Selasa, 25 April 2017   |   Arbia', 28 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 8.329
Hari ini : 68.874
Kemarin : 52.079
Minggu kemarin : 401.091
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.200.187
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Syair Kampung Gelam Terbakar


Syair Kampung Gelam Terbakar, Naskah Klinkert 182, halaman 1

Syair Kampung Gelam Terbakar (1847) adalah sebuah karya puisi berbentuk syair karangan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Karya ini mengandung narasi tentang kebakaran yang terjadi di Kampung Gelam, Singapura, sekitar tahun 1847. Syair Kampung Gelam Terbakar sering dikelirukan dengan karya puisi Abdullah yang lain yang juga bercerita tentang kebakaran yang terjadi di Singapura, yaitu Syair Singapura Terbakar (1830).

A. Pendahuluan

Syair Kampung Gelam Terbakar dan Syair Singapura Terbakar sering dikelirukan satu sama lain sebelum terbitnya kajian serius oleh Amin Sweeney (2006) terhadap kedua puisi karya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi tersebut. Pengeliruan itu dapat terjadi karena naskah dan edisi kedua karya ini sangat langka sehingga menyulitkan dokumentasi dan pengkajian. Selain itu, sebagian besar sarjana Belanda dan Inggris yang meneliti kedua karya tersebut mendasarkan penelitian mereka pada deskripsi Abdullah sendiri tentang karya-karya itu di dalam karya prosanya yang terkenal, Hikayat Abdullah (1849).

Pengeliruan tersebut dapat bertahan sangat lama, mulai dari masa kolonial dan bahkan hingga masa kemerdekaan negara-negara rumpun Melayu, karena terus-menerus diulang dalam berbagai buku tentang kesusastraan Melayu yang disusun oleh para sarjana Barat dan digemakan begitu saja oleh para akademisi Melayu sendiri. Pengeliruan itu bahkan bisa memunculkan kesalahan total tentang kedua karya tersebut, seperti yang dilakukan oleh Maman S. Mahayana (1995:154) yang menyebutkan bahwa judul Syair Singapura Terbakar adalah Syair Singapura Dimakan Api.

Penyelidikan Sweeney (2006) memberikan bukti yang sangat kuat bahwa Syair Kampung Gelam Terbakar adalah karya Abdullah yang lain, yang berbeda daripada Syair Singapura Terbakar. Dalam bukunya, Sweeney (179-196) menampilkan teks dasar Syair Kampung Gelam Terbakar berdasarkan edisi yang terpercaya, yaitu edisi cap batu Jawi yang dicetak pada tahun 1847. Dari teks tersebut, terlihat bahwa tema narasi karya ini memang sama dengan tema narasi Syair Singapura Terbakar, namun bentuk dan pengembangannya mematuhi hukum-hukum literernya sendiri yang berbeda dari Syair Singapura Terbakar.

B. Manuskrip dan Publikasi

Deskripsi berikut ini diambil dari hasil penelusuran Amin Sweeney terhadap naskah dan teks Syair Kampung Tenggelam yang kemudian ditampilkan dalam Amin Sweeney, 2006. Karya lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi Julid 2 Puisi dan Ceretera. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan ecole francaise d’Extreme-Orient.

  • Edisi cap batu, berukuran 325 x 13,25 cm. Lembar ini terdiri dari beberapa helai kertas yang dilem menjadi satu. Berlipat-lipat; jarak antara setiap lipatan 26 cm. Baris-baris tidak dipisahkan oleh lipatan, melainkan ada yang tercetak di atas lipatan. Lebar bingkai 11 cm. Dua kolom sejajar, masing-masing lebarnya berukuran 5 cm. Kolom untuk “Pantun Api di Kampung Gelam” lebih sempit, yaitu 4 cm. Diterbitkan di Singapura, 1847. Edisi ini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden dan Perpustakaan Nasional Perancis di Paris.
  • Naskah CO 3346. Enam lembar folio, tidak dijilid. Terdapat catatan pada amplop wadah naskah ini yang menyatakan bahwaw naskahnya ditemukan terselip dalam edisi cap batu yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Format naskah ini dan tulisannya yang kecil dan rapi memberi kesan jelas bahwa induknya adalah edisi cap batu. Tidak ada satu tanda pun yang menunjuk pada materi yang tidak terkandung dalam edisi tersebut. Pada keseluruhannya, naskah ini sangat patuh pada edisi itu. Naskah ini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Tanggalnya tidak tercatat. Hitungan keenam lembar folio tersebut adalah sebagai berikut.

