Kamis, 25 Mei 2017   |   Jum'ah, 28 Sya'ban 1438 H
Pengunjung Online : 3.201
Hari ini : 11.398
Kemarin : 92.738
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.457.545
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Meusare-saree: Tari Tradisional Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam


Tari Meusaree-saree merupakan tarian tradisional yang berasal dari Banda Aceh,
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

1. Asal-usul

Secara etimologis, pengertian meusaree-saree adalah “bersama-sama atau bergotong-royong dalam melaksanakan suatu pekerjaan”. Nama tarian ini sesuai dengan gerakan para penari yang menggambarkan orang yang sedang bekerjasama menarik jala dan gerakan orang menanam padi. Tarian ini menggambarkan semangat gotong-royong masyarakat Aceh dalam usaha mata pencaharian mereka, baik sebagai nelayan maupun petani. Tari Meusaree-sare digubah oleh Yuslizar pada 1958. Awalnya, tarian ini diciptakan dalam rangka memeriahkan Kongres Pemuda tahun 1958 di Bandung (Firdaus Burhan, ed., 1986:133).

Meusaree-sare merupakan hasil penggabungan dari dua jenis tarian, yaitu Tari Top Pade dan Tari Tarek Pukat. Dua tarian tersebut bisa dipentaskan secara terpisah karena sebenarnya dua jenis tarian itu berdiri sendiri-sendiri. Penggabungan kedua tarian ini berdasarkan kesamaan makna, yaitu semangat gotong-royong dan sama-sama menceritakan kegiatan masyarakat Aceh pada saat bekerja.

Tari Tarek Pukat menggambarkan aktivitas para nelayan yang menangkap ikan di laut. Tarek berarti “tarik”, sedangkan pukat adalah alat sejenis jaring yang digunakan untuk menangkap ikan (Pemerintah Kota Banda Aceh, 2008). Tarian ini menggambarkan kehidupan para nelayan di pesisir, termasuk membuat jaring dan mendayung perahu. Karakter gerakan tarian ini adalah dinamis dan ceria dengan iringan alat musik tradisional (Shofiana Fitri, 2009).

Sedangkan Top Pade merupakan gambaran mata pencaharian masyarakat agraris di Aceh. Gerakan-gerakan tarian pada bagian Top Pade menggambarkan gerakan orang yang sedang menumbuk padi. Gerakan ini diperankan oleh laki-laki. Sedangkan penari perempuan bertindak seolah-olah menjadi alat yang digunakan, yaitu alu. Para perempuan kemudian bergerak dengan gerakan seolah-olah sedang menampi padi.  

Semangat gotong-royong tergambar jelas dalam rangkaian gerakan pada tarian Meusaree-saree. Misalnya, gerakan merajut jala yang diperankan oleh para penari. Dalam merajut jala tersebut, pada penari saling mengaitkan tali dan akhirnya membentuk kotak-kotak jaring. Begitu pula dengan gerakan para penari laki-laki, mereka bergerak ke sana ke mari yang menggambarkan pekerjaan dilakukan secara bersama-sama.

2. Penari dan Busana Tari

Penari dalam Tari Meusaree-saree berjumlah 16 orang yang terdiri dari 8 penari perempuan dan 8 penari laki-laki. Sedangkan busana yang dikenakan pada tarian ini adalah:

a. Busana Penari Laki-laki

Penari laki-laki mengenakan baju lengan panjang warna hitam, celana panjang hitam, serta topi laut, yaitu topi yang terbuat dari rotan atau bambu yang dicat hitam. Ia juga membawa raga (keranjang) sebagai tempat ikan.

b. Busana Penari Perempuan

Penari perempuan mengenakan selendang yang dililitkan di kepala. Selendang tersebut biasanya berwarna cerah, misalnya kuning keemasan dan berbagai warna cerah lainnya. Mereka juga mengenakan baju lengan panjang berwarna kuning, bisa kuning keemasan atau merah keemasan. Penari perempuan juga mengenakan celana panjang berwarna hitam, baju berlengan panjang, dan kain sarung yang dililitkan di pinggang dengan posisi agak miring. Sebagai properti, para penari ini membawa seutas tali panjang yang dibentuk seperti jala.

