Minggu, 21 Desember 2014   |   Isnain, 28 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 733
Hari ini : 2.328
Kemarin : 18.132
Minggu kemarin : 186.674
Bulan kemarin : 631.927
Anda pengunjung ke 97.478.605
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Pantun Melayu tentang Duka Cita


Pantun duka cita Melayu menggambarkan seorang anak yang hidup bersama orangtua tiri. Dalam kehidupannya, sang anak kurang mendapat kasih sayang dari orangtua, hidupnya miskin, pendidikannya terhambat, sering mengalami kekerasan, dan akhirnya hidup sebatang kara.

1. Asal-usul

Orang Melayu dan pantun adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Karya sastra berupa pantun telah menjadi identitas budaya Melayu yang membuat suku bangsa ini dikenal oleh masyarakat dunia. Pantun Melayu menyentuh hampir seluruh sisi kehidupan manusia, salah satunya adalah pantun tentang duka cita (Budi S. Santoso, 1986; Nizamil Jamil, ed., 1982). Pantun duka cita adalah termasuk pantun emosional. Artinya, syair pantun mencerminkan sisi emosional seseorang yang sedang mengalami masalah hidup.

Untaian syair pantun duka cita menggambarkan seorang anak yang ditinggal mati oleh kedua orangtuanya dan mendapat orangtua tiri. Dalam kehidupannya, sang anak kurang mendapat kasih sayang dari orangtua, hidupnya miskin, pendidikannya terhambat, sering mengalami kekerasan, dan akhirnya hidup sebatang kara (Santoso, 1986).

Dalam khazanah kebudayaan sastra Melayu, pantun duka cita termasuk pantun nasihat atau ajaran budi pekerti bagi anak-anak. Pantun ini telah diajarkan oleh leluhur Melayu sejak ratusan tahun silam. Melalui pantun ini, orang Melayu diharapkan dapat memperhatikan kehidupan diri sendiri maupun orang lain, hendaknya saling peduli sesama dan saling tolong menolong (Santoso, 1986; Effendy, 1991).

2. Konsepsi Pantun Duka Cita Melayu

Pantun Melayu tentang duka cita secara umum mencerminkan sebuah ajaran budi pekerti berupa sikap simpati dan empati terhadap orang lain. Berikut ini adalah untaian syair pantun tersebut:

Sinangis lauk ran tiku, diatur dengan duri pandan
Menangis duduk di pintu, melihat ayah pergi berjalan.

Diatur dengan duri pandan, gelombang besar membawanya
Melihat ayah pergi berjalan, entah pabila kembalinya.

Lurus jalan ke Payakumbuh, kayu jati bertingkah jalan
Di mana hati tidakkah rusuh, ibu mati bapa berjalan.

Kayu jati bertimbal jalan, turun angin patahlah dahan
Ibu mati bapak berjalan, ke mana untung diserahkan.

Besar buahnya pisang batu, jauh melayang seleranya
Saya ini anak piatu, sanak saudara tidak punya.

Hiu beli belanak beli, udang di- manggung beli pula
Adik benci kakakpun benci, orang di kampung benci pula.

Tanamlah bayam sambil duduk, lihatlah ayam bertinduk
Tanam dekat di pinggir paya, begitu macam untung saya.

Rakit ditetas dengan kapak, hanyut nan dari pulau kukus
Sakitnya saya tidak berbapak, apa kehendak tidaklah lulus.

Hanyutlah dari pulau kukus, labah-labah beribu-ribu
Apa kehendak tiada tulus, tambahan tidak menaruh ibu

Beringin di tepi kolam, tampaklah dari rumah bola
Nasi dingin air bermalam, itu makanan anak sekolah.

Lurus jalannya ke Tanjung Sani, berkelok tentang ladang lada
Jauh bedanya nasibku ini, dengan anak orang berada

Ke balai membawa labu, labu amant dari si tunggal
Orang memakai baju baru, hamba menjerumat baju bertabal

Kelapa puan kelapakan, buah duku jatuh ke air,
Patahkan ranting dahan cemunak Lapar pada siapa dikatakan, haus ke mana minta air, awak nan tidak bersanak

Kuini tumbuh di Bandan, ke barat condong buahnya
Kalau begini peruntungan badan, alamat melarat kesudahannya

Tangsi cukup Muara aman, lebung dibuka oleh maskapai
Bunda kandung teguhkan iman, melepas anak dagang sansai[1]

Merpati terbang ke jalan, ikan belanak makan karang
Bunda mati bapak berjalan, melarat anak tinggal seorang

Orang Padang pergi ke Pauh, sampai di Pauh membeli ikan
Bunda kandung berjalan jauh, tergenang anak ditinggalkan

Tukang batu mengasah pahat, mengambil air dari tepian
Ayah Bunda cobalah lihat, anak menanggung perasaan

Mengambil air dari tepian, pembasuh air cawan pinggan
Anak menanggung perasaan, sejak anak Bunda ditinggalkan

Pecah cangkir cawan pinggan, emas derai dalam geleta
Sejak anak bunda tinggalkan, gila berurai air mata

Emas urai dalam geleta, kain pendukung koyak di bendi
Biar berurai air mata, ayah kandung tidak peduli

Di mana padi tak kan luluh, padi basah tidak diampi
Di mana hati tak kan rusuh, bunda hilang bapak berbini

Berbuah kedempung di kuala, sayak dipenggal keganti cawan
Ayah kandung berbini muda, anakda tinggal tak berkawan