  • Naskah Klinkert 182. 17 halaman, berukuran 22,25 x 15 cm, dengan 16 baris per halaman. Naskah ini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Disalin pada 20 Juni 1880 oleh H.C. Klinkert. Berbeda dengan konvensi Melayu, judul syair dipaparkan secara Eropa di kepala halaman satu: “Syair Singapura Terbakar”.
  • Naskah 270W. Naskah ini dari koleksi H. von de Wall, nomor 270. 17 halaman, berukuran 33 x 21 cm, dengan 18 baris per halaman. Disalin pada 18 Jumadilawal, 1277 = ½ Desember 1860 (Tanggal yang diberi Skinner 1972:28, yaitu 16/17 November 1860, tampaknya lebih mengarah pada kalender Julian, yaitu 20 November 1860). Naskah ini tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
  • Naskah Mal.-pol. 279. Naskah ini berisi beberapa teks pendek dijilidkan bersama. Ukurannya 20,5 x 26 cm. Selain Syair Kampung Gelam Terbakar, terdapat sebuah syair, dua teks pantun, dan sebuah risalat tentang agama Islam. Naskah ini dihadiahkan kepada Bibliotheque Nationale oleh Musee Guimet di Lyon. Panjang Syair Kampung Gelam Terbakar 33 halaman. Penyalin naskah ini adalah Aristide Rey. Salinannya didasarkan pada edisi cap batu yang dibawa sendiri oleh Rey dari Singapura, kiriman Abdullah untuk Dulaurier. Hanya terdapat satu perbedaan kecil dengan teks cap batu (kata duduk ditulis tanpa qaf). Seluruh teksnya mirip dengan yang asli. Perbandingan dengan edisi cap batu memperlihatkan penggunaan titik yang persis sama untuk beberapa abjad dalam huruf Jawi.
  • Syair Kampung Gelam Terbakar dalam Amin Sweeney, 2006. Karya lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi Julid 2 Puisi dan Ceretera. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan ecole francaise d’Extreme-Orient. Hal. 179-196.

D. Beberapa Kajian tentang Syair Kampung Gelam Terbakar

1. Sumber Pengeliruan

Abdullah menyebutkan dengan cukup jelas di dalam Hikayat Abdullah (1849) bahwa dia menulis dua buah syair panjang tentang kebakaran yang terjadi di Singapura, masing-masing berjudul Syair Singapura Terbakar dan Syair Kampung Gelam Terbakar. Menurut Abdullah, kebakaran yang dikisahkan dalam Syair Singapura Terbakar terjadi pada tahun 1830 sedangkan kebakaran yang dikisahkan dalam Syair Kampung Gelam Terbakar terjadi pada tahun 1847, ketika Singapura dipimpin oleh Gubernur Butterworth. Semestinya, hal ini sudah menjelaskan bahwa kedua syair itu berbeda.

Akan tetapi, yang terjadi selama bertahun-tahun adalah, dalam istilah Sweeney (2006), “kekacaubalauan”. Kekacaubalauan itu terjadi karena teks-teks kedua syair itu sangat langka, baik teksnya dalam huruf Jawi maupun dalam huruf Rumi, sehingga para pengkaji tidak dapat merujuk secara langsung kepada sumber primer. Kamus Melayu Wilkinson maupun Winstedt dalam “A History of Malay Literature” (1939) mengandalkan edisi Rumi Syair Kampung Gelam Terbakar. Rujukan Winstedt menunjukkan bahwa teks ini adalah edisi 1908 yang dicetak di Pulau Pinang. Sweeney (2006:32) menyatakan bahwa teks itu adalah terbitan ulang dari edisi cantuman Syair Silambari dan Syair Kampung Gelam Terbakar (Singapore Press, 1887 dan 1890).

Winstedt tidak memiliki teks Syair Singapura Terbakar – dia tidak menyebutkan teks ini dalam daftar pustakanya – sehingga mengelirukan kedua syair ini dengan Syair Kampung Gelam Terbakar. Ketika mengutip dua rangkap atau stanza yang memuji Gubernur Butterworth, dia menyatakan bahwa sumbernya adalah “his Sha’ir Singapura (or Kampung Gelam) Terbakar” (Sweeney, 2006:32). Padahal, Abdullah di tempat lain menyebutkan dengan jelas adanya dua peristiwa kebakaran yang berbeda. Jadi, Winstedt mencampur-adukkan kedua peristiwa dan karya itu.