3. Ragam Gerakan

Pertunjukan Tari Meusaree-saree dibagi menjadi dua bagian yang ditampilkan secara berurutan dalam pementasan. Bagian pertama adalah Tarian Top Pade yang kemudian dilanjutkan dengan Tarek Pukat. Gerakan-gerakan dalam Tari Top Pade menggambarkan kegiatan menumbuk padi dan kegiatan mengolah hasil panen padi. Sedangkan pada Tarian Tarek Pukat menggambarkan orang-orang yang sedang menangkap ikan. Komposisi dan perpaduan gerakan dalam tarian ini adalah sebagai berikut:

a. Gerakan Tari Top Pade

Tarian dimulai dengan iringan lagu Top Pade. Bersamaan dengan alunan lagu itu para penari, baik perempuan maupun laki-laki, masuk dari arah kiri dan kanan panggung. Di atas panggung, para penari kemudian membentuk dua banjar barisan dengan komposisi barisan 4-4 atau 4-3 dalam beberapa variasi.

Setelah itu, para penari membentuk komposisi 5-3. Pada komposisi ini, para penari laki-laki duduk berlutut dengan gerakan seperti orang yang sedang menanam padi. Sedangkan para penari perempuan seolah-olah berperan sebagai alu yang digunakan untuk menanam padi. Pada akhir lagu Top Pade para penari laki-laki keluar pentas melalui sisi kanan panggung. Sementara para penari perempuan tetap bertahan di atas panggung untuk bersiap memainkan Tari Tarek Pukat.

b. Gerakan Tari Tarek Pukat

Seorang penari laki-laki masuk ke pementasan, kemudian berteriak seolah-olah memanggil teman-temannya untuk turun ke laut. Bagian ini mengawali bagian kedua dari rangkaian Tarian Mesaree-saree, yaitu Tarek Pukat. Tarian ini diiringi dengan lagu Tarek Pukat. Bersamaan dengan iringan lagu ini para penari perempuan bergerak dari kiri ke kanan seperti gerakan seorang yang membuat jala dengan cara mengaitkan tali di tubuh para penari, dari seorang penari kepada penari berikutnya. Kemudian, para penari laki-laki mulai masuk ke atas panggung.

Para penari laki-laki kemudian mengelilingi para penari perempuan yang masih dalam posisi duduk sambil membuat gerakan seperti mendayung, menarik pukat, menangkap ikan, dan berbagai gerakan lain yang menggambarkan orang yang sedang melaut. Menjelang lagu Tarek Pukat berakhir, para penari bergerak semakin cepat mengikuti tempo lagu, kemudian secara serentak mereka memperlihatkan jala yang sudah selesai dirajut dalam posisi setengah berdiri. Mereka berjalan menyamping dan ke belakang. Pada waktu mereka melakukan gerakan itu, jala tetap terpegang di tangan, para penari perempuan mengangkat dan menurunkan jala tersebut mengikuti irama lagu. Sementara itu, para penari laki-laki bergerak berputar-putar mengelilingi para penari perempuan.

Seluruh rangkaian tarian ini diakhiri dengan gerakan serentak. Para penari perempuan dengan posisi setengah jongkok mengembangkan jala, dan di belakangnya, penari laki-laki dengan posisi sambil berdiri berpegangan tangan sambil mengacungkan tangan ke atas (Burhan, ed., 1986: 134-136)

4. Musik Pengiring

Musik yang mengiringi pementasan Tari Meusaree-sare mempunyai karakter riang yang dihasilkan dari alat musik pukul dan alat musik tiup. Alat musik pukul yang digunakan dalam pementasan Tari Meusaree-sare adalah rapai. Alat ini mempunyai karakter keras dengan suaranya yang menghentak. Karakter musik turut mendukung kesan riang dalam Tari Meusaree-sare. Peralatan musik lain yang digunakan dalam pementasan Tari Meusaree-sare adalah serune, yakni alat musik tiup berjenis aerophone (Z.H. Idris, 1993:47). Alat musik ini mempunyai karakter suara lembut dan mengalun yang dimaksudkan untuk mengimbangi bunyi rapai yang menghentak-hentak.   

