|
Suku Wana dalam Sebuah Ritual Performance Berbicara tentang Suku Wana, pertama-tama yang harus diketahui adalah tentang sebuah kawasan yang terletak di pedalaman Propinsi Sulawesi Tengah bagian Timur. Kawasan yang dimaksud merujuk pada pemukiman Suku Wana yang meliputi wilayah pedalaman di Kabupaten Poso (terutama di Kecamatan Ampana Tete, Ulu Bongka, dan pedalaman Kecamatan Bungku Utara), Kabupaten Morowali (Kecamatan Mamosolato, Petasia, dan Soyojaya), dan sebagian tinggal di pedalaman Kabupaten Luwuk Banggai (Sudaryanto, 2005). Oleh masyarakat luar, Suku Wana sering disebut sebagai Tau Taa Wana yang artinya orang yang tinggal di kawasan hutan. Namun, Suku Wana sendiri lebih sering menyebut dirinya dengan Tau Taa (tanpa wana), atau orang Taa. Hal ini disesuaikan dengan bahasa yang mereka gunakan, yaitu bahasa Taa –selain karena dalam bahasa mereka tidak dikenal istilah wana (Camang, 2006). Dalam membangun kawasan pemukimannya, Suku Wana memilih untuk tidak membaur dengan penduduk mayoritas. Mereka memilih tinggal di kawasan pedalaman hutan Sulawesi Tengah dengan membangun semacam perkampungan yang disebut lipu. Dalam tradisi Suku Wana, nama kelompok masyarakat yang menempati lipu disesuaikan dengan nama kawasan di mana lipu tersebut berada. Misalnya To Posangke, To Oewaju, To Kajupoli, To Bulang, To Kajumarangke, To Untunue, To Langada, dan sebagainya (Departemen Transmigrasi dan PPH RI, Kantor Wilayah Propinsi Sulawesi Tengah, 1999/2000). Berdasarkan data sejarah, orang-orang Wana saat ini berasal dari sebuah kawasan di bagian selatan tenggara Pulau Sulawesi, tepatnya pada bagian Barat Daya atau Barat Laut Malili, di sebelah Tenggara Teluk Bone. Mereka sampai berada di pemukimannya saat ini diduga melalui gelombang migrasi pada ratusan tahun sebelum Masehi. Dari ciri-ciri fisik, kebudayaan material maupun dialek bahasa, Suku Wana termasuk dalam kelompok suku besar “Koro Toraja” yang rute migrasinya berawal dari muara antara Kalaena dan Malili kemudian menyusuri Sungai Kalaena dan terus ke utara melewati barisan Pegunungan Tokolekaju sampai akhirnya tiba di bagian tenggara Pesisir Danau Poso (Dirjen Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996/1997). Dari tempat tersebut nenek moyang Suku Wana selanjutnya bergerak ke arah Timur Laut menyisir lereng Gunung Kadata menuju dataran Walati di Lembah Masewa yang dialiri Sungai La. Mereka terus bergerak ke arah timur menyusuri lembah Sungai Kuse sampai akhirnya tiba di daerah Hulu Sungai Bau. Kemudian melanjutkan perjalanan migrasinya ke arah timur hingga mencapai Hulu Sungai Bongka (Kaju Marangka). Di sini mereka kemudian menetap dan berkembang menjadi kelompok etnik Tau Taa Wana (Mattulada, 1985). Dari Kaju Marangka, menurut A.C Kryut, peneliti awal dari Belanda, dalam artikelnya yang berjudul De To Wana op Oost-Celebes (1930), sebagian imigran tersebut kemudian menyebar dan mengelompok menjadi empat suku yang memiliki dialek bahasa yang berbeda, yaitu: - Suku Barangas, berasal dari Luwuk dan bermukim di kawasan Lijo, Parangisi, Wumanggabino, Uepakatu, dan Salubiro;
- Suku Kasiala, berasal dari Tojo Pantai Teluk Tomini dan kemudian bermukim di Manyoe, Sea, sebagian di Wumanggabino, Uepakatu, dan Salubiro;
- Suku Posangke, berasal dari Poso dan berdiam di kawasan Kajupoli, Toronggo, Opo, Uemasi, Lemo, dan Salubiro;
- Suku Untunue, mendiami Ue Waju, Kajumarangka, Salubiro, dan Rompi. Kelompok suku ini sampai sekarang masih menutup diri dari pengaruh luar (Yayasan Sahabat Morowali, 1998).
Pendapat sejarah di atas mendapat pembenaran dari para tetua adat Suku Wana, terutama tetua-tetua adat di Bulang dan tetua-tetua adat di Cagar Alam Morowali, yang meyakini bahwa leluhur mereka adalah satu, berasal dari Tundantana, yaitu sebuah tempat di wilayah Kaju Marangka, yang berada dalam kawasan Cagar Alam Morowali. Tundantana diyakini sebagai tempat manusia pertama dititiskan dari langit yang kemudian melahirkan leluhur-leluhur Suku Wana. (Afthonul Afif/ensi/11/07-2009) Sumber Bacaan: Camang, N, 2006, “Tauu Taa Wana dan Rekognisi”, Makalah Seminar bertajuk “Demokratisasi Hubungan antara Pemerintah dan Tauu Taa Wana yang Berkeadilan”, Sulawesi Tengah, 5 Desember 2006. Dirjen Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Sulawesi Tengah: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai- Nilai Budaya Sulawesi Tengah”, 1996/1997. Mattulada, H.A., 1985, “Manusia dan Kebudayaan Kaili di Sulawesi Tengah”, dalam Majalah GAGASAN, Universitas Tadulako, No. III, Tahun I, Desember 1985. Sudaryanto, I. Y., 2005, “Kesukuan dan Pertentangan Agama di Cagar Alam Morowali: Kasus Orang-Orang Wana di Kajupoli Sulawesi Tengah”, dalam Hikmat Budiman, ed., Hak-Hak Minoritas: Dilema Multikulturalisme di Indonesia, Jakarta: Yayasan Interseksi bekerjasama dengan Tifa Foundation. Yayasan Sahabat Morowali, 1998, Hutan dalam Pandangan Orang Wana, Laporan Studi. Sumber Foto: http://www.antarafoto.com/ |