Rabu, 26 Juli 2017   |   Khamis, 2 Dzulqaidah 1438 H
Pengunjung Online : 9.592
Hari ini : 73.183
Kemarin : 95.049
Minggu kemarin : 728.948
Bulan kemarin : 6.361.067
Anda pengunjung ke 102.904.047
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Tumbai: Mantra Mengambil Madu Masyarakat Pedalaman Indragiri Hilir


Tumbai adalah mantra-mantra yang dibuat pantun dan didendangkan pada saat upacara adat mengambil madu lebah di pohon-pohon sialang dalam tradisi masyarakat pedalaman Indragiri Hilir.

1. Asal-usul

Salah satu tradisi yang berlaku pada masyarakat di pedalaman Indragiri Hilir (Inhil) adalah membaca mantra tumbai. Tumbai adalah mantra-mantra bernada pantun yang didendangkan dalam upacara mengambil madu lebah di pohon sialang. Tumbai dapat digolongkan sebagai tradisi lisan sekaligus nyanyian tradisional. Selain itu, tradisi tumbai termasuk bacaan sakral (Tim Dinas Kebudayaan Kesenian dan Pariwisata, 2002; UU. Hamidi, 1982).

Tradisi tumbai lazimnya digelar secara kolektif pada saat mengambil madu lebah di pohon sialang. Dahulu, pohon sialang masih dianggap menjadi milik bersama sehingga dalam mengambil madu harus dilakukan secara bersama-sama. Namun, pada perkembangannya pohon sialang dapat dimiliki secara pribadi dengan dua cara, yaitu (1) membelo yakni orang yang pertama kali merawat pohon sialang tersebut dan (2) merupakan warisan orangtua (Tim Dinas Kebudayaan Kesenian dan Pariwisata, 2002).

Sebelum menumbai, perwakilan dari warga suku bermusyawarah untuk membahas waktu pelaksanaan, jumlah warga yang ikut, dan aturan pembagian hasil madu. Acara menumbai dipimpin oleh tungganai atas (pemanjat) yang dibantu oleh tungganai urat (seseorang yang membantu di bawah). Kelak, keduanya akan bekerjasama dan saling beradu tumbai (Tim Dinas Kebudayaan Kesenian dan Pariwisata, 2002).

Sejak dulu hingga sekarang, madu merupakan komoditi penting bagi masyarakat pedalaman Inhil. Selain untuk dijual, madu juga dipergunakan untuk obat dan dikonsumsi sendiri (Noer Muhammad, et.al, 1993). Dalam satu tahun, madu dapat dipanen hingga empat kali. Merujuk pandangan Koentjaraningrat (1970), dalam konteks kebudayaan, tradisi tumbai merupakan salah satu sistem ekonomi dan pengetahuan orang di pedalaman Inhil.

Dalam proses mengambil madu, tumbai menjadi sesuatu yang penting karena tumbai diyakini dapat membuat lebah tenang sekaligus doa dalam bekerja. Selain itu, tumbai dapat menjadi teman yang menentramkan saat penumbai berada di atas pohon. Secara umum, tumbai dipercaya sebagai mantra yang menghibur dan menjadi doa agar dalam proses mengambil madu dapat lancar dan lebah di masa datang mau bersarang kembali di pohon yang sama (Tim Dinas Kebudayaan Kesenian dan Pariwisata, 2002).

2. Konsepsi Tumbai

Tumbai di daerah Inhil tidak sama antarsatu daerah dengan daerah lain. Berikut adalah larik-larik pantun tumbai yang umumnya dilantunkan dalam masyarakat pedalaman Inhil:

a. Tumbai saat akan memanjat pohon

Sudah masak rambai yang manis
Satupun tidak ada yang muda
Sudah Nampak yang hitam
Berbalik darah kami ke muka

Kalau sudah ada yang hitam manis (perumpamaan untuk kerumunan lebah yang menggantung di sarang). Maka pantun yang dilantunkan adalah:

Siamang di pulau tigo
Balibis bertengger di batang laboi
Cemaslah kami yang baru dating
Orang sedang tidur terbuai
Menengok orang hitam yang sedang tidur terbuai

Pantun ini menjelaskan kecemasan orang yang akan mengambil madu. Mereka takut jika orang hitam (lebah) terbangun dari tidur dan mengamuk.

b. Tumbai saat akan memanjat pohon

Sudah beradau lantak yang Satu
untuk menyangkutkan pandan utama
Kokohlah kokoh lantakku bergantung
Untuk menyangkutkan badan dan nyawa

Lantak adalah pijakan untuk naik pohon yang sekaligus berfungsi juga sebagai pengaman. Oleh karena itu, dalam pantun ini dimaksudkan agar lantak kokoh dan pemanjat tidak jatuh. Fungsi vital lantak diibaratkan sebagai tempat sangkutan badan dan nyawa.

