Minggu, 23 November 2014   |   Isnain, 30 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 1.771
Hari ini : 12.568
Kemarin : 17.747
Minggu kemarin : 160.999
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.372.903
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Busana Pengantin Tradisional Aceh


Busana pengantin tradisional Nanggroe Aceh Darussalam (Aceh) adalah pakaian yang dikenakan oleh pengantin pada waktu upacara perkawinan adat Aceh.

1. Asal-usul

Upacara perkawinan merupakan salah satu unsur kebudayaan yang dilangsungkan di berbagai masyarakat di Indonesia. Upacara tersebut memuat berbagai unsur yang saling mendukung. Mulai dari tata-cara upacara perkawinan hingga tata rias dan busana yang dikenakan. Busana yang dikenakan oleh kedua mempelai biasanya sangat khusus dan istimewa. Sebagai salah satu unsur kebudayaan manusia, pakaian selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.

Manusia membuat pakaian pada awalnya merupakan salah satu cara untuk melindungi tubuh dari pengaruh keadaan alam. Selain itu, pakaian juga berguna untuk melindungi tubuh dari benda-benda tajam, hewan, dan gangguan lainnya. Perkembangan peradaban manusia turut mewarnai perkembangan pakaian. Jenis dan bahan yang digunakan pun berubah, yang mulanya dari kulit binatang atau kulit kayu menjadi benang atau kain.

Perubahan tersebut juga mewarnai pakaian yang dikenakan dalam berbagai upacara adat, termasuk pakaian pada perkawinan adat Nanggroe Aceh Darussalam. Ada dua istilah yang perlu dijelaskan di sini, yaitu pakaian dan adat. Pakaian adalah apa yang dipakai, seperti baju, celana, kopiah, perhiasan, dan lain-lain. Sedangkan adat merupakan aturan atau kegiatan yang diikuti dan dilakukan sejak zaman dahulu. Adat bisa juga diartikan sebagai kebiasaan atau cara, kelakuan dan sebagainya yang sudah menjadi kebiasaan (Nasruddin Sulaiman, et al., 2000:2).

Dari dua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pakaian adat pengantin adalah pakaian dan perhiasan pendukung yang dikenakan pada waktu pelaksanaan upacara perkawinan. Jenis bahan dan warna pakaian tradisional perkawinan adat ini berbeda antara daerah satu dan daerah lainnya. Misalnya baju untuk pengantin laki-laki di daerah Samadua, Aceh Selatan, berbeda dengan daerah Tamiang, Kuala Simpang, Aceh Timur.

Baju pengantin laki-laki di Samadua berwarna hitam dan terbuat dari sutra. Baju ini memakai kerah model Cina, berlengan panjang, terbelah di depan, dan mempunyai tiga kantong: satu kantong terletak di sebelah atas dan dua kantong lainnya di bagian bawah kiri dan kanan. Pada bagian ujung lengan, saku, dan sekitar lubang kancing terdapat hiasan sulaman dengan motif pucuk rebung dan motif bunga (T.M Yunan, et al., 1996/1997:53). Sedangkan baju pengantin laki-laki dari Tamiang berwarna merah dan terbuat dari bahan sutra dengan teknik songket. Baju ini berlengan panjang, kerah model Cina, dan terbelah hanya sampai dada. Jumlah kantong baju ini sama dengan baju pengantin dari Samadua. Seluruh baju berhias benang emas bermotif bunga kenanga, motif bintang, pucuk pakis, pucuk rebung, dan iris wajik (Yunan, et al., 1996/1997: 42).

Berbagai varian dalam pakaian tradisional perkawinan adat masyarakat NAD menjadi bukti keragaman budaya Melayu. Keragaman ini menyesuaikan dengan kebutuhan dalam upacara dan nilai-nilai filosofi yang diyakini oleh masyarakat masing-masing daerah tersebut. Selain itu, Islam yang begitu kental dalam kehidupan masyarakat Aceh turut mewarnai budaya mereka. Hampir semua bidang agaknya selalu berhubungan dengan ajaran Islam. Salah satunya terlihat dalam tata cara berpakaian di mana masyarakat Aceh memulai berpakaian dengan anggota sebelah kanan dan mengucapkan lafal basmalah.

