|
Profil seorang Calabai. Masyarakat Bugis dikenal memiliki lebih dari dua gender, yakni pembagian gender selain laki-laki dan perempuan. Salah satunya adalah Calabai, yaitu laki-laki yang berperilaku layaknya seorang perempuan. Khalayak umum biasa juga menyebutnya dengan istilah wadam (singkatan dari wanita adam). Selain Calabai, masyarakat Bugis juga mengenal kaum perempuan yang berperilaku menyerupai laki-laki yang disebut sebagai Calalai, serta pendeta Bugis yang sebetulnya laki-laki tetapi berpenampilan seperti perempuan yang dikenal dengan nama Bissu (perbedaan antara Bissu dan Calabai dapat dilihat di ensiklopedia MelayuOnline.com dengan judul Bissu). Ihwal Calabai dan Calalai tersebut, James Brooke, seorang Eropa yang pernah mengunjungi Wajo` pada tahun 1840, menulis sebuah catatan yang menggambarkan perbedaan menyolok antara Calabai dan Calalai. Dia menulis: “Kebiasaan paling aneh yang saya temukan adalah adanya lelaki berpakaian seperti perempuan, dan perempuan yang berpakaian seperti laki-laki; bukan hanya untuk sementara waktu, tetapi seumur hidup berperilaku seperti jenis kelamin yang mereka tiru itu” (dalam Christian Pelras, 2006: 190). Catatan ini cukup memberikan gambaran bahwa keberadaan Calabai maupun Calalai telah ada sejak lama dan keberadaannya relatif diterima oleh masyarakat. Selain itu, dari catatan tersebut juga terlihat bahwa pilihan menjadi Calabai maupun Calalai rupanya merupakan pilihan hidup yang ditekuni hingga meninggal. Pembagian gender Calabai ini hingga kini tetap ada, bahkan makin tegas posisinya karena memiliki peran sosial yang jelas di tengah-tengah masyarakat. Sharyn Graham (2002), misalnya, menyebutkan bahwa Calabai sering kali dipercaya sebagai `ibu pengatur pernikahan` (Indo` Boting) yang mengurus segala keperluan mulai dari mengorganisasi acara, mengurus menu hidangan untuk para tamu, merencanakan dekorasi, merias pengantin, hingga menyiapkan baju untuk mempelai laki-laki dan perempuan. Meskipun kerap kali hanya dipandang sebagai `wadam`, tetapi posisinya yang penting dalam sebuah pernikahan membuat Calabai cukup dihargai dalam kehidupan masyarakat Bugis. (Lukman Solihin/ensi/09/04-09) Daftar Bacaan: - Christian Pelras (2006). Manusia Bugis. Jakarta: Penerbit Nalar dan Forum Jakarta-Paris.
- Sharyn Graham (2002), “Sex, Gender, and Priests in South Sulawesi, Indonesia”, dalam IIAS Newsletter|#29|November 2002. Diunduh tanggal 28 Maret 2009 dari: http://www.iias.nl/iiasn/29/IIASNL29_27.pdf
Sumber Foto: http://www.geocities.com/leylasuhagi/bugis.html |