Kamis, 23 Februari 2017   |   Jum'ah, 26 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 5.115
Hari ini : 37.319
Kemarin : 84.734
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.787.324
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Perkawinan Adat Suku Bisaya, Serawak, Malaysia


Perkawinan tradisional orang Bisaya secara umum berisi 5 upacara adat, yaitu nulasoh (merisik), basuruh (menentukan mas kawin), ngadapit mansaoh atau barian (menghantar suami), bagu atis (basuh kaki), dan nguli angai (mendapat alamat baik).

1. Asal-usul

Kebudayaan adalah hasil kreasi manusia yang lekat dengan apa yang dialami dalam kehidupan sehari-hari (Koentjaranigrat, 1980). Hal yang sama juga dapat dilihat dalam kebudayaan orang Bisaya, termasuk dalam tata cara perkawinan adat. Adat perkawinan tradisional orang Bisaya masih banyak dilakukan di desa-desa di Serawak, Malaysia. Suku Bisaya adalah penduduk asli yang hidup di sepanjang pantai Borneo, Brunei Darussalam, dan Malaysia. Orang Bisaya dipercaya sebagai cikal-bakal penduduk Brunei dan Malaysia sekarang ini. Suku ini juga berdiaspora sampai ke Filipina dan di sana mereka dikenal dengan sebutan Suku Visaya (Kahti Galis, 1990; Bewsher, 1958).

Perkawinan tradisonal Bisaya diatur dalam aturan adat yang ketat. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Bisaya, leluhur orang Bisaya berasal dari sebuah keluarga yang berpindah dan menetap di wilayah sebelah utara pulau Borneo (Kalimantan). Keluarga ini memiliki tujuh orang anak, enam laki-laki dan satu perempuan. Dari ketujuh anak inilah nantinya yang akan menurunkan orang-orang Bisaya (D. Headly, 1950).

Perkawinan tradisional orang Bisaya secara umum berisi 5 upacara adat, yaitu nulasoh (merisik), basuruh (menentukan mas kawin), ngadapit mansaoh atau barian (menghantar suami), bagu atis (basuh kaki), dan nguli angai (mendapat alamat baik). Rangkaian upacara adat itu harus dilakukan secara berurutan. Jika tidak, maka dianggap tidak sah karena menyalahi adat (Kahti Galis, 1990).

2. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Waktu pelaksanaan perkawinan tradisional Bisaya tergantung pada kesepakatan kedua pihak pengantin laki-laki dan perempuan. Biasanya, pada saat melamar sudah dibicarakan waktu perkawinannya, yaitu tiga bulan setelah waktu pelamaran.

Perkawinan dilaksanakan di dua tempat, yaitu rumah mempelai perempuan dan mempelai laki-laki. Upacara yang dilakukan di rumah mempelai perempuan meliputi nulasoh (merisik), basuruh ( menentukan mas kawin), dan apit mansaoh atau barian (menghantar suami). Dua upacara selanjutnya, yaitu bagu atis (basuh kaki), dan nguli angai (mendapat alamat baik) digelar di rumah mempelai laki-laki.

3. Pemimpin dan Peserta Upacara

Upacara perkawinan adat Bisaya dipimpin oleh ketua adat dan dihadiri oleh keluarga, kerabat, dan masyarakat umum yang diundang. Pada zaman sekarang, upacara perkawinan adat Bisaya dipimpin oleh petugas khusus dari pemerintah.

4. Peralatan dan Bahan

Upacara perkawinan adat Bisaya memerlukan beberapa peralatan dan bahan-bahan, antara lain:

  • Pakaian tradisional Bisaya pengantin laki-laki dan perempuan.
  • Pedang untuk dibawa pengantin laki-laki.
  • Uang.
  • Cincin emas.
  • Seekor kerbau.
  • Pinggan (baskom) untuk tempat air sirih.

5. Proses Pelaksanaan

Proses pelaksanaan perkawinan adat orang Bisaya secara umum meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penutup

a. Persiapan

Pada tahap persiapan ini, keluarga kedua mempelai harus menyiapkan segala peralatan dan bahan yang sudah dipersiapkan.

b. Pelaksanaan

Pelaksanaan perkawinan tradisional orang Bisaya meliputi lima tahap, yaitu:

1. Nulasoh (merisik)

Nulasoh berarti melamar gadis yang dianggap tepat. Hal ini dilakukan sebagai bukti keseriusan mempelai laki-laki untuk menjadikan perempuan tersebut sebagai istri. Nulasoh dilakukan dengan cara keluarga mempelai laki-laki mengutus salah satu atau dua dari saudaranya (biasanya perempuan) pergi ke rumah sang gadis untuk melamar. Seperti umumnya dalam budaya Melayu, upacara nulasoh biasanya dibumbui dengan pantun-pantun untuk menyampaikan maksudnya.

