Sabtu, 20 Desember 2014   |   Ahad, 27 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 1.447
Hari ini : 10.307
Kemarin : 15.138
Minggu kemarin : 186.674
Bulan kemarin : 631.927
Anda pengunjung ke 97.476.603
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Mamanda

a:3:{s:3:

1. Asal-Usul

Teater rakyat Mamanda merupakan kesenian asli Suku Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Teater ini telah dibawa oleh rombongan bangsawan Malaka pada tahun 1897 M. Rombongan ini, di samping bermaksud melakukan kegiatan perdagangan, juga memperkenalkan suatu kesenian baru yang bersumber dari syair Abdoel Moeloek. Kesenian tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Badamuluk. Seiring perkembangan zaman, sebutan untuk kesenian ini berkembang menjadi Bamanda atau Mamanda. Berikut ini akan dikemukakan terlebih dahulu bagaimana sejarah dan perkembangan kesenian Mamanda di Kalimantan Selatan.

Sejak masa Kerajaan Negara Dipa, masyarakat Kalimantan Selatan telah mengenal beberapa jenis kesenian tradisional, seperti  wayang, topeng, dan joged. Ketika Islam mulai berkembang di Kalimantan Selatan pada tahun 1550 M, terutama setelah berdirinya Kesultanan Banjar yang mendapat bantuan dari Kesultanan Demak, kesenian-kesenian tradisional semakin dikenal rakyat. Pada masa itu, pihak kerajaan memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk melakukan kegiatan seni dan budaya. Sehingga, kesenian-kesenian yang bercorak Islam makin berkembang, seperti seni hadrah, rudat, zapen Arab, dan sebagainya.

Pada tahun 1620 M, tepatnya pada masa pemerintahan Panembahan Batu Putih (Sultan Rahmatillah), banyak orang mulai mempelajari seni tari dan seni suara yang diajarkan oleh ahli-ahli seni dari Jawa dan Semenanjung Tanah Melayu. Perkembangan kesenian di Kalimantan Selatan masih terus berlanjut. Pada tahun 1701 M, Sultan Banjar pernah mengutus Pangeran Singa Marta untuk membeli kuda Bima. Selain membeli kuda, Pangeran Singa Marta ternyata juga menikah dengan seorang Putri Bima yang dikenal sebagai ahli seni. Mereka kembali ke Kalimantan Selatan dengan membawa sejumlah kesenian tradisional asal Bima. Mereka menciptakan tari Jambangan Kaca dan tari Pagar Mayang. Kesenian-kesenian tradisonal kian dekat di hati rakyat Banjar. Pada masa pemerintahan Pangeran Hidayat (1845-1859 M), kesenian berkembang dengan sangat pesat. Apalagi, Pangeran Hidayat merupakan seorang seniman sejati yang sangat memperhatikan perkembangan kesenian ketika itu.

Pada tahun 1897 M,  rombongan Abdoel Moeloek dari Kesultanan Malaka datang ke Banjar. Rombongan yang lebih dikenal dengan sebutan Komedi Indra Bangsawan ini dipimpin oleh Encik Ibrahim bin Wangsa bersama istrinya, Cik Hawa. Rombongan ini menetap di Banjar hanya selama 10 bulan saja. Meski demikian, kesenian yang dibawa oleh rombongan ini dengan sangat cepat berpengaruh di Banjar. Hingga akhirnya pada abad ke-19 M, muncul sebuah kesenian baru bernama Ba Abdoel Moeloek atau Badamuluk yang diperkenalkan oleh  Anggah Putuh dan Anggah Datu Irang. Nama kesenian itu berasal dari judul cerita tentang Abdoel Moeloek yang dikarang oleh Saleha, sepupu Raja Ali Haji. Badamuluk berkembang hingga ke Pasar Lama Margasari, Periuk (Margasari Ilir), Pabaung, Merapian, dan Hulu Sungai. Badamuluk semakin memasyarakat. Seiring perkembangan waktu, masyarakat Banjar lebih senang menyebut kata Mamanda.