Dengan mendasarkan tangapannya pada Hikayat Abdullah, dan karena tidak memiliki akses terhadap kedua syair yang diperdebatkan, A.H. Hill (dalam Sweeney, 2006:33) menanggapi kekhilafan Winstedt dengan menyatakan dugaan bahwa “Semestinya pernah wujud dua perangkat puisi yang dikarang pada dua waktu yang berbeda”. Akan tetapi, selanjutnya Hill menimbulkan kekisruhan karena mengkritik J.T. Thomson. Thomson (dalam Sweeney, 2006:33) menyatakan bahwa kebakaran yang dahsyat – pada tahun 1830, yang dikisahkan dalam Syair Singapura Terbakar – akan lama tidak luput dari ingatan. Kebakaran lain di Singapura yang hampir dapat menandingi kebakaran besar pada tahun 1830 adalah kebakaran di Kampung Gelam, sekitar tahun 1847.

Hill salah mengerti maksud Thomson, yang disangkanya mengatakan bahwa deskripsi Abdullah mengacu pada kebakaran di Kampung Gelam. Sangkaan itu tidak benar karena naskah Hikayat Abdullah yang dimiliki Thomson baru diperoleh pada tahun 1846 – sebelum terjadinya kebakaran di Kampung Gelam. Pernyataan Thomson tentang kebakaran yang hampir dapat menandingi kebakaran pada tahun 1830 tentu diperoleh dari sumber lain, bukan Hikayat Abdullah.

2. Pengeliruan pada Abad ke-20 dan Penjernihan

Pengeliruan Syair Kampung Gelam Terbakar dan Syair Singapura Terbakar terus berlanjut hingga abad ke-20. Para sarjana Inggris pada awal abad ke-20 pada umumnya kesulitan memperoleh karya-karya Abdullah. Naskah-naskah dan eksemplar edisi cetakan kedua “syair kebakaran” karya Abdullah hampir semua tersimpan di Leiden dan Jakarta. Sebagian besar penelitian awal terhadap kedua kisah pelayaran Abdullah, termasuk edisi teks dan terjemahan, dilakukan oleh sarjana Belanda. Di wilayah jajahan Inggris, yang mendorong Abdullah untuk menulis juga bukan orang Inggris, melainkan Alfred North, seorang pendeta Amerika. Hal ini dapat dianggap ironis karena Abdullah, sebagaimana yang telah dibuktikan oleh Sweeney (2005, 2006) pada dasarnya adalah “pemuja” Inggris.

Teks Syair Kampung Gelam Terbakar yang menjadi dasar bagi edisi-edisi berikutnya yang ditangani secara ilmiah adalah teks yang tersimpan di Universitas Leiden. Teks ini adalah teks yang disalin sendiri oleh Klinkert (naskah Klinkert 182). Selain teks ini, terdapat beberapa teks lain. Berikut ini adalah keterangan dari Sweeney (2006) tentang alur pengeliruan kedua “syair kebakaran” karya Abdullah.

Dalam katalog naskah Bataviaasch Genootschap, van Ronkel (1909:350) memberi deskripsi tentang satu naskah Syair Kampung Gelam Terbakar yang tersimpan di Jakarta, akan tetapi judul yang diberikannya adalah “Sja’er Singapoera Dimakan Api”. Bagaimanapun, ini bukan rekaan van Ronkel. Terdapat juga edisi cap batu Syair Kampung Gelam Terbakar yang terbit di Singapura pada tahun 1860 dengan judul Sya’ir Singapura Dimakan Api. Dalam Suplement-Catalogues der Maleische en Minangkabausche Handschriften in de Leidsche Universiteits-Bibliotheek, van Ronkel (1921:86-87) mendokumentasikan dua lagi naskah syair tersebut. Kini judulnya lain pula, yaitu “Sya’ir Singaporea Terbakar”. Katalog-katalog ini memang dimanfaatkan Winstedt (1939:235). Maka diajukan Skinner (1972:27-28), bahwa pengeliruan kedua judul syair itu mungkin disebabkan oleh rujukan pada van Ronkel (Sweeney, 2006:42).

