Jumat, 31 Oktober 2014   |   Sabtu, 7 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 903
Hari ini : 3.186
Kemarin : 21.335
Minggu kemarin : 154.939
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.292.162
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Randai, Drama Tradisional Minangkabau


Randai merupakan seni pertunjukan yang berasal dari daerah Minangkabau. Randai mementaskan kisah-kisah yang diangkat dari cerita rakyat.

1. Asal-usul

Randai, kata untuk menyebut pertunjukan drama tradisional Minangkabau, mengandung nilai filosofis yang mengendap di hati dan pikiran masyarakat di mana seni pertunjukan itu berkembang. Ketika menyebut kata randai, dalam benak mereka terbayang gelombang lautan yang diikuti gelombang perasaan di dalam hati yang terwujud dalam gerakan tubuh pemain randai. Oleh karena itu, unsur tarian dalam pertunjukan randai menggambarkan gelombang, yang disebut tari gelombang. Makna lain dari kata randai adalah ber(h)andai yang artinya berkisah, bertutur dengan menggunakan kalimat-kalimat kiasan atau kata-kata yang samar (Ediruslan Pe Amanriza dan Hasan Junus, 1993: 111).

Kisah yang diangkat dalam randai adalah cerita rakyat (folklore) yang sudah lama hidup dalam masyarakat Minang. Salah satu cerita tersebut misalnya Kaba Cinduo Mato. Cerita dalam pertunjukan randai memegang peranan penting. Cerita merupakan inti pertunjukan, sehingga unsur-unsur lain dalam pertunjukan randai mengikuti atau menyesuaikan dengan jalan cerita yang ada.

Pertunjukan randai berkembang dengan baik di daerah Luhak Limapuluh Koto. Di wilayah ini, tradisi bakaba berkembang secara luas dan tertanam dalam kehidupan masyarakat. Salah satu kaba yang terkenal di daerah ini adalah Kaba Anggun Nan Tongga Magek Jabang. Kaba ini dianggap sebagai puncak dari semua kaba yang ada. Tak jarang kaba ini dijadikan sebagai cerita dalam pertunjukan randai, meski kadang hanya menampilkan beberapa fragmen saja. Dari Luhak Limapuluh Koto inilah drama tradisional randai berkembang dan menyebar ke daerah lain di Sumatra Barat, bahkan hingga ke Jambi dan Riau, terutama Kuantan dan Kampar (Ediruslan Pe Amanriza dan Hasan Junus, 1993: 112).

Minangkabau, sebagai etnik terbesar di Sumatra Barat, mempunyai kekayaan kebudayaan dan tradisi yang sangat banyak. Mulai dari sastra hingga seni musik dan tari. Randai merupakan salah satu di antaranya. Pada waktu pertunjukan randai berlangsung, para penonton duduk melingkari panggung pertunjukan. Pertunjukan diiringi lagu persembahan para penyanyi dengan iringan musik seperti gendang, saluang, dan rebab.

Di dalam pertunjukan, cerita-cerita tradisional Minangkabau dikisahkan secara periodik dengan alur maju dan dialog-dialog panjang antar pemain. Dialog-dialog tersebut diselipi nasihat, kritik sosial, dan humor. Narasi cerita disampaikan melalui simbol-simbol dalam tarian dan dalam bentuk nyanyian. Pertunjukan randai menggabungkan banyak unsur, di antaranya tari, seni beladiri, musik, cerita rakyat, dan pandangan hidup masyarakat Minangkabau.

Sebenarnya, randai merupakan pertunjukan yang lebih mengutamakan pencerahan moral daripada hiburan. Hal ini terbukti dengan nasihat dan nilai-nilai kebaikan yang terkandung dalam pertunjukan tersebut. Himbauan moral itu disampaikan dengan cerdas lewat dialog dan dibumbui dengan lelucon yang komikal (Simon Trussler dan Clive Barker, 2004: 220).

Lagu-lagu yang dinyanyikan dalam randai juga sangat populer di kalangan masyarakat. Misalnya, seorang ibu akan menidurkan anaknya dengan menyanyikan lagu marantang, seorang perempuan yang sedang menyiapkan makanan di dapur akan menyenandungkan lagu marantang, dan para pemuda akan bersiul melagukan marantang ketika duduk-duduk kedai (lepau). Dari contoh ini, terlihat betapa masyarakat Minangkabau sangat intim dengan marantan, lagu yang dinyanyikan dalam pertunjukan randai.

