Rabu, 26 April 2017   |   Khamis, 29 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 1.304
Hari ini : 1.199
Kemarin : 65.310
Minggu kemarin : 401.091
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.210.100
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Tangkol: Alat Penangkap Ikan Kota Pangkalpinang


Tangkol merupakan peralatan untuk menangkap ikan yang digunakan oleh masyarakat di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Peralatan ini dipasang secara permanen di pinggir sungai maupun laut.

1. Asal-usul

Kota Pangkalpinang merupakan ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Provinsi ini terdiri dari dua pulau besar, yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung, serta beberapa pulau kecil. Pada mulanya, Pulau Bangka dan Pulau Belitung serta beberapa pulau kecil di sekitarnya masuk ke dalam wilayah Provinsi Sumatera Selatan. Pada tahun 2000, pemerintah menetapkan Kepulauan Bangka Belitung sebagai sebuah provinsi yang terpisah dari Provinsi Sumatera Selatan melalui Undang-undang No. 27 tahun 2000 (http://www.babelprov.go.id/). Setahun kemudian, Kota Pangkalpinang ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Provinsi ini secara geografis berbatasan dengan Selat Bangka di sebelah barat, Selat Karimun di sebelah timur, Laut Natuna di sebelah utara, dan berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah selatan. Kondisi geografis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang memiliki wilayah yang laut yang luas, berpengaruh terhadap mata pencaharian masyarakat, terutama mereka yang berada di wilayah pesisir. Situs resmi pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (http://www.babelprov.go.id/) menyebutkan bahwa luas laut di provinsi ini mencapai 79, 90 persen. Hal ini berarti wilayah laut di provinsi ini lebih luas daripada wilayah daratnya.

Kota Pangkalpinang terletak di pesisir timur Pulau Bangka. Kota ini mempunyai luas kira-kira 118.408 km persegi dan merupakan daerah dataran rendah. Kota ini juga merupakan daerah rawa-rawa dan mempunyai banyak aliran sungai. Sungai-sungai yang mengalir di Pangkalpinang sering membawa dampak negatif bagi kota ini, yaitu banjir. Namun, selain dampak negatif yang dibawanya, banyaknya aliran sungai di kota ini juga merupakan “berkah” bagi masyarakat di sekitar aliran sungai-sungai itu. Sungai–sungai itu menjadi lahan untuk mencari nafkah bagi masyarakat yang berada di sekitar aliran sungai.

Sungai yang ada di kota ini adalah Sungai Rangkui, Sungai Pedindang, dan Sungai Baturasa. Sungai Rangkui terletak di tengah Kota Pangkalpinang sedangkan Sungai Pedindang berada di pinggir selatan. Aliran Sungai Rangkui merupakan pertemuan beberapa aliran sungai yang ada di wilayah kota Pangkalpinang. Kedua aliran sungai tersebut juga sering digunakan sebagai jalur transportasi masyarakat setempat. Kedua aliran sungai ini bermuara pada sungai yang lebih besar, yaitu Sungai Baturasa yang bermuara di Laut Cina Selatan.

Kedekatan masyarakat Pangkalpinang dengan wilayah perairan, baik perairan laut maupun sungai, terlihat dalam beberapa hal. Selain mata pencaharian mereka sebagai nelayan, atau simbol perahu dalam lambang kota ini, ada beberapa istilah khusus untuk menyebut beberapa fenomena alam yang terjadi di perairan tersebut. Salah satunya adalah istilah khusus yang digunakan masyarakat Pangkalpinang untuk menyebut keadaan pasang dan surut perairan sungai dan laut (Akhmad Elvian, ed., 2007: 10-11). Istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut:

a. Taruk

Taruk merupakan kondisi di mana pasang dan surut air terjadi secara perlahan. Proses pasang dan surut air sungai dan laut ini tidak terlalu kentara. Air tetap terlihat tenang, seolah-olah tidak pasang pun tidak surut. Taruk pada umumnya berlangsung selama tiga hari.

