Minggu, 21 Desember 2014   |   Isnain, 28 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 1.157
Hari ini : 5.677
Kemarin : 18.132
Minggu kemarin : 186.674
Bulan kemarin : 631.927
Anda pengunjung ke 97.479.096
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Badudus: Upacara Tolak Bala Adat Banjar, Kalimantan Selatan


Badudus merupakan tradisi tolak bala masyarakat Banjar di sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan. Istilah Badudus juga dikenal dengan sebutan Bapapai atau Mandi-Mandi. Sesuai dengan namanya, makna Badudus secara umum adalah ritual yang dilakukan untuk membersihkan jiwa dan raga. Badudus menjadi sarana untuk membentengi diri dari masalah-masalah kejiwaan, yakni dari berbagai gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam. Dengan kata lain, Badudus merupakan sarana untuk menangkal penyakit, baik penyakit lahir atau batin.

1. Asal-usul

Secara khusus, Badudus bisa dilaksanakan untuk tiga subyek yang berbeda, meski dengan tujuan yang kurang lebih sama. Pertama, pelaksanaan Badudus untuk peralihan status calon pengantin dalam rangkaian upacara pernikahan adat Banjar, atau yang sering disebut dengan istilah Mandi Pengantin. Tujuan pelaksanaan ritual Mandi Pengantin adalah untuk membentengi pengantin dari berbagai gangguan yang tidak diinginkan. Jika tidak dipersiapkan penangkalnya, dikhawatirkan kedua mempelai yang hendak melangsungkan pernikahan akan terserang penyakit dan kehidupan rumah-tangganya kelak akan digoyahkan oleh berbagai macam rintangan (M. Suriansyah Ideham, et al., 2007).

Kedua, ritual Badudus yang dilakukan oleh orang yang akan menerima gelar kehormatan. Misalnya sebagai bagian dalam upacara penobatan raja atau upacara pemberian anugerah kebangsawanan dari kerajaan kepada orang-orang yang telah ditentukan. Maksud dilaksanakannya ritual Badudus dalam konteks ini adalah sebagai pelindung agar raja yang akan dinobatkan terbebas dari segala macam penyakit, baik lahir maupun batin, dan dapat menjalankan pemerintahan atau tugasnya dengan baik, bersih dari tindakan yang tercela, dapat berlaku adil, dan memikirkan kepentingan rakyat banyak (Fahrurraji Asmuni, dalam www.karyaraji.blogspot.com).

Ketiga adalah Badudus Mandi Tiang Mandaring, yakni ritual Badudus bagi perempuan Banjar yang dilakukan pada saat masa kehamilan pertama. Dalam konteks ini, ritual Badudus dilaksanakan dengan tujuan supaya sang calon ibu dapat melahirkan dengan mudah dan tidak ada halangan. Selain itu, agar si jabang bayi lahir dengan sempurna tanpa ada cacat apapun juga (Asmuni, dalam www.karyaraji.blogspot.com).


Ritual Badudus
dalam Prosesi Penobatan Raja Muda Kesultanan Banjar

Asal-muasal munculnya ritual Badudus ditengarai berasal dari tradisi yang berlaku pada zaman Kerajaan Negara Dipa (sekitar tahun 1355 Masehi) dan Kerajaan Negara Daha (sekitar tahun 1448 M). Dua kerajaan yang muncul secara berurutan ini merupakan bagian dari mata rantai sejarah Kesultanan Banjar yang baru didirikan pada tahun 1526 M. Kerajaan Negara Dipa dan Kerajaan Negara Daha adalah kepanjangan tangan dari orang-orang Kerajaan Majapahit yang datang ke tanah Banjar dalam rangka pelaksanaan Ekspedisi Pamalayu di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gadjah Mada (Ira Mentayani, 2008).

Masyarakat adat Banjar meyakini bahwa ritual Badudus harus dilakukan pada waktu-waktu tertentu sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh-tokoh Kerajaan Negara Dipa, antara lain Empu Jatmika (panglima Kerajaan Majapahit yang memprakarasi berdirinya Kerajaan Negara Dipa di tanah Banjar), Lambung Mangkurat (putra Empu Jatmika sekaligus panglima Kerajaan Negara Dipa), dan lain-lainnya. Masyarakat lokal percaya bahwa leluhur mereka itu masih hidup di alam gaib dan sewaktu-waktu dapat diundang dalam acara-acara ritual tertentu. Kepercayaan ini dianut secara turun-temurun, dan jika tidak dilaksanakan, maka diyakini dapat menimbulkan malapetaka (Arsyad Indradi, dalam http://sastrabanjar.blogspot.com).