Seandainya keluarga gadis tidak setuju, maka penolakan dilakukan dengan rendah hati. Menolak lamaran pantang dilakukan dengan cara kasar karena dipercaya justru akan mendatangkan malapetaka. Jika lamaran diterima, biasanya keluarga sang gadis akan meminta waktu kurang lebih seminggu untuk membicarakan lamaran tersebut dengan sang gadis dan keluarga yang lain. Hal ini ditujukan agar sang gadis memiliki waktu untuk mempertimbangkan apakah menerima atau menolak pinangan tersebut. Orangtua sang gadis tidak boleh memaksa anaknya untuk menerima atau menolak pinangan tersebut dan hanya berhak memberi nasehat saja.

Apabila akhirnya sang gadis bersedia menerima pinangan, keluarganya akan mengirim utusan untuk menyampaikan kepada keluarga pelamar, dan selanjutnya akan dibicarkan hari untuk menentukan mas kawin (basuruh).

2. Basuruh atau Barian (menentukan mas kawin)

Setelah lamaran diterima, keluarga pelamar akan datang ke rumah sang gadis sesuai dengan hari yang telah disepakati untuk membicarakan tentang segala hal yang berhubungan dengan perkawinan. Ritual inilah yang disebut dengan basuruh, yakni upacara untuk menentukan mas kawin dan hari pertunangan.

Rombongan basuruh biasanya dipimpin oleh orangtua mempelai laki-laki diiringi oleh beberapa sanak saudaranya (kurang lebih 20 orang, laki-laki dan peremuan). Rombongan ini biasanya akan membawa buah tangan untuk tuan rumah.

Pada hari basuruh, keluarga dan kerabat sang gadis sudah bersiap sejak pagi untuk menerima rombongan pihak pelamar. Pada hari sebelumnya, keluarga sang gadis sudah membincangkan dan menentukan jumlah mas kawin dan belanja kawin serta siapa yang akan menjadi wakil mereka untuk menerima hadiah kawin kelak. Orang yang menjadi wakil tersebut akan menjelaskan hubungannya dengan keluarga sang gadis dan menjawab segala pertanyaan dari pihak pelamar.

Di rumah sang gadis, rombongan pelamar dijamu dengan jamuan ringan. Kaum lelaki akan duduk di ruang tengah, sementara kaum perempuan duduk di ruang dalam. Pada awalnya, keluarga pelamar dan sang gadis belum membicangkan masalah mas kawin, tetapi mereka lebih dulu berbincang tentang banyak hal. Setelah selesai, mereka akan dijamu makan tengah hari (makan madau).

Setelah selesai makan madau, pembicaraan mengenai mas kawin baru dimulai. Sebelum dimulai, pihak pelamar biasanya sudah tahu jikalau lamaran diterima oleh sang gadis dari salah satu kerabat perrempuannya yang sengaja diutus untuk bertanya kepada sang gadis langsung di ruang dalam. Setelah mendapat kepastian ini, keluarga pelamar akan menyerahkan cincin dan uang sebagai tanda pertunangan telah dilakukan.

Setelah pertunangan dilakukan, ada beberapa syarat yang diumumkan oleh seorang juru cakap sehubungan dengan pertunangan tersebu, antara lain:

  • Tempo pertunangan selama tiga bulan. Artinya, pihak laki-laki dan perempuan memiliki waktu sepanjang itu untuk menyiapkan perkawinan.
  • Sekiranya pihak laki-laki menarik diri dari pertunangan tersebut, maka cincin dan uang sudah diberikan dianggap hilang. Sebaliknya jika sang gadis yang menarik diri maka cincin akan dikembalikan dan uang akan digandakan menjadi dua kali lipat untuk dikembalikan kepada pihak laki-laki.
  • Jika sang laki-laki menarik diri dari pertunangan, sementara sebelumnya ia telah tidur dengan sang gadis calon istrinya tersebut, maka sang laki-laki akan didenda dengan mas kawin dan uang belanja sesuai yang ditetapkan saat basuruh.
  • Jika sang gadis justru kawin dengan lelaki lain dalam tempo tiga bulan tersebut, maka ia akan didenda sesuai dengan uang yang disepakati, sebagai ganti rasa malu pihak laki-laki. Uang yang diberikan saat basuruh

digandakan menjadi dua kali lipat dan bersama cincin akan dikembalikan kepada pihak laki-laki.