b. Ngajar

Masyarakat Pangkalpinang menggunakan istilah ngajar untuk menyebut kondisi pasang surut air yang berlangsung relatif cepat. Ngajar biasanya terjadi selama kurang lebih satu hari.

c. Nyurung buih

Nyurung buih merupakan kondisi di mana air laut dan air sungai sebentar pasang ke bagian hulu, dan sebentar kemudian surut menuju hilir. Nyurung buih terjadi dalam waktu yang cepat, yaitu sekitar satu jam.

d. Nganak

Nganak terbagi menjadi tiga kondisi yaitu, nganak pertama, nganak kedua, dan nganak ketiga. Nganak pertama adalah kondisi pasang dan surut air laut atau air sungai yang terjadi secara lambat. Nganak kedua merupakan istilah untuk menyebut kondisi pasang dan surut air yang terjadi secara tidak stabil. Pasang dan surut nganak kedua kadang terjadi dalam volume air yang besar, dan pada waktu yang lain terjadi dengan volume air yang kecil. Nganak ketiga merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut kondisi pasang surut dengan volume air yang besar.

Selain beberapa istilah khusus masyarakat Pangkalpinang tentang pasang dan surut air, fenomena pasang surut itu juga berpengaruh pada peralatan yang digunakan oleh masyarakat Pangkalpinang untuk menangkap ikan. Salah satu peralatan yang dipengaruhi oleh kondisi pasang dan surut air sungai adalah tangkol. Tangkol dipasang di pinggir sungai untuk menangkap ikan Belanak, yaitu ikan yang mengikuti arus pasang surut air.

Peralatan tangkol terbuat dari rangkaian bambu ataupun kayu. Secara sederhana, peralatan ini dapat digambarkan berbentuk seperti pengungkit. Tiangnya bergerak naik dan turun seperti permainan jungkat-jungkit. Pada ujung tiang tangkol tergantung jaring yang berfungsi untuk menjebak ikan.

Peralatan tangkol merupakan salah satu kekayaan budaya masyarakat Pangkalpinang dalam mata pencaharian mereka sebagai nelayan. Selain mempunyai nilai tradisi, tangkol pun mempunyai nilai ekologis karena penggunaan peralatan ini merupakan wujud nyata dalam menjaga kelestarian habitat air laut maupun air sungai.

2. Bagian-bagian Tangkol

Tangkol terdiri dari beberapa bagian. Masing-masing bagian tangkol mempunyai nama dan fungsi yang berbeda-beda (Akhmad Elvian, ed., 2007: 74-75). Bagian-bagian peralatan tangkol adalah sebagai berikut:

a. Tiang tangkol

Tiang tangkol terdiri dari dua buah bambu atau kayu yang mempunyai garis tengah sekitar 6 cm dan panjang 6 meter. Kedua kayu atau bambu ini dipasang berjajar membentuk kerucut dengan kedua ujungnya bergabung. Tiang tangkol berbentuk seperti sebuah segitiga yang sangat ramping. Bagian pangkal tiang terpasang pada dudukan. Fungsi tiang tangkol adalah mengangkat dan membenamkan jaring ke dalam air. Tiang tangkol dan jaring dihubungkan dengan bagian lain yakni dua buah kayu yang silang-menyilang yang diberi nama kayu tembaun.

b. Kayu tembaun

Kayu tembaun berjumlah dua buah. Bagian ini dipasang silang-menyilang. Panjang kayu tembaun adalah sekitar 4 meter. Fungsinya menghubungkan tiang tangkol dengan jaring. Titik persilangan di antara dua buah kayu tembaun diikat dan dipaku pada ujung tiang tangkol. Pada setiap ujung kayu, yang bertemu dengan masing-masing sudut jaring, dipasang besi sebagai pemberat. Jaring sendiri berbentuk persegi empat seluas 4 x 6 meter, menggelembung ke bawah sekitar 2 meter. Tiap-tiap sisi jaring diikatkan pada kayu agar jaring tidak bergeser atau mudah robek sewaktu diangkat.

