|
Didong adalah kesenian tradisional Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Kesenian yang diperkenalkan pertama kali oleh Abdul Kadir To`et ini berasal dari dua akar kata, yaitu din dan dong. Din dari bahasa Arab yang artinya agama dan dong dari bahasa Gayo yang artinya dakwah. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa istilah Didong murni berasal dari bahasa Gayo, yaitu denang atau donang yang artinya gendang. Pemain Didong terdiri dari beberapa orang laki-laki dewasa di mana salah seorang di antaranya bertugas sebagai ceh Didong (pelantun syair) dan selebihnya sebagai pengiring. Ceh Didong duduk di tengah-tengah para pengiring yang bertugas menggerakkan tubuhnya ke depan dan ke samping secara enerjik sambil bertepuk tangan atau menepuk bantal mengikuti irama tertentu. Jika pada awalnya kesenian Didong terdiri dari seorang pelantun syair dan beberapa orang pengiring, saat ini pesertanya lebih banyak lagi. Pelantun syair dapat berjumlah sampai 4 atau 5 orang, dan pengiringnya mencapai 30 orang. Bahkan, perempuan dan anak-anak pun ikut serta mementaskan kesenian ini. Pada awalnya, Didong digunakan oleh ceh Didong sebagai sarana untuk menyebarkan agama Islam kepada masyarakat luas lewat syair-syair yang disenandungkannya. Kesenian Didong dipentaskan dalam rangka untuk menyambut atau memperingati hari-hari besar agama Islam, seperti peringatan Maulud Nabi, Israk Mikraj, penyambutan tahun baru Hijriah, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, seorang ceh Didong harus memiliki kualifikasi tertentu, seperti mengenali dengan baik cerita-cerita religius, berbudi luhur, memiliki suara merdu, dan mampu bersyair. Dominasi syair-syair religius dalam kesenian Didong mulai berubah ketika Jepang menduduki tanah Gayo. Waktu itu, kesenian Didong digunakan oleh pemerintah kolonial Jepang sebagai sarana hiburan bagi tentara-tentaranya yang berada di tanah Gayo. Hal ini kemudian memberi inspirasi kepada ceh Didong untuk mengembangkan dan memperkaya tema syair-syair Didong, seperti sejarah dan alam. Dewasa ini, tema syair-syair Didong telah berkembang pesat sesuai dengan perkembangan zaman dan dinamika masyarakat Gayo khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Tema-tema seperti pergaulan muda-mudi, kritik terhadap pemerintah, dan bahkan mendukung atau menjatuhkan salah satu calon dalam pemilihan kepala daerah sudah lumrah menghiasi syair-syair Didong. Meskipun demikian, syair-syair religius tetap dominan dalam kesenian Didong. Begitu juga waktu pementasannya, tidak lagi terpaku pada hari-hari besar agama Islam saja, tapi juga dipentaskan pada upacara perkawinan, khitanan, selamatan, serta penyambutan dan peringatan hari-hari besar nasional. (Yusriandi Pagarah/ensi/05/09-08) |