Selasa, 28 Maret 2017   |   Arbia', 29 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 10.877
Hari ini : 107.462
Kemarin : 113.319
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.009.516
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Kematian dalam Pengetahuan Dayak Salako, Kalimantan Barat

 

Kematian adalah siklus hidup yang dianggap penting oleh orang Dayak Salako, Kalimantan Barat. Kematian mereka pahami sebagai peristiwa menyatu dan kembalinya jasad manusia dengan alam dunia (taino) atau menyatunya ayu (jiwa) dengan Subayaton.

1. Asal-usul

Suku Dayak yang mayoritas hidup di Pulau Kalimantan memiliki kebudayaan yang eksotis dan menarik untuk ditelusuri. Eksotisme itu salah satunya tercermin dalam sikap mereka yang selalu menjaga keseimbangan alam (Alfred Russel Wallace, 1986). Sikap ini juga terekam secara nyata dalam upacara adat-istiadat mereka yang sering melibatkan kekuatan spiritual alam. Ciri khas inilah yang menjadikan identitas Dayak berakar kuat dalam kehidupan mereka dan dikenal orang hingga kini (Yekti Maunati, 2006).

Salah satu subsuku Dayak yang eksotisme kebudayaannya masih kental adalah Dayak Salako di Kalimantan Barat. Dayak Selako diyakini berasal dari daerah aliran sungai Salako (sekarang nama sebuah kecamatan di Kabupaten Sambas). Nama Salako itu sendiri konon berasal dari kata saak ako atau asu’ ako yang berarti anjing hutan yang banyak berkeliaran di sekitar sungai. Karena anjing ini sering menyalak, penduduk sering membunuh binatang tersebut.

Orang Dayak Salako masih hidup dengan mempertahankan tradisi nenek moyang mereka dengan dasar pengetahuan yang kuat. Salah satunya adalah pengetahuan mereka tentang kematian. Bagi orang Dayak Salako, kematian adalah peristiwa penting yang harus diperingati dengan upacara ritual adat. Menurut mereka, kematian adalah kembalinya manusia ke alam subayaton, yaitu tempat bermukimnya arwah manusia. Di subayaton itu pula, Tuhan mereka yang bernama Jubato[1] tinggal.

Pengetahuan orang Dayak Salako tentang kematian ini berasal dari pemahaman mereka terhadap kehidupan manusia. Menurut mereka, ada 7 (tujuh) jiwa dalam sistem religius mereka, dua di antaranya adalah nyawa dan ayu. Keduanya saling berkait erat dengan tubuh manusia baik sebelum maupun setelah mati. Nyawa dan ayu menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dalam kehidupan orang Dayak Salako. Demikian juga setelah seorang Dayak Salako meninggal.

2. Konsep Kematian

Konsep kematian orang Dayak Salako merupakan turunan dari konsep mereka tentang manusia dan kehidupan. Menurut orang Dayak Salako, manusia merupakan bagian dari alam yang lebih besar. Antara manusia dengan alam yang lebih besar tersebut selalu terjadi komunikasi melalui tanda-tanda alam yang dikirimkan oleh tuhan mereka yang bernama Jubato. Salah satu peristiwa kehidupan manusia yang tandanya sangat penting untuk dikenali adalah tanda kematian.

Menurut orang Dayak Salako, terdapat 7 (tujuh) jiwa yang berkait erat dengan  kematian manusia, dua di antaranya adalah nyawa dan ayu. Nyawa adalah roh manusia yang akan hilang ketika manusia meninggal. Sementara itu, ayu  adalah sesuatu yang berada di belakang badan dan melindungi manusia dari “belakang”. Jika ayu hilang, maka manusia akan sakit. Sesudah orang meninggal, ayu tetap tinggal bersama dengan badan orang tersebut. Terdapat hubungan erat antara ayu dengan hantu. Oleh karena itu, ayu sering juga disebut hantu.

Manusia dan alam Jubato memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Dalam kehidupannya, manusia selalu berkomunikasi dengan Jubato melalui tanda-tanda, salah satunya adalah kematian. Menurut orang Dayak Salako, kematian dipahami sebagai peristiwa menyatu dan kembalinya jasad manusia dengan alam dunia (taino) dan ayu (jiwa) dengan Subayaton. Saat manusia akan meninggalkan dunia, alam mengkomunikasikannya pada manusia dengan tanda berupa suara sejenis mahluk gaib yang disebut Tirantokang. Suara itu menyerupai bunyi sebuah parang besar yang beradu dengan kayu. Suara itu biasanya akan muncul pada malam hari antara pukul 10.00 hingga 12.00.

Suara itu berarti bahwa makhluk gaib tersebut telah memotong-motong badan seseorang hingga meninggal. Dalam kondisi ini, biasanya dalam beberapa hari kemudian akan ada orang yang meninggal, baik itu di desa sendiri maupun desa sekitarnya. Suara itu juga ditafsirkan sebagai sorak-sorai subayaton menyambut kedatangan manusia yang akan menyatu kembali dengannya.

Orang Dayak Salako juga meyakini bahwa ketika orang sudah meninggal (momo’), maka dia dianggap telah kembali ke asalnya (binuo) sehingga tidak boleh diganggu. Oleh karena itu, orang Dayak Salako tidak membersihkan atau memandikan mayat melainkan langsung menguburkannya dengan membuat ritual doa adat.

