Selasa, 16 Juni 2026   |   Arbia', 30 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 737
Hari ini : 12.353
Kemarin : 17.248
Minggu kemarin : 184.896
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Ensiklopedi Melayu

Posuo

POSUO adalah ritual yang dijalani seorang gadis Buton ketika mencapai akil baligh (kedewasaan). Secara harfiah, posuo bisa bermakna pingitan. Seorang gadis yang menjalani posuo dilarang meninggalkan rumah selama beberapa hari, kemudian mendapatkan wejangan-wejangan dari bisa (perempuan tua yang dianggap berilmu dan dan punya kemampuan magis). Ritual ini dilakukan ketika seorang gadis beranjak dewasa yaitu berumur sekitar belasan tahun. Ritualnya cukup banyak. Mulai dari mandi kembang, dipakaikan sarung Buton kemudian pakaian berupa kain warna putih, sambil dibacakan doa (Darmawan, 2008).

Tradisi Upacara Posuo yang berkembang di Sulawesi Tenggara (Buton) sudah berlangsung sejak zaman Kesultanan Buton. Upacara Posuo diadakan sebagai sarana untuk peralihan status seorang gadis dari remaja (labuabua) menjadi dewasa (kalambe), serta untuk mempersiapkan mentalnya. Upacara tersebut dilaksanakan selama delapan hari delapan malam dalam ruangan khusus yang oleh mayarakat setempat disebut dengan suo. Selama dikurung di suo, para peserta dijauhkan dari pengaruh dunia luar, baik dari keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Para peserta hanya boleh berhubungan dengan bhisa (pemimpin Upacara Posuo) yang telah ditunjuk oleh pemangku adat setempat. Para bhisa akan membimbing dan memberi petuah berupa pesan moral, spiritual, dan pengetahun membina keluarga yang baik kepada para peserta. Dalam suo ini dilakukan berbagai ritual sebagai sarana pendidikan bagi persiapan mental seorang gadis remaja untuk menjadi seorang perempuan dewasa yang siap untuk membentuk rumah tangga. Agar pelajaran yang dapat diterima dengan baik, maka selama dalam suo para peserta posuo hanya boleh bertemu dengan bhisa (dukun/ pemimpin upacara) serta dijauhkan dari segala pengaruh luar bai dari keluarganya sendiri maupun dari pengaruh lingkungannya. Dari para bhisa inilah para gadis peserta Posuo akan mendapat bimbingan moral, spiritual dan pengetahuan bagaiman membina keluarga yang baik.

Dalam ritual posuo ini ada tiga tahap prosesi yang harus dijalani. Sesi Pertama disebut pauncura atau pengukuhan. Pada tahap ini prosesi dilakukan oleh bhisa senior (parika) diawali dengan tunuana dupa (pembakaran kemenyan) yang disertai dengan pembacaan doa. Setelah doa selesai dilanjutkan dengan panimpa (pemberkatan) yang dilakukan dengan memberikan sapuan asap kemenyan kesekujur tubuh peserta posuo. Setelah itu parika mengumumkan nama-nama para peserta ritual dan pemberitahuan kepada seluruh para peserta dan keluarganya bahwa sejak saat itu para peserta akan diisolasi dari dunia luar dan hanya bisa berhubungan dengan para bhisa yang bertugas menemani.

Sesi Kedua disebut bhalyi yana yimpo atau merubah penampilan yang dilakukan setelah ritual berjalan selama lima hari. Pada tahap ini ritual yang dilakukan adalah merubah posisi tidur para peserta dari yang tadinya kepala di selatan dan kaki di utara menjadi kepala di barat dan kaki ditimur. Posisi tidur ini akan terus dilakoni ampai dengan dari ketujuh.

Sesi Ketiga disebut matana kariya atau puncak acara. Dilakukan tapat pada malam kedelapan. Ritual yang dilakukan adalah memandikan seluruh peserta upacara posuo dengan menggunakan wadah bhosu (buyung yang terbuat dari tanag liat). Setelah selesai mandi para peserta oleh para bhisa akan didandani dengan menggunakan pakaian ajo kalambe (dandanan gadis dewasa) (http://orangbuton.wordpress.com/).

Dalam perkembangan masyarakat Buton, ada 3 jenis Posuo yang mereka kenal dan sampai saat ini upacara tersebut masih berkembang. Pertama, Posuo Wolio, merupakan tradisi Posuo awal yang berkembang dalam masyarakat Buton. Kedua, Posuo Johoro yang berasal dari Johor-Melayu (Malaysia) dan ketiga, Posuo Arabu yang berkembang setelah Islam masuk ke Buton. Posuo Arabu merupakan hasil modifikasi nilai-nilai Posuo Wolio dengan nilai-nilai ajaran agama Islam. Posuo ini diadaptasi oleh Syekh Haji Abdul Ghaniyyu, seorang ulama besar Buton yang hidup pada pertengahan abad XIX yang menjabat sebagai Kenipulu di Kesultanan Buton di bawah kepemimpinan Sultan Buton XXIX Muhammad Aydrus Qaimuddin. Tradisi Posuo Arabu inilah yang masih sering dilaksanakan oleh masyarakat Buton (http://greatbuton.blogspot.com/).

Semua Upacara Posuo dimaksudkan untuk menguji kesucian (keperawanan) seorang gadis. Biasanya hal ini dapat dilihat dari ada atau tidaknya gendang yang pecah saat ditabuh oleh para bhisa. Jika ada gendang yang pecah, menunjukkan ada di antara peserta Posuo yang sudah tidak perawan dan jika tidak ada gendang yang pecah berarti para peserta diyakini masih perawan.

(Afthonul Afif/ensi/18/08-2009)

Sumber bacaan:

Darmawan, Yusran, 2008, Posuo Jelang Pernikahan, didownload dari http://timurangin.blogspot.com/ tanggal 16 Agustus 2009.

Posuo, dalam http://orangbuton.wordpress.com/ didownload tanggal 16 Agustus 2009.

Posuo, dalam http://greatbuton.com/ didownload tanggal 16 Agustus 2009.

Sumber foto: http://greatbuton.com/