2. Jenis Busana

Jenis busana pakaian pengantin NAD dibedakan menjadi dua kategori, yaitu busana pengantin laki-laki (linto baro) dan pengantin perempuan (dara baro).

a. Busana Pengantin Laki-laki

Dalam upacara perkawinan adat Aceh, pengantin laki-laki memakai celana (siluweuwe), kain sarung songket (ija krong), baju (bajee), dan kopiah (kupiah meukuetob) sebagaimana penjelasan berikut ini.

  • Celana (siluweuwe)

Linto baro mengenakan celana berwarna hitam yang terbuat dari bahan katun. Dulunya, celana ini berbahan kain sutra, namun kemudian berubah seiring perkembangan zaman. Bagian ujung bawah celana dibuat agak lebar dan diberi sulaman ragam hias benang emas dengan motif pilin tali yang berbentuk pucuk rebung. Celana seperti ini disebut siluweue meutunjong.

  • Kain Sarung Songket (ija krong)

Kain yang berbahan sutra ini dililitkan ke bagian pinggang celana sampai batas kira-kira 10 cm di atas lutut.

  • Baju Jas Aceh (bajee kot meututop)

Pengantin laki-laki (linto baro) mengenakan baju lengan panjang berbentuk kerah Cina. Sulaman benang emas motif pucuk rebung menghiasi leher bagian depan, saku, dan ujung tangan. Bentuk sulaman motif daun pucuk tiga yang menjalar ke kanan dan ke kiri menghias di masing-masing lubang kancing. Kancing berbentuk buah eru (boh ru) atau pyramid terbuat dari bahan emas. Pada salah satu lubang kancing tersebut disematkan tali jam berbentuk rantai.

  • Kopiah (kupiah meukuetob)

Kopiah (kupiah meukotob) adalah kelengkapan lain pakaian etnis Aceh. Kopiah ini berbentuk seperti topi bangsa Turki. Pada bagian lingkaran keliling topi dikaitkan kain tengkuluk, yaitu kain sutra dan kasab benang emas berukuran 95x95 cm. Khusus untuk pengantin, biasanya menggunakan warna merah hati. Beberapa hiasan pada tengkuluk, yaitu motif pucuk rebung (pucok reubong), bunga tanjung (bungong kapula), bunga cabai (bungong campu), bunga melur (bungong meulu), iris wajik, dan tali air (taloe ie).

Kain tersebut dilipat sedemikian rupa sehingga berbentuk piramida (bagian belakang berbentuk segitiga dengan kedua bagian ujungnya mencuat ke atas). Bagian atas kopiah ini juga dihiasi tampuk kopiah, terbuat dari emas, berbentuk bintang segi delapan yang terdiri dari tiga tingkatan. Pada setiap pipa berbentuk silinder di tampuk tersebut tersemat permata Ceylon warna putih. Sedangkan pada bagian puncak tersemat permata dari jenis tadi tapi berwarna merah dan bentuknya agak besar.

Hiasan lain yang dipasang pada kopiah adalah rumbai-rumbai yang terbuat dari emas dan permata. Bagian ini terdiri dari empat bagian atau empat tingkat di mana satu dan yang lainnya dihubungkan dengan rantai emas. Bentuk secara keseluruhan kopiah ini adalah seperti daun sukun.

  • Rencong

Sebilah senjata tusuk khas Aceh, yaitu rencong meupeucok atau siwaih, juga menjadi perlengkapan yang penting. Pengantin laki-laki menyelipkan senjata ini di pinggangnya. Biasanya, senjata ini bertahtakan emas dan permata. kopiah (kupiah meukuetob) dan rencong meupeucok mempunyai makna simbolis yang sama bagi kaum laki-laki Aceh, yaitu menunjukkan sikap keperkasaan.

b. Busana Pengantin Perempuan

Pengantin perempuan mengenakan pakaian yang terdiri dari celana (seluweue), kain sarung (ija krong), baju (bajee), dan perlengkapan lainnya.

  • Celana

Bahan untuk membuat celana pengantin perempuan Aceh adalah kain panel atau katun. Di bagian pinggang agak melebar, sedangkan pada bagian kaki menyempit. Pada ujung kaki celana dihiasi sulaman benang emas atau perak dengan motif saluran daun, pucuk rebung, dan bunga tabur. Nama untuk celana ini adalah seluweue meutunjong.