Setelah mayat tersebut dikuburkan, jika dalam waktu lama kuburan tersebut banyak ditumbuhi pepohonan dan semak belukar, maka pepohonan dan semak belukar tersebut tetap saja dibiarkan tumbuh lebat karena masyarakat takut arwah dalam kubur tersebut justru marah jika semak belukar itu dibersihkan. Bentuk kemarahan itu biasanya berupa munculnya penyakit yang menimpa masyarakat. Kuburan di kalangan masyarakat Dayak Salako juga dibiarkan kosong seperti tanah biasa dan tidak diberi tanda apapun, misalnya batu nisan.

3. Pengaruh Sosial

Pengetahuan orang Dayak Salako tentang kematian ini memiliki pengaruh sosial yang nyata dalam kehidupan mereka, antara lain:

  1. Menghormati alam. Seperti umumnya orang Dayak di Kalimantan, keseharian orang Dayak Salako selalu bersentuhan dengan alam. Sangat wajar jika pandangan hidup mereka tentang kematian ditunjukkan dengan tanda-tanda alam. Tanda alam tersebut menjadi penuntun mereka dalam hidup termasuk dalam mengetahui kematian. Dalam konteks ini, pengetahuan mereka tentang kematian semakin menambah penghormatan mereka terhadap alam. Hal ini terwujud dalam sikap sosial mereka dalam menjaga hutan dan ekosistem yang ada di dalamnya.  
  2. Waspada terhadap tanda-tanda alam. Pengetahuan orang Dayak Salako tentang kematian juga berpengaruh dalam kehidupan sosial mereka khususnya dalam mewaspadai adanya bencana. Sebagai contoh adalah kewaspadaan mereka ketika mendengar suara makhluk gaib tertentu (rasi) yang berbunyi pada situasi yang tidak biasanya. Tanda ini dipahami agar mereka memilih waktu (jam dan hari) yang tepat dalam melaksanakan kegiatan di luar rumah. Jika hal itu tidak diperhatikan maka mereka akan tertimpa bencana.
  3. Sumber penyakit di masyarakat. Orang Dayak Salako meyakini bahwa antu adalah jiwa orang mati. Antu selalu dianggap sebagai sumber penyakit pada manusia, binatang maupun tumbuhan, seperti penyakit cacar pada manusia dan hama wereng atau tikus pada tanaman padi.
  4. Kesaktian. Orang Dayak Salako meyakini adanya kesaktian yang disebut dengan Pama yang artinya berkat, yaitu satu kekuatan yang membawa keuntungan. Pama hanya dimiliki oleh orang tertentu seperti pengayau yang berhasil. Mereka mempunyai pama karena dianggap mempunyai hubungan dengan jubato. Jikalau orang yang mempunyai pama meninggal, maka pama akan pindah ke orang lain yang juga memiliki pama.

4. Penutup

Sikap menghormati alam yang dipengaruhi oleh pengetahuan pada orang Dayak Salako menandakan bahwa pengetahuan tersebut penting untuk diapresiasi oleh seluruh pihak, baik masyarakat, pemerintah sebagai penentu kebijakan, maupun pemegang Hak Pengelolaan Hutan (HPH), mengingat alam Kalimantan yang saat ini sedang mengalami degradasi lingkungan yang kian parah.

(Yusuf Efendi/bdy/34/06-10).

Referensi

Adam, 2007. Ngabayotn, ungkapan syukur Dayak Salako kepada Jubato [online]. Dapat diakses di http://www.kalimantanreview.com. (Diunduh tanggal 15 Juni 2010).

Alfred Russel Wallace, 1986. Kepulauan nusantara. Sebuah kisah perjalanan, kajian manusia dan alam. Jakarta: Komunitas Bambu.

J.U. Lontaan, 1975. Sejarah hukum adat dan adat istiadat Kalimantan Barat. Jakarta: Bumi Restu.

Kristianus Atok, 2008. Mengenal lebih jauh suku Dayak Salako [online]. Dapat diakses di http://kristianusatok.blogspot.com. (Diunduh Tanggal 15 Juni 2010).

Sunawar Owat, 2008. Religi tradisional Dayak Salako dan lingkungan hidup [online]. Dapat diakses di http://bilayuk.blogspot.com. (Diunduh tanggal 16 Juni 2010).

Yekti Maunati. 2006. Identitas Dayak, komodifikasi dan politik kebudayaan. Yogyakarta: LKIS.

Yohanes Supriyadi, 2009. Merekonstruksi identitas orang Salako Kalimantan Barat [online].   http://yohanessupriyadi.blogspot.com. (Diunduh tanggal 16 Juni 2010).

Yusuf Efendi, 2010. Nyangahatan: Upacara musim tanam dan panen suku Dayak Kanayatan [online]. Dapat diakses di  http://melayuonline.com. (Diunduh tanggal 16 Juni 2010).

Sumber foto: Ratno Putra, 2009. Dayak Salako dan kesehatan pribadi [online]. Terdapat di http://cacing-ratno.blogspot.com. Diunduh tanggal 13 Juli 2010.



 

[1] Di atas Jubato, menurut keyakinan orang Dayak Salako, ada dewa tertinggi yang mereka sebut dengan Nek Panitah. Ia hidup bersama istrinya yang bernama Ne Duniang. Pasangan ini memiliki anak bernama Baruakng Kulub. Sedikit berbeda dengan orang Dayak Salako, orang Dayak Kanayatn yang juga hidup di Kalimantan Barat menyebut tuhan mereka dengan Jubata (beda huruf akhirnya). Jubata menjadi salah satu kepercayaan yang mendasari orang Dayak Kanayatn melakukan upacara musim tanam yang mereka sebut dengan Nyangahatan (http://melayuonline.com).  

Dibaca : 7.561 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password