Saat pemanjat naik, orang yang ada di bawahnya menyahut dengan pantun yang lain:

Hati-hati membelah bulu
Di dalam buluh ada udangnya
Hati-hati dalam tubuh
Di dalam tubuh ada orangnya

Pantun ini dimaksudkan agar pemanjat hati-hati dalam bekerja dan mengingat nyawa dalam tubuh mereka. Selanjutnya pantun ini disahuti kembali oleh yang memanjat:

Tinanriung tanahnya lembah
Situngkak tanahnya tinggi
Kami bergantung pada Alloh
Sayang bertongkat pada nabi

Pantun ini dimaksudkan pemanjat bahwa dirinya berpasrah pada Tuhan dan Nabi. Dengan begitu maka sudah kokohlah pegangan hidup mereka. Selanjutnya disambut lagi oleh mereka yang di bawah:

Baik-baiklah mandi di dulang
Bukan seperti mandi di sungai
Baik-baiklah di negeri orang
Bukan seperti bumi yang ditinggal barusan

Pantun ini mengibaratkan pohon yang sedang dipanjat sebagai negeri orang yang posisinya antara bumi dan langit. Untuk itu, pemanjat diminta untuk berhati-hati. Oleh pemanjat, pantun di atas disambut lagi:

Mengkudu di ujung tanjung
Jatuh berderai suaranya
Kalaulah mujur bundaku mengandung
Janganlah ada cobaan tiba

Pantun ini dimaksudkan sebagai doa kepada bapak ibu agar selamat dalam bekerja.

c. Tumbai pemanjat setelah di atas pohon

Asap api gumpal menggumpal
Asap apinya orang berladang
Manalah datuk yang punya teluk rantau
Tolonglah pelihara badanku ini

Burung cilatuk berkopiah merah
Mematuk dua kali naik
Manalah datuk yang punya rumah
Bukakan pintuk kami hendak naik

Pantun ini merupakan doa kepada datuk penunggu hutan agar melindungi si pemanjat. Pantun juga merupakan permohonan izin untuk naik pohon.

Dinulo sinindini
Sudah taua yang di atas batang
Para datuk buka pintuku ini
Terima salam saudara datang

Pantun ini merupakan permohonan izin kepada penunggu pohon. Menurut kepercayaan, di setiap pohon madu sudah bersemayam tiga orang saudara, yaitu yang menjaga cabang, yang menjaga kulit dan batang, serta yang menjaga daun.

d. Tumbai untuk lebah

Orang tua menggulai labu
Ikut tergulai kulit-kulitnya
Orang hitam baik santan yo laku
Kami di sini dicubitnya

Pantun ini merupakan doa (rayuan) kepada lebah agar tidak mengamuk dan menyengat. Pantun ini terlihat memuji lebah seakan orang yang sopan dan baik perilakunya.

e. Tumbai saat mengambil madu

Ikan makan kailku
Sabinarin ke bawah kayu yang tumbang ke sungai
Oe itam manis jawab salamku
Kasih bersentuh di dalam tulang

Pantun ini ditujukan kepada lebah agar tidak menyengat dengan mengibaratkan bahwa antara manusia dan lebah saling berkasih sayang.

f. Tumbai saat menyapu lebah dengan tuna

Anak lebah hendak menurun
Anak ruanting bertali-tali
Induk lebah turunlah turun
Ini baritiong kami bekali

Pantun ini merupakan doa agar induk lebah pergi dari tempatnya seiring dengan api yang jatuh. Baritiong adalah titik-titik percikan bara api (tuna) yang berderaian jatuh ke tanah dan akan diikuti oleh induk lebah. Pantun ini disahut oleh mereka yang di bawah:

Kok jari penjuluk bulan
Sampai di bulan sudah patah tiga
Rupanya di langit hari telah hujan
Namun di bumi entah ada entah tidak

Pantun ini ingin menggambarkan bahwa sudah banyak api yang berjatuhan, dengan itu orang yang di bawah menganggap sudah banyak madu yang di dapat. Namun, mereka heran kenapa yang di bawah belum menerima. Padahal sebenarnya yang di atas baru mengusir lebahnya, belum mengambil madu. Oleh karena itu, orang yang di atas menjawab:

Siapa yang punya tepian
Tepian bertali ke muara
Orang hitam punya tempayan
Sudah menutup malah kiranya

Pantun ini bermaksud bahwa induk lebah menutup lubang madu, dengan anggapan banyak madu yang tersimpan. Tumbai berikutnya masih berkisah lebah.