c. Tali semirang

Tali semirang digunakan untuk menarik tiang tangkol, sehingga tiang, yang pada ujungnya digantungkan jaring tersebut, menjungkit atau bergerak turun. Panjang tali ini disesuaikan dengan jarak antara dudukan dengan ujung tiang tangkol. Agar tidak terlalu pendek, biasanya ukuran tali lebih panjang dari jarak antara tiang tangkol dengan dudukan-nya. Tali semirang diikat pada bagian persilangan antara dua kayu tembaun dan terulur sampai dudukan tempat pengguna tangkol berdiri. 

d. Dudukan tangkol

Tiang tangkol dipasang pada dudukan tangkol. Dudukan berfungsi untuk menahan pangkal tiang yang bergerak naik turun. Dudukan untuk menahan pangkal tiang adalah dua batang bambu yang ditanam di dasar perairan. Dudukan tangkol juga merupakan tempat yang digunakan sebagai tempat berpijak bagi nelayan penarik tangkol. Dudukan terbuat dari rangkaian bambu yang membentuk persegi empat. Kadang-kadang, penarik tangkol diberi rumah-rumahan agar nelayan penarik tangkol tidak terkena sengatan panas matahari.

3. Cara Pembuatan

Pembuatan tangkol relatif sederhana. Para nelayan biasanya membuat sendiri peralatan tersebut. Selain cara pembuatannya yang tidak terlalu rumit, masyarakat nelayan biasanya juga banyak yang mempunyai bahan dan peralatan untuk membuat tangkol. Berikut ini adalah langkah-langkah untuk membuat tangkol.

a. Bahan dan Peralatan

  1. Bahan. Bahan yang digunakan untuk membuat tangkol adalah bambu (bambu yang bagus untuk membuat tangkol adalah bambu yang sudah tua), kayu, jaring, dan tali.
  2. Peralatan. Peralatan untuk membuat tangkol adalah gergaji, parang, paku, palu, dan peralatan pertukangan kayu yang lain.

b. Cara Pembuatan

  1. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan bahan dasar untuk membuat tangkol, yaitu bambu dan kayu. Bambu yang dipilih adalah bambu yang sudah tua. Bagian bambu yang paling baik untuk membuat tangkol adalah beberapa ruas bagian pangkalnya sampai pada tengah hingga bagian tengah pohon bambu. Semakin ke atas, kualitas bambu semakin berkurang sehingga semakin kurang baik pula untuk digunakan sebagai bahan pembuat tangkol.
  2. Setelah mendapatkan bahan yang dimaksud, bambu atau kayu tersebut langsung dipotong-potong sesuai kebutuhan masing-masing bagian tangkol. Setelah bambu dan kayu dipotong-potong, ada baiknya bambu atau kayu tersebut direndam terlebih dahulu di dalam air selama beberapa hari. Perendaman bahan tersebut dimaksudkan agar bambu dan kayu lebih tahan lama.
  3. Sementara menunggu bambu dan kayu siap digunakan, jaring dapat dibuat. Lebar mata jaring disesuaikan dengan kebutuhan atau besar kecilnya ikan yang ingin ditangkap. Namun, akan lebih baik jikalau para nelayan hanya menangkap ikan-ikan yang besar saja. Penangkapan ikan yang dilakukan hanya pada ikan-ikan yang besar merupakan upaya untuk melestarikan ikan yang terdapat di perairan sungai maupun laut. Jaring dirangkai membentuk persegi dengan ukuran sisinya sekitar 4 x 6 meter. Pada tiap-tiap bagian pinggir jaring tersebut diberi tali plastik yang besar atau bilah bambu yang tipis agar jaring tidak mudah robek. Bagian tengah jaring menggelembung ke bawah sekitar 2 meter.
  4. Setelah bambu dan kayu siap digunakan, langkah selanjutnya adalah mencari lokasi untuk pemasangan tangkol. Peralatan ini dipasang permanen di suatu tempat, tidak seperti peralatan yang lain, misalnya pukat, jala, pancing, bubu, dan alat-alat lain yang dapat dipindahkan sewaktu-waktu. Tempat yang dipilih untuk lokasi tangkol adalah daerah pinggir sungai yang kira-kira banyak dihuni ikan.
  5. Setelah lokasi yang tepat ditemukan, langkah berikutnya adalah memasang dudukan tangkol. Caranya dengan menanam empat atau enam bambu pada tanah di dasar air sebagai tiang. Kemudian, bambu yang lain dirangkai menjadi bentuk persegi pada bagian samping dan atas. Bambu yang satu dipaku atau ditali dengan yang lain agar lebih kokoh sehingga bentuk dudukan membentuk lajur-lajur bambu. Bagian atasnya diberi alas, misalnya papan atau bahan lain yang kuat sebagai tempat berpijak nelayan penarik tangkol. Pada bagian dudukan, dapat dipasang atap agar nelayan penarik tangkol tidak tersengat panas matahari ketika bekerja siang hari. Dengan demikian, peralatan ini secara keseluruhan terlihat seperti sebuah gubuk di atas air.
  6. Setelah dudukan selesai dibuat, langkah selanjutnya adalah merangkai bagian-bagian tangkol. Pertama-tama adalah memasang jaring pada kayu tembaun. Kayu tembaun dipasang pada ujung tiang tangkol dengan diikat atau dipaku. Setelah tangkol terpasang pada tiang tangkol, pada ujung tiang dipasang tali semirang yang diulur hingga mencapai dudukan di mana nanti nelayan penarik tangkol akan berdiri.

