|
Tradisi memakai topeng setan atau Coka Iba. Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW di banyak tempat dirayakan dengan meriah, tak terkecuali di Kecamatan Patani, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara. Warga di kecamatan ini biasanya menyelenggarakan maulid (hari kelahiran nabi) dengan melaksanakan tradisi Coka Iba. Tidak seperti di Yogyakarta atau Solo yang merayakan maulid dengan Upacara Adat Garebeg Sekaten, yaitu upacara pemberian sedekah dari keraton berupa gunungan (tumpukan makanan yang menyerupai gunung) kepada rakyatnya, di Patani warga beramai-ramai mengenakan topeng yang menyeramkan. Secara harfiah, coka iba berarti topeng setan. Dalam perayaan ini, masyarakat umum, terutama para pemuda akan memakai kostum yang menggambarkan sosok setan yang bergentayangan. “Setan-setan” tersebut hadir tidak untuk menggagalkan perayaan maulid, melainkan meramaikan dan memantau warga yang berada di luar rumah yang dianggap tidak mensyukuri hari kelahiran nabi. Sebab, menurut kepercayaan masyarakat setempat, pada hari kelahiran nabi, tak hanya malaikat dan manusia saja yang merasa gembira atas datangnya seorang rasul, bangsa jin dan setan pun turut bahagia atas kelahirannya. Beberapa hari sebelum dilaksanakannya perayaan maulid, warga di Kecamatan Patani telah disibukkan dengan berbagai persiapan merancang kostum masing-masing yang dianggap mendekati gambaran tentang setan. Pada jaman dahulu, kostum-kostum tersebut umumnya dibuat sangat menyeramkan menyerupai hantu. Namun, akhir-akhir ini muncul juga kostum yang lebih variatif yang mencoba mengeksplorasi berbagai bentuk, sehingga tampak lucu dan atraktif. Dalam pembuatan kostum yang diinginkan, tak jarang warga harus mengeluarkan biaya hingga ratusan ribu rupiah. Pada malam hari sebelum Coka Iba dimulai, warga berkumpul di masjid untuk membaca Sarawan Anam. Sarawan Anam berisi cerita tentang kisah nabi-nabi serta syair puji-pujian terhadap mereka, terutama pujian terhadap nabi pamungkas yaitu Nabi Muhammad SAW. Syair puji-pujian tersebut menandai kegembiraan warga muslim setempat atas rahmat yang dibawa oleh baginda nabi. Pembacaan Sarawan Anam dipimpin oleh para Kadhi atau pengurus masjid hingga menjelang Shalat Subuh. Setelah melaksanakan Shalat Subuh, ratusan Coka Iba yang telah berkumpul di muka masjid akan dilepas oleh Sangaji atau tetua adat setempat. Seperti dilansir oleh cybertravel.cbn.net.id, pada iring-iringan Coka Iba, topeng yang paling menyeramkan akan menjadi pimpinan dan berjalan di barisan paling depan. Pemimpin barisan Coka Iba ini disebut Coka Iba Yani dan Coka Iba Gof. Iring-iringan Coka Iba akan mengelilingi desa dengan memamerkan kostum sambil menari. Tak hanya itu, barisan Coka Iba juga bertugas mengingatkan warga untuk tetap berada di dalam rumah sebagai wujud syukur atas hari kelahiran nabi. Jika ada warga yang berkeliaran di luar rumah tanpa memakai kostum Coka Iba, maka ia akan dikejar dan diperingatkan supaya kembali ke dalam rumah. “Patroli” Coka Iba ini biasanya berlangsung dari waktu Subuh hingga Maghrib selama tiga hari. Perayaan Coka Iba akan ditutup pada hari ketiga dengan ritual yang disebut Pantaeng. Pantaeng adalah upacara penutup dalam pelaksanaan Coka Iba, di mana para tetua adat dan warga berkumpul untuk saling bermaaf-maafan. Ritual terakhir ini penting untuk memperkuat solidaritas warga setelah tiga hari berturut-turut merayakan Coka Iba. Sebab, bisa jadi dalam “patroli” yang dilakukan oleh Coka Iba ada sebagian warga yang merasa dirugikan. (Lukman Solihin/ensi/07/02-09) Daftar Bacaan: _______________________________ Sumber Foto: http://afriyanto.wordpress.com/2008/01/07/coka-iba-magis-dan-mistis/ |