Sabtu, 27 Desember 2014   |   Ahad, 5 Rab. Awal 1436 H
Pengunjung Online : 1.156
Hari ini : 6.235
Kemarin : 17.313
Minggu kemarin : 123.047
Bulan kemarin : 631.927
Anda pengunjung ke 97.498.748
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Sampe: Alat Musik Tradisional Melayu Dayak di Kalimantan Timur


Sampe adalah salah satu alat musik tradisional khas Melayu orang-orang suku Dayak yang hidup tersebar di berbagai wilayah di Kalimantan Timur. Penyebutan alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik ini berbeda-beda dalam tradisi masing-masing sub suku Dayak yang ada di Kalimantan Timur. Orang-orang suku Dayak sendiri termasuk dalam ras rumpun Melayu, yakni Melayu Tua atau Proto Melayu.

1. Asal-usul

Dirunut dari riwayat genetikanya, orang-orang suku Dayak yang hidup tersebar di pulau Borneo masih termasuk rumpun suku bangsa Melayu. Bahkan, suku Dayak yang terdiri dari puluhan sub etnis ini tergolong rumpun Melayu Tua atau Proto Melayu. Leluhur orang Dayak adalah orang-orang dari ras Mongoloid-Austronesia yang datang ke wilayah Nusantara pada Zaman Batu atau sekitar tahun 2500 Sebelum Masehi. Kelompok migrasi ini berasal dari Yunan (sekarang menjadi salah satu provinsi di Cina) tiba di bumi Melayu dengan menyusuri Sungai Mekong melalui Cina, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, hingga ke Laut Cina Selatan. Selain orang-orang suku Dayak, beberapa suku bangsa di Nusantara yang masih memiliki garis darah dengan orang-orang Proto Melayu antara lain: orang-orang Toraja di Sulawesi Selatan, Sasak di Lombok (Nusa Tenggara Barat), Batak di Sumatera Utara, Nias di Pantai Barat Sumatera Utara, Suku Anak Dalam di Jambi, Suku Talang Mamak di Riau, Suku Laut di Kepulauan Riau, dan Suku Rejang di Bengkulu (William A. Haviland & R.G Soekadijo, 1988).

Orang-orang suku Dayak yang sebagian besar menetap di wilayah Indonesia (Kalimantan) dan Malaysia Timur telah melalui periodesasi zaman yang sangat lama. Oleh karena itu, kaum Melayu Tua ini tentunya memiliki peradaban dan kebudayaan beserta semua perangkat adat dan tradisinya. Salah satu wujud hasil budaya orang Dayak adalah alat musik tradisional yang memiliki ciri dan kegunaan yang khas. Dalam kehidupan sehari-hari orang Dayak, seni musik dan alat-alat musiknya menjadi salah satu media yang diperlukan dalam pelaksanaan upacara-upacara adat, selain tentu saja juga berfungsi sebagai sarana hiburan. Terdapat berbagai jenis alat musik dalam tradisi kebudayaan orang Dayak, termasuk alat musik pukul, tiup, maupun petik. Salah satu alat musik petik yang cukup poluler di kalangan suku Dayak, terutama orang-orang suku Dayak yang hidup di Kalimantan Timur, adalah sampe.

Sampe dalam bahasa lokal suku Dayak dapat diartikan “memetik dengan jari”. Dari makna namanya itu diketahui dengan jelas bahwa sampe adalah perangkat musik yang dimainkan dengan cara dipetik. Namun, penamaan alat musik Melayu Dayak ini ternyata berbeda-beda di tiap-tiap sub etnis suku Dayak yang ada di Kalimantan Timur. Nama sampe (sampe’) digunakan oleh orang-orang suku Dayak Kenyah, orang-orang suku Dayak Bahau dan Kanyaan menyebutnya dengan nama sape (sape’), suku Dayak Modang mengenal alat musik ini sebagai sempe, sedangkan orang-orang Dayak Tunjung dan Banua menamainya dengan sebutan kecapai’ (Tim Peneliti, 1993:42). Penyebutan terakhir, yakni kecapai’, semakin memberikan gambaran yang sedikit lebih jelas mengenai seperti apa sebenarnya wujud alat musik petik ini. Kata kecapai’ nyaris mirip dengan kecapi, alat musik petik dari Jawa Barat, yang tampaknya lebih sering didengar oleh masyarakat pada umumnya. Dari segi bentuk, alat musik petik yang menyerupai sampe adalah hapetan, alat musik khas Batak dari Tapanuli (Sumatra Utara) dan  jungga yang dimainkan oleh orang-orang rumpun Melayu dari Sulawesi Selatan (http://sukolaras.wordpress.com).