Setelah acara penyerahan cincin selesai, pihak sang gadis akan mengumumkan mas kawin yang akan mereka minta kepada pihak laki-laki. Menurut adat Bisaya, mas kawin harus berupa:

  • Uang harian (mas kawin) sejumlah kebutuhan harian yang mencukupi.
  • Seekor kerbau untuk disembelih saat kenduri atau dapat diuangkan sesuai dengan harga kerbau.
  • Uang belanja yang habis untuk dikeluarkan saat resepsi perkawinan (belanja hangus).
  • Kumbang tandu (tanda kawin) berupa sebiji gong atau dapat diuangkan seharga gong tersebut.
  • Hadiah kawin kepada  para wakil pihak sang gadis saat menerima tunangan sejumlah empat orang. Dua dari pihak bapak sang gadis dan dua dari pihak ibunya. Harga hadiah sesuai dengan kesepakatan bersama.

Jumlah mas kawin biasanya berbeda-beda karena kesepakatan antara pihak laki-laki dan perempuan yang berbeda pula. Penentuan mas kawin dalam sebuah perkawinan terkadang mirip seperti jual beli, di mana kedua belah pihak saling tawar-menawar sesuai dengan kemampuan. Latar belakang ekonomi kedua mempelai turut menentukan jumlah mas kawin. Hal ini wajar karena status sosial dan gengsi sosial ikut menjadi pertimbangan penentuan mas kawin. Setelah jumlah mas kawin disepakati, kedua belah pihak selanjutnya membincangkan hari perkawinannya yang harus berjarak tiga bulan setelah hari pertunangan tersebut. Setelah disepakati hari perkawinannya, maka selesai pula acara basuruh ini.

3. Ngadapit mansaoh (menghantar suami)

Acara puncak dari perkawinan adat orang Bisaya adalah menghantar suami atau resepsi. Upacara ini dilakukan di rumah mempelai perempuan. Seminggu sebelumnya, biasanya keluarga dan kerabat pengantin perempuan sudah mempersiapkan segala sesuatunya.

Seminggu sebelumnya juga, pihak laki-laki telah menghantar uang belanja hangus dan seekor kerbau untuk disembelih saat kenduri. Untuk keluarga yang kaya, jumlah kerbau biasanya bisa lebih dari satu ekor karena menunjukkan status sosial mereka. Namun, ketika penduduk Bisaya tidak lagi banyak memiliki kerbau, maka adat ini sudah mulai hilang dan kerbau diganti dengan uang.

Di rumah pengantin laki-laki biasanya sudah berkumpul segenap keluarga dan kerabat yang akan ikut mengiringi pengantin laki-laki menuju rumah pengantin perempuan. Rombongan tidak akan berangkat sebelum keluarga dan kerabat yang akan ikut datang. Sebelum berangkat, rombongan akan menikmati hidangan sederhana dan mereka umumnya akan berangkat pada tengah hari.

Di rumah pengantin perempuan sudah sejak seminggu sebelumnya mempersiapkan segala macam masakan untuk menjamu rombongan pengantin laki-laki. Pihak pengantin perempuan juga mengundang tetangga dan saudara yang khusus menjadi penerima tamu rombongan laki-laki atau yang disebut orang dari pihak gadis. Para tamu umumnya akan membawa buah tangan berupa kebutuhan dapur seperti beras, gula, buah kelapa, roti, juga sayuran. Selain itu, mereka juga membawa uang sebagai sumbangan untuk meringankan kebutuhan keluarga pengantin perempuan.

Rombongan pengantin akan disambut oleh orang khusus dari pihak perempuan sambil diiringi musik tradisional khas Bisaya. Pengantin laki-laki biasanya terlihat membawa sebilah pedang (bujak) sebagai simbol mempertahankan diri dan bakul (sarot) sebagai simbol bahwa dia datang untuk memulai hidup baru bersama istrinya. Di depan pengantin laki-laki, biasanya berjalan seorang bommoh (pawang/dukun/ulama) yang menjaga pengantin laki-laki dari perbuatan jahat dan menjaga agar acara berjalan dengan lancar. Selanjutnya, rombongan pengantin laki-laki dipersilahkan duduk di tempat maisng-masing untuk makan tengah hari.

