runcing dan bagian hulu berbentuk wayang kulit.

Wayang dalam tatanjuk tersebut mempunyai bentuk pinggang panjang. Bagian inilah yang menjadi pegangan. Kedua tangan wayang dibentuk bersedekap atau bertolak pinggang. Kepala bagian belakang memakai gelung supit udang menghadap ke atas, dan memakai dodotan manggaran. Beberapa karakter tokoh yang digunakan dalam Tatanjuk Wayang adalah Bima, Arya Bukbis, Batara Kamajaya, Patih Raden Satyaki, Arjuna, Hanoman Pancasona, Narasakia, Wibisana, Arya Gepang, Bambang Sumantri, Batara Waruna, Antareja, Hamonan, Gareng, Pancasona, Misarhana, dan sebagainya. Bentuk tokoh wayang dalam tatanjuk tersebut kadang berbeda meskipun tokohnya satu. Misalnya, Tatanjuk Wayang berbentuk tokoh Arjuna bisa mempunyai dua bentuk dan lekuk relief yang berbeda, meskipun perbedaan tersebut tidak terlalu mendasar.

Para pembuat Tatanjuk Wayang menguatkan karakter tokoh yang mereka buat dengan memahatnya, kemudian mengecat wayang tersebut dengan warna merah jambu, kuning, cokelat, hijau, hitam, putih, atau warna lain menurut kebutuhan karakter tokohnya. Posisi wayang dalam peralatan tersebut seperti posisi wayang pada pentas yang sesungguhnya: miring antara 30 hingga 40 derajat.

Banyaknya karakter tokoh yang menjadi bentuk Tatanjuk Wayang ini membuat para petani bebas memilih karakter tokoh yang menjadi idolanya. Selain itu, pemilihan karakter tokoh mencerminkan apa yang menjadi harapan petani terhadap hasil panennya di kemudian hari. Suku Banjar Pahuluan, terutama masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Selatan, merupakan suku yang banyak menggunakan peralatan Tatanjuk Wayang. Mereka adalah masyarakat Banjar yang tinggal di daerah perbukitan. Oleh karena itu, Tatanjuk Wayang pada umumnya digunakan untuk menggarap sawah di dataran tinggi.


Tatanjuk Wayang
Sumber:
Agus Triatno, ed., 1991/1992.
Koleksi Alat-alat Tradisional Museum Negeri Propinsi Kalimantan Selatan
Lambung Mangkurat.
Banjarmasin: Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman
Kalimantan Selatan., h. cover.

3. Bahan, Peralatan, dan Cara Pembuatan

Cara membuat peralatan tatanjuk adalah sebagai berikut.

a. Bahan

Bahan yang baik untuk membuat tatanjuk adalah kayu ulin (eusideroxylon zwageri). Pohon ulin banyak terdapat di hutan-hutan Kalimantan, Jambi, Bangka dan Belitung, dan Sumatra Selatan. Kayu ulin mempunyai nama lain kayu besi atau bulian. Pohon ulin tumbuh di lahan berketinggian antara 5 hingga 400 m di atas permukaan laut, baik pada daerah yang datar ataupun miring. Keunggulan kayu ulin dibanding jenis kayu yang lain adalah kuat, keras, awet, tahan terhadap rayap dan penggerek, tahan terhadap perubahan suhu dan kelembaban, tahan terhadap air laut, apalagi air tawar.

b. Peralatan

Peralatan yang dibutuhkan untuk membuat tatanjuk adalah alat-alat pertukangan. Peralatan tersebut adalah gergaji, tatah biasa dan tatah ukir, palu, banci (nama salah satu alat tukang kayu; bentuknya mirip cangkul, dalam Kamus Bahasa Indonesia, 2008 diartikan sebagai: patil besar untuk menarah kayu), amplas kasar dan halus, dan peralatan lain sesuai kebutuhan.