Menurut Hermansyah (2007), kesenian Mamanda, sebagaimana pada umumnya teater rakyat, merupakan karya seni yang tercetus dengan sendirinya dalam kehidupan masyarakat. Artinya, kesenian ini dihayati oleh masyarakat karena memang disesuaikan dengan perkembangan masyarakat itu sendiri. Pada awal mulanya, masyarakat membutuhkan adanya hiburan. Lambat laun, mereka juga memerlukan adanya sebuah upacara yang dipadukan dengan hiburan yang sudah ada. Akhirnya, terciptalah kesenian teater rakyat Mamanda ini sebagai bentuk hasil karya dan kreativitas umat manusia.

Kesenian rakyat yang muncul sebagai ekspresi kebudayaan masyarakat biasanya pada masa awal perkembangannya masih sangat sederhana. Ada banyak bentuk teater yang masih sangat sederhana di Indonesia. Teater semacam ini biasanya cukup dilakukan oleh satu, dua, atau tiga orang saja. Pada awal mulanya, teater ini merupakan suatu bentuk sastra ungkapan yang dinyanyikan dan dalam perkembangannya kemudian dipertunjukkan dengan diiringi musik-musik tradisi.

Istilah “Mamanda” berasal dari kata “mama” yang berarti “paman atau pakcik” dan kata “nda” sebagai morfem terikat yang berarti “terhormat”. Jika digabung, Mamanda berarti “paman yang terhormat”. Kata paman merupakan kata sapaan dalam sistem kekerabatan masyarakat Banjar. Sapaan ini juga berlaku untuk orang yang dianggap seusia atau sebaya dengan ayah atau orang tua. Kata ini juga sering digunakan oleh seorang sultan ketika menyapa mangkubumi atau wazirnya dengan sebutan “mamanda mangkubumi” atau “mamanda wazir”. Kata Mamanda juga sering digunakan dalam syair-syair Banjar.

Ada dua aliran dalam Mamanda, yaitu:

  1. Aliran Batang Banyu. Aliran ini dipentaskan di perairan atau sungai sehingga disebut dengan istilah Mamanda Batang Banyu. Aliran yang juga disebut Mamanda Periuk dan berasal dari Margasari ini merupakan cikal bakal Mamanda.
  2. Aliran Tubau (lahir pada tahun 1937 M). Aliran yang berasal dari Desa Tubau Rantau ini merupakan perkembangan baru dari Mamanda yang kini justru sangat terkenal. Aliran ini berkembang pesat di Kalimantan Selatan. Dalam pementasannya, cerita yang diangkat tidak bersumber dari syair atau hikayat, namun dikarang sendiri dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Struktur pertunjukannya masih seperti teater pada umumnya, yang dimulai dari ladon atau konom, sidang kerajaan, dan cerita. Pementasan aliran ini tidak mengutamakan musik atau tari, namun lebih mengutamakan bagaimana isi ceritanya. Aliran ini biasanya dipentaskan di daratan sehingga juga dikenal dengan sebutan Mamanda Batubau.     

Mamanda kini mengarah kepada perkembangan kesenian yang lebih populer. Meski begitu, kekhasannya masih tetap terjaga, terutama dalam hal penggunaan bahasa Banjar, simbolisasi nilai-nilai budaya, dan pesan-pesan sosial yang disampaikannya. Struktur dan karakteristik yang menjadi kekhasan Mamanda tidak pernah berubah. Perubahan yang terjadi biasanya hanya pada soal busana, musik, improvisasi, dan ekspresi artistiknya.

Teater Mamanda ternyata tidak hanya berkembang di Kalimantan Selatan, namun juga berkembang pesat di Kutai, Kalimantan Timur, Indonesia. Sebagaimana akan dibahas di bagian akhir, Mamanda juga berkembang di Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, Indonesia. Sebagai informasi singkat, perkembangan Mamanda di Tembilahan tidak terlepas dari sejarah eksodus sebagian masyarakat Banjar ke daerah itu.

2. Bentuk-Bentuk Kesenian Mamanda

2. 1. Struktur Pemain

Sebagaimana kesenian tradisional pada umumnya, Mamanda merupakan ekspresi kesenian yang memperlihatkan sisi karakter pada setiap lakon yang dipentaskan. Para pemainnya ada yang berperan sebagai tokoh utama dan ada pula yang berperan sebagai tokoh pendukung. Peran pemain tokoh utama harus ada pada setiap pertunjukan. Sedangkan peran pemain pendukung hanya berdasarkan pada cerita yang mengharuskan kehadirannya. Artinya, kehadiran pemain pendukung hanya ketika dibutuhkan saja.

