Sabtu, 21 Oktober 2017   |   Ahad, 30 Muharam 1439 H
Pengunjung Online : 3.048
Hari ini : 21.412
Kemarin : 37.611
Minggu kemarin : 157.490
Bulan kemarin : 7.753.475
Anda pengunjung ke 103.506.105
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Bintang Tiga atau Bintang Padam: Ramalan dalam Pengetahuan Suku Dayak Taman, Kalimantan Barat

 

Ramalan Bintang tiga sering disebut juga dengan bintang padam, yakni sebuah skema atas tiga bagian lingkaran langit saat terlihat dari bumi yang membujur dari timur ke barat. Adapun istilah bintang padam merujuk pada kondisi bintang-bintang yang hilang ke barat ketika bulan menampakkan diri.

1. Asal-usul

Suku Dayak Taman merupakan salah satu suku Dayak yang bermukim di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat[1] (Alfred Russel Wallace, 1975; Yekti Maunati, 2006). Selain kerajinan Manik Banuaka, mereka memiliki pengetahuan yang unik tentang ramalan, yaitu ramalan bintang tiga atau bintang padam. Ramalan ini masih dipercaya oleh masyarakat Dayak Taman yang tinggal di dalam hutan, namun tidak demikian bagi mereka yang sudah bermukim di luar hutan atau yang sudah modern. Pengetahuan ini membuktikan bahwa suku ini memiliki peradaban yang tinggi dan maju pada zamannya. Dalam kondisi hutan Kalimantan yang semakin kritis, pengetahuan ini penting untuk dikaji kembali.   

Bintang tiga adalah bintang yang berjumlah tiga. Dalam ramalan, bintang tiga adalah sebuah skema berbentuk setengah lingkaran yang terbagi atas tiga bagian yang diumpamakan lingkaran langit saat terlihat dari bumi, yang membujur dari timur ke barat. Adapun istilah bintang padam merujuk pada kondisi bintang-bintang yang hilang ke barat ketika bulan menampakkan diri. Masyarakat Dayak Taman sendiri mengenal dua istilah tersebut karena keduanya selalu digunakan untuk menentukan musim berladang mereka (J.U. Lontaan, 1975).

Lontaan (1975) menambahkan, bahwa ramalan ini berkaitan erat dengan mata pencaharian utama orang Dayak Taman, yaitu berladang dan berkebun, seperti karet, kopi, dan lada di hutan adat yang diatur bersama dalam hukum adat. Ramalan ditujukan untuk menentukan waktu yang tepat untuk mulai menebas, membakar, dan memanen padi agar mendapat hasil yang melimpah.

Secara kesejarahan, ramalan bintang tiga atau bintang padam berasal dari ajaran nenek moyang suku Dayak Taman sejak ribuan tahun silam. Meskipun di antara suku Dayak Taman seperti suku Dayak Taman di Kapuas dan Sibau memiliki perbedaan pandangan menyangkut ramalan ini, namun secara umum ramalan bintang tiga atau bintang padam ini memuat rumusan yang sama dan dipercaya oleh mayoritas Dayak Taman.

Ramalan bintang tiga atau bintang padam didasarkan pada pemahaman suku Dayak Taman tentang peredaran bintang di langit. Peredaran bintang yang diciptakan oleh Tuhan mereka yang bernama Alah Tala dianggap menyimpan tanda-tanda yang memberi petunjuk manusia untuk menjalani kehidupan, salah satunya dalam menentukan waktu yang tepat untuk mengerjakan huma (ladang). Petunjuk bintang tiga atau bintang padam tersebut dianggap sebagai salah satu bentuk perhatian leluhur Dayak Taman kepada keluarganya yang masih hidup. Oleh karena itu, ketika panen tiba mereka harus membalasnya dengan menggelar upacara adat Gawai dan pemberian sesaji. Pengetahuan ini membuktikan bahwa suku Dayak Taman pandai membaca alam dan pandai pula menghormatinya (Lontaan, 1975; Yekti Maunati, 2006).    