Pada zaman dahulu, Badudus menjadi ritual yang khusus dilakukan hanya pada saat acara penobatan seorang raja. Ritual ini hanya boleh dilakukan oleh para keturunan raja saja, yakni orang yang masih memiliki garis darah dengan raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Negara Dipa maupun Kerajaan Negara Daha. Mereka yang boleh menghadiri acara Badudus pun sangat terbatas, yakni hanya untuk kalangan keluarga kerajaan saja. Ketentuan ini berlaku hingga ketika kedudukan Kesultanan Banjar dihapuskan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tahun 1860.

Setelah tidak adanya kerajaan di tanah Banjar, acara Badudus tetap dilaksanakan meski dalam konteks yang berbeda, yakni sebagai rangkaian upacara perkawinan adat Banjar dan upacara kehamilan pertama. Pada tahun 2010, upaya-upaya untuk menghidupkan kembali Kesultanan Banjar yang sempat mati suri selama lebih dari 100 tahun sudah dapat diwujudkan dengan dinobatkannya Pangeran Haji Gusti Khaerul Saleh sebagai Raja Muda Kesultanan Banjar di Martapura, Kalimantan Selatan (Iswara N. Raditya, dalam www.MelayuOnline.com). Kini upacara Badudus kembali dilaksanakan sebagai salah satu tahap dalam rangkaian upacara penobatan Raja Muda Kesultanan Banjar.

2. Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Ritual adat Badudus dilangsungkan di tempat-tempat yang telah ditentukan, yaitu di dalam rumah atau di halaman rumah. Badudus juga bisa dilaksanakan di tempat tertentu yang telah dibuat bangunan berbentuk segi empat, di mana masing-masing sudut tiangnya ditanami tebu. Tempat yang akan digunakan untuk pelaksanaan ritual Badudus hendaknya diberi atap dan batas berupa kain berwarna kuning yang mengelilingi area utama. Sedangkan untuk alasnya, bisa menggunakan tikar atau karpet berwarna (Arijadi, 2010). Tempat dilaksanakannya ritual Badudus ini disebut pagar mayang.

Dalam prosesi awal penobatan raja, ritual Badudus dilaksanakan dua hari sebelum acara puncak penabalan. Sebagai contoh adalah dalam acara penobatan Pangeran Haji Gusti Khaerul Saleh sebagai Raja Muda Kesultanan Banjar, di mana ritual Badudus diselenggarakan pada tanggal 10 Desember 2010, sedangkan upacara penobatan dilakukan dua hari setelahnya, yakni pada tanggal 12 Desember 2010.

Apabila dilangsungkan sebagai rangkaian dalam prosesi pernikahan adat Banjar, ritual Badudus dilakukan pada tiga hari sebelum hari perkawinan. Waktu pelaksanaan ritual Badudus adalah pada sore atau malam hari (Ideham, et al., 2007). Sedangkan dalam konteks upacara untuk memperingati kehamilan pertama, ritual Badudus dilakukan ketika usia kehamilan menginjak 7 bulan (Asmuni, dalam www.karyaraji.blogspot.com).

3. Peralatan dan Bahan

Peralatan dan bahan-bahan yang harus disiapkan dalam pelaksanaan ritual Badudus adalah sebagai berikut:

a. Piduduk dan sasangan:

  • Beras putih bersih.
  • Pisau.
  • Nyiur dan gula habang.
  • Telur ayam kampung.
  • Jarum dan benang.
  • Rokok.

b. Perlengkapan dan Bahan Lainnya:

  • Dadampar, yaitu tempat duduk (untuk duduk bersimpuh) bertingkat dua yang dilapisi kain satin atau bahan lainnya yang berwarna kuning (http://kerajaanbanjar.wordpress.com).
  • Sasanggan Kacil, untuk bahan lulur, yakni berupa lulur putih yang dibuat dari tepung beras dan sedikit kunyit.
  • Mangkuk Kaca, untuk wadah bahan keramas. Pada zaman dulu, bahan keramas menggunakan langir yang sudah dihaluskan, namun untuk sekarang ini bahan keramas bisa menggunakan shampo.
  • Gelas Dandang atau Baskom Kanal, untuk tempat menampung air bunga 7 rupa.
  • Poci atau teko, untuk tempat menampung air yang digunakan sewaktu berdoa.
  • Tempayan atau guci, untuk tempat menampung air mayang, yang terdiri dari mayang mengurai dan mayang terbungkus.
  • Tempayan atau guci lagi untuk tempat menampung air bersih.