Tokoh-tokoh utama yang diangkat dalam pementasan Mamanda adalah sebagai berikut:

  1. Sultan
  2. Mangkubumi
  3. Wazir
  4. Perdana menteri
  5. Panglima perang
  6. Harapan I dan harapan II
  7. Khadam/badut
  8. Sandut/putri

Pemain yang memerankan tokoh sultan harus berperawakan gagah, menarik, dan memiliki suara yang tegas. Peran mangkubumi adalah menggantikan kedudukan sultan yang kebetulan sedang ada urusan di luar istana. Wazir bertugas sebagai penasehat sultan. Perdana menteri biasanya memeriksa pekerjaan harapan I dan harapan II. Harapan I dan harapan II bertugas menghias dan mempersiapkan balai persidangan dan menjaga keamanan. Khadam/badut berperan dalam memberikan hiburan segar kepada para penonton, terutama kepada putri/sandut.

Tokoh-tokoh pendukung dalam pementasan Mamanda adalah sebagai berikut:

  1. Anak Sultan “Kurang Satu Empat Puluh”              
  2. Anak muda           
  3. Dayang                                                                 
  4. Komplotan bial/penyamun                                    
  5. Raja jin                                                                 
  6. Orang miskin
  7. Orang tua

2. 2. Urutan Turunnya Pemain

Urutan turunnya pemain pada pementasan Mamanda sudah tersusun secara rapi. Sebelum dilangsungkan sidang kesultanan, biasanya pertunjukan Mamanda dimulai dengan acara baladon atau ladun, yaitu acara pembukaan yang berisi tentang tari-tarian dan nyanyian. Pemain atau pelaku ladun biasanya berjumlah ganjil, dan ada yang bertindak sebagai pemimpin atau pengikutnya. Baru setelah itu para pemain turun ke pentas secara berurutan. Berikut ini adalah urutan turunnya para pemain:

1. Harapan I dan harapan II

Harapan I dan harapan II muncul ke pentas pertunjukan. Ketika baru sampai sepertiga arena, tepatnya di dekat meja sidang kesultanan, mereka berhenti sejenak lantas menyebutkan nama, jabatan, dan kemampuannya masing-masing.

2. Perdana menteri

Perdana menteri berhenti di belakang kedua harapan tersebut. Perdana menteri menyebutkan nama dan jabatannya. Ia kemudian memeriksa pekerjaan kedua harapan tersebut.

3. Sultan dan para staf

Setelah mendapatkan laporan dari perdana menteri, sultan memasuki ruang sidang kesultanan. Ia diikuti oleh para stafnya, yaitu mangkubumi, wazir, dan perdana menteri. Sesampainya di belakang meja persidangan, sultan memukul-mukulkan tongkatnya sembari memuji segala pekerjaan harapan I dan harapan II. Sultan kemudian mengungkapkan nama, jabatan, dan apa saja seluruh kekuasaannya. Ia menyempatkan diri menyanyikan lagu yang isinya memuji kesultanannya. Lagu-lagu tersebut misalnya:

a. Lagu Dua Mamanda Banyu

Batari yadan wayuhai lanya pangbastari yadan sayang saying

Angkaumu dangar, kasian banarai barpai sayang lanya pang barpari yadan sayang sayang

Salama saya dinagni pang dinagni

Salama lanya pang la sayang, yadan sayang sayang

Ramai bagaimana, ramai bagaimana, waduhai Ayahnda Wazir nang kusayangi nagri, dalam lanya pang, la nagri yadan sayang sayang

Ramai bagaimana, Ayahnda, Mamanda Mangkubumi nang kusayangi nagri di dalam lanya la nagri yadan sayang saya

b. Lagu Dua Mamanda Tubau

Aduhai wazir
Usullah Darmawan
Aduhai wazir
Usullah Darmawan
Cukup atawa bukan
Waduhai uang pemberian
Yalan yalan yalan
Dengan sabanar jua wayuhai nang
Lamak sadang mangatakan
Betalah mangatakan, katakan,
betalah mangatakan
Yalan yalan yalan

Setelah selesai bernyanyi dan menari-nari, sultan pun memerintahkan para stafnya untuk ikut bernyanyi dan menari bersama. Suasana sidang menjadi penuh dengan luapan kegembiraan. Sultan kemudian menyatakan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah bergembira bersamanya.