Gulinggang dilabuh hitam
Aku hendak kemari hari tlah petang
Apa nggak sedih hati orang hitam
Anaknya belumlah pandai terbang

Dicuci kain dicuci
Dicuci arah ke hilir
O gelisah o kan gelisah
Berpisah terbang karena tunam baru

Pantun ini memisalkan induk lebah (orang hitam) yang sedih melihat anaknya yang belum pandai terbang akan diambil madunya.

g. Tumbai mengujung dahan

Menyerak tunam si jangkang
Untuk menyapu lebah limbayan
Mengelakkan yang menjaga sialang
Ini anak bujang hendak mengujung dahan

Pantun ini bermaksud untuk memberitahu lebah dan datuk penunggu dahan agar tidak menghalangi pemanjat yang akan mengambil madu. Setelah itu, pemanjat meminta orang yang di bawah untuk menaikkan ubo (timba). Dengan itu mereka berpantun:

Pittulik pitulo bumi
Mati sebatang termakan rusa
Orang yang di bawah tengok pucuk taliku ini
Gantungkanlah ubonya dan tarik sekalian

Setelah ubo sampai di atas, lalu diisi dengan madu dan diturunkan lagi, begitu seterusnya hingga beberapa kali. Proses ini biasa memakan waktu lama, bahkan hingga malam tiba dan ketika ada sinar rembulan ditakutkan lebah akan mengamuk. Untuk mencegahnya, pemanjat menyenandungkan pantun lagi sebagai pesan kepada awan:

Cincang cincang jamur tinawan
Ya tercincang di buku buluh
Saying berpesan kami kepada awan
Bintang itu janganlah lepas tumbuh

Berbanjar-banjar tanaman
Sebatang tumbuhnya jauh
Upaya senang pada katari
Kok tumbuh-tumbuh pedoman
Supaya senang dalam hati

Pantun ini mengibaratkan seandainya ada pedoman akan cuaca sehingga mereka tidak resah dengan cahaya bintang atau rembulan.

h. Tumbai bila hari mau hujan

Kok pauhlah ondan
Sayang buringin di teluk angsa
Pergi jauh menjauhlah hujan
Dingin ini tak tertahankan

i. Tumbai ketika pemanjat lapar di atas pohon

Bentanglah tikar lebar-lebar
Tempat sitiung manulampai
Manalah kakak yang berladang luas
Kirim kami emping bertangkai

Kemudian dijawab oleh orang yang di bawah:

Berbuah rambai nan jolong
Ya berbuah bertangkai-tangkai
Tumbai siapa pula yang bohong
Di mana ada emping bertangkai

Lalu dijawab lagi oleh yang di atas pohon:

Kalaulah tidak padi dipimpiong
Minta air jalinkan juga
Atau kayu bagak melintang jalan
Kalaulah tidak krimkan emping
Air mentah pun kirimkan juga
Untuk melepas dahaga dan penat badan

j. Tumbai untuk menanyakan waktu karena proses pengambilan madu yang lama

Sudah masak rumbai nan manis
Maka masaknya dimakan ungka
Sedang saat apa hari ini
Darah bedebuk mulai tiba

Pantun ini menggambarkan kecemasan pemanjat karena waktu yang lama. Darah bedebuk berarti darah yang naik karena cemas, takut kalau sudah pagi.

Lalu dijawab oleh orang yang di bawah:

Jangan pisau salahkan kini
A dicatuk maka berguna
Jangan risau noka berbunyi
Berbunyi ungka tandanya subuh

Padi siapa di tepi rimba
Kini telah terbit berbatang-batang
Hati siapa tak kan tiba
Menengok embun berbentang-bentang

Sekali tokok berbunyi
Senanglah tukang menokoknya
Sedang curiga sungguh badan kami
Sudah hampir-hampir mendekati subuh

A berdentum ombak muara
Dua tiga kapal nan pecah
Hati berdebar nan hampir tiba
Terkenang janji yang belum selesai

Pantun-pantun di atas merupakan kesedihan para pengambil madu karena hari telah subuh, sementara belum banyak madu yang di peroleh.