2. Konsep Ramalan

Berikut adalah konsep ramalan bintang tiga atau bintang padam yang disarikan dari buku karya J.U. Lontaan, 1975, berjudul Sejarah hukum adat dan adat istiadat Kalimantan Barat. Konsep ramalan terlihat sederhana, yakni seperti kipas setengah lingkaran yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu barat dan timur. Ramalan ini merupakan gambaran lingkaran langit yang terlihat dari bumi. Lingkaran langit tersebut dibuat dalam kotak-kotak tertentu yang dibagi menjadi tiga bagian. Kotak-kotak paling atas berisi konsep alam, kotak-kotak bagian tengah (tiga tingkatan) berisi angka 1 (satu) sampai 12 (dua belas) dan beberapa huruf tertentu, yaitu huruf a, d, e, g, j, k, m, n, o, t, dan w. Sementara itu, kotak-kotak bagian paling bawah berisi 12 (dua belas) bulan masehi.

Pengetahuan ini merupakan konsep alam hasil penghayatan orang Dayak Taman untuk mengartikan letak bintang tiga. Konsep-konsep alam itu adalah sebagai berikut:

  • Buaya telur artinya letak bintang tiga sesuai dengan masa buaya yang sedang bertelur.
  • Buaya netas artinya letak bintang tiga sesuai dengan masa menetasnya telur buaya.
  • Atas ujung kayu artinya letak bintang tiga tepat di atas ujung kayu ketika diberdirikan.
  • Gelang susur artinya letak bintang tiga sama dengan posisi gelang yang dipakai di lengan dan menyusur ke bawah jika lengan diangkat ke atas.
  • Rebah suar artinya letak bintang tiga sama dengan posisi galah kayu saat mengayuh sampan di sungai.
  • Gelang jatuh artinya letak bintang tiga sama dengan posisi ketika seseorang menunjuk ke arah bintang di langit, di mana gelang yang ada di lengan akan jatuh.
  • Tapak kohong artinya letak bintang tiga tepat di atas seperti saat menengadahkan kepala ke atas.
  • Tengkulas (tutup kepala lelaki Melayu) jatuh artinya letak bintang tiga sama dengan posisi ketika menengadah ke arah bintang di langit maka tengkulas akan jatuh.
  • Bintang rebah (jatuh) artinya letak bintang tiga sudah lewat dari kepala ketika sesorang berdiri tegak.

Adapun angka-angka dan huruf-huruf berarti hitungan waktu, yaitu jalan waktu menurut jam dari pukul 6 (enam) pagi sampai 6 (enam) sore yang berarti dua belas jam. Pada mulanya, sebelum suku Dayak Taman  mengenal jam, penentuan waktu ini hanya berdasarkan letak matahari di barat atau timur.  

Sementara itu, penggunaan bulan Masehi dalam ramalan bintang tiga atau bintang padam memiliki arti tersendiri. Dari dua belas bulan Masehi, orang Dayak Taman hanya menganggap bulan ke 6, 7, 8, dan 9 sebagai bulan yang penting dalam penentuan waktu berladang. Apabila bulan purnama, maka bintang akan terbenam di barat. Kondisi inilah yang disebut oleh orang Dayak Taman dengan istilah bintang padam.

Bulan-bulan tersebut dianggap tepat untuk berladang karena sesuai dengan konsep alam yang dipercaya orang Dayak Taman. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

  • Bulan Mei merupakan bulan buaya telur. Pada bulan ini dianggap tepat untuk mulai membuka lahan di tanah rimba.
  • Bulan Juni merupakan masa buaya netas. Pada bulan ini juga dianggap tepat untuk membuka ladang di hutan.
  • Bulan Juli merupakan bulan atas ujung kayu bintang tiga. Pada bulan ini masa berladang di hutan sudah mulai selesai dan orang Dayak Taman berpindah ke ladang tanah biasa. 
  • Bulan Agustus merupakan bulan gelang susur atau rebah suar. Pada bulan ini masa berladang di tanah hutan sudah selesai tinggal menunggu musim kemarau untuk membakar lahan guna menyuburkan tanah.
  • Bulan September merupakan bulan gelang jatuh. Pada bulan ini dianggap bulan yang tepat untuk menanam padi. Biasanya orang Dayak Taman juga menanam sayuran seperti mentimun, bayam, labu, dan jagung di sekitar lahan padi.
  • Bulan Oktober merupakan bulan tapak kohong. Pada awal bulan ini juga dianggap tepat untuk menanam padi. Padi-padi yang ditanam tersebut sudah siap dipanen antara bulan Januari-Februari dan dianggap paling baik buahnya karena terhindar dari hama. Sementara itu, jika padi baru berbuah ketika bulan Desember atau Maret, maka buah padi pasti diserang hama seperti walang sangit (empangau) dan dianggap padi terlalu lama berbuah.
  • Bulan November merupakan bulan bintang rebah. Pada bulan ini dianggap tepat untuk mencabuti rumput yang tumbuh di sekitar padi. Pada bulan ini juga hasil sayuran sudah dapat dipanen.