  • Kain sarung

Kain sarung songket yang dikenakan pengantin perempuan Aceh berasal dari kain songket (ija krong songket) yang menutupi sebagian celana dan baju. Untuk mengencangkan kain, pengantin perempuan memakai seutas tali pinggang (taloe ki ieng) yang terbuat dari emas dan perak. Tali pinggang ini terdiri dari sembilan lempengan yang sambung-menyambung. Inilah yang membuat ikat pinggang ini dikenal dengan sebutan “tali pinggang patah sembilan” (taloe ki ieng patah sikureueng). Sebutan tersebut diambil dari stempel raja-raja Aceh: “cap sikureueng”.

@Baju

Baju yang dikenakan pengantin perempuan adalah baju lengan panjang, berkerah bulat, dan berkancing pada bagian depannya. Baju ini biasanya tidak memakai hiasan sulaman, karena di permukaan baju akan disematkan berbagai perhiasan yang menutupi hampir sebagian besar permukaan baju. Baju ini terbuat dari kain sejenis panel atau kain beludru berwarna merah. Dahulu, baju pengantin perempuan berasal dari tenunan tradisional sutra.

Selain yang telah disebut di atas, pakaian pengantin perempuan dilengkapi dengan berbagai jenis perhiasan tertentu. Bagian-bagian tubuh yang biasanya mengenakan perhiasan yaitu kepala, leher, telinga, pinggang, dan kaki. Perhiasan tersebut terbuat dari berbagai macam bahan, misalnya perak, emas, permata, suasa, dan lain-lain (Nasruddin Sulaiman, et al., 2002:10).

Perhiasan di bagian kepala adalah perhiasan yang paling menonjol. Di bagian dahi terdapat hiasan (patam dhoe) berbentuk ukiran kaligrafi dan suluran dari emas dan permata. Kemudian di kepala bagian atas terdapat tusuk sanggul (culok ok) berbentuk bunga sunting, penyekam rambut (ceukam ok), dan mainan berbentuk rumbai-rumbai (ayeuem gumbak) yang terbuat dari emas dan permata.

Pengantin perempuan juga mengenakan kalung dari buah eru (euntuek boh ru) serta hiasan dada berbentuk bulan sabit (keutab lhee lapeh). Hiasan yang dikenakan di badan berbentuk selempang berbahan perak atau emas dipadu dengan permata yang dijalin dengan rantai. Lempengan-lempengan itu berbentuk segi enam yang di setiap lempengnya tersemat sebutir pertama merah delima. Hiasan ini menggantung di kedua pundak pengantin, silang-menyilang di bagian dada dan punggung. Hiasan tersebut bernama simplah.

Bagian tangan juga memakai perhiasan. Lengan bagian atas siku sebelah kanan dan kiri memakai gelang (ikai). Bagian pergelangan kedua tangan memakai gelang rantai (sawek meurante) dan gelang pucuk rebung (gleueng pucok reubong). Jari manis memakai cincin pintu Aceh (euncien pinto Aceh).

Bagian pergelangan kaki sebelah kiri dan kanan mengenakan perhiasan gelang kaki (gleueng gaki). Gelang kaki ini biasanya berukiran pilin tali. Di gelang tersebut juga terdapat jalur-jalur mengkilap yang disebut teknik cane intan.

3. Cara Memakai Busana Pengantin

Bagian-bagian pakaian antara pengantin laki-laki dan pengantin perempuan tidaklah sama. Maka itu, tata urutan pemakaian busana itu pun berbeda. Berikut adalah urutan pemakaian busana pengantin tradisional Aceh:

a. Pengantin Laki-laki

Cara memakai busana pengantin laki-laki sebagaimana yang dijelaskan dalam buku Tata Rias dan Upacara Perkawinan Aceh (Cut Intan Elly Arby, 1989:28), yaitu pengantin laki-laki memakai baju putih lengan panjang lebih dahulu, kemudian celana panjang. Berikutnya adalah memakai kain sarung yang dilipat dua setinggi setengah paha sebagaimana disinggung di atas. Bagian kanan dan kiri kain dilipat dan bertemu di tengah, diikat dengan tali, kemudian pengantin laki-laki memakai ikat pinggang.

Setelah itu, pengantin laki-laki memakai baju jas Aceh (bajee kot meututop) yang dilanjutkan memakai kopiah (kupiah meukuetob). Kemudian menghiasi kopiah dengan hiasan tengkuluk, baru kemudian memasang rantai pada kantong baju. Setelah memakai sepatu, pengantin laki-laki diminta berdiri untuk dipasangkan rencong meukotop di pinggang depan sebelah kiri dengan gagang menghadap ke kanan.