Lalu mereka berpantun untuk lebah agar sabar karena mereka akan turun untuk diteruskan besok:

Berlimau mungkin manimau
Tertebang tebu dimakan muso (babi)
Menunggulah bersabar-sabar
Kami akan turun di dalam subuh

Pagi siapa di tepi rimba
Kini sudah terbitnya batang-batang
Hati siapa tidak akan rusuh
Pergilah lebah tinggalkan cabang

Sungguh iba padinya hancur
Waktu dijemur ditimpa hujan
Sungguh rusuh hati yang menjauh
Badan biasanya berpenghuni

Pantun-pantun di atas ditujukan untuk pohon-pohon yang diibaratkan sedang sedih, karena ditinggalkan oleh lebah.

k. Tumbai harapan pencari madu terhadap lebah

Kok jadi pergi ke hilir
Bawalah kami ke tanah Deli
Ibarat ke hutan lambang tigo
Kok jadi orang hitam pergi
Jika pergi jangan lama-lama
Dua hingga tiga bulan besok ketiga
Kita bertemu pula di sini
Kok ada sumur di tengah lading
Boleh kami numpang manggali
Bila ada sumur besok sama panjang
Banyak-banyak dibawa rezeki

l. Tumbai kesedihan karena ditinggalkan lebah

Iba hati memandang hutan
Hutan terpandang beragam-raga
Di batin tubuh bagaikan hujan
Air mata memandikannya

Kok hitam terhitam-hitam
Orang tua memakan sirih
Memakan sirih pergilah sepah
Pergilah sepah tinggal balanya
Kok hitam terloba-loba
Pergilah lebah tinggal dahannya
Daun mengurai air matanya

Jangan padinya semakin rusak
Bawa ke pulau untuk dijemur
Tumbukan saja di atas pematang
Tak usah hati kalian sedih
Kami kan pergi tak kan lama
Dua bula besok kami pulang

3. Pengaruh Sosial

Pengetahuan tentang tumbai berpengaruh pada beberapa hal dalam kehdiupan sosial orang Inhil, antara lain:

  • Meningkatkan solidaritas. Pengaruh ini setidaknya ini dapat dilihat dari cara mereka mencari madu secara kolektif. Bahkan, sebelum berangkat berangkat ke hutan, mereka mengadakan musyawarah terlebih dahulu untuk menentukan aturan bagian masing-masing orang yang ikut. Cara seperti ini tentu saja semakin menguatkan rasa solidaritas antarsesama pekerja dan masyarakat.  
  • Melestarikan seni dan sastra tradisional. Tumbai sebenarnya berupa mantra yang dipantunkan dan ini secara sosial merupakan bentuk pelestarian seni dan sastra masyarakat pedalaman Inhil. Seni tradisi lisan seperti ini menjadikan mereka dapat menjalani hidup dengan tenang meskipun tidak mudah dan penuh risiko, seperti mengambil madu yang beresiko jatuh atau digigit lebah.
  • Kedekatan pada alam. Tradisi tumbai mendekatkan mereka dengan alam. Pohon sialang tempat lebah madu bersarang merupakan aset yang penting untuk dijaga. Oleh karena itu, mereka melestarikan dan menjaga pohon ini dengan baik, dengan cara memupuk, membersihkan tumbuh-tumbuhan liar di sekitar pohon, dan membacakan mantra.  Secara sosial, hal ini tentu saja semakin memperkuat identitas sosial mereka sebagai suku Melayu yang memiliki tradisi budaya luhur.
  • Melestarikan tradisi leluhur. Tumbai merupakan warisan dari tradisi leluhur yang harus terus dilestarikan.
  • Mendekatkan diri pada Tuhan. Ini terlcermin dari pantun yang dilantunkan saat akan memanjat pohon. Pantun tersebut dimaksudkan pemanjat bahwa dirinya berpasrah pada Tuhan dan Nabi. Dengan begitu maka sudah kokohlah pegangan hidup mereka.

4. Penutup

Tradisi tumbai yang berlaku pada masyarakat pedalaman di Inhil merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang harus tetap dijaga dan dilestarikan. Dengan melestarikan tradisi tumbai, seni dan sastra lisan Melayu dapat tetap terjaga, dan bisa saja berkembang menjadi lebih baik. (Yusuf Efendi/Bdy/46/03-11)

Sumber Foto: http://www.krishadiawan.co.cc

Referensi

Koetjaraningrat, 1984. Masyarakat desa di Indonesia. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Koentjaranigrat, 1970. Manusia dan kebudayaan Indonesia. Djakarta: Djambatan.

Noer Muhammad et al, 1993. Pengobatan tradisional pada masyarakat perdesaan daerah Riau. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

UU. Hamidi, 1982. Dukun rantau Kuantan. Pekanbaru: Universitas Riau.

Tim Dinas Kebudayaan Kesenian dan Pariwisata, 2002. Inventarisasi dan pengkajian musik tradisional. Riau: Proyek Inventarisasi dan Pengkajian Seni Budaya Daerah Dinas Kebudayaan Kesenian dan Pariwisata. 

Dibaca : 18.498 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password