Akan tetapi, Sweeney (2006:42-43) berpendapat bahwa asal timbulnya pengeliruan judul Syair Singapura Terbakar dan Syair Kampung Gelam Terbakar sangat jelas karena buktinya tertera pada kedua naskah yang tersimpan di Leiden. C. Skinner mengandalkan kedua naskah ini ketika menyediakan edisi Syair Kampung Gelam Terbakar (1972).

Boleh jadi Skinner tidak melihat sendiri naskah tersebut karena pada halaman pertama naskah Syair Kampung Terbakar yang disalin oleh Klinkert, judul karya ini ditulis dengan sangat terang: “Sya’ir Singapura Terbakar”. Kekeliruan ini bisa saja jadi terjadi karena pada halaman pertama naskah yang lain, yaitu Codex Orientalis (CO) 3346, terdapat catatan dengan tulisan tangan: “Syair Singapore terbakar door Abdullah ibn Abd al Kadir”. Naskah itu tersimpan dalam amplop warna Manila, yang juga ditulisi dengan tulisan tangan: “Sjair Singapore terbakar door Abdullah ibn Abdelgadeer”.

Sebelum dijernihkan oleh Sweeney (2006), teks Syair Kampung Gelam Terbakar yang dianggap paling mendekati teks orisinilnya adalah edisi hasil salinan dan suntingan Skinner (1972) berdasarkan naskah Klinkert 182. Karena tidak mendapatkan edisi cap batu teks syair ini, Skinner mengklaim mendasarkan suntingannya pada naskah Klinkert 182. Akan tetapi, hasil suntingan Skinner ternyata merupakan teks komposit. Dalam suntingannya itu, Skinner mencampuradukkan teks Klinkert 182 dengan dua teks lain, yaitu CO 3346 dan MS 270W (tersimpan di Jakarta). Akibat teks komposit ini, Sweeney (2006:50-53) telah menjelaskan bahwa edisi suntingan Skinner itu boleh jadi tidak memberikan gambaran yang tepat tentang bahasa dan gaya Abdullah sehingga perlu disangsikan.

Walaupun tidak diketahui dengan pasti latar belakang penyalinan teks Syair Kampung Gelam Terbakar oleh Klinkert, akan tetapi ketidaktepatan penyalinannya membukakan tafsiran lain tentang penyikapan para sarjana Barat, terutama Belanda, terhadap teks-teks berbahasa Melayu dan terhadap bahasa Melayu secara umum. Dapat dipahami jika teks yang disalin dalam tradisi Melayu cenderung menyimpang lebih jauh dari teks asli, seperti yang terjadi pada naskah 270W. Akan tetapi, jika penyalinan dilakukan di bawah pemantauan majikan Eropa, maka penyalinan biasanya dilakukan patuh kata demi kata terhadap teks induk, seperti yang terjadi pada CO 3346.

Dalam kasus Syair Kampung Gelam Terbakar, pemilihan naskah Klinkert 182 untuk menjadi dasar penyuntingan oleh Skinner didasari alasan bahwa naskah itu disalin langsung dari edisi cap batu. Dengan begitu, Skinner kemungkinan besar mengira bahwa Klinkert 182 akan lebih patuh pada teks induk. Akan tetapi, CO 3346 ternyata jauh lebih patuh kepada teks induk. Hal ini membukakan kemungkinan lain, yaitu bahwa motif penyalinan oleh Klinkert bukan mencari orisinalitas teks, melainkan hendak “memperbaiki” teks tersebut.

Sweeney (2006) telah menjernihkan pengeliruan kedua “syair kebakaran” Abdullah karena berhasil memperoleh teks Syair Kampung Gelam Terbakar yang orisinil. Teks ini adalah edisi cap batu yang diterbitkan pada tahun 1847 di Singapura dan kini tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden dan Perpustakaan Nasional Perancis di Paris.

3. Kebahasaan

Dugaan tentang kehendak untuk memperbaiki teks Syair Kampung Gelam Terbakar itu semakin dikuatkan dengan fakta bahwa hasil salinan itu tidak pernah beredar dalam tradisi Melayu dan akhirnya ditempatkan di Perpustakaan Universitas Leiden. Dugaan selanjutnya adalah bahwa perbaikan teks ini terkait dengan rencana pihak Belanda untuk memanfaatkan bahasa Melayu “Tinggi” untuk disebarluaskan sebagai bahasa administrasi di jajahan Hindia Belanda. Aspek-aspek perbaikan itu meliputi perapian, malah penjinakan, bahasa Melayu supaya sesuai dengan logika Belanda, lengkap dengan segala macam hukum yang belum tentu berlaku dalam bahasa Melayu “pra-penjinakan” (Sweeney dalam Sweeney, 2006:53).

