Rabu, 13 Desember 2017   |   Khamis, 24 Rab. Awal 1439 H
Pengunjung Online : 3.462
Hari ini : 35.418
Kemarin : 37.335
Minggu kemarin : 254.041
Bulan kemarin : 5.609.877
Anda pengunjung ke 103.953.481
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Gerhana dan Petir dalam Pengetahuan Orang Melayu Makassar

Bagi orang Melayu Makassar, pengetahuan tentang gerhana dan petir mengajarkan bahwa gejala-gejala alam tersebut memiliki hubungan yang erat dengan bulan dan hari. Perbedaan bulan dan hari tersebut menjadi pertanda berbeda akan terjadinya sebuah peristiwa di suatu negeri.

1. Asal-usul

Suku Makassar sebagai salah satu suku terbesar di Sulawesi Selatan telah meninggalkan jejak pengetahuan yang luhur. Salah satunya tentang pertanda peristiwa gerhana (Akkanre Lekoka) dan petir (Pannujuanna Gunturuka). Pengetahuan ini mengisyaratkan pentingnya sebuah ketelitian dalam mengamati peristiwa alam. Di sisi lain, hal ini menunjukkan betapa bahasa simbol telah menjadi bagian hidup orang Makassar sejak dulu (Syarifudin Kulle, dkk., 2010). 

Secara umum, Akkanre Lekoka dan Pannujuanna Gunturuka mengajarkan bahwa gerhana dan petir memiliki hubungan yang erat dengan bulan dan hari. Perbedaan bulan dan hari menjadi pertanda berbeda akan lahirnya peristiwa di suatu negeri, baik peristiwa yang menguntungkan  ataupun yang merugikan. Untuk menyikapinya, leluhur orang Makassar menganjurkan agar memperbanyak sedekah dan berdoa (Kulle, dkk., 2010). 

2. Konsep Akkanre Lekoka dan Pannujuanna Gunturuka

Konsep gerhana (Akkanre Lekoka) berbeda dengan konsep petir (Pannujuanna Gunturuka). Dalam membaca peristiwa gerhana, leluhur orang Makassar menghubungkannya dengan bulan terjadinya peristiwa. Sementara itu, peristiwa petir dihubungkan dengan hari terjadinya peristiwa. Berikut penjelasannya:

a. Konsep Gerhana (Akkanre Lekoka)

  • Bulan Muharam. Jika gerhana terjadi pada bulan ini, maka akan banyak kerusakan di suatu negeri, juga banyak keresahan yang akan dialami oleh para penguasa dan rakyatnya. Oleh karena itu, perbanyaklah memberi sedekah kepada fakir miskin.
  • Bulan Safar. Jika terjadi pada bulan ini, maka hujan akan sedikit turun, bahan pangan mahal, namun akan datang pembesar dari luar negeri yang akan membawa kebaikan bagi penduduk negeri.
  • Bulan Rabbiul Awal. Jika terjadi pada bulan ini, maka akan datang wabah penyakit dan bahan pangan akan mahal. Akan tetapi, setelah itu akan datang banyak rezeki, masyarakat sejahtera, namun ada pembesar di suatu negeri yang akan mati.
  • Bulan Rabbiul Akhir. Jika terjadi pada bulan ini, maka akan datang hawa dingin dan banyak orang sakit dan mati.
  • Bulan Jumadil Akhir. Jika terjadi pada bulan ini, pertanda penduduk negeri akan mendapat kebaikan dan berkah dari Tuhan, hati pemimpin akan senang, dan buah-buahan banyak, dan bahan pangan mudah didapat.
  • Bulan Jumadil Awal. Jika terjadi pada bulan ini, maka curah hujan akan banyak turun tahun itu. Namun, binatang peliharaan akan banyak yang mati.
  • Bulan Rajab. Jika terjadi pada bulan ini, maka akan terjadi peperangan dan rakyat akan berselisih paham dengan penguasa. Akan tetapi, jika sudah lewat 3 bulan, akan muncul kedamaian dan Allah akan memudahkan rezeki.
  • Bulan Sya'ban. Jika terjadi pada bulan ini, maka itu pertanda baik bagi penguasa dan rakyatnya, karena bahan pangan akan murah.
  • Bulan Ramadhan. Jika terjadi pada bulan ini, maka itu pertanda baik berupa anugerah Allah yang akan turun pada pertengahan tahun. Tetapi, pada akhir tahun biasanya akan datang angin topan serta gemuruh yang besar. 
  • Bulan Syawal. Jika terjadi pada bulan ini, maka itu negeri dan rakyat akan susah, karena bahan pangan mahal dan akan datang angin topan.
  • Bulan Zulqaidah. Jika terjadi pada bulan ini, maka akan datang kesulitan pada negeri, angin topan akan menerjang, dan terjadi perselisihan antara penguasa dan rakyat.
  • Bulan Zulhijah. Jika terjadi pada bulan ini, maka itu pertanda bahan pangan mahal.