5. Nilai-nilai

Tari Meusare-sare bukan hanya tarian yang  indah untuk dilihat dan dinikmati. Tarian ini juga mengandung nilai-nilai dan makna tinggi. Beberapa nilai yang terkandung dalam tarian ini, yaitu:  

a. Nilai Kreativitas

Tari Meusaree-saree menunjukkan bahwa masyarakat Aceh adalah masyarakat yang kreatif. Gabungan antara lagu, iringan musik, dan gerakan penari menjadi perpaduan yang indah dalam tarian ini. Jika dikembangkan, nilai kreativitas yang dipicu oleh tarian ini akan berdampak positif pada bidang lain. Nilai-nilai kreativitas inilah yang saat ini penting untuk dikembangkan sebagai dasar membangun sumber daya manusia Aceh.

b. Nilai Kearifan Lokal

Meusaree-saree mencerminkan sumber penghidupan sebagian besar masyarakat Aceh. Pada Tari Top Pade tergambar kehidupan masyarakat petani, sedangkan Tarek Pukat menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir yang berprofesi sebagai nelayan. Kearifan lokal yang terkandung dalam tarian ini adalah cara dan peralatan yang digunakan dalam mencari keseharian orang Aceh tersebut. Peralatan yang digunakan dalam mencari penghidupan sebagaimana tergambar melalui tarian tersebut misalnya adalah jaring, alu, sampan, dan berbagai peralatan lainnya. Hal itu mencerminkan bagaimana masyarakat tradisional Aceh mampu menjaga kelangsungan sumber daya alam yang ada.

c. Nilai Hiburan dan Keindahan

Tarian ini juga mengandung nilai keindahan yang berbeda dengan tarian yang lain. Gerakan-gerakan dalam tarian tersebut lincah, riang, dan rancak. Hal tersebut akan mempengaruhi penonton untuk ikut merasa riang. Tarian seperti ini cocok untuk menjadi pertunjukan hiburan bagi masyarakat.  

d. Nilai Pelestarian Budaya

Tari Meusaree-sare memperkaya kebudayaan masyarakat NAD, yang juga akan menambah kekayaan kebudayaan nasional. Berbagai upaya telah dilakukan dalam rangka melestarikan tarian ini, misalnya dengan menggelar berbagai pementasan dan dokumentasi melalui foto maupun video. Selain itu, tari ini juga dilestarikan dengan diajarkan di sanggar-sanggar tari.

6. Penutup

Tari Meusaree-sare menjadi salah satu keragaman budaya dan kesenian masyarakat Aceh. Tarian ini menunjukkan semangat masyarakat Aceh dalam bekerja. Tari Meusaree-sare penting untuk terus dikembangkan sebagai upaya untuk memperkaya khazanah kebudayaan Melayu.

(Mujibur Rohman/bdy/24/03-2011)

Sumber foto: serambinews.com

Referensi:

Firdaus Burhan, ed. 1986. Ensikopedi Musik dan Tari Daerah, Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Banda Aceh: Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.

Pemerintah Kota Banda Aceh, 2008. Seni Tari. [Online] Tersedia dalam: http://www.bandaacehkota.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=275&Itemid=50 [Diunduh pada 7 Maret 2011].

Shofiana Fitri, 2009. Seni Budaya. [Online] Tersedia dalam: http://thestruggleoflove.blogspot.com/2009/06/seni-budaya.html [Diunduh pada 7 Maret 2011].

Z.H. Idris, 1993. Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Jakarta: Proyek Penelitian, Pengkajian, dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya.

Dibaca : 18.962 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password