Tindakan Klinkert yang merupakan pegawai pemerintah kolonial Hindia Belanda berbeda dari sikap dan tindakan para pegawai kolonial Inggris di Semenanjung. Sementara pemerintah kolonial Hindia Belanda mendukung upaya Klinkert dan peneliti bahasa dan sastra lain untuk memanfaatkan bahasa Melayu demi kepentingan kolonial, pemerintah kolonial Inggris justru menghambat perkembangan penelitian bahasa Melayu baik oleh pegawainya sendiri maupun para penulis Melayu. Misalnya, Winstedt, dengan menggunakan standar kebahasaan dalam Sejarah Melayu – yang juga disunting oleh Abdullah – mengkritik selera Abdullah karena sering menggunakan kata-kata abstrak dalam karya-karyanya. Akan tetapi Klinkert justru ‘memperbaiki’ selera Abdullah. Sweeney (2006:54) mencontohkan bahwa dalam edisi cap batu Syair Kampung Gelam Terbakar, Abdullah menggunaka kata “pada fikiran saya”, namun oleh Klinkert klausa ini “diperbaiki” menjadi “pada kefikiran saya”.

Abdullah sangat peka terhadap perkembangan wacana bahasa Melayu sehingga melakukan banyak sekali pengembangan terhadap bahasa Melayu dalam tulisan-tulisannya dengan tujuan agar bahasa ini dapat mengikuti berbagai macam perkembangan dalam dunia yang semakin modern. Abdullah menolak kaidah komposisi rumus-lisan yang bergantung pada formula sehingga makna sesuatu kata sering tertangkap hanya kalau terletak dalam formula yang dikenal umum. Dengan demikian, pembaca dapat membedakan antara, misalnya, “tambang”, “tumbang”, “timbang” dan sebagainya (t-m-b-g). Abdullah cenderung menyesuaikan ejaannya supaya sesuatu kata dapat dimengerti di luar konteks formula.

Pembaruan Abdullah memang masih cair dan dilakukan dalam tradisi Melayu sehingga harus “diperbaiki” jika akan digunakan secara politis untuk kepentingan kolonial. Klinkert yang juga menyusun kamus bahasa Melayu (1893) memilih menggunakan ejaan Jawi lama. Ejaan yang dipilihnya hanya sesuai dengan bahasa formulaik yang mengisyaratkan bentuk sesuatu dengan konteksnya yang tidak asing. Klinkert menggunakan bentuk arkais kata-kata bahasa Melayu. Misalnya, mukanya (m-w-k + ny), lupakan (l-w-p + k-n), kakinya (k-a-k-y + ny) yang biasanya dieja m-w-k-a-ny, l-w-p-ak-n, k-a-k-y-ny, dieja menjadi m-k-a-ny, l-p-a-k-n, dan k-k-y-ny (Sweeney, 2006:56). Padahal, dalam Syair Kampung Gelam Terbakar, Abdullah telah menggunakan ejaan yang lebih praktis. Ejaan Jawi lama yang diterapkan oleh Klinkert meninggalkan jejaknya pada generasi siswa Indonesia yang diajari sistem bacaan Jawi ketinggalan zaman ratusan silam (Sweeney, 2006:57).

Pengaruh penjinakan bahasa Melayu oleh Klinkert membekas juga dapat ranah tata bahasa. Klinkert menggunakan panduan para sarjana Belanda tentang “konjugasi” kata kerja. Bentuk “engkau pegang” yang terdapat dalam semua versi bahasa Melayu diubah menjadi “kaupegang” (Sweeney, 2006:57). A. Teeuw (dalam Sweeney, 2006:57) menyatakan bahwa standarisasi bahasa Melayu “Tinggi” oleh van Ophuysen mengakibatkan bentuk konjugasi semacam itu menjadi tanda kahas bahasa Indonesia yang betul. Kata-kata lain yang “diperbaiki” oleh Klinkert adalah varian yang menyangkut ber-. “Berterbangan”, “berniaga” dan “berleter” ditolak dan diubah menjadi “beterbangan”, “beniaga”, dan “beleter”. Bentuk “Api pun menjilatlah di rumah Keling” diubah menjadi “Api pun menjilatkan di rumah Keling”. Bentuk “Ada yang diruntun ada yang diterajang” diubah menjadi “Ada yang diruntuh ada yang diterajang”. Padahal, bentuk “diruntuh” tidak pernah muncul dalam tulisan Abdullah karena yang dipakainya adalah “diruntuhkan” (Sweeney, 2006”57).