4. Panglima perang

Jika ternyata sultan memiliki putra-putri, maka mereka diharapkan agar datang ke sidang sebelum acara dimulai. Kedatangan mereka ke dalam ruang sidang diiringi oleh dayang-dayang. Sultan kemudian memerintahkan harapan I dan harapan II untuk menjemput panglima perang ke ruang sidang kesultanan. Setelah acara sidang kesultanan selesai digelar, para pemain kembali ke balairung seri yang letaknya tidak jauh dari pentas pertunjukan. Ketika ada jeda waktu, biasanya acara pertunjukan bisa diisi dengan tari-tarian.

5. Pemain

Dalam bagian ini, para pemain yang akan diturunkan disesuaikan dengan bagaimana isi jalannya cerita. Artinya, peran mereka tidak perlu lagi didasarkan pada tradisi turunnya pemain dalam sidang kesultanan yang sebelumnya telah usai digelar.

6. Anak Sultan “Kurang Satu Empat Puluh”

Bagian ini merupakan akhir dari pertunjukan Mamanda. Acara yang digelar berupa babujukan, yaitu semacam acara peminangan terhadap satu atau beberapa orang putri yang dilakukan oleh anak Sultan “Kurang Satu Empat Puluh”. Acara ini dilakukan dengan nyanyian dan tarian, yang juga diiringi dengan kata-kata rayuan.

Sebagai catatan tambahan, setiap pemain yang diturunkan sering dimulai dengan penjelasan yang menggunakan monolog tertentu. Monolog yang diucapkan masing-masing berbeda karena disesuaikan dengan lakon yang diperankan. Monolog tersebut selalu menjelaskan nama, pangkat, kegagahan diri, serta tugas dan kewajibannya masing-masing.

2. 3. Bahasa

Bahasa dalam teater Mamanda digunakan sebagai alat komunikasi untuk melakukan dialog, sehingga terjadi apa yang disebut dengan alur cerita. Ada dua macam penggunaan bahasa dalam pertunjukan Mamanda, yaitu:

1. Bahasa di dalam sidang kesultanan

Dialog dalam sidang ini biasanya menggunakan bahasa Melayu dengan dialek dan struktur bahasa Belanda. Dipergunakannya dialek dan struktur bahasa Belanda karena Mamanda lahir pada masa penjajahan Belanda.

2. Bahasa di luar sidang kesultanan

Di luar sidang kesultanan biasanya yang digunakan adalah bahasa Banjar. Bahasa Banjar merupakan perpaduan antara bahasa Melayu dengan bahasa Jawa Kuno.

2. 4. Tata Busana

Busana yang digunakan dalam pertunjukan Mamanda adalah busana suku Banjar. Busana ini terdiri dari busana adat, busana kebesaran, dan busana sehari-hari golongan bangsawan atau sultan-sultan, orang besar, orang terkemuka, dan rakyat jelata, yaitu sebagai berikut:

  1. Laung (ikat kepala).
  2. Kamban naga balimbur.
  3. Seluar singkat berliris tepi.
  4. Sabuk, yaitu berupa kain yang ditenun dan bersulam emas, seperti sabuk ukal, sabuk miring, dan sabuk panjang di atas lutut.
  5. Baju, yang terdiri dari baju dalam dan baju luar yang diberi sulam benang emas. Baju untuk pemain laki-laki dan pemain perempuan dibedakan. Pemain perempuan biasanya mengenakan baju kurung dengan ketentuan bahwa pada bagian dadanya tidak terbelah, pada bagian lehernya diberi lubang, panjangnya hingga lutut, dan juga mengenakan sarung tangan kecil. Pemain perempuan juga mengenakan kebaya panjang, dengan ketentuan ada sulam benang emas pada pinggirnya, dan pada ujung lengannya disusun atau dipasang manik-manik sebanyak tiga atau lima buah.

Di samping itu, juga dipergunakan perhiasan Banjar, seperti:

  1. Cucuk baju: pancar matahari, bulan saliris, dan bulu ayam yang dibuat dari emas dan perak.
  2. Gelang: gelang kelana, gelang jepon, gelang marjan, dan gelang rantai.
  3. Cucuk galing: daun, kembang sisir, dan kembang goyang.
  4. Kalung atau rantai, misalnya berupa kalung cekak, kalung madapun, kalung marjan, dan tabu-tabu karawang.
  5. Hiasan galung: kembang goyang dan untaian kembang melati.
  6. Cincin: cincin agar mayang, cincin batu, dan lain sebagainya.
  7. Rawing: rawing bulus, baitan, kili-kili, dan bonil berumbai.