Seusai makan, wakil dari rombongan pengantin laki-laki akan berdiri untuk memimpin penyerahan uang harian kepada pihak pengantin perempuan. Sebagai tanda dimulainya acara, wakil pengantin laki-laki akan memukul gong sebanyak tiga kali. Setelah itu akan diserahkan uang harian berupa sebiji gong (kumbang tandu), kotak penyimpan perhiasan (languai), tali pinggang perempuan (rantai cincing), baju perempuan tradisional Bisaya (baju kebaban), dan kain tenun Bisaya (tajong basulat). Kumbang tandu diserahkan oleh sepupu pengantin laki-laki kepada sepupu pengantin perempuan. Kumbang tandu ini harus dikembalikan kepada pengantin laki-laki jika terjadi perceraian antara kedua pengantin tersebut.

Selanjutnya adalah penyerahan mas kawin sesuai dengan kesepakatan pada saat upacara basuruh. Namun demikian, biasanya pihak pengantin perempuan akan meminta tambahan mas kawin dengan alasan tertentu, misalnya ada orang yang dulu belum sempat terhitung untuk diberikan hadiah kawin. Pihak pengantin laki-laki umumnya akan menolak permintaan tersebut dengan segala upaya. Namun biasanya itu akan berhenti pada kesepakatan saja, bukan ditiadakan.

Setelah penyerahan mas kawin, maka perkawinan tersebut dianggap sah. Selanjutnya pengantin laki-laki diperbolehkan memasuki ruang dalam dari rumah pengantin perempuan. Rombongan pengantin laki-laki dan tamu-tamu lainnya selanjutnya akan menikmati hidangan.

Saat malam hari, para tamu dan rombongan pengantin laki-laki akan dihibur dengan musik dan nyanyian tradisional Bisaya, juga kesenian berbalas pantun (banding). Rombongan pengantin laki-laki baru akan pulang esok paginya seusai makan pagi atau tengah hari. Selama pengantin laki-laki berada di rumah pengantin perempuan, mereka tidak diperbolehkan pergi atau masuk ke hutan karena dikhawatrikan akan diganggu oleh makhluk halus.

4. Bagu Atis (basuh kaki)

Setelah tiga hari seusai acara ngadapit mansaoh, dilakukan upacara bagu atis, yakni membasuh kaki dan mendoakan kedua pengantin agar tidak diganggu oleh hantu pogot yang diyakini hidup di rumun-rumpun rindang dan gelap. Hantu pogot akan menyamar menyerupai salah satu pengantin agar dapat tidur dengan pengantin tersebut.

Selain itu, upacara bagu atis dilakukan untuk melepaskan pasangan dari dosa kotor yang telah diperbuatnya selepas berhubungan seksual. Upacara bagu atis digelar di rumah pengantin laki-laki. Pertama-tama sang suami memasuki ke rumah sambil menghunus pedang yang dibawanya saat upacara ngadapit mansoh. Pedang tersebut lalu diletakkan di atas lantai. Setelah itu, suami istri tersebut masuk rumah dan berdiri di atas pedang sebagai simbol semoga ikatan mereka kuat seperti bilah pedang itu.

Setelah itu, seorang anak saudara perempuan sang suami yang belum menikah masuk ke rumah sambil membawa pinggan (baskom) berisi air sirih, lalu membasuh kaki pasangan suami istri tersebut. Pinggan harus berwarna putih sebagai simbol semoga hati pasangan suami istri tersebut bersih. Pinggan beserta alat-alat rumah tangga lain seperti sebuah mangkuk, dua buah gelas, dan dua buah garpu diberikan kepada pasangan suami istri sebagai simbol untuk penghidupan baru mereka.

Setelah selesai pembasuhan kaki, lalu suami istri itu diminta untuk membagi daun sirih kepada yang hadir dan bersama-sama mereka makan daun sirih. Setelah itu, suami istri tersebut diminta membuang air sirih ke celah-celah lantai. Hal itu sebagai simbol semoga keduanya dikarunia anak dan rezeki yang baik. Dalam hal ini terdapat sebuah kepercayaan, jika air sirih tersebut berwarna pudar dan tidak merah, maka itu menunjukkan bahwa suami atau istri tersebut pencemburu.