Kendati sama-sama berjenis alat musik petik, namun sampe agak berbeda dengan gitar dalam cara memainkannya. Dalam memainkan gitar harus menggunakan satu tangan saja untuk memetik senar, sedangkan tangan lainnya difungsikan untuk mengatur nada (kunci) pada dawai (senar) yang terdapat pada gagang gitar. Lain halnya dengan sampe di mana alat musik ini dapat dimainkan justru dengan jari-jari dari kedua belah tangan. Bedanya lagi, apabila gitar pada umumnya memiliki 6 (enam) senar, pada sampe biasanya hanya terdapat 3 (tiga) senar meskipun ada juga sampe yang bersenar 4 (empat) dan seterusnya. Dulu, dawai sampe menggunakan tali dari serat pohon enau (sejenis pohon aren), namun kini sudah memakai kawat kecil sebagai dawainya. Pada bagian kepala sampe (ujung gagang), dipasang hiasan ukiran yang menggambarkan taring-taring dan kepala burung enggang. Burung yang dalam istilah lokal dikenal dengan nama burung temengan ini memang menjadi ciri khas suku Dayak dan dianggap sebagai burung keramat. Ukiran burung temengan yang ditempatkan di sampe diyakini dapat memberikan perlindungan dan rasa aman (Tim Peneliti, 1993:42).

Terdapat sebuah mitos dalam tradisi masyarakat Dayak yang mengisahkan tentang asal-usul sampe. Dikisahkan, dulu terdapat sebuah perahu yang memuat beberapa orang mengalami karam karena diterjang arus sungai. Dari semua penumpang yang ikut tenggelam bersama perahu itu, ternyata ada satu orang yang selamat dan terdampar di sebuah pulau kecil yang berada di tengah sungai besar itu. Dalam kondisi antara sadar dan tidak, orang yang selamat itu samar-samar mendengar suara alunan musik petik yang begitu indah. Irama petikan yang terdengar dari dasar sungai tersebut membuat orang itu sadar karena semakin sering dia mendengar suara itu, dia merasa semakin dekat pula dengan sumber suara musik itu berasal. Dari sinilah orang itu kemudian merasa bahwa dia mendapat ilham dari leluhur hingga akhirnya dia bisa pulang ke rumah dengan selamat. Sekembalinya ke rumah, orang itu mencoba membuat alat musik yang telah menolongnya tersebut, dan setelah selesai, dia memainkannya sesuai dengan irama yang didengarnya sewaktu terdampar di pulau. Sejak itulah sampe mulai sering dimainkan dalam upacara-upacara adat atau dalam kehidupan sehari-hari dan kemudian menjadi alat musik khas suku Dayak yang masih dipertahankan hingga kini (http://kutaihulu.blogspot.com).

2. Bahan dan Cara Pembuatan

Alat musik petik sampe dibuat dari bahan kayu pilihan. Kayu yang dinilai mempunyai kualitas baik sebagai bahan pembuat sampe adalah jenis-jenis kayu sebangsa kayu meranti, misalnya kayu pelantan, kayu adau, kayu marang, kayu tabalok, dan sejenisnya. Jenis kayu-kayu itu dipilih karena kuat, tidak mudah pecah, keras, tahan lama, dan tidak mudah dirusak atau dimakan binatang seperti rayap. Semakin keras dan banyak urat daging kayunya, maka suara yang dihasilkan sampe akan semaki baik pula (http://kutaihulu.blogspot.com). Untuk dawai atau senar sampe, pada awalnya masih menggunakan tali yang berasal dari serat pohon enau atau aren, namun sekarang senar sampe sering dibuat dari bahan kawat tipis sehingga bunyinya akan terdengar lebih nyaring (Tim Peneliti, 1993:43).

Tahap-tahap pembuatan sampe adalah, pertama, batang pohon ditarah atau diratakan dengan menggunakan kapak lalu dijemur sampai kering. Setelah kayu benar-benar kering, balok kayu tersebut dilubangi secara memanjang, namun tidak sampai tembus ke permukaan (seperti membuat perahu). Jika proses melubangi kayu sudah selesai, lalu ditarah lagi sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Kemudian dibuat bahu (gagang) sampe kira-kira sebesar kepalan tangan. Di bagian ujungnya, dibuat lubang sebagai tempat pemutarnya sesuai dengan jumlah senar (pada umumnya adalah 3 senar). Di setiap lubang putaran tersebut ditusuk dengan ujung pisau untuk membuat tempat memasukkan senar agar dapat dililitkan pada putarannya.