Secara khusus, berikut ini dijelaskan ciri-ciri pakaian khas Banjar yang digunakan oleh para pemainnya, yaitu sebagai berikut:

1. Sultan

Sultan mengenakan seluar bersirit tepi, yaitu baju yang disulam dengan manik-manik. Di bagian tengah tutup kepala dihiasi dengan bulu burung putih sebagai mahkota sultan.

2. Perdana Menteri

Busana yang digunakan perdana menteri hampir sama dengan busana sultan. Hanya saja, perdana menteri tidak menggunakan mahkota, bahkan kadang tidak menggunakan tutup kepala sama sekali.

3. Wazir

Wazir biasanya mengenakan pakaian dalam yang lebih panjang dari pakaian luarnya. Ia mengenakan penutup kepala yang tidak bersegi, alias bulat.

4. Panglima Perang

Panglima perang mengenakan baju bermanik-manik, yang dilengkapi dengan senjata pedang. Di bahunya diselendangkan teratai yang terbuat dari benang emas. Tutup kepalanya berupa laung, bahkan kadang mengenakan topi polisi saja.

5. Harapan I dan Harapan II

Harapan I dan harapan II mengenakan baju dalam dan baju luar yang mirip dengan baju koboi, namun dengan ada sedikit manik-maniknya. Mereka berdua menggunakan senjata dan penutup kepala.

6. Putri

Putri mengenakan kebaya atau kadang baju kurung yang dilengkapi dengan mahkota di kepalanya.

7. Raja Jin

Raja jin biasanya mengenakan topeng. Jika tidak ada, ia juga bisa membedaki wajahnya dengan arang atau kapur yang dicampur denga pewarna merah kesumba.

8. Penyamun

Penyamun mengenakan sebuah topi yang mirip dengan topi dalam pementasan teater di Barat. Di samping itu, ia juga mengenakan kacamata berwarna hitam.

9. Anak Muda

Anak muda mengenakan kemeja putih dengan dasi kupu-kupu warna hitam.

2. 5. Tata Cara Pementasan

Pementasan teater rakyat Mamanda sebenarnya sangat sederhana dan sifatnya spontan saja. Alat perlengkapan yang digunakan pun juga sederhana, yang penting disesuaikan dengan tempatnya. Soal tempat bisa dilakukan di mana saja, asalkan ada panggung pementasan dan ada tempat duduk untuk para penontonnya. Tidak ada tempat duduk pun bisa jadi, asalkan ada suatu sudut ruang yang bisa dijadikan sebagai tempat pementasan.

Alat perlengkapan yang digunakan biasanya hanya berupa meja dan kursi, yang disusun rapi dan disesuaikan dengan bagaimana isi atau cerita pertunjukannya. Kadang ada sekat yang memisahkan antara panggung dan tempat duduk penonton, namun kadang pula tidak ada sekat sama sekali.

Struktur atau urutan pementasannya biasanya dibuka dengan adanya bunyi-bunyian yang berfungsi sebagai pemberitahuan kepada penonton bahwa pertunjukan akan dimulai. Pertunjukan di awal biasanya berupa acara perkenalan dengan nyanyian dan tarian. Setelah itu lakon baru dipertunjukkan. Proses penyajian lakon dilakukan secara berurutan yang disesuaikan dengan jalan cerita. Penyajiannya tidak hanya berupa dialog dan laku, namun juga diringi dengan tarian dan nyanyian. Tidak jarang cara penyajiannya dibungkus dengan lawakan dan lelucon yang biasanya muncul secara spontan sebagai bentuk kreativitas para pemainnya sendiri.  

2. 6. Sumber Cerita

Tipe cerita Mamanda biasanya berupa cerita sejarah, romantis, kritik, sosial, dan penerangan. Inspirasi dalam penulisan skenario cerita Mamanda biasanya disarikan melalui hikayat syair, kisah 1001 malam, buku-buku roman, buku-buku sejarah, cerita rakyat, dan berbagai problematika kehidupan masyarakat. Melalui sumber-sumber tersebut, cerita dikemas menjadi kisah hitam-putih, yang memberikan pesan kepada masyarakat atau penontonnya untuk dapat membedakan mana kebaikan dan mana kejahatan. Sehingga, masyarakat bisa mendapatkan pemahaman yang tuntas tentang isi ceritanya, termasuk pesan baik yang ada di dalamnya.

