|
Belasa Kepampang adalah pohon besar bercabang dua yang disakralkan dalam tradisi Suku Tumi di Lampung Barat. Suku Tumi menganut agama Hindu Bairawa yang lekat dengan ajaran animisme. Suku Tumi mendirikan Kerajaan Skala Brak di lereng Gunung Pesagi, sekarang termasuk dalam wilayah Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, pada sekitar abad ke-3 Masehi. Belasa Kepampang dipercaya memiliki keistimewaan yang terletak pada dua cabangnya. Cabang pertama berupa cabang pohon nangka, sedangkan cabang yang kedua adalah cabang sebukau (sejenis kayu bergetah). Konon, orang akan terkena penyakit kulit jika menyentuh cabang kayu sebukau, namun dapat segera disembuhkan dengan getah cabang nangka yang juga terdapat di Belasa Kepampang itu. Kepercayaan akan kesaktian pohon Belasa Kepampang tidak hanya diterima di wilayah Skala Brak saja, tapi juga di daerah-daerah lain di sepanjang aliran Way Komering, Way Semangka, Way Sekampung, Way Seputih, Way Tulangbawang, Way Umpu, Way Rarem, dan Way Besai. Ketika pengaruh Islam menguasai Skala Brak pada sekitar abad ke-16, pohon Belasa Kepampang ditebang dan kayunya digunakan untuk membuat pepadun atau singgasana Sultan Skala Brak. Tumbangnya pohon Belasa Kepampang menjadi pertanda jatuhnya kekuasaan Suku Tumi sekaligus punahnya aliran animisme di Skala Brak. (Iswara NR/ensi/02/11-2009) Daftar Bacaan: Teguh Prasetyo. “Masa Lalu di Lampung Barat”, dalam Lampung Post, 4 Desember 2005. |