|
Salah seorang pendekar silek dalam posisi kuda-kuda. Silek adalah istilah Minangkabau untuk olahraga beladiri silat atau pencak silat. Dalam masyarakat Minang, penguasaan keterampilan beladiri bagi anak laki-laki sangat dianjurkan, di samping kewajiban mendalami ajaran agama Islam. Beladiri Silek biasanya diajarkan di surau-surau pada malam hari hingga tengah malam. Kebiasaan adat yang mengharuskan anak laki-laki akil baligh tinggal di surau di saat malam hari membuat olahraga beladiri ini berkembang cukup pesat. Selain sebagai seni beladiri, unsur-unsur gerakan dalam Silek juga kerap tampil dalam berbagai tarian khas Minangkabau, seperti tari randai, tari ratak, tari persembahan, dan tari tanduk (tari tanduak). Latihan Silek biasanya dilakukan di tempat terbuka (disebut sasaran) yang cukup luas di dekat rumah sang guru Silek. Di tempat ini hanya digunakan penerangan seadanya, seperti memanfaatkan cahaya bulan purnama atau menggunakan obor dan lampu minyak tanah. Kondisi ini membuat para murid harus berlatih ketajaman penglihatan dan intuisi dalam beladiri. Untuk memeriahkan suasana, kadang-kadang latihan Silek juga diiringi dengan musik dan nyanyian penggugah semangat. Dalam permainan silek, para murid dan guru biasanya mengenakan pakaian khusus, yaitu celana hitam yang disebut galembong, baju taluak balango, serta ikat kepala (destar). Pakaian tersebut sengaja dibuat longgar supaya pemakainya leluasa dalam melakukan gerakan-gerakan silek. Latihan Silek biasanya tidak diawali dengan pemanasan sebagaimana seni beladiri lainnya. Para murid langsung berbaris berbanjar atau membentuk lingkaran dengan mengikuti gerakan-gerakan yang dilakukan oleh sang guru atau murid senior. Setiap pergantian gerakan ditandai dengan tepukan tangan (disebut tapuak) atau suara sebagai aba-aba pergantian tiap gerakan. Jenis latihan lainnya adalah praktek bertanding satu lawan satu yang disebut `permainan Silek`. Dalam perminan Silek ini, dua orang murid dengan postur tubuh dan kemampuan teknik yang relatif sama saling berhadap-hadapan untuk menguji ketangkasan Silek hasil latihannya. Setelah memberi hormat kepada sang guru dan lawan tanding, dua murid tersebut kemudian menyerang atau menangkis serangan lawan. Apabila para pemian Silek sama-sama mahir memainkan jurus-jurus andalan dan kuncian khas Silek, maka permainan akan berlangsung cukup lama. Namun, permainan Silek biasanya tidak bertujuan untuk menjatuhkan atau melukai tubuh lawan. Sebab, latihan ini bukanlah pertandingan antarmusuh yang sebenarnya. Umumnya, seorang murid Silek akan menamatkan latihan dasarnya selama enam hingga delapan bulan. Setelah itu, seorang murid baru bisa melanjutkan ke tahap berikutnya hingga dianggap sangat mahir dan memperoleh kepercayaan sang guru untuk dilatih secara pribadi. Dalam proses pengajaran Silek yang dilakukan khusus oleh sang guru, murid juga akan disumpah untuk menggunakan kemahirannya demi kebaikan. Sebab, sebagaimana filosofi umum dalam Silek Minang, setiap amal perbuatan akan memperoleh balasannya di akhirat kelak. Seperti disitir dalam www.culture.melayuonline.com, dalam bahasa Minang dikatakan, “Hiduik nan ka dipakai, mati nan ka tiumpang.” Artinya, apapun laku dan adab yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari, hendaknya manusia selalu berbuat dan berperilaku amal saleh, karena perbuatan kita, baik dan buruk di dunia akan diperhitungkan kelak saat kita mati. Dalam khazanah Silek Minang, setidaknya dikenal sepuluh aliran Silek, antara lain Silek Kumango, Silek Lintau, Silek Tuo, Silek Sitaralak, Silek Harimau, Silek Pauh, Silek Sungai Patai, Silek Luncua, Silek Gulo Gulo Tareh, dan Silek Baru. Dari kesepuluh aliran Silek tersebut, Silek Kumango dianggap sebagai salah satu aliran tertua. Nama `Kumango` merujuk pada tempat di mana aliran Silek tersebut tumbuh dan berkembang, yaitu Kampung Kumango di Kabupaten Tanah Datar. Silek aliran Kumango diciptakan oleh Syekh Abdul Rahman Al Khalidi, seorang penyebar tarekat Samaniyyah dan Naksyabandiyyah di daerah Tanah Datar. Karena dikenal sebagai pencipta Silek Kumango, beliau juga terkenal dengan sebutan Syekh Kumango. Menurut cerita yang dilansir dalam situs www.culture.melayuonline.com, sebelum menjadi ulama, Syekh Kumango adalah seorang preman yang malang melintang dalam dunia perkelahian. Setelah bertemu dengan Syekh Abdurrahman, ia kemudian bertaubat dan menekuni agama Islam hingga menjadi seorang ulama yang cukup disegani. Berbekal kemampuannya dalam olah beladiri, selain mengajarkan tarikat beliau juga mengajarkan seni beladiri Silek Kumango kepada murid-muridnya. Gerakan-gerakan silek yang diciptakan Syekh Kumango merupakan gerakan-gerakan silat yang dikombinasikan dengan ajaran-ajaran Islam. Beberapa jurus Silek Kumango, misalnya, mengacu pada huruf-huruf dalam al-Quran, seperti gerakan yang membentuk Alif-Lam, Lam-Ha, Mim-Ha, dan Mim-Dal. Gerakan-gerakan ini merupakan gerakan khas karena berbeda dengan jurus silat lainnya yang mengacu pada gerakan binatang, seperti gerakan harimau, buaya, ular, atau kucing. Selain gerakan yang bernafaskan Islam, kekhasan lainnya dari Silek Kumango adalah teknik kuncian. Perpaduan gerakan yang bernafaskan ajaran Islam dan teknik kuncian ini, membuat Silek Kumango dikenal sebagai jenis silat yang menekankan pada teknik `membela diri` (bertahan), bukan bermaksud untuk `menyakiti` lawan. (Lukman Solihin/ensi/13/05-09) Daftar Bacaan: Kredit Foto: http://www.pelaminanminang.com/ |