2. 7. Musik Pengiring

Pementasan teater Mamanda diringi dengan musik dan nyanyian. Musik pengiringnya bisa berupa pantun, syair, hikayat, dan dialog tertentu yang disampaikan dengan cara dilagukan. Lagu-lagu yang sering dinyanyikan dalam pementasan Mamanda adalah:

Lagu Dua Harapan
Lagu Dua Raja
Lagu Dua Gandut
Lagu Raja Sarik
Lagu Tarima Kasih (Sultan)
Lagu Baladun
Lagu Mambujuk
Lagu Danding
Lagu Nasib
Lagu Tirik
Lagu Japen
Lagu Mandung-mandungan
Lagu Stambul.

3. Nilai Budaya

Seni pertunjukan (teater) rakyat Mamanda tidak hanya semata-mata hiburan saja. Ada sejumlah nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana pada umumnya, teater ini mencerminkan dan menyoal kehidupan masyarakat. Menurut Hermansyah (2007), teater rakyat berfungsi bukan saja sebagai media ekspresi diri para seniman teater ataupun sebagai tempat hiburan bagi rakyat yang memerlukannya, melainkan juga sebagai alat pendidikan bagi masyarakat di lingkungan sekitar. Dengan demikian, Mamanda juga dapat berfungsi sebagai media pendidikan yang sangat berguna bagi masyarakat umum.

Cerita-cerita yang disajikan dalam pertunjukan Mamanda selalu berisi tentang masalah-masalah dalam hidup umat manusia. Dari cerita-cerita tersebut, kita dapat mengambil manfaat atau hikmah, yaitu bagaimana kita mengenal sejarah kehidupan ini dan bagaimana kita mengambil contoh kearifan hidup yang baik. Bahkan, cerita-cerita tersebut juga dapat mengungkapkan alam pikiran masyarakat dan adat-istiadat lingkungannya. Artinya, melalui pertunjukan kesenian ini, di samping dapat merasakan keindahan rasa seninya, para penontonnya juga diajak untuk memahami pengalaman-pengalaman dan sugesti-sugesti yang tersajikan bahwa segala bentuk perilaku yang jahat, tidak baik, dan tidak jujur, pasti akan dikalahkan oleh kebenaran. Apa yang tersajikan dalam teater Mamanda biasanya sering dijadikan sebagai “panutan” oleh masyarakat dalam kehidupannya.

Teater Mamanda juga berfungsi sebagai media “kritik sosial”. Pemain-pemain Mamanda sering melontarkan kritik dan sindiran perihal kepincangan yang terjadi di masyarakat. Tentunya, kesenian ini merupakan media yang sangat menarik untuk menyalurkan aspirasi rakyat. Dengan kata lain, kesenian Mamanda bisa berfungsi sebagai media demokratisasi yang dipadukan dengan nilai-nilai budaya masyarakat.   

4. Mamanda di Tembilahan

Teater rakyat Mamanda juga terkenal di Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, Indonesia. Bagaimana kesenian pertunjukan Mamanda yang awalnya berasal dari Kalimantan Selatan itu akhirnya dapat memasyarakat di daerah Tembilahan? Hal itu terjadi karena pada akhir abad ke-19 ada sebagian masyarakat Suku Banjar dari Kalimantan Selatan yang menjadi pendatang baru di wilayah Tembilahan, Indragiri Hilir.

Kehadiran Suku Banjar di Tembilahan tidak terjadi begitu saja yang tanpa disebabkan adanya unsur manusia dan budayanya. Proses eksodus masyarakat Suku Banjar ke Tembilahan dilatarbelakangi oleh situasi dan masalah yang terjadi.    