2. Pementasan Randai

Pementasan randai biasanya diselenggarakan oleh sebuah kepanitiaan. Susunan kepanitiaan penyelenggara randai menurut Ediruslan Pe Amanriza dan Hasan Junus (1993: 113) adalah:

  • Penghulu yang berfungsi dan bertugas sebagai pelindung.
  • Pangkatuo, yaitu ketua kelompok.
  • Guru Tuo Silek yang bertugas memimpin dan menangani urusan silat.
  • Guru Tuo Dendang bertugas menjadi pelatih dendang.
  • Anak Randai, yaitu para pemain randai yang terdiri dari Pambalok Galombang, Pambalok Gurindam, Pambalok Curito, dan para pemain musik.

Prinsip-prinsip demokrasi yang menjadi dasar relasi sosial dalam masyarakat Minangkabau membuat pertunjukan randai tidak mengenal pemimpin yang berkuasa mutlak. Meskipun penyelenggara pertunjukan randai tergabung dalam struktur yang memunculkan posisi yang berbeda antara satu dengan yang lain, namun dalam pelaksanaannya semua unsur kepanitiaan bekerja bersama-sama. Misalnya, sebelum mengadakan pementasan, penyelenggara akan bermusyawarah tentang bagaimana sebaiknya pertunjukan itu dan kaba mana yang akan dipentaskan.

Makna demokrasi yang diterapkan dalam penyelenggaraan pertunjukan randai bukan berarti menghilangkan tingkat dan posisi. Akan tetapi, tingkat dan posisi itu tidak dimaknai sebagai sesuatu yang kaku dan mutlak secara menyeluruh. Masing-masing orang yang menempati posisi tertentu diberi jalan agar pikiran dan pendapat mereka didengar dan dipertimbangkan, baik mereka yang berada di posisi bawah maupun yang berada di atas.

Para pemain randai berjajar membentuk lingkaran atau bergerak di dalam lingkaran itu. Alunan musik yang terdiri dari seruling, kecapi, gong kecil, dan drum mengiringi tarian pemain randai. Sebelum masing-masing adegan dimulai, para penari duduk bersimpuh membentuk lingkaran sambil bertepuk tangan. Narator menyampaikan kisah kaba dengan mendendangkannya sambil sesekali mengajak aktor yang duduk di tengah lingkaran untuk berdialog. Sedangkan yang lain tetap berada dalam satu garis lingkaran dalam keadaan bersimpuh (Jill Forshee, 2006: 201).   

Para pemain randai mengenakan pakaian seperti model baju Mandarin berkerah, penutup kepala penuh dengan manik-manik, dan mengenakan selendang di pinggangnya, lengkap dengan celana longgar yang disebut galembong. Pakaian yang para pemain kenakan berwarna hitam dipadukan dengan warna merah atau kuning.

Pementasan randai biasanya digelar setelah panen atau dalam peringatan peristiwa-peristiwa tertentu. Kesenian ini melengkapi kebudayaan Minangkabau yang terkenal dengan sistem matrilineal dan tradisi merantaunya. Bentuk lingkaran dalam pertunjukan randai merupakan hal penting bagi masyarakat Minangkabau. Lingkaran ini adalah simbol yang mengandung makna filosofis tentang persatuan, keterbukaan, serta perpaduan antara manusia dengan lingkaran atau alur kosmos. (Jill Forshee, 2006: 201).

Secara umum, lingkaran atau tempat yang keramat menjadi ciri tari-tarian dan ritual di seluruh Indonesia. Bagi masyarakat Indonesia, menjadi bagian dari sebuah lingkaran filosofis tersebut dalam dunia sosial merupakan hal yang penting. Begitu pula “lingkaran randai”, yang diekspresikan dalam pertunjukan randai mengacu pada pandangan hidup yang penting bagi masyarakat Minangkabau. Hal inilah yang kemudian senantiasa diulang melalui cara-cara yang berbeda di dalam tradisi yang lain. Pengulangan tema-tema yang sarat makna ini dimiliki oleh mayoritas masyarakat Indonesia di masa lalu dan masa kini. Ini memberi mereka kekuatan untuk menyesuaikan diri dengan masa depan.

3. Sinopsis Cerita

Sebagaimana disinggung di atas, Kaba Cinduo Mato merupakan cerita yang sering disajikan dalam pementasan randai. Pementasan tersebut menggabungkan unsur dialog, akting, dan tarian. Berikut ini sinopsis Kaba Cinduo Mato yang dikutip dari Ediruslan Pe Amanriza dan Hasan Junus (1993: 114-120).

Raja Sikalawi, Rajo Mudo memutuskan pertunangan anaknya yang bernama Puti Bungsu dengan Dang Tuanku. Namun, ia mendengar Dang Tuanku menderita penyakit menular yang tak dapat disembuhkan dan telah diusir dari Istana Pagaruyuang. Karena itu Rajo Mudo hendak menikahkan Puti Bungsu dengan anak Rajo Tiang Bungkuk, yaitu Rajo Imbang Jayo. Kabar rencana pernikahan tersebut akhirnya terdengar oleh para penghuni Istana Pagaruyuang. Kalangan istana mengutus Cinduo Mato ke Sikalawi dengan membawa kerbau Si Binuang sebagai hantaran atas perkawinan Puti Bungsu dengan Rajo Imbang Jayo.