Sampai di sini tahap pembuatan sampe sebenarnya telah selesai, namun biasanya dilanjutkan dengan menambahkan ukiran dengan ornamen khas Dayak, yakni dengan corak burung enggang dan taring-taring hewan buruan yang merupakan lambang keagungan dan kebesaran orang-orang Dayak. Tahap selanjutnya adalah memasang senar di mana sebagai alat untuk menyeleraskan nada (stem) menggunakan belahan rotan yang dipotong-potong. Belahan rotan ini direkatkan dengan kelulut (seperti lilin madu tawon), sesuai dengan nada yang diinginkan (Tim Peneliti, 1993:44). Bentuk sampe pada umumnya menyerupai perahu dan mempunyai bagian-bagian tertentu. Dalam bahasa suku Dayak Kenyah, penyebutan bagian-bagian sampe yakni: usa (badan sampe), mulam (bagian ekor sampe), batak (punggung sampe), hudog sampe (kepala sampe yang berukir), uta (alat untuk menyelaraskan nada melalui senar sampe), batuk (bahu sampe), ndon (penahan senar sampe; istilah ndon digunakan juga untuk menyebut ruas-ruas tangga nada pada sampe), lowong sampe (lubang pada bagian belakang sampe), dan seterusnya (Tim Peneliti, 1993:44).

3. Cara Memainkan

Cara memainkan alat musik sampe adalah mula-mula senar-senar sampe diselaraskan dengan perasaan pemetiknya. Hal ini dilakukan karena sampe adalah alat musik yang berfungsi untuk menyatakan perasaan seseorang. Oleh karena itu, hasil stem senar-senar sampe tersebut berbeda-beda untuk setiap orang. Misalnya, dari tiga senar yang ada, hasil stem-annya bisa menjadi: nada c untuk senar pertama, nada e untuk senar kedua, dan nada g untuk senar ketiga, dan seterusnya. Sampe memang tidak memiliki kunci baku seperti gitar sehingga dalam memainkannya hanya mengandalkan perpaduan petikan dan loncatan jari pemainnya dari satu grip ke grip yang lain (Handoko, dalam Kompas, 4 Februari 2011).

Bunyi senar yang dihasilkan itu masih merupakan nada-nada dasar. Untuk menyelaraskan nada-nada lainnya dilakukan dengan memindah-mindahkan ndon (atau krip pada gitar). Dengan cara ini, sampe pun bisa dimainkan sesuai dengan nada lagu yang diinginkan. Namun, jika ganti memainkan lagu lain, maka ndon sampe juga harus diubah atau diselaraskan lagi diinginkan (Tim Peneliti, 1993:43). Cara memetik sampe adalah dengan jari-jari kedua tangan, baik tangan kiri maupun tangan kanan. Petikan ini akan menghasilkan bunyi accord (Tim Peneliti, 1993:46). Pemetik sampe memainkan lagu hanya dengan berdasarkan feeling atau perasaannya saja sehingga bunyi yang dihasilkan pun akan mengena sesuai dengan perasaan si pemetik.

4. Fungsi dan Kegunaan

Sampe adalah alat musik yang berfungsi untuk menyatakan perasaan, baik perasaan riang gembira, rasa sayang, kerinduan, bahkan rasa duka nestapa. Dahulu, memainkan sampe pada siang hari dan malam hari memiliki perbedaan. Apabila dimainkan pada siang hari, umumnya irama yang dihasilkan sampe menyatakan perasaan gembira dan suka-ria. Sedangkan jika sampe dimainkan pada malam hari biasanya akan menghasilkan irama yang bernada sendu, syahdu, atau sedih. Terdapat ungkapan mengenai sampe yang termuat dalam Tekuak Lawe, sastra lisan yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam tradisi masyarakat Dayak, khususnya suku Dayak Kanyaan dan Kenyah. Ungkapan yang berbunyi sape’ benutah tulaang to’ awah itu secara harfiah dapat diartikan dengan makna: “Sampe mampu meremukkan tulang-belulang hantu yang bergentayangan”. Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa alat musik sampe mampu membuat orang yang mendengarnya merinding hingga menyentuh tulang atau perasaan. Bagi para tetua adat Dayak di zaman dulu, keyakinan akan kesakralan sampe memang betul bisa dirasakan karena suasana pedesaan dan nuansa adat pada saat itu masih sangat kental (Handoko, dalam Kompas, 4 Februari 2011).