3. Pengaruh Sosial

Pengetahuan orang Dayak Taman tentang ramalan bintang tiga atau bintang padam ini mempengaruhi beberapa hal dalam aktivitas kehidupan mereka, antara lain:

  • Menentukan waktu berladang. Pengaruh ini jelas sekali terlihat karena memang pada awalnya ramalan ini diciptakan untuk menentukan waktu yang tepat dalam memulai aktivitas berladang, dari saat menanam padi hingga panen kelak. Para ketua adat Dayak Taman tetap melestarikan ramalan ini untuk mengolah ladangnya hingga saat ini.
  • Waktu pelaksanaan upacara adat. Ramalan ini juga berpengaruh pada penentuan pelaksanaan upacara adat Gawai, yaitu upacara adat untuk menghormati leluhur Dayak Taman. Upacara Gawai meliputi melambu (membersihkan kuburan) atau mandung (mengorbankan hewan). Upacara Gawai biasanya digelar seusai panen, di mana sebagian hasil panen dimasak untuk dibuat sesaji dan makan bersama. Selain itu, hasil panen dapat dijual untuk merayakan upacara adat Gawai yang membutuhkan biaya cukup besar.  
  • Pengelolalaan hutan. Ramalan ini juga berpengaruh pada pola pengelolaan hutan Kalimantan Barat. Orang Dayak Taman yang saat ini bermukim di sekitar Taman Nasional Betung Kerihun memiliki kepercayaan bahwa hutan harus dijaga kelestariannya, salah satunya dengan menentukan waktu yang tepat dalam berladang agar tidak banjir. Hutan yang salah kelola akan menyebabkan kehancuran ekosistemnya. Oleh karena itu, agar tidak salah kelola mereka membuat ramalan bintang tiga atau bintang padam ini.

4. Penutup

Pengetahuan tentang ramalan Bintang tiga atau bintang padam mencerminkan kearifan lokal suku Dayak Taman dalam mengelola hutan. Oleh karena itu, pengetahuan ini penting untuk diapresiasi pemerintah pusat maupun daerah, misalnya dengan melibatkan orang Dayak Taman dalam berbagai program pengelolaan hutan Kalimantan, bagaimanapun mereka lebih tahu tentang keadaan hutan karena hutan adalah rumah mereka.

Yusuf Efendi (bdy/30/09-10).

Referensi

Alfred Russel Wallace, 1986. Kepulauan nusantara. Sebuah kisah perjalanan, kajian manusia dan alam. Jakarta: Komunitas Bambu.

J.U. Lontaan, 1975. Sejarah hukum adat dan adat istiadat Kalimantan Barat. Jakarta: Bumi Restu.

Yekti Maunati, 2006. Identitas Dayak, komodifikasi dan politik kebudayaan. Yogyakarta: LKIS.

WWF Indonesia, 2009. Betung Kerihun [online]. Terdapat di http://www.wwf.or.id. (Diakses tanggal 5 Juli 2010).

Sumber foto: J.U. Lontaan, 1975. Sejarah hukum adat dan adat istiadat Kalimantan Barat. Jakarta: Bumi Restu. (139)



 

[1] Suku Dayak Taman tersebar di beberapa aliran sungai meliputi Sungai Siban, Kapuas, Mendalam, Embaloh, Leboyan, Kalis, dan sekitar Taman Nasional Betung Kerihun (sebagai penjaga Taman Nasional) di Kalimantan Barat (http://www.wwf.or.id).

 

Dibaca : 7.663 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password