Dalam perjalanan menuju Sikalawi, Cinduo Mato dihadang para perampok. Orang-orang ini adalah suruhan Raja Imbang Jayo. Terjadilah perkelahian yang dimenangkan Cinduo Mato. Dalam adegan ini, Cinduo Mato memperlihatkan dirinya sebagai seorang jago silat yang sakti dan kebal.

Sampai di Sikalawi, Cinduo Mato menyerahkan hadiah yang dikirim oleh Dang Tuanku kepada Rajo Mudo. Ia juga sempat bertemu dengan Puti Bungsu dan menyampaikan pesan rahasia dari Dang Tuanku.

Menjelang perkawinan, Raja Imbang Jayo mengalami mimpi buruk. Demikian juga adiknya, Puti Ranit Jintan. Mimpi buruk itulah yang mendorong Puti Ranit Jintan berusaha menghalangi pernikahan Raja Imbang Jayo. Namun, Raja Imbang Jayo mengabaikan nasihat adiknya. Pernikahan akan tetap dilangsungkan.

Pada saat akad nikah antara Puti Bungsu dan Raja Imbang Jayo dibacakan, terjadi bencana angin topan dan banjir. Puti Bungsu melarikan diri ke tempat yang telah ditentukan oleh Cinduo Mato. Cinduo Mato kemudian menyerahkan Puti Bungsu ke Basa Ampek Balai.

Di pihak lain, Raja Imbang Jayo menjadi marah dan terhina atas hilangnya Puti Bungsu. Ia berniat menyerang Kerajaan Pagaruyuang. Dalam perjalanan penyerangan ke Istana Pagaruyuang, pasukan Raja Imbang Jayo diserang oleh para perampok di Bukit Tambun Tulang yang dahulu ia pelihara. Sementara Bundo Kanduang sudah mendengar rencana penyerangan itu, ia menyuruh Cinduo Mato untuk melarikan diri ke Indrapuro Pesisir. Cinduo Mato mematuhi saran ibunya.

Mendengar kekisruhan yang terjadi antara Raja Imbang Jayo dengan Istana Pagaruyuang, Basa Ampek Balai mengambil langkah diplomasi melalui perundingan dengan Raja Imbang Jayo. Namun terjadi perdebatan sengit yang tak terselesaikan dalam perundingan itu. Sehingga, Basa Ampek Balai mengajukan penangguhan dan berencana mengundang Rajo Adat dan Raja Ibadat (Rajo Duo Selo). Rajo Duo Selo memeriksa perkara Raja Imbang Jayo dan memutuskan Raja Imbang Jayo bersalah. Ia dijatuhi hukuman mati. Raja Imbang Jayo melawan, namun berhasil dibunuh Basa Ampek Balai.

Kematian Rajo Imbang Jayo membuat murka sang ayah, Tiang Bungkuk. Ia menyiapkan pasukannya untuk menyerang Pagaruyuang. Bundo Kanduang dan Dang Tuanku memerintahkan Cinduo Mato untuk melawan Tiang Bungkuk. Bila tidak bersedia melawan, sebaiknya menyerahkan diri untuk menjadi budak. Perkelahian antara Cinduo Mato dan Tiang Bungkuk berlangsung sengit. Keduanya sama-sama sakti dan kebal. Akhirnya, Cinduo Mato memilih untuk menjadi budak. Cinduo Mato menjadi tukang pijat Tiang Bungkuk. Setiap hari ia makan kerak nasi basah dengan wadah tempurung.

Ketika Tiang Bungkuk sedang tidur pada suatu malam, Cinduo Mato berhasil bertanya kepadanya apa yang membuatnya kebal berkat mantera yang ia gunakan. Dalam tidurnya, Tiang Bungkuk menceritakan bahwa ia dapat dibunuh hanya dengan Keris Bungkuk yang ia simpan di tiang bungkuk rumah gadangnya. Cinduo Mato berhasil menemukan keris Tiang Bungkuk. Begitu Tiang Bungkuk terbangun, ia langsung menantang orang tua itu untuk berkelahi.

Perkelahian Cinduo Mato dengan Tiang Bungkuk kali ini tidak berlangsung lama. Tiang Bungkuk tewas oleh senjatanya sendiri di hadapan rakyatnya yang menyaksikan perkelahian itu. Setelah perkelahian itu, Cinduo Mato diangkat menjadi raja oleh rakyat Kerajaan Sungai Ngiang.