Daung manggis bertali-tali, capa dikarang dengan ijuk
Meskipun menangis berhari-hari, tidak siapa datang membujuk

Elang berkulit tengah hari, cendrawasih mengirai kapak
Alang sakitnya berbapak tiri, awak menangis didangkanya gelak

Hari beresok ke Selasa, orang Bajur pergi ke pekan
Hari beresok ke hari raya, benang sebuhul tidak dibelikan

Benang tidak sutera tidak, bunga raya kuntum salikin
Uang tidak serba tidak, apa daya untung miskin

Lacuan kain selendang, pandang terjemur di ujung pagar
Kawan bermain sama gedang, badan tidur bergulung tikar

Beringin di tepi bandar, buaya bersarang di bawahnya
Hati ingin hendak belajar, orangtua sayang menyerahkannya

Patah mayang pada kelapa, patah dikudung beruk tua
Bukan sayang karena apa, salah diuntung buruk jua

Apa disesal padanya tudung, tudung saji terendak Bantan
Apa disesal padanya untung, sudah takdir pendapatan badan

Kayu rasak ambil petanak, masaklah pauh diperan serang
Baju tidak celana tidak, kakak jauh di rantau orang

Buah kepundung di atas dulang, mari dimakan siang hari
Kakak kandung lekaslah pulang, adik teragak sepanjang hari

Bunga cempaka ditebang rebah, kakinya sudah bercendawan
Bunda kita pergi ke sawah, adik di rumah tak berkawan

Dari Padang ke Tangsi Curup, automobil berbunyi ribut
Hari petang pintu tertutup, dipanggil Bunda tidak menyahut

Tudung nasiku rotan beranyam, tidak rotan bilah patahkan
Untung Bundaku sebagai ayam, tidak mengekas tidaklah makan

Dari petani pulang ke Padang, membawa unggas bergombak bauk
Pergi pagi pulangnya petang, membawa beras upah menumbuk

Bajak waja pakai di ladang, si belang puntung membawa padi
Sejak Bapak pergi berdagang, untung anka tak keruan lagi

Jawi hitam tidak bertanduk, memakan rumput di atas munggu
Lihatlah ayam tak berinduk, demikian hidup anak piatu

Asam Jawa tumbuh di pagar, berbuah dalam musim penghujan
Kalau tidak menaruh sabar, wa’llahu alam bagian badan

Asam berbuah musim penghujan, pinang tua tidak membeli
Wa’llahu alam bagian badan, sebab orangtua tidak peduli

Pinang tua tidak membeli, buah rotan didukungannya
Orangtua tidak peduli, akan kesakitan anak kandungnya

Buah mangga di tanah Sirah, masak sedikit bawakan bakul
Bapak saya sangat pemarah, salah sedikit suka memukul

Besar ombaknya kampung Purus, terdengar sampai kampung sebelah
Di mana badan tak kan kurus, Bapak tiri empunya ulah

Kelapa muda makan di sawah, Tuan Haji duduk sembahyang
Ketika bermuka dengan Ayah, Bunda tiri berupa sayang

Kerambil hijau buahnya lupa, kebatlah lidi dengan pandan
Kalau di balik belakang Bapak, cacat dan maki tiba di badan

Selempada berlari-lari, mengejar musang dengan kera
Daripada tinggal dengan Bunda tiri, baiklah hidup sebatang kara

3. Nilai-nilai

Pantun Melayu tentang duka cita mengandung nilai-nilai luhur dalam kehidupan orang Melayu, antara lain:

  • Meningkatkan rasa empati dan simpati sesama. Nilai ini tercermin jelas dari kalimat-kalimat dalam pantun yang mendorong manusia untuk tenggang rasa nasib yang dialami oleh anak yatim piatu.
  • Melestarikan tradisi sastra tradisional. Nilai ini tercermin dari wujud syair-syair pantun sebagai karya sastra. Melalui sastra pantun, orang Melayu diharapkan dapat merenungi kehidupan dengan indah dan santai. Sastra dapat dijadikan media belajar tentang hidup dan kehidupan yang menyenangkan.
  • Menjaga adat. Pantun sebagai tradisi leluhur merupakan adat orang Melayu. Oleh karena itu, mempelajari sastra pantun secara tidak langsung juga menjaga adat-istiadat Melayu.
  • Pelajaran bagi orangtua. Syair Asam berbuah musim penghujan, pinang tua tidak membeli. Wa’llahu alam bagian badan, sebab orangtua tidak peduli, menggambarkan orangtua yang tidak peduli dengan anaknya. Apalagi jika anak memiliki orangtua tiri yang tidak sayang kepadanya. Besar ombaknya kampung Purus, terdengar sampai kampung sebelah. Di mana badan tak kan kurus, Bapak tiri empunya ulah.

4. Penutup

Pantun Melayu tentang duka cita merupakan ajaran budi pekerti agar seseorang mengatur hidupnya dengan baik sehingga jika mengalami masalah hidup seperti yang digambarkan dalam pantun ini, dapat diselesaikan dengan baik pula.

(Yusuf Efendi/Bdy/60/05-2011)

Referensi

Budi S. Santoso, 1986. Masyarakat Melayu dan Kebudayaannya. Riau: Pemda.

Nizamil Jamil (ed.), 1982. Upacara Perkawinan Adat Riau. Riau: Bumi Pustaka

Tenas Effendy, 1991. Adat Istiadat dan Upacara Perkawinan di Bekas Kerajaan Pelalawan. Riau: Lembaga Adat Daerah.



 

[1] melarat

Dibaca : 6.955 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password