c. Cara Pembuatan

  1. Langkah yang paling awal dilakukan adalah mencari bahan untuk membuat tatanjuk. Kayu ulin yang baik untuk membuat tatanjuk adalah kayu ulin yang sudah tua dan kering. Kayu yang sudah tua dan kering biasanya lebih kuat dan tahan lama. Ukuran kayu tergantung pada kebutuhan dan jenis tatanjuk yang akan dibuat. Setelah mendapatkan bahan, langkah selanjutnya adalah memotong kayu tersebut dengan panjang antara  50-60 cm.
  2. Bahan kayu dibentuk menjadi tatanjuk yang diinginkan. Pembentukan batang kayu menjadi bentuk tatanjuk dilakukan dengan menggunakan banci. Jika tidak ada banci, parang dapat digunakan.
  3. Bentuk tatanjuk dibuat sesuai dengan kebutuhan dan kreativitas si pembuat. Semakin rumit bentuk tatanjuk, maka kebutuhan akan daya seni,  kreativitas, dan kesabaran semakin tinggi. Bentuk Tatanjuk Wayang mungkin adalah yang paling membutuhkan ketekunan dan kreativitas tinggi. Lekuk relief harus serupa dengan karakter tokoh wayang yang sebenarnya. Peralatan untuk membuat Tatanjuk Wayang, selain menggunakan tatah biasa, seringkali juga harus ditambah dengan tatah khusus untuk mengukir. Menatah bentuk tatanjuk harus dengan hati-hati agar kayu tidak pecah meskipun pada dasarnya kayu ulin adalah kayu yang kuat.
  4. Proses selanjutnya adalah memasang bagian-bagian utama tatanjuk, yaitu batang dan hulu. Agar kedua bagian ini merekat dengan kuat, kedua bagian ini dapat direkatkan dengan menggunakan lem kayu serta dipaku agar bertambah kuat.
  5. Langkah terakhir adalah menghaluskan tatanjuk. Beberapa tatanjuk, semisal Tatanjuk Wayang, dapat pula dicat agar mendapatkan karakter tokoh wayang yang indah dan jelas. Tatanjuk dihaluskan dengan menggunakan amplas, mula-mula dengan amplas kasar kemudian dilanjutkan dengan amplas halus.


Pembuatan Tatanjuk Purus Samping

Sumber: Ikhlas Budi Prayogo, et.al., 1998/1999.
Alat Pertanian Tatanjuk Wayang Koleksi Museum Lambung Mangkurat.
Banjarmasin: Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman
Kalimantan Selatan., h. 14.

4. Cara Penggunaan

Tatanjuk digunakan dengan secara langsung dengan menggunakan tangan. Tatanjuk dipegang dengan tangan kanan sedangkan tangan kiri memegang benih padi yang akan ditanam. Mula-mula, tatanjuk ditunjamkan ke tanah kemudian dicabut kembali. Setelah itu, seenggan rumpun bibit padi dimasukkan ke lubang yang baru saja dibuat. Setelah bibit padi tertanam dengan kokoh, lubang dapat ditutup kembali dengan menggunakan tanah yang berada di sekelilingnya. Jarak tanam antara satu rumpun bibit padi dengan yang lain dibuat tidak terlalu renggang dan tidak terlalu rapat. Petani menanam padi dengan cara ini sambil bergerak mundur.

5. Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan tatanjuk adalah sebagai berikut.

  • Bahan untuk membuat peralatan ini mudah didapat di sekitar tempat tinggal para petani. Para petani dapat membuat sendiri alat ini. Selain itu, alat-alat untuk membuat tatanjuk juga dimiliki oleh banyak tukang kayu.
  • Peralatan ini tidak membutuhkan perawatan khusus.
  • Tatanjuk tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.
  • Tatanjuk memiliki nilai seni dan keindahan yang tinggi.
Kekurangan tatanjuk adalah sebagai berikut:
  • Tidak efisien. Bercocok tanam menggunakan peralatan tradisional biasanya membutuhkan waktu yang relatif lebih lama dibanding peralatan modern.
  • Para petani yang menggunakan peralatan ini akan menjadi lelah karena peralatan ini sepenuhnya mengandalkan tenaga manusia.
  • Jika kayu yang digunakan sebagai bahan pembuat tatanjuk bukan kayu yang berkualitas, maka peralatan tersebut akan mudah lapuk atau dimakan rayap.