Selepas itu, suami istri tersebut diminta untuk turun ke tanah dan mengelilingi rumah jika ia ingin tinggal di rumah tersebut. Hal ini sebagai simbol bahwa mereka sudah bebas untuk melakukan apa saja tanpa takut mendapat gangguan dari makhluk jahat.

5. Nguli angai (mendapat alamat baik)

Dua hari selepas upacara bagu atis, diadakan upacara nguli angai, yaitu upacara untuk menandai kepulangan pasangan pengantin ke rumah suami untuk pertama kalinya. Pasangan suami istri tersebut akan tidur di rumah sang suami selama dua atau tiga malam sebelum berpindah ke rumah lain yang ditetapkan menjadi tempat tinggal.

Upacara ini juga ditujukan untuk mencari dan memperoleh tanda-tanda yang baik dan menghilangkan tanda-tanda buruk yang terbawa selama upacara perkawinan berlangsung. Upacara ini diharapkan akan menjadi doa agar pasangan suami istri hidup dengan selamat dan sejahtera di hari depan.

c. penutup

Pelaksanaan perkawinan tradisional orang Bisaya ditutup dengan berjabatan tangan antarkeluarga, kerabat, dan para tamu yang hadir dalam acara tersebut. Hal ini sebagai simbol bahwa semua yang hadir ikut berbahagia dan mendoakan pengantin.

6. Doa

Dalam upacara perkawinan adat orang Bisaya terdapat beberapa doa yang dipanjatkan, antara lain:

  • Doa syukur kepada Tuhan dan memohon restu atas perkawinan yang baru saja dilaksanakan.
  • Doa permohonan agar diberi rezeki yang cukup dan keturunan yang baik.
  • Doa permohonan perlindungan dari roh-roh jahat.

7. Pantangan dan Larangan

Pengantin baru tidak diperbolehkan pergi atau masuk ke hutan karena dikhawatirkan akan diganggu oleh makhluk halus yang jahat.

8. Nilai-nilai

Perkawinan tradisional orang Bisaya yang penuh dengan upacara adat mengandung nilai-nilai dalam kehidupan mereka, antara lain:

  • Pelestarian tradisi leluhur. Melaksanakan perkawinan tradisional yang penuh dengan aturan adat secara langsung tentu saja akan melestarikan tradisi leluhur. Pelestarian tradisi leluhur seperti ini akan menjadikan tradisi tersebut berharga untuk pemiliknya sendiri maupun orang lain. Di tengah gempuran zaman modern yang sedikit banyak menggerus tradisi leluhur, pelestarian tradisi perlu dilakukan agar anak cucu dapat belajar dari ajaran leluhur tersebut.
  • Simbol budaya. Perkawinan tradisional orang Bisaya penuh dengan simbol dengan makna-makna tertentu, seperti pedang sebagai simbol ikatan keluarga agar sekuat pedang atau baskom putih sebagai simbol semoga hati suami istri putih dan bersih. Simbol-simbol budaya ini mencerminkan bahwa orang Bisaya menjadikan pedang dan baskom bukan hanya sebagai pelengkap upacara saja.
  • Solidaritas keluarga dan sosial. Upacara perkawinan yang dihadiri oleh para kerabat dan tetangga sebagai tamu merupakan sebuah gambaran bahwa solidaritas keluarga dan sosial terjaga dengan baik dalam kehidupan Suku Bisaya.

9. Penutup

Perkawinan tradisional orang Bisaya tampak seperti sebuah perayaan bersama, di mana antara pengantin, keluarga mempelai, dan masyarakat ikut serta. Perkawinan tampaknya sebagai media perayaan sosial budaya yang mengikat banyak orang. Dalam konteks pelestarian budaya orang Bisaya, upacara tradisional perkawinan ini penting untuk dikaji sebagai bahan pelajaran untuk mengenali dan memahami budaya orang lain. 

Yusuf Efendi (bdy/40/1-11)

Sumber Foto: http://abdnaddin.blogspot.com

Referensi

Bewsher, 1958. The Bisaya Grup, dalam Serawak Gazette, volume XXXIV.

Koentjaraningrat, 1980. Manusia dan kebudayaan Indonesia. Jakarta: Djambatan

Kahti Galis, 1990. Adat Perkawinan Masyarakat Bisaya Sarawak. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

D. Headly, 1950. Some Bisaya Folklores, dalam Sarawak Museum Jurnal, volume V

Dibaca : 14.107 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password