Sabtu, 25 Februari 2017   |   Ahad, 28 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 4.906
Hari ini : 29.248
Kemarin : 81.319
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.798.604
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Boria

a:3:{s:3:

Boria adalah sejenis teater yang amat populer di negeri utara Malaysia, terutama Pulau Pinang. Versi lain menjelaskan bahwa Boria berasal dari masyarakat India Selatan yang banyak bermukim di Pulau Pinang (Penang), Malaysia. Kemudian, Boria sampai ke wilayah Riau pada masa pemerintahan Sultan Riau-Lingga yang terakhir, yaitu Sultan Abdul Rahman Al-Muazam Syah. Lebih rinci lagi, Boria ini dibawa oleh serdadu Sepahi ke Penang dari Resimen ke-21 dalam tahun 1885 M.

Perkataan Boria berasal dari bahasa Hindustan, yang berarti tikar. Tikar yang dimaksudkan di sini adalah tikar yang digunakan untuk sembahyang. Dari data yang ditemukan, tidak dijelaskan secara detail maksud tikar untuk sembahyang ini. Maksudnya sembahyang apa dan untuk siapa.

1. Peralatan

Tidak ada Peralatan musik khas yang digunakan dalam pertunjukan Boria. Di antara alat musik yang sering digunakan itu ialah violin, gambus, marwas, tabla, simbal, gendang, akordion, dan harmonika.

2. Iringan musik

(Dalam proses pengumpulan data)

3. Busana

Busana yang digunakan dalam teater Boria adalah busana Arab. Hal ini berkaitan dengan pakaian, musik, dialog dan cerita yang dimainkan merupakan cerita Arab, termasuk juga musik dan tarian yang dimainkan mirip dengan musik-musik Arab.

4. Naskah

(Dalam proses pengumpulan data)

5. Tokoh pemain

Di dalam teater Boria tidak ditetapkan tokoh pemain utama atau lainnya. Sebab, teater ini dilakukan oleh sekelompok orang yang berbaris dengan mendatangi setiap rumah di daerah pertunjukan tersebut, lalu memberikan sesuatu pada penghuni rumah yang biasanya disebut sagu-hati yang layak.

6. Nilai budaya

Secara umumnya asal permainan Boria dikaitkan dengan peristiwa Karbala, yaitu peristiwa pembunuhan Saidina Hasan dan Hussein r.a oleh Muawiyah bin Abi Sofyan. Untuk konteks daerah Sumatera Barat, teater Boria ini dapat dihubungkan dengan tabuik, terutama di daerah Pariaman. Tujuannya juga sama, yaitu untuk mengingat peristiwa pembunuhan dua cucu Nabi Muhammad SAW di Padang Karbala tersebut. Dengan demikian, nilai-nilai budaya dalam teater ini cukup kental nuansa agamanya, yaitu Islam. Dengan perkataan lain, bagaimana umat Islam itu mengingat sejarah masa lalu untuk dijadikan pelajaran berharga dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Kredit foto :www.heritage.gov.my
Dibaca : 11.884 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password