6. Nilai-nilai

  • Nilai guna. Tatanjuk tersebut berguna bagi masyarakat petani sebagai peralatan yang meringankan dan memudahkan proses kerja mereka.
  • Nilai ekonomi. Peralatan ini menggunakan bahan yang mudah didapatkan di sekitar tempat tinggal para petani sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan biaya terlalu banyak pada saat bercocok tanam. Para petani juga bisa membuat sendiri peralatan tersebut dengan bahan dan peralatan yang sederhana. Dengan demikian, para petani bisa menekan biaya bercocok tanam. Biaya pertanian harus ditekan sekecil mungkin karena hasil panen sering tidak dapat mengimbangi besarnya biaya yang telah dikeluarkan.
  • Nilai magis. Tatanjuk bukan sekadar peralatan biasa yang bertugas membantu pekerjaan para petani. Beberapa tatanjuk mengandung nilai-nilai tertentu yang mencerminkan keyakinan dan pandangan hidup masyarakat. Tatanjuk Wayang dengan jelas menggambarkan hal tersebut. Karakter tokoh dalam dunia pewayangan yang dipilih seorang petani menjadi simbol pandangan hidupnya. Wayang, dalam peralatan tatanjuk, juga menjadi simbol semangat dan etos kerja bagi yang menggunakannya. Motif tokoh wayang yang dipilih oleh para petani menjadi semacam sugesti bahwa ketika panen kelak mereka akan memperoleh hasil pertanian yang melimpah. Selain itu, bentuk karakter wayang juga menjadi simbol kekuatan yang akan mengusir gangguan hama (Ikhlas Budi Prayogo, 1991/1992: 46-47).
  • Nilai seni dan kreativitas. Bentuk tatanjuk, mulai dari bentuk yang paling sederhana hingga ke bentuk yang paling rumit, mempunyai nilai seni dan kreativitas tinggi. Bermacam-macam bentuk tatanjuk merupakan wahana bagi para petani untuk menyalurkan kreativitas, ketekunan, kesabaran, dan bahkan bakat seni mereka. Kerumitan pada jenis tatanjuk tertentu menjadi tantangan tersendiri bagi pembuat tatanjuk untuk menyalurkan kreativitasnya. Tentu saja tingkat kerumitan antara jenis tatanjuk satu dengan yang lain berbeda.
  • Nilai pelestarian budaya. Para petani yang menggunakan tatanjuk berarti turut melestarikan kearifan lokal dan nilai tradisi dan budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang. Penggunaan peralatan tatanjuk memiliki nilai pelestarian budaya. Bentuk-bentuk tatanjuk yang mencerminkan simbol alam, misalnya ayam dan burung, hendak menyatakan bahwa alam harus senantiasa dijaga dan dilestarikan. Bentuk Tatanjuk Kuda Gepang dan Tatanjuk Wayang, yang menjadi simbol budaya, menjadi “pengingat” bahwa kebudayaan harus dilestarikan dan dikembangkan.

7. Penutup

Modernisasi menyebar ke mana-mana termasuk dalam bidang pertanian. Pertanian dengan cara-cara tradisional saat ini mulai banyak ditinggalkan orang. Penggunaan peralatan pertanian modern bukan tidak baik, namun tentu saja ada sisi buruknya. Penggunaan tatanjuk sebagai peralatan pertanian perlu dilestarikan atau digalakkan kembali untuk meredam sisi-sisi buruk pertanian modern sekaligus melestarikan nilai-nilai kearifan lokal dan kebudayaan bangsa.

(Mujibur Rohman (bdy/02/06-2010)

Sumber: http://myrasta.wordpress.com

Referensi

Agus Triatno, ed., 1991/1992. Koleksi Alat-alat Tradisional Museum Negeri Propinsi Kalimantan Selatan Lambung Mangkurat. Banjarmasin: Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Kalimantan Selatan.

Ikhlas Budi Prayogo, et.al., 1998/1999. Alat Pertanian Tatanjuk Wayang Koleksi Museum Lambung Mangkurat. Banjarmasin: Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Kalimantan Selatan.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

Anonim, 2009. “Mengenal Kayu Ulin”. [Online]. Tersedia di:  http://sudarjanto.multiply.com [Diunduh pada 8 Juni 2010]

Dibaca : 13.745 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password