Tidak lama kemudian Cinduo Mato kembali ke Pagaruyuang. Di Kerajaan itu ia disambut dengan suka cita. Ia kemudian menikah dengan Puti Lenggo Geni. Sedangkan Dang Tuanku menikah dengan Puti Bungsu. Bagian selanjutnya diceritakan bahwa Bundo Kanduang, Puti Bungsu, dan Dang Tuanku “naik ke langit” dengan menaiki perahu. Cinduo Mato kemudian menjadi raja di Pagaruyuang.

Bagian terakhir yang mungkin jarang diceritakan dalam randai adalah, fragmen tentang Cinduo Mato yang kemudian kembali ke Sungai Ngiang dan menikahi Puti Ranit Jintan. Kemudian ia pergi juga ke Ranah Sikalawi dan menjadi raja di sana. Ia menikah dengan Putri Reno Bulan, adik Puti Bungsu.

4. Nilai-nilai

Pementasan randai mengandung nilai-nilai filosofis yang dianut oleh masyarakat pemilik budaya randai.  Nilai-nilai ini dapat dijadikan pedoman atau panutan dalam kehidupan bermasyarakat. Beberapa nilai yang terkandung dalam randai adalah:

a. Pendidikan karakter

Randai tidak hanya memberikan hiburan, namun juga pendidikan kepada para pemirsa. Berbagai contoh dalam cerita yang dilakonkan tersebut dapat dijadikan cermin dalam meniti kehidupan bermasyarakat. Kisah-kisah yang diangkat dalam pertunjukan randai merupakan kisah yang sarat makna, sehingga kebajikan yang terkandung dalam cerita tersebut dapat dijadikan panutan atau contoh untuk kemudian dilakukan. Pembentukan karakter inilah yang sebenarnya penting dalam dunia hiburan, namun kini sering diabaikan.

b. Nilai sosial

Randai mengandung nilai-nilai yang mencerminkan kehidupan masyarakat Minangkabau. Hal tersebut sudah terlihat sejak pra-pementasan, yaitu pada waktu pembentukan kepanitiaan atau penyelenggara pementasan. Pembagian kerja adalah salah satu ciri masyarakat modern. Sebagai salah satu kesenian tradisional, randai sudah menerapkan cara-cara modern melalui sistem pembagian kerja, meskipun tidak secara mutlak. Nilai-nilai demokrasi juga terkandung dalam pementasan randai, di mana pembagian kerja dan adanya strata untuk posisi tertentu dalam kepanitiaan, masih memberi kesempatan untuk bermusyawarah.

c. Nilai filosofis

Pandangan hidup yang dianut dan hidup dalam masyarakat Minangkabau muncul dalam pementasan randai. Bentuk lingkaran dalam pementasan yang tersusun dari para pemain randai mencerminkan nilai persatuan, persaudaraan, dan penyatuan manusia dengan kehidupan alam semesta. Dalam kehidupannya, sesuai dengan makna filosofis dalam pertunjukan randai tersebut, manusia seharusnya menyatu dengan kehidupan dan alur alam semesta. Ini menjadi kritik bagi manusia zaman modern yang hendak menjadi pusat dari alam semesta (antroposentrisme).

d. Nilai pelestarian budaya

Pementasan randai masih dilakukan hingga saat ini. Masuknya teknologi modern dalam seni peran dan pertunjukan secara umum, tak ayal berpengaruh pula terhadap pementasan randai. Namun, hal ini tidak menjadi masalah selama nilai-nilai dan maksud yang dibawakan dalam pementasan randai masih tetap muncul. Bagaimanapun, memelihara dan mengembangkan kebudayaan merupakan hal yang tidak mudah, termasuk kesenian randai. Dengan mementaskan randai banyak hal telah dilestarikan, misalnya pakaian adat, peralatan musik tradisional, kaba atau cerita rakyat, dan pandangan hidup masyarakat setempat.

5. Penutup

Pertunjukan randai terus berkembang ini dan sering dipentaskan dalam berbagai kesempatan. Dalam perkembangannya kemudian, randai menjadi ruang pertemuan antara drama modern—dengan berbagai teknologi yang digunakan—dengan seni pertunjukan tradisional.

(Mujibur Rohman/bdy/14/11-2010)

Foto: karya Robert Catto, dalam gamelan.org

Referensi

Jill Forshee, 2006. Culture and Customs of Indonesia. Westport: Greenwood Press.

Ediruslan Pe Amanriza dan Hasan Junus,  1993. Seni Pertunjukan Tradisional (Teater Rakyat) Daerah Riau. Pekanbaru: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Riau.

Simon Trussler dan Clive Barker, 2004. New Theatre Quarterly 75, Volume 19. New York: Cambridge University.

Dibaca : 26.659 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password