b. Konsep Guntur (Pannujuanna Gunturuka)

  • Sabtu. Jika petir menyambar di hari Sabtu pada siang hari, maka harga pangan akan murah. Namun, jika terjadi waktu Ashar, maka kemungkinan akan datang wabah penyakit dan penduduk akan saling berselisih. Oleh karena itu, dianjurkan untuk menjaga kerukunan dan bersedekah.
  • Ahad. Jika terjadi petir pada hari Ahad siang, maka kesusahan akan datang, dan penduduk dianjurkan untuk bersedekah. Bilamana terjadi pada malam hari, maka ada 2 kemungkinan, yaitu akan datang wabah penyakit atau wabah kelaparan.
  • Senin. Jika ada petir di hari ini, maka kebaikan akan datang, yakni berupa kesehatan, penguasa yang baik, dan pedagang meramaikan pasar sehingga bahan pangan mudah didapat. 
  • Selasa. Jika ada petir di hari ini, maka kesulitan akan menimpa penduduk dan banyak binatang akan mati terkena wabah penyakit. Oleh karena itu, penduduk dianjurkan memelihara negerinya agar bisa terlepas dari kesusahan dan dianjurkan bersedekah.
  • Rabu. Jika ada petir di hari ini, maka kebakaran akan melanda suatu negeri. Penduduk dianjurkan untuk melihat hari baik lalu mandi dan membersihkan diri, memperbanyak sedekah, dan puasa selama tiga hari.
  • Kamis. Jika ada petir di hari ini, maka itu penduduk akan mendapat berkah dan ketenangan. Penduduk dianjurkan untuk banyak beramal agar rezeki terus ditambahkan oleh Tuhan. Selain itu, dianjurkan juga untuk sering melakukan shalat berjamaah.
  • Jumat. Jika ada petir pada hari ini, maka itu pertanda penguasa dan rakyatnya akan mendapat rezeki, karena mereka akan selamat dari bencana yang menimpa.

3. Nilai-nilai

Pengetahuan orang Makassar tentang Akkanre Lekoka dan Pannujuanna Gunturuka mengandung nilai-nilai luhur dalam kehidupan, antara lain:

  1. Melestarikan tradisi. Akkanre Lekoka dan Pannujuanna Gunturuka merupakan tradisi yang penuh ajaran luhur, maka sudah selayaknya tradisi ini dipelihara.
  2. Nilai Sastrawi. Nilai ini tercermin dari teks Akkanre Lekoka dan Pannujuanna Gunturuka sebagai karya sastra orang Makassar yang penuh makna.
  3. Menerapkan ajaran Islam. Pengetahuan tentang Akkanre Lekoka dan Pannujuanna Gunturuka berhubungan erat dengan ajaran Islam tentang ketuhanan dan alam. Oleh karena itu, pemahaman terhadap pengetahuan ini juga merupakan penerapan terhadap ajaran Islam.
  4. Memahami gejala alam. Nilai ini tercermin dari peristiwa gerhana dan petir. Meskipun peristiwa keduanya alamiah dan rutin, manusia dituntut untuk mengambil makna dari tanda-tanda yang ada lalu menghubungkannya waktu peristiwanya.

4. Penutup

Pengetahuan orang Makassar tentang Akkanre Lekoka dan Pannujuanna Gunturuka membuktikan bahwa leluhur mereka memahami tanda-tanda alam dengan baik. Mereka dapat menggabungkan tanda-tanda alam dengan ajaran Islam.

(Yusuf Efendi/Bdy/79/08-2011)

Referensi

Syarifudin Kulle, dkk., 2010. Lontara Patturioloanna tu Gowaya. Gowa: Proyek Pengembangan Minat dan Budaya Baca Dinas Pendidikan Nasional.

Dibaca : 7.319 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password