4. Cara Penggunaan

  • Nelayan penarik tangkol berdiri di dudukan. Kedua tangan nelayan penarik tangkol memegang tali semirang kemudian tali semirang diulur agar jaring dapat tenggelam. Jaring ditenggelamkan kira-kira 0,5 meter di bawah permukaan air. Tunggu beberapa saat hingga kira-kira ada sekawanan ikan yang lewat atau berkumpul di atas jaring.
  • Untuk mengarahkan ikan agar melewati jaring yang dipasang, di sekeliling jaring dipasang pagar kayu atau bambu yang dibuat berjajar-jajar secara rapat. Jika tidak, para nelayan akan memberi sedikit umpan yang disebarkan di atas permukaan air di mana jaring tersebut dipasang.
  • Setelah jaring tenggelam beberapa saat di dalam air, jaring tersebut kemudian diangkat. Caranya dengan menarik tali dengan cepat agar ikan tidak lolos dari dalam jaring.  

5. Kelebihan dan Kekurangan

Tangkol mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari peralatan ini adalah:

  • Penggunaan tangkol relatif mudah karena tinggal menurunkan dan menaikkan tiang tangkol dengan cara menarik dan mengulur tali semirang sehingga peralatan ini dapat digunakan meskipun hanya oleh satu orang.
  • Biaya yang dikeluarkan untuk membuat peralatan ini tidak terlalu besar. Tangkol hanya perlu dibuat satu kali untuk jangka waktu penggunaan yang lama. Awet dan tidaknya tangkol tergantung pada kualitas bahan dan sering atau tidaknya tangkol digunakan.
  • Peralatan ini tidak memerlukan perawatan khusus.
  • Para nelayan tidak perlu menunggu selama berhari-hari untuk mendapatkan hasil tangkapan mereka. Proses penangkapan ikan dengan menggunakan peralatan ini biasanya justru terjadi dalam waktu yang relatif singkat.

Akan tetapi, selain mempunyai beberapa kelebihan, tangkol juga memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan tangkol yaitu:

  • Ikan yang didapatkan lebih sedikit bila dibandingkan dengan penangkapan ikan menggunakan pukat. Hal ini dikarenakan jaring tangkol tidak terlalu luas atau besar. Selain itu, hasil tangkapan tergantung pada jumlah ikan yang hidup di sekitar tempat tangkol dipasang atau ikan-ikan yang kebetulan melintas di atas jaring yang dipasang.
  • Tangkol tidak dapat digunakan sewaktu-waktu dan tidak dapat dipindah-pindah karena peralatan ini tergantung pada surutnya air sungai serta dipasang permanen pada tempat tertentu. Penangkapan ikan menggunakan tangkol hanya dapat dilakukan di satu tempat. Karena peralatan tersebut dipasang permanen pada tempat tertentu, maka memindahkan peralatan tersebut tidak mungkin dilakukan. Akibatnya, penangkapan ikan hanya dilakukan di satu tempat saja. Hal tersebut menyebabkan hasil tangkapan yang tidak maksimal.

