Selasa, 28 Maret 2017   |   Arbia', 29 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 3.090
Hari ini : 5.415
Kemarin : 108.208
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.010.072
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Ragam Alat Pertanian Tradisional Masyarakat Melayu Jambi

Terdapat tiga jenis alat pertanian tradisional untuk menanam padi bagi petani Melayu Jambi, yaitu kiding, sayak, dan gencam atau tugal. Hingga kini, ketiga alat tersebut masih digunakan, khususnya untuk sawah irigasi.

1.Asal-usul

Jambi dikenal sebagai daerah dengan pertanian yang luas dengan penduduk yang mayoritas petani. Kenyataan ini menjadikan para petani Jambi memiliki alat-alat menaman padi yang beragam. Meskipun saat ini penggunaan alat produksi pertanian tradisional sudah berganti dengan alat-alat modern, namun di beberapa pedesaan di Jambi, alat-alat pertanian tradisional masih dianggap lebih efektif dan ekonomis (Tim, 1982; Ibrahim Budjang, et.al., 1990).

Secara umum, alat pertanian tradisional untuk menanam padi ada 3 jenis, yaitu kiding, sayak, dan gencam atau tugal. Ketiga alat tersebut umumnya digunakan untuk petani pada sawah irigasi. Ketiga alat tersebut umumnya dibuat sendiri oleh petani karena bahan-bahannya mudah diperoleh, yakni dari lingkungan dan hutan di Jambi (Budjang, et.al., 1990).       

2.Ragam Jenis Alat Pertanian Jambi

Peralatan produksi pertanian tradisional untuk menanam padi di Jambi ada 3 jenis, yaitu kiding, sayak, dan gencam atau tugal. Secara umum, fungsi alat-alat pertanian tradisional tersebut adalah untuk menanam padi. Berikut ini adalah penjelasan masing-masing:

a.Kiding

kiding adalah wadah berbentuk bulat lonjong dan umumnya digunakan untuk mengangkat bibit padi. Kiding umumnya terbuat dari rotan yang dianyam sedemikian rupa. Sekilas, kiding mirip dengan tempat nasi tradisional, hanya ukurannya lebih besar. kiding biasanya dibuat dalam ukuran tertentu, yaitu diameter 50 cm dan kedalamannya 60 cm. Dengan ukuran ini, kiding dapat memuat padi tidak kurang dari 20 kilogram.

Namun, agar memuat lebih banyak padi, petani Jambi biasanya menciptakan kiding dengan menyilangkan kayu atau bambu pada bagian bawahnya. Kayu atau bambu tersebut lalu diikat dengan belahan rotan agar kuat menahan beban. Kiding sendiri digunakan dengan cara menyilangkan talinya pada dahi petani atau mengangkatnya begitu saja dengan tangan biasa.     

b.Sayak

Sayak adalah sejenis bakul berukuran kecil sebesar tempurung kelapa (kiding kecil). Sayak umumnya digunakan untuk menampung biji padi yang akan disemai. Sayak terbuat dari anyaman daun nipah atau daun pandan yang dikeringkan terlebih dahulu. Sayak dibuat dengan ukuran khusus, yaitu berdiameter 25 cm dan kedalaman 25 cm.

c.Gencam atau tugal

Gencam atau tugal adalah sepotong kayu berbentuk bulat panjang yang digunakan untuk melubangi tanah tempat menanam benih padi. Gencam umumnya terbuat dari kayu petanggas yang banyak tumbuh di hutan Jambi. Gencam dibuat dengan ukuran panjang 175 cm, bagian bawahnya berdiameter 4 cm, dan semakin ke atas semakin kecil. Bagian bawah gencam dibuat runcing agar mudah menancap ke tanah dan meninggalkan lubang saat dicabut.

3.Nilai-nilai

Keberadaaan dan penggunaan alat pertanian tradisional menanam padi di Jambi ini mengandung nilai-nilai tertentu bagi kehidupan, antara lain:

  • Ekonomis. Nilai ini tercermin dari bahan pembuatan yang umumnya berasal dari bahan yang mudah ditemukan di hutan. Selain itu, alat-alat tersebut tahan lama karena tidak gampang rusak.
  • Kebersamaan. Alat-alat ini biasanya tidak dipergunakan secara mandiri, misalnya dalam mengangkat padi, petani Jambi umumnya melakukannya secara gotong-royong, saling membantu. Kegiatan ini tentu saja semakin memperkuat rasa kebersamaan.
  • Ramah lingkungan. Nilai ini tercermin dari alat-alat tradisional yang tidak menggunakan mesin atau listrik. Dengan begitu, alat-alat ini sangat ramah lingkungan.
  • Pelestarian tradisi. Nilai ini tercermin dari alat-alat pertanian tradisional yang merupakan peninggalan leluhur. Dengan menggunakan peralatan tersebut, secara tidak langsung berarti mereka melestarikan tradisi budaya leluhur.
  • Kesederhanaan dan fungsional. Penggunaan peralatan tradisional juga mengajarkan kepada para petani untuk lebih mementingkan kesederhanaan dan fungsi daripada gaya. Meskipun peralatan tersebut bisa jadi kalah cepat dengan alat pertanian modern, namun alat tersebut tidak kalah dalam fungsinya.
  • Seni. Peralatan pertanian menanam padi orang Melayu Jambi bentuknya tampak sederhana, akan tetapi untuk membuat anyaman dari daun nipah diperlukan jiwa seni, agar bentuknya rapi dan menarik.

4.Penutup

Keberadaan alat pertanian tradisional orang Melayu Jambi menjadi bukti bahwa kesederhanaan tidak menjadi alasan berhentinya produktifitas dalam hal pertanian. Dengan alat menaman padi yang sederhana, petani Jambi terbukti sanggup menanam padi dengan hasil yang tidak kalah baik dengan alat modern. 

(Yusuf Efendi/Bdy/99/10-2011) 

Referensi 

Ibrahim Budjang et al., 1990. Peralatan produksi tradisional dan perkembangannya di daerah Jambi. Jambi: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 

Tim Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jambi, 1982. Bercocok tanam padi sawah. Jambi: Dinas Pertanian Tanaman Pangan.


Sumber Foto: http://lyna.student.umm.ac.id

Dibaca : 20.012 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password