Penggunaan angka dua dalam teks edisi cap batu Syair Kampung Gelam Terbakar tidak secara konsisten diubah atau dipertahankan oleh Klinkert. Ada kalanya angka dua pada teks induknya dipertahankan, di tempat lain, diubah menjadi pengulangan dengan ejaan “penuh”. Contohnya adalah perbandingan sebagai berikut:

  • Bahananya kedengaranlah sampai ke mana-mana (13d)
  • Orang pun berlarilah datang dari mana2 (14a)

Sweeney (2006:58) menerangkan “rahasia” pengubahan yang tidak konsisten ini sebagai berikut:

Tulisan Jawi Klinkert sangat rapi dan hati-hati serta taat memenuhi garis mistar. Penulis Melayu yang kawakan juga tentu memanfaatkan mistar tetapi dengan cara yang lebih bebas sehingga tulisannya selalunya lebih hidup, bergerak lincah, mengatasbawahi garis mistar. Keleluasaannya secara vertikal memberi ruang bergerak secara horizontal. Panjangnya suatu barus dapat dipadatkan atau direnggangkan sesuai kehendak penulis. Tulisan Klinkert yang mendatar tidak dapat memanfaatkan kaidah ini, sehingga ada kalanya sukar memadankan baris yang sedang ditulis dengan ruang yang ada. Maka jika barisnya panjang dan berakhir dengan pengulangan, Klinkert memakai angka dua; kalau baris pendek berakhir dengan pengulangan, diberinya ejaan yang “penuh”, yaitu tanpa angka dua. Dalam contoh di atas, pada baris pertama, jumlah huruf Jawi sebelum sampai ke kata “mana” ialah 18, padahal dalam baris kedua, jumlah yang sama ialah 21. Maka digunakan “mana2” dan bukan “mana-mana” (Sweeney, 2006:58).

Bahasa Abdullah dalam Syair Kampung Gelam Terbakar masih memperlihatkan ciri penggunaan bahasa Melayu yang cair dan lentur. Jika pun ada variasi dalam ejaan atau tata bahasa, maka variasi itu lebih bersifat sebagai kecenderungan, bukan aturan yang wajib ditaati. Naskah salinan Klinkert adalah sebuah upaya “perapian”, yang hendak menempatkan bahasa Melayu sebagai subjek bagi suatu “hukum” atau “aturan”. Hasil perapian inilah yang diwariskan pada bahasa Indonesia sehingga menjadi aturan yang lazim bagi mereka yang belajar bahasa Indonesia.

D. Penutup

Syair Kampung Gelam Terbakar, bersama dengan Syair Singapura Terbakar, adalah tonggak baru dalam penulisan puisi berbahasa Melayu. Abdullah membuktikan bahwa syair sebagai salah satu bentuk tradisional sastra Melayu memiliki sifat lentur sehingga dapat mengapropriasi narasi faktual dan disisipi wacana-wacana modernitas. Transformasi yang menjadikan kemungkinan-kemungkinan kebahasaan dalam bahasa Melayu semakin luas ini pada zamannya belum merupakan gerakan yang massif – Abdulah masih sendirian merambah jalan-jalan baru bagi pengembangan kesusastraan berbahasa Melayu. Baru pada abad ke-20 langkah Abdullah ini menjadi sebuah gerakan yang massif dan sepenuhnya modern. Akan tetapi, dengan perintisan yang dilakukannya, kedua “syair kebakaan” ini mungkin dapat memberikan pengesahan atas gelar “Pelopor Kesusastraan Melayu Modern” yang sering disematkan kepada Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi.

(An. Ismanto/Sas/08/07-2010)

Sumber: Amin Sweeney, 2006. Karya lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi Julid 2 Puisi dan Ceretera. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan ecole francaise d’Extreme-Orient.

Referensi

Amin Sweeney, 2006. Karya lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi Julid 2 Puisi dan Ceretera. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan ecole francaise d’Extreme-Orient.

Maman S. Mahayana, 1995. Kesusastraan Malaysia modern. Jakarta: Pustaka Jaya.

Dibaca : 8.966 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password