|
Merupakan sebuah daerah yang diduga dulunya sebagai pelabuhan penting di Aceh. Lamuri juga sering disebut dengan nama lain seperti Lamkrek, Lam Urik, Rami, Ramni oleh pedagang Arab dan Lan-wuli atau Lan Wo Li oleh pedagang Cina. Prasasti Cola (1030 M) mencatat pelabuhan ini dengan nama ilamuridesam. Lamuri juga diduga sebagai sebuah kerajaan di Aceh Besar yang didirikan pada tahun 1513 M oleh Meurah Johan yang berasal dari Sulawesi dengan nama kerajaan Lamkrak atau Lam Oeii atau Lamoeri atau Lamuri atau Kesultanan Lamuri. Keberadaan ibukota kerajaan Lamuri sendiri masih belum diketahui secara tepat, tetapi Teuku Iskandar (-) mengatakan bahwa Lamuri terletak di dekat Krueng Raya. Sedangkan Hikayat Aceh menggambarkan bahwa kerajaan ini terletak di tepi laut/pantai. Pada akhir abad ke-15 pusat kerajaan ini dipindahkan ke Makota Alam (Kuta Alam, Banda Aceh sekarang) yang terletak di sisi utara Krueng Aceh setelah sebelumnya, pada abad ke-13 M, kerajaan Majapahit menyerang Lamuri. Pemindahan ini disebabkan karena adanya serangan dari Pidie dan pendangkalan muara sungai. Pada saat penyerangan Majapahit, Lamuri telah menjadi pelabuhan internasional yang telah mempunyai mata uang emas (dirham) sendiri. Pelabuhan ini pernah dikunjungi Marco Polo asal Venesia, saat perjalanan pulangnya dari Cina ke Persia, dan kira-kira seabad setelahnya musafir asal Maroko bernama Ibnu Battutah (1345 M). Ibnu Batutah dalam kunjungannya ke samudra Pasai mencatat bahwa Lamuri adalah bandar internasional sebagai tempat pertemuan antara bangsa Cina, Eropa, Aceh, dan India. Dalam versi lain disebutkan, Bandar Lamuri telah didirikan oleh Sultan Johan Syah pada tahun 1205 M. Lamuri kini berlokasi di Aceh Besar. (WL/ensi/90/08-07) |