Seluruh perlengkapan dan bahan di atas disusun rapi sesuai dengan urut-urutan rangkaian acara dan semua bahan tersebut dimasukkan ke dalam pagar mayang. Selain itu, terdapat juga perlengkapan dan bahan yang tidak dimasukkan ke dalam pagar mayang, yaitu dua tampah kuningan yang masing-masing berisi Gunung Emas dan Gunung Perak, serta perlengkapan lain yang digunakan selama prosesi Badudus. Gunung Emas terdiri dari ketan lemak yang dihiasi dengan wajik, sedangkan Gunung Perak terdiri dari ketan lemak yang dihiasi dengan telur dadar (Adjim Arijadi, 2010).

Sebelum ritual Badudus dilaksanakan, terlebih dulu harus dilakukan beberapa langkah-langkah persiapan beserta peralatannya, yakni sebagai berikut:

  • Pembuatan panggung balai dengan ukuran 4x4 meter dan menghadap ke arah matahari terbit.
  • Pemasangan tiang balai dengan perincian: 4 (empat) tiang batang bambu, dan 1 (satu) tiang dari potongan bambu kuning.
  • Pemasangan batang manisan (tebu) dan batang tibarau yang didirikan di tiap-tiap tiang bambu kuning.
  • Penyediaan 4 (empat) buah payung, masing-masing payung ditempatkan di puncak tiang bambu kuning.
  • Pemasangan atap atau langit-langit dengan kain berwarna kuning (warna khas Melayu). Sudut-sudut kain diikatkan di bawah payung.
  • Pemasangan tali lawai kuning dengan tiga tingkat yang menjadi penghubung antar tiang.
  • Pemasangan hiasan janur kuning dengan anyaman khas Banjar, dan kemudian dikaitkan pada tiang pintu.
  • Pemasangan alas dengan tikar atau karpet berwarna, ditempatkan pada tiga undakan.
  • Pemasangan daun penangkal, yakni berupa daun linjuang, kambat, ketapi, dan jaruju, yang dipasang di 4 (empat) tiang bambu kuning.
  • Penggantungan wadai-wadaian.
  • Penggantungan kembang-kembang mayang pada tali lawai.
  • Mempersiapkan perlengkapan yang akan digunakan di dalam balai padudusan, yaitu nampan yang beralaskan kain kuning dan 8 (delapan) guci yang berisi 8 (delapan) macam air (7 air sumur atau sungai dan 1 air yasin untuk didoakan).
  • Mempersiapkan tajau banyu, yakni guci yang berisi air bersih untuk berbilas.
  • Mempersiapkan guci yang berisi air rendaman bunga mawar, bunga melati, bunga cempaka, 1 (satu) ikat dedaunan (daun linjuang, kambat, ketapi, dan mayang maurai).
  • Mempersiapkan nyiur anum atau kelapa muda yang sudah dipangkas ujungnya.
  • Mempersiapkan mangkuk untuk bahan keramas atau shampo, mangkuk untuk bahan lulur, dan mangkuk untuk tapung tawar.
  • Mempersiapkan tapih untuk berganti pakaian mandi, handuk, dan baju untuk dikenakan sehabis mandi (Arijadi, 2010).


Menjelang Badudus (kiri) & Lokasi Pagar Mayang (kanan)

4. Prosesi Upacara

Berikut ini penjelasan ringkas mengenai prosesi ritual Badudus sesuai konteks dan kebutuhannya:

a. Badudus dalam Pernikahan Adat

Badudus Mandi Pengantin dilaksanakan tiga hari sebelum hari perkawinan, tepatnya pada waktu sore atau malam hari. Proses pelaksanaan Badudus dimulai dengan ritual mencukur alis calon pengantin perempuan dan dibentuk cacantung (cambang) rambut di pinggir dahi serta dirias secukupnya. Dalam prosesi ini, disediakan pula piduduk (sajian untuk sesaji) yang berupa seekor ayam betina untuk calon pengantin perempuan dan seekor lagi ayam jantan untuk calon pengantin pria. Selain itu, disediakan juga beras ketan, 3 (tiga) buah telur ayam, gula merah, 1 (satu) buah kelapa, sebatang lilin, dan uang perak (Ideham, et al., 2007).

