Pantun Dukacita
Pantun berdukacita pada masyarakat Melayu, justeru lebih di dominasi pada kisaran dunia anak-anak dan remaja. Hal ini disebabkan pada seusia tersebut juga menentukan kepribadian anak-anak dan remaja yang dianggap belum stabil dibanding yang terjadi pada orang dewasa dan orang tua.
Berbagai macam cara memang di lakukan untuk mengekspresikan keadaan berduka cita. Suasana hati ini, biasanya diekspresikan melalui tangisan, berdiam diri atau merajuk. Dalam kehidupan masyarakat Melayu, biasanya mereka juga mengggunakan pantun untuk mengungkapkan suasana hati yang sedang dirundung duka tersebut. Kemudian muncullah pantun yang menceritakan tentang kedukaan yang mereka alami. Suasana duka tersebut biasanya berkaitan dengan ibu atau bapak yang belum pulang ke rumah, orang tua yang meninggal dunia, berkelahi dengan saudara atau teman sendiri, tidak punya uang untuk berbelanja, dan berbagai kondisi lainnya yang bisa membawa pada kesedihan. Berikut ini beberapa contoh pantun-pantun tersebut:
| | 001. | Sinangis lauk ‘rang tiku Diatur dengan duri pandan Menangis duduk di pintu Melihat ayah pergi berjalan |
| 002. | Diatur dengan duri pandan Gelombang besar membawanya Melihat ayah pergi berjalan Entah ‘pabila kembalinya |
| 003. | Lurus jalan ke Payakumbuh Kayu jati bertimbal jalan Dimana hati tidakkan rusuh Ibu mati bapak berjalan |
| 004. | Kayu jati bertimbal jalan Turun angin patahlah dahan Ibu mati bapak berjalan Kemana untung diserahkan |
| 005. | Besar buahnya pisang batu Jatuh melayang selaranya Saya ini anak piatu Sanak saudara tidak punya |
| 006. | Hiu beli belanak beli Udang di Manggung beli pula Adik benci kakak pun benci Orang di kampung benci pula |
| 007. | Rakit ditetas dengan kapak Hanyutkan dari pulau kukus Sakitnya saya tidak berbapak Apa kehendak tidaklah lulus |
| 008. | Lurus jalannya ke Tanjung Sani Berkelok tentang ladang lada Jauh bedanya nasibku ini Dengan anak orang berada |
| 009. | Ke balai membawa labu Labu amanat dari si tunggal Orang memakai baju baru Hamba menjerumat baju bertambal |
| 010. | Merpati terbang ke jalan Ikan belanak makan karang Bunda mati bapak berjalan Melarat anak tinggal seorang |
| 011. | Orang Padang pergi ke Pauh Sampai di Pauh membeli lokan Bunda kandung berjalan jauh Tergemang anak ditinggalkan |
| 012. | Tukang batu mengasah pahat Mengambil air dari tepian Ayah bunda cobalah lihat Anak menanggung perasaan |
| 013. | Mengambil air dari tepian Pembasuh cangkir cawan pinggan Anak menanggung perasaian Sejak anak bunda tinggalkan |
| 014. | Di mana padi takkan luluh Padi basah tidak di tampi Di mana hati takkan rusuh Bunda hilang bapak berbini |
| 015. | Elang berculit tengah hari Cenderawasih mengirai kepak Alangkah sakitnya berbapa tiri Awak menangis disangka gelak |
| 016. | Anak orang di Tanjung Sani Duduk bersandar di pedati Tidak disangka akan begini Pisau dikandung makan hati |
| 017. | Panjanglah rumput di pematang Disabit orang Inderagiri Disangka panas sampai petang Kiranya hujan tengah hari |
| 018. | Rumah beranjung di ulakan Rumah baginda Merahganti Kami dimulia, dihinakan Alangkah iba rasa hati |
| 019. | Anak orang di Padang Tarap Peram pisang dalam jerami Kami diberi harap-harap Itu mengiba hati kami |
| 020. | Orang Padang ke Sukabumi Berangkat dari Pulau Karam Jangan ditumpang biduk kami Biduk tiris menanti karam |
- Pantun Melayu tentang Duka Cita.
Dibaca : 93.671 kali.
Berikan komentar anda :