6. Nilai-nilai

Penggunaan peralatan tangkol untuk menangkap ikan mengandung nilai-nilai tertentu. Beberapa nilai yang terkandung dalam penggunaan peralatan ini adalah:

a. Nilai konservasi lingkungan

Penggunaan peralatan penangkap ikan tradisional yang tidak mengandung bahan kimia atau bahan yang berbahaya yang lain merupakan salah satu bentuk upaya untuk menjaga kelangsungan kehidupan habitat air. Meskipun ikan merupakan salah satu sumber daya biotik yang dapat berkembang biak, namun jika dieksploitasi secara terus-menerus tanpa memberi kesempatan kepada mereka untuk berkembang, bukan tidak mungkin ikan-ikan tersebut akan cepat punah. Dengan demikian, sangat penting untuk menggunakan peralatan yang tidak membunuh atau menangkap semua ikan yang ada.

b. Nilai ekonomi

Menangkap ikan dengan menggunakan peralatan tangkol dapat menjadi mata pencaharian tambahan. Para nelayan penarik tangkol menggunakan peralatan ini sebagai peralatan utama mata pencaharian mereka sebagai nelayan, khususnya masyarakat yang berada di wilayah pesisir atau yang bermukim di wilayah sekitar aliran sungai. Dengan demikian, masyarakat dapat meningkatkan taraf perekonomian mereka. Keuntungan secara ekonomis yang diperoleh adalah sumber daya laut atau pun sungai tersebut disediakan oleh alam, para nelayan tinggal mengambil sekaligus menjaga kelestariannya.

c. Nilai budaya

Menangkap ikan dengan menggunakan tangkol merupakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun sehingga penggunaan peralatan ini mengandung nilai pelestarian tradisi. Upaya untuk melestarikan tradisi dan nilai-nilai budaya tidak harus melulu pada sesuatu yang besar dan agung, akan tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari serta dari hal-hal kecil. Penggunaan peralatan tangkol sebagai alat untuk menangkap ikan adalah salah satu upaya untuk melestarikan tradisi dan budaya setempat.

7. Penutup

Peralatan tangkol merupakan salah satu kekayaan tradisi dan kearifan ekologis yang perlu dilestarikan. Secara ekonomis, hasil ikan tangkapan peralatan ini barangkali kalah jauh jika dibandingkan dengan peralatan yang lebih modern. Namun, penggunaan peralatan ini merupakan bentuk nyata tindakan masyarakat Pangkalpinang untuk menjaga kelestarian habitat air laut dan air sungai.

(Mujibur Rohman/bdy/03/06-2010)

Sumber foto: Akhmad Elvian, ed., 2007. Alat tangkap tradisional Kota Pangkalpinang. Pangkalpinang: Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pangkalpinang, h. 76.

Referensi

Akhmad Elvian, ed., 2007. Alat tangkap tradisional Kota Pangkalpinang. Pangkalpinang: Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pangkalpinang.

Akhmad Elvian, et.al., 2006. Pangkalpinang: Kota pangkal kemenangan. Pangkalpinang: Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pangkalpinang.

Sjahrum, ed., 2006. Setengah abad Kota Pangkalpinang sebagai daerah otonom. Pangkalpinang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pangkalpinang.

Pemerintah Provinsi Bangka Belitung, 2010. “Sekilas sejarah”. [Online] Tersedia di http://www.babelprov.go.id/content/sekilas-sejarah [Diunduh pada 21 Juni 2010]

______________, 2010. “Letak geografis”. [Online] Tersedia di http://www.babelprov.go.id [Diunduh pada 21 Juni 2010]

Dibaca : 7.465 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password