Hingga kini, kepercayaan akan tuah sampe masih diyakini oleh para sesepuh Dayak, misalnya ketika sampe dimainkan dalam suatu upacara adat. Saat bunyi petikan sampe terdengar, seluruh orang akan terdiam, kemudian terdengar sayup-sayup lantunan doa atau mantra yang dirapalkan bersama-sama. Dalam suasana seperti ini, tidak jarang di antara mereka ada yang kerasukan (trance) roh halus atau roh leluhur (Yusuf Efendi, dalam www.MelayuOnline.com). Sampe juga dimainkan pada saat acara pesta rakyat atau gawai padai (ritual syukuran atas hasil panen padi). Sampe dimainkan untuk mengiringi tari-tarian yang lemah gemulai.

Seiring dengan perkembangan zaman, sampe kemudian tidak hanya berfungsi sebagai alat musik untuk menyatakan perasaan saja, namun sampe juga mulai sering dimainkan bersama dengan alat-alat musik lainnya. Anak-anak muda Dayak gemar memainkan sampe sembari berkumpul bersama di malam hari. Selain itu, sampe dimainkan oleh kaum lelaki Dayak untuk menarik perhatian perempuan yang sedang ditaksirnya (Agustinus Handoko, dalam Kompas, 4 Februari 2011). Sampe juga berfungsi sebagai alat musik hiburan dalam suatu keluarga besar. Tradisi orang Dayak yang tinggal di rumah betang (rumah besar) membuat sampe menjadi sarana yang termudah untuk meramaikan suasana atau untuk menghibur ketika ada salah seorang anggota yang sedang bersedih. Di rumah betang, tersedia sebuah ruangan besar untuk acara adat atau sebagai ruang keluarga. Di ruang besar inilah, para pemuda Dayak saling unjuk kemahiran dalam memainkan sampe Tidak hanya itu, sampe juga sering dimainkan sebagai wujud rasa syukur atas peristiwa atau moment tertentu, misalnya ketika hasil panen melimpah (Yusuf Efendi, dalam www.MelayuOnline.com).

5. Nilai-nilai

Sampe mengandung nilai-nilai yang berguna bagi kehidupan yang terwujud dalam aspek-aspek sebagai berikut:

  • Aspek Pelestarian Budaya. Memainkan sampe di era modern seperti sekarang ini merupakan salah satu bentuk gerakan melestarikan budaya karena sampe semakin jarang dimainkan, maka keberadaan alat musik tradisional ini pun terancam punah.
  • Aspek Kesakralan. Alat musik sampe merupakan salah satu perangkat yang diperlukan dalam pelaksanaan upacara-upacara adat. Oleh karena itu, dalam moment-moment  tertentu, sampe menjadi sesuatu yang disakralkan dan disucikan.
  • Aspek Kesenian Tradisional. Sampe adalah salah satu alat musik tradisional, yaitu alat musik tradisional khas orang-orang suku Dayak. Maka dari itu, orang-orang yang memainkan sampe patut disebut juga sebagai seniman karena mereka adalah pelaku seni musik tradisional.
  • Aspek Hiburan. Selain digunakan untuk mengiringi upacara-upacara adat yang bersifat sakral, sampe juga sering dimainkan sebagai sarana hiburan dalam suatu komunitas ataupun keluarga besar pada struktur sosial suku Dayak.

6. Penutup

Di masa lalu, sampe hanya dimiliki oleh suku Dayak, itupun hanya orang-orang tertentu yang mampu memainkannya. Namun, di masa sekarang, sampe sudah dimainkan oleh suku-suku lainnya yang terdapat di Kalimantan Timur. Di level nasional, sampe juga mulai diperkenalkan melalui berbagai acara budaya atau pesta adat, bahkan tidak hanya yang diselenggarakan di Kalimantan Timur saja , melainkan juga di kota-kota lain. Selain itu, upaya pelestarian sampe juga sudah mulai digalakkan, termasuk diajarkan di sekolah-sekolah atau dalam pelatihan, kursus, dan lainnya. Semua itu dilakukan agar sampe tidak hilang ditelan kemajuan zaman.

(Iswara N. Raditya/Bdy/05/04-2011)

Referensi

Agustinus Handoko, “Dominikus Uyub, Pelestari Musik Dayak Sape”, dalam Kompas, 4 Februari 2011.

“Alat Musik Sampek”, data diunduh pada tanggal 24 April 2011 dari http://kutaihulu.blogspot.com.

“Musik Tradisional Indonesia”, data diunduh pada tanggal 24 April 2011 dari http://sukolaras.wordpress.com.

Tim Peneliti, 1993. Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Kalimantan Timur. Jakarta: Depdikbud.

William A. Haviland & RG Soekadijo, 1988. Antropologi I. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Yusuf Efendi, “Melestarikan Sape, Alat Musik Khas Dayak Kenyah”, data diunduh pada tanggal 24 April 2011 dari http://melayuonline.com.

Sumber Foto: http://www.flickr.com/photos

Dibaca : 69.943 kali.