Sabtu, 19 Agustus 2017   |   Ahad, 26 Dzulqaidah 1438 H
Pengunjung Online : 805
Hari ini : 2.061
Kemarin : 30.642
Minggu kemarin : 225.915
Bulan kemarin : 10.532.438
Anda pengunjung ke 103.009.541
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Tanda-tanda Perubahan Tahun dan Hari-hari Naas dalam Pengetahuan Orang Melayu Makassar, Sulawesi Selatan

Pengetahuan tentang tanda-tanda perubahan tahun dan hari-hari naas dalam tradisi orang Melayu Makassar merupakan salah satu wujud kebudayaan agraris dan laut orang Sulawesi Selatan, karena pengetahuan ini terkait erat dengan pola tanam dan pola melaut dalam kehidupan mereka.

1. Asal-usul

Suku Makassar sebagai salah satu suku terbesar di Sulawesi Selatan telah meninggalkan jejak pengetahuan yang luhur. Salah satunya tentang tanda-tanda perubahan tahun (Tanda-tandana Taunga) dan tentang hari-hari naas (Allo Nakassa). Pengetahuan ini mengisyaratkan pentingnya ketelitian dalam mengamati kondisi dan situasi setiap tahun. Di sisi lain, pengetahun ini menunjukkan betapa leluhur Makasar begitu teliti dan tekun mengamati perubahan zaman dan simbol-simbol binatang (Syarifudin Kulle, dkk., 2010). 

Secara umum, Tanda-tandana Taunga dan Allo Nakassa mengajarkan bahwa perubahan tahun dan keadaan hari memiliki konsekuensi terhadap perilaku manusia. Hal ini dikarenakan tahun-tahun dan hari-hari tersebut sering terjadi permasalahan dalam kehidupan manusia sejak dulu. Untuk menyikapinya, leluhur orang Makassar menganjurkan agar memperbanyak sedekah, berdoa, dan mendekatkan diri pada Tuhan yang Maha Kuasa (Kulle, dkk., 2010).  

2. Konsep Tanda-tandana Taunga dan Allo Nakassa

Konsep tanda-tanda perubahan tahun (Tanda-tandana Taunga) dan hari-hari naas (Allo Nakassa) menggunakan penanggalan Arab, yakni memakai istilah tahun seperti dalam huruf Arab, seperti alif, ba, jim, wau, ha, dan seterusnya. Hal ini menandakan bahwa pengetahuan ini mendapat pengaruh dari ajaran Islam, khususnya dari Kerajaan Gowa yang pernah lama berkuasa di Sulsel. Apalagi dalam hari-hari naas berhubungan dengan hari naas para nabi dalam Islam. Berikut adalah konsep kedua pengetahuan tersebut.  

a. Konsep Tanda-tanda Perubahan Tahun (Tanda-tandana Taunga)

  • Tahun alif, akan banyak hama tikus yang menyerang padi, hawa dingin, dan hujan lebat hingga air sungai deras. Tetapi tanaman lainnya akan berhasil baik.
  • Tahun ha, akan banyak hama menyerang padi, musim kemarau berkepanjangan, banyak anak-anak meninggal, tapi pedagang akan banyak keuntungan dan pertanian lainnya berhasil baik.
  • Tahun jim, binatang ternak banyak yang mati, curah hujan sedikit, kemarau berkepanjangan, banyak orang sakit tetapi dapat disembuhan dengan cepat karena asalnya dari dingin.
  • Tahun zei, memiliki simbol naga yang menandakan hewan ternak akan kedinginan, tanaman akan berhasil, akan datang bencana kelaparan, akan terjadi perselisihan antarwarga, banyak orang saling tikam, tetapi akhirnya akan baik karena asalnya dari air.
  • Tahun awal, memiliki simbol berupa ular yang menandakan kondisi hawa dingin, banyak orang sakit, sering hujan, di laut akan hujan deras karena asalnya dari api.
  • Tahun ba, memiliki simbol kambing yang menandakan akan datang bencana kelaparan, banyak orang sakit, curah hujan berkurang, sungai kekeringan, dan banyak orang melahirkan. Tahun ini banyak orang mengalami kesulitan dan kesusahan.
  • Tahun wawu, memiliki simbol beruang yang menandakan kondisi udara semakin dingin, pedagang banyak yang untung, tapi banyak orang berselisih. Pada bulan ini, orang disarankan untuk memperbanyak ibadah.
  • Tahun dal, memiliki simbol rusa yang menandakan ombak di laut mengganas, curah hujan di darat berkurang, banyak orang susah karena Tuhan murka.