Pakaian pengantin laki-laki yang populer dalam masyarakat umumnya dominan warna hitam yang berpadu dengan warna kuning. Hitam melambangkan simbol kerakyatan, sedangkan kuning melambangkan keagungan, simbol kerajaan, dan kebangsawanan.

b. Pengantin Perempuan

Calon pengantin perempuan mengawali memakai pakaian pengantin Aceh dari celana. Kemudian memakai selop, baju, dan sarung. Lipatan kain sarung di sekitar pinggang berakhir di sebelah kanan dengan jarak kurang lebih 3 jari di sebelah kanan pusar. Tepi kain sarung dibuat lipatan-lipatan dengan lebar sekitar 4 jari. Ujung bawah kain sarung panjangnya sekitar 5 jari atau 10 cm di bawah lutut.

Pengantin perempuan mengikat celana dan kain yang ia kenakan, selanjutnya memakai ikat pinggang di atas kain. Setelah itu memakai hiasan simplah, dan berbagai gelang yang dipasang di kedua tangan dan kakinya.

4. Nilai-nilai

Busana pengantin adat Aceh mengandung nilai-nilai, yaitu sebagai berikut:

a. Nilai Tradisi

Tradisi upacara perkawinan telah berlangsung lama di masyarakat Melayu. Upacara tersebut merupakan ungkapan syukur dengan diadakannya pesta dan perjamuan untuk para tamu. Dalam upacara itulah busana tradisional, sebagai salah satu warisan tradisi, dikenakan sebagai bukti bahwa masyarakat Aceh masih menghargai warisan tradisi para leluhurnya.

b. Nilai Pelestarian Budaya

Setiap entitas masyarakat mempunyai bentuk kebudayaan masing-masing. Pemakaian pakaian tradisional dalam perkawinan adat masyarakat Aceh menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya tersebut. Seiring perkembangan zaman, terjadi beberapa perubahan dalam busana perkawinan Aceh, namun tetap dengan mempertahankan unsur-unsur pokok di dalamnya. Selain sebagai bentuk identitas budaya, memakai busana tradisional perkawinan di masyarakat Aceh adalah upaya mengenalkan budaya daerah ini kepada generasi muda dan masyarakat secara luas.

c. Nilai Sosial

Pakaian adat dapat menjadi salah satu penanda identitas sosial seseorang. Begitu pula dengan pakaian adat perkawinan Aceh. Melalui busana yang dikenakan para pengantin, orang akan tahu dari daerah mana mereka berasal. Penanda identitas tersebut menjadi alat untuk merekatkan ikatan sosial di antara mereka yang mempunyai latar belakang kebudayaan sama. Identitas budaya yang tampak melalui pakaian adat bisa menjadi sarana di mana masyarakat saling memahami perbedaan mereka.

d. Nilai Filosofis

Apa yang tampak pada pakaian tradisional mempunyai makna dan nilai filosofis sendiri-sendiri. Beberapa bagian dalam busana tersebut terkait dengan pandangan hidup masyarakat Aceh.

5. Penutup

Upacara adat perkawinan tradisional Aceh merupakan salah satu unsur kebudayaan daerah yang harus dilestarikan, termasuk di dalamnya adalah busana perkawinan adat. Mengingat gaya hidup masyarakat yang mulai berubah karena berbagai pengaruh budaya luar, banyak orang di berbagai tempat yang mulai meninggalkan adat dalam menggelar upacara perkawinan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Aceh untuk tetap mempertahankan tradisi dan budaya mereka.

(Mujibur Rohman/bdy/19/01-2011)

Sumber foto: http://pengantinku.blogspot.com/

Referensi:

Nasruddin Sulaiman, 2000. Pakaian dan Perhiasan Pengantin Etnis Aceh. Banda Aceh: Departemen Pendidikan Nasional, Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Daerah Istimewa Aceh.

Cut Intan Elly Arby, 1989. Tata Rias dan Upacara Perkawinan Aceh. Jakarta: Yayasan Meukuta Alam, Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia “Melati” dan Yayasan Insani.

T.M Yunan, et al. 1996/1997. Tenun dan Pakaian Tradisional Aceh. Banda Aceh: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Daerah Istimewa Aceh.

Dibaca : 13.682 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password