Terdapat aturan khusus dalam pelaksanaan Mandi Pengantin. Apabila calon pengantin perempuan sudah pernah dinikahkan, maka yang dimandikan adalah kedua calon mempelai. Namun, apabila calon pengantin perempuan belum pernah menikah, maka calon pengantin pria tidak ikut dimandikan. Di dalam pagar mayang ditempatkan papan cuki (dadampar) sebagai tempat untuk memandikan, dan disekelilingnya disediakan berbagai perlengkapan, seperti bedak kuning, shampo untuk keramas, tempayan berisi air bunga-bungaan, dan lain-lainnya. Orang-orang yang bertugas memandikan adalah 7 (tujuh) orang perempuan berusia lanjut yang bergantian dalam menjalankan tugas, yakni memandikan calon pengantin. Setelah ritual Badudus selesai dilakukan, selanjutnya adalah acara selamatan yakni jamuan makan nasi balamak (nasi ketan) dan pisang emas (Ideham, et al., 2007).

b. Badudus dalam Penobatan Raja/Penganugerahan Gelar

Ritual Badudus menjadi prosesi yang mengawali rangkaian acara penobatan raja atau pemberian gelar kebangsawanan. Sebelum Badudus dimulai, terlebih dulu dibacakan doa selamat yang dipimpin oleh penasehat spiritual kerajaan atau ulama yang sudah ditunjuk sebelumnya. Setelah itu, para hadirin dipersilakan menyantap penganan khas Banjar yang sudah disediakan, seperti wajik dan bubur merah-putih. Acara yang berikutnya adalah pemasangan mahkota kepada calon raja yang hendak dinobatkan (Tunggul Tauladan, dalam www.MelayuOnline.com).

Kemudian, calon raja dan iring-iringan kerabat kerajaan berjalan menuju ke tempat pelaksanaan Badudus atau pagar mayang. Di dalam pagar mayang tersebut telah dipersiapkan segala perlengkapan untuk keperluan Badudus, termasuk piduduk, sasangan, dan lainnya. Saatnya ritual utama Badudus dilaksanakan, yang terdiri atas sejumlah urutan prosesi, antara lain melulur, keramas, kemudian dikubui atau diguyur air bunga, diguyur air doa, diguyur air mayang mengurai, ditepuk mayang bungkus (disiramkan ke atas kepala), dan terakhir dibilas air bersih. Prosesi menyiram ini dimulai oleh ibunda sang calon raja, sesepuh agama, baru kemudian para kerabat kerajaan lainnya (Tauladan, dalam www.MelayuOnline.com).

Setelah Badudus dilakukan, calon raja dan para kerabat kerajaan berganti pakaian sebelum menuju ke ruang perjamuan. Di ruangan perjamuan, telah disediakan Gunung Emas dan Gunung Perak serta 41 (empat puluh satu) jenis makanan khas Banjar. Semua makanan ini harus diolah dan dibuat oleh para ibu yang sedang tidak datang bulan.


Rombongan Raja Muda Kesultanan Banjar Menuju Ruang Perjamuan
Setelah Pelaksanaan Badudus

Sebelum acara jamuan makan dilakukan, terlebih dulu dilaksanakan ritual Bacarmin (bercermin). Calon raja duduk di tempat khusus didampingi oleh penasehat agama kerajaan, sementara di depan tempat raja duduk telah duduk pula para kerabat kerajaan dengan formasi melingkar di mana pusat dari formasi itu adalah tempat di mana raja duduk. Ritual Bacarmin pun dimulai. Para kerabat kerajaan melihat wajah di cermin kecil yang diterangi dengan lampu lentera. Hal ini dilakukan secara bergantian atau berputar sebanyak 7 (tujuh) kali putaran sebagai simbolisasi tujuh lapisan langit. Ritual ini melambangkan kesediaan para kerabat kerajaan dan calon raja untuk selalu mawas diri. Prosesi selanjutnya adalah ritual Batapung Tawar, yaitu ucapan selamat dari para undangan dengan maksud agar sang calon raja dijauhkan dari segala macam malapetaka (Tauladan, dalam www.MelayuOnline.com).

Prosesi terakhir adalah jamuan makan yang menyajikan 41 jenis makanan khas Banjar, antara lain: cucur tiga warna, cincin tiga warna, wajik, kukoleh putih, kuloleh abang, 7 (tujuh) macam ketupat lemak, cingkaruk batu, cingkaruk bakapal, dodol anum, dodol biasa, tape beras, serabi tiga warna, nasi lemak dari ketan segantang, paparutan ayam, tumpi angini, gula kasih, apem merah, apem putih, madu kasirat, lamang, bubur baayak, bubur hintalu karuang, bubur limbukut, gagauk, sarikaya, gegati, ilat (lidah) sapi, sasagon, lupis, kalalapon (kue kelepon), kakicak hijau, kakicak putih bainti, gagatas putih, gagatas abang, papare, bulungan ayam, ular-ular, rengai, nasi ketan kuning dengan telur ayam, nasi ketan putih dengan telur bebek, bubur merah dan bubur putih dalam satu piring kecil, beberapa macam jenis buah pisang, dan lainnya. Selain itu, disediakan juga beberapa jenis minuman, di antaranya adalah masing-masing 1 (satu) gelas kopi pahit, kopi manis, teh manis, teh tawar, dan air putih yang direndami bunga melati (Arijadi, 2010).


Bacarmin, Prosesi Merefleksi Diri

c. Badudus dalam Peringatan Kehamilan Pertama

Ketika usia kehamilan pertama menginjak 7 (tujuh) bulan, diadakanlah ritual Badudus atau yang disebut juga dengan istilah Mandi Tiang Mandaring. Sebelum acara Badudus dimulai, wanita yang akan dimandikan didandani dengan sebaik-baiknya. Setelah waktunya tiba dan semua perlengkapan sudah disiapkan, sang calon ibu didudukkan di atas kuantan batiharap, yakni kuali dari tanah liat yang diletakkan terbalik (telungkup) sehingga bisa diduduki. Kuali ini beralaskan bamban bajalin, yaitu anyaman yang terbuat dari tumbuhan bajalin (Ideham, et al., 2007).

Orang-orang yang bertugas memandikan terdiri dari 5-7 orang wanita berusia lanjut yang secara bergantian menyiram dan membasuh kepala calon ibu yang dimandikan dengan air bunga-bungaan yang telah disediakan. Salah seorang yang bertugas memandikan, biasanya yang paling dituakan, dipercaya memegang upung mayang (sebuah wadah yang di dalamnya ada bunga-bungaan) yang masih terkatup. Kemudian upung mayang tersebut dipukul sekeras-kerasnya dengan telapak tangan dan harus dipecahkan dengan sekali pukul. Apabila upung mayang bisa dipecahkan dengan sekali pukul, maka itu pertanda baik, sang calon ibu dipercaya tidak akan mengalami gangguan ketika melahirkan (Ideham, et al., 2007).

Berikutnya, bunga mayang yang ada di dalam upung dikeluarkan dan disiramkan bersama air ke kepala yang dimandikan sebanyak tiga kali. Pada siraman pertama, tangkai mayang harus mengarah ke atas. Pada siraman kedua, tangkai mayang harus berada di bawah. Sedangkan pada siraman ketiga tangkai mayang harus ditelungkupkan. Selain itu, perempuan yang dimandikan juga disiram dengan air yang telah didoakan. Di pintu keluar pagar mayang, ditempatkan kuali dari tanah liat dan telur ayam. Begitu keluar dari pagar mayang, kuali dan telur ayam tersebut harus diinjak oleh ibu hamil yang baru selesai dimandikan (Ideham, et al., 2007).