b. Konsep Hari-hari Naas (Allo Nakassa)

Pengetahuan tentang hari-hari naas ini hanya ada di bulan ke-7 dan ke-8 serta pada hari Rabu terakhir. Hari-hari tersebut sama dengan hari “naas” yang pernah dialami beberapa nabi dalam agama Islam. Pada hari-hari ini, manusia diharapkan tidak melakukan perjalanan jauh, membangun rumah, atau merencanakan sesuatu. Hari-hari naas dalam pengetahuan orang Makassar diyakini apabila bulan muncul pada malam-malam berikut ini:

  • Malam ke-3, merupakan hari naas bagi Nabi Adam pernah diusir dari surga.
  • Malam ke-5, merupakan hari naas bagi Nabi Ibrahim yang dibakar dalam api oleh Raja Namrud.
  • Malam ke-13, merupakan hari naas bagi Nabi Ismail yang dijadikan kurban oleh Nabi Ibrahim.
  • Malam ke-16, merupakan hari naas Nabi Yusuf yang dibuang ke sumur oleh saudara-saudaranya.
  • Malam ke-21, merupakan hari naas bagi Nabi Yunus yang ditelan ikan besar.
  • Malam ke-24, merupakan hari naas bagi Nabi Nuh, di mana dunia dan isinya diterjang oleh air banjir.
  • Malam ke-25, merupakan hari naas Nabi Sulaiman yang jatuh dari kekuasaannya.
  • Hari Rabu terakhir, merupakan hari naas besar, oleh karena itu, Nabi Muhammad banyak berdoa.

3. Nilai-nilai

Pengetahuan orang Makassar tentang tanda-tanda perubahan tahun (Tanda-tandana Taunga) dan tentang hari-hari naas (Allo Nakassa) mengandung nilai-nilai luhur dalam kehidupan, antara lain:

  1. Melestarikan tradisi. Tanda-tandana Taunga dan Allo Nakassa merupakan tradisi leluhur, maka sudah selayaknya tradisi ini dipelihara.
  2. Nilai sastrawi, khususnya sastra Islam. Nilai ini tercermin dari teks Tanda-tandana Taunga dan Allo Nakassa sebagai karya sastra orang Makassar yang penuh makna.
  3. Menerapkan ajaran Islam. Pengetahuan tentang Tanda-tandana Taunga dan Allo Nakassa berhubungan erat dengan ajaran Islam tentang ketuhanan dan kenabian. Oleh karena itu, pemahaman terhadap pengetahuan ini juga merupakan penerapan terhadap ajaran Islam.
  4. Memahami gejala zaman. Nilai ini tercermin dari peristiwa yang terjadi pada tahun-tahun dan hari-hari tersebut. Meskipun peristiwanya alamiah dan terkesan hanya kebetulan, namun manusia dituntut untuk mengambil makna dari tanda-tanda yang ada lalu diterapkan dalam kehidupan.

4. Penutup

Pengetahuan orang Makassar tentang Tanda-tandana Taunga dan Allo Nakassa membuktikan bahwa ternyata leluhur Makassar memiliki pengetahuan tentang alam. Oleh karena itu, sudah selayaknya pengetahuan ini dilestarikan agar kearifan lokal tetap terjaga.

(Yusuf Efendi/Bdy/90/09-2011)

Referensi

Syarifudin Kulle, dkk., 2010. Lontara Patturioloanna tu Gowaya. Gowa: Proyek Pengembangan Minat dan Budaya Baca, Dinas Pendidikan Nasional.

Dibaca : 18.921 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password