Suku Banjar yang menetap di Kabupaten Indragiri Hilir terdiri dari sebelas anak suku, yaitu: Banjar Keluak, Banjar Amuntai, Banjarnegara, Banjar Kandangan, Banjar Barabai, Banjar Kuala, Banjarmasin, Banjar Pamengkeh, Banjar Martapura, Banjar Alabio, dan Banjar Rantau. Anak suku Banjar Keluak, Banjar Amuntai, dan Banjar Kandangan merupakan anak suku mayoritas yang mendiami Indragiri Hilir. Perpindahan masyarakat Suku Banjar tersebut tentunya juga dibarengi dengan dibawanya kesenian Mamanda yang asalnya dari Kalimantan Selatan yang kemudian dikembangkan di Tembilahan.

Para perantau Suku Banjar yang pertama telah meninggalkan daerah asalnya (Kalimantan Selatan) sekitar tahun 1859. Perjalanan mereka hingga sampai di Tembilahan memakan waktu yang sangat panjang. Apa motivasi yang melatarbelakangi proses eksodus tersebut? Mereka ternyata sedang dalam tekanan dari kolonialisme Belanda. Apalagi, pada tahun 1859, Belanda telah menguasai Kerajaan Banjarmasin. Dampaknya, pemerintah Hindia Belanda menerapkan sistem kerja yang disebut irakan, yaitu kerja paksa yang tidak dapat diupahkan atau diwakilkan kepada orang lain. Karena tidak ingin ditindas oleh penjajah Belanda, banyak masyarakat di sana yang kemudian melakukan eksodus ke daerah lain, terutama ke Tembilahan.

Mengapa Tembilahan kemudian jadi pilihan tempat eksodus mereka? Pada awal mulanya, diperkirakan mereka mendarat terlebih dahulu di Malaysia dan Singapura. Berdasarkan Perjanjian London tahun 1824, kedua wilayah tersebut resmi berada dalam kekuasaan Inggris. Mereka berpandangan bahwa lebih baik hidup dalam kondisi penjajahan Inggris daripada penjajahan Belanda yang dikenal sangat tidak manusiawi. Politik penjajahan yang dilakukan Inggris lebih lunak dibandingkan dengan Belanda, sehingga mereka lebih dapat merasakan kebebasan. Namun, mereka justru merasakan kehidupan yang tidak enak di sana dan memutuskan untuk melanjutkan pengembaraan ke daerah lain, yaitu ke Indragiri Hilir. Pada tahun 1885 M, mereka tiba di sana. Wilayah Perigi Raja merupakan tempat singgah pertama mereka.

Salah satu suku di Tembilahan, Arbain, sebelum tahun 1950 M (diprediksikan antara tahun 1947-1949) pernah mendirikan Perkumpulan Mamanda Parit Empat Belas. Pada tahun 1950 M, Encik Arbain menyerahkan kepemimpinan Mamanda Parit Empat Belas kepada Encik Usman Ancau. Pada masa Encik Usman Ancau, Mamanda di Tembilahan berkembang pesat. Pada masa itu, sumber cerita Mamanda masih berasal dari sastra lama, seperti dari hikayat dan syair. Pada tahun 1960-an, mulai dibuat cerita sendiri yang sumbernya didasarkan pada perkembangan kehidupan masyarakat ketika itu. Alat-alat musik tradisonal yang biasa digunakan digabungkan dengan alat-alat musik modern, seperti biola, gitar, dan akordion.

Ketika terjadi peristiwa 30 S/PKI/1965, aktivitas kesenian mereka terpaksa harus terhenti. Pada tahun 1967 M, aktivitas Mamanda Parit Empat Belas diaktifkan kembali oleh Encik Abdul Hamid. Sejak masa itu, di Tembilahan juga berdiri 12 perkumpulan Mamanda. Namun demikian, lambat-laun perkumpulan-perkumpulan tersebut menghilang. Hingga kini, perkumpulan yang masih bertahan adalah Perkumpulan Mamanda Parit Empat Belas pimpinan Encik Ardani dan Perkumpulan Mamanda Pulau Palas. 

(HS/bdy/41/02-08)

Sumber :

  • Asmuni, F Raji. “Mamanda Nasibmu Kini”, dalam http://www.banjarmasinpost.co.id/content/view/7438/92/, diakses tanggal 28 Januari 2008.
  • Hermansyah. 2007. Mamanda Sebuah Teater Eksodus. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu Bekerjasama dengan Penerbit Adicita.
  • “Mamanda yang Makin Pudar”, dalam http://www.indomedia.com/bpost/052005/1/ragam/ragam2.htm, diakses tanggal 24 Desember 2007.
Dibaca : 18.891 kali.