Prosesi yang terakhir adalah perempuan yang telah dimandikan dibawa ke dalam rumah dan didudukkan di tengah-tengah para undangan yang semuanya wanita. Di hadapan hadirin, sang calon ibu disisir rambutnya, dirias, dan diberi pakaian yang bagus-bagus. Sebuah cermin dengan nyala lilin diputar mengelilingi sang calon ibu sebanyak tiga kali putaran. Sumbu lilin yang telah hangus disapukan ke mata nagi dan ulu hati dengan harapan sang calon ibu memperoleh anak yang rupawan dan berbudi baik. Ritual Badudus untuk peringatan kehamilan pertama ini diakhiri dengan bersalam-salaman dan ucapan selamat dari para hadirin kepada sang calon ibu (Ideham, et al., 2007).

5. Nilai-nilai

Secara umum, nilai-nilai yang terkandung dalam pelaksanaan ritual Badudus adalah kebersihan jiwa dan raga dari segala penyakit, baik lahir maupun batin. Sedangkan secara lebih khusus, ada beberapa peralatan dalam ritual Badudus yang mengandung nilai-nilai tertentu, yaitu antara lain:

  • Beras putih bersih, melambangkan citra rezeki yang halal.
  • Pisau yang tajam dan berhulu padat, melambangkan citra wibawa yang kharismatik dan berpegang pada keyakinan yang teguh.
  • Nyiur dan gula habang (gula merah), melambangkan bahasa dan tata laku persaudaraan.
  • Telur ayam, melambangkan harapan dan kekuatan generasi.
  • Jarum dan benang, melambangkan kesediaan menelusuri dan menyulam masa depan.
  • Ritual Bacarmin yang dilakukan secara bergantian atau berputar sebanyak 7 (tujuh) kali putaran sebagai simbol tujuh lapisan langit, melambangkan manusia harus selalu berkaca atau introspeksi diri (Arijadi, 2010).


Rangkaian Prosesi Badudus Raja Muda Kesultanan Banjar

6. Penutup

Ritual Badudus adalah salah satu ritual adat masyarakat Banjar yang sudah dilakukan secara turun-temurun. Sebenarnya ritual Badudus tidak hanya dilaksanakan sebagai rangkaian dari upacara tertentu saja (pernikahan, penobatan, atau kehamilan pertama), melainkan juga untuk beberapa acara adat lainnya, seperti upacara bersih desa dan lain-lain. Namun, pada hakikatnya, kesemuanya itu memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk membersihkan fisik dan mental manusia dari berbagai hal yang membahayakan, baik lahir maupun batin.

(Iswara N. Raditya/Bdy/01/12-2010)

Sumber Foto: Dokumentasi BKPBM (Fajar Kliwon)

Referensi:

Arsyad Indradi, “Badudus, Acara Adat Banjar Mandi-Mandi dan Selamatan Tahunan”, dalam http://sastrabanjar.blogspot.com, diunduh pada tanggal 17 Desember 2010.

“Balai Patataian”, dalam http://kerajaanbanjar.wordpress.com, diunduh pada tanggal 17 Desember 2010.

Data tentang prosesi Badudus (Penobatan Raja Muda) dari Kesultanan Banjar di Martapura, Kalimantan Selatan, Desember 2010.

Fahrurraji Asmuni, “Badudus, Acara Bamandi-Mandi Penganten Banjar”, dalam http://wwwkaryaraji.blogspot.com, diunduh pada tanggal 17 Desember 2010.

Fridolin Ukur, 1977. Tanya Jawab tentang Suku Dayak. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Ira Mentayani, 2008. “Jejak hubungan arsitektur tradisional Suku Banjaran dan Suku Bakumpai”, dalam Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur, Vol. 36, No. 1, Juli 2008.

Iswara N. Raditya, “Raja Muda Kesultanan Banjar Ditabalkan”, dalam http://melayuonline.com, diunduh pada tanggal 17 Desember 2010.

M. Suriansyah Ideham, et al., 2007. Urang Banjar dan Kebudayaannya. Banjarmasin: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan dan Pustaka Banua.

“Penobatan Raja Muda Banjar Angkat Budaya Daerah”, dalam http://www.antaranews.com, diunduh pada tanggal 17 Desember 2010.

Tunggul Tauladan, “Pangeran Khairul Saleh Lakukan Ritual Badudus”, dalam http://melayuonline.com, diunduh pada tanggal 17 Desember 2010.

Wawancara dengan Adjim Arijadi, Budayawan Banjar (Tokoh Lembaga Budaya Banjar), 10 Desember 2